Jakarta, SniperNew.id - Sebuah kisah menyentuh tentang seorang pengemudi ojek konvensional di kawasan Stasiun Kalibata, Jakarta Selatan, mendadak menjadi perhatian publik setelah diunggah ke media sosial Threads oleh seorang pengguna bernama 4pippss. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang perjuangan mencari nafkah, melainkan juga potret nyata betapa kerasnya kehidupan jalanan bagi sebagian orang yang tidak tersentuh teknologi, Senin (29/09).
Pria tersebut diketahui bernama Pak Indra, seorang pengemudi ojek yang biasa mangkal di sekitar halte Swiss-Bel, dekat Stasiun Kalibata. Ia bukan pengemudi ojek online seperti kebanyakan yang kini marak, melainkan masih menjalankan profesinya secara offline karena terkendala tidak memiliki telepon genggam.
Ciri-cirinya pun cukup jelas disebutkan oleh 4pippss dalam unggahannya, yaitu kerap terlihat duduk di dekat halte Swiss-Bel, mengenakan topi, dan menggunakan sepeda motor Honda Supra X. “Namanya Pak Indra, ciri-ciri kurang lebih kaya divideo,” tulis akun tersebut.
Unggahan viral itu menceritakan bagaimana sulitnya Pak Indra mendapatkan penumpang. Pada hari tertentu, ia bahkan tidak mendapat satu pun orderan hingga berjam-jam.
“Hari ini cerita ke saya dari jam 12 belum dapat orderan sama sekali,” ungkap 4pippss dalam unggahan pertamanya.
Pak Indra biasanya menawarkan jasa antar secara langsung kepada orang-orang yang keluar dari stasiun atau lewat di sekitar halte. Ia tidak bisa mengandalkan aplikasi, sehingga pekerjaannya bergantung penuh pada belas kasih calon penumpang yang melihatnya secara langsung.
Dalam salah satu kutipan, 4pippss menyebut bahwa tarif yang ditawarkan Pak Indra sangat terjangkau. “Dibantu yuk guys, 10–15 ribu jarak dekat dia juga mau kok,” tulisnya.
Lokasi Pak Indra biasanya berada di sekitar Stasiun Kalibata, Jakarta Selatan, tepatnya di dekat halte Swiss-Bel. Itulah sebabnya unggahan tersebut diarahkan kepada masyarakat yang sering keluar-masuk kawasan Kalibata untuk bisa membantu beliau, meskipun hanya dengan jarak perjalanan dekat.
Unggahan itu diunggah 4pippss sekitar 9 jam sebelum tangkapan layar beredar, yang artinya kisah ini masih sangat baru. Kejadian yang diceritakan berlangsung pada hari itu juga, saat Pak Indra mengeluh sejak pukul 12 siang belum mendapat satu pun penumpang.
Hingga saat berita ini ditulis, unggahan tersebut sudah ditonton ribuan kali dengan ratusan interaksi dari warganet. Banyak yang ikut bersimpati dan menyuarakan agar kisah Pak Indra diviralkan supaya beliau bisa terbantu.
Alasan utama mengapa kisah ini menyentuh banyak orang adalah kondisi Pak Indra yang serba terbatas. Ia tidak memiliki handphone, sehingga tidak bisa mendaftar sebagai pengemudi ojek online seperti Gojek atau Grab yang kini lebih dominan.
Akibatnya, ia harus mengandalkan cara lama: mangkal, menunggu, atau menawarkan jasa langsung ke penumpang yang lewat. Tak jarang, karena sepinya orderan, ia bahkan menahan lapar.
“Atauboleh juga beliin dia minum/makan karena dia suka nahan lapar saking sepinya orderan. Aku cuma bisa jajanin cilok aja dari dulu karena dekat halte,” tambah 4pippss.
Kondisi tersebut menggambarkan betapa sulitnya posisi Pak Indra yang terjebak di tengah modernisasi transportasi, tanpa mampu mengakses teknologi yang menjadi syarat utama bertahan di era digital.
Unggahan 4pippss tersebut segera menuai respons simpati dari warganet. Banyak yang menyarankan agar kisah ini diviralkan agar semakin banyak orang tahu dan bisa membantu secara langsung.
Seorang pengguna Threads bernama arliatara_ menuliskan,
“Yuk bantu viralin, biar bapaknya kebantu. Nanti kalau lagi ke Jaksel insyaAllah bisa ketemu bapaknya. Btw sodara aku ada yang jualan di sana. Walaupun nggak bisa kasih rezeki berupa uang/hape, tapi aku bisa kasih bapaknya makan & minum. Bantu yuk bapaknya.”
Komentar-komentar lain juga senada, menunjukkan kepedulian sosial masyarakat terhadap kondisi Pak Indra. Sebagian besar menekankan bahwa meskipun tidak bisa memberikan uang atau handphone, setidaknya bisa membantu beliau dengan membeli makanan, minuman, atau menggunakan jasanya untuk perjalanan jarak dekat.
Fenomena yang dialami Pak Indra sejatinya bukan hal baru. Banyak pengemudi ojek konvensional yang tersingkir setelah hadirnya transportasi berbasis aplikasi. Bagi mereka yang tidak memiliki modal atau kemampuan teknologi, bergabung ke aplikasi ojek online hampir mustahil.
Pak Indra hanyalah satu dari banyak kisah serupa. Namun yang membuatnya berbeda adalah kejujuran, kesabaran, dan kegigihannya tetap bertahan meskipun dalam keterbatasan. Ia masih setia menunggu penumpang, menawarkan jasa dengan sopan, dan tidak menyerah pada keadaan.
Kisah ini juga menyingkap kesenjangan sosial di perkotaan: modernisasi memang membawa kemudahan, tetapi juga meninggalkan mereka yang tak mampu mengikuti arusnya.
Melalui unggahan yang kini viral itu, masyarakat diajak untuk peduli, sekecil apa pun bentuknya. Membantu dengan ongkos Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, membelikan makanan atau minuman, bahkan sekadar menyebarkan informasi, bisa berarti sangat besar bagi Pak Indra.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi yang memudahkan hidup sebagian orang bisa menjadi penghalang rezeki bagi yang lain. Solidaritas sosial, kepedulian, dan empati sangat dibutuhkan agar mereka yang tertinggal tidak semakin terpuruk.
Kisah Pak Indra, pengemudi ojek offline di Kalibata, adalah gambaran nyata perjuangan hidup di tengah kerasnya persaingan ibu kota. Tidak memiliki handphone membuatnya tidak bisa bergabung dengan ojek online, sehingga bergantung sepenuhnya pada penumpang yang ia temui secara langsung.
Meski penuh keterbatasan, ia tetap berusaha mencari nafkah dengan cara halal. Unggahan warganet tentang dirinya berhasil membuka mata banyak orang bahwa masih ada sosok-sosok gigih yang butuh perhatian kita.
Melalui semangat gotong royong dan kepedulian bersama, harapannya semakin banyak orang yang mau menggunakan jasanya, membantunya dengan makanan, atau sekadar memberi perhatian. Sebab, di balik wajah lelahnya, ada harapan besar untuk tetap bertahan hidup dengan penuh martabat. (Ahm/ahh).













