Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Viral

Pak Indra, Ojol Offline Kalibata yang Berjuang Tanpa Ponsel

552
×

Pak Indra, Ojol Offline Kalibata yang Berjuang Tanpa Ponsel

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id - Sebuah kisah menyen­tuh ten­tang seo­rang penge­mu­di ojek kon­ven­sion­al di kawasan Sta­si­un Kali­ba­ta, Jakar­ta Sela­tan, men­dadak men­ja­di per­ha­t­ian pub­lik sete­lah diung­gah ke media sosial Threads oleh seo­rang peng­gu­na berna­ma 4pippss. Kisah ini bukan sekadar ceri­ta ten­tang per­juan­gan men­cari nafkah, melainkan juga potret nya­ta beta­pa keras­nya kehidu­pan jalanan bagi seba­gian orang yang tidak tersen­tuh teknolo­gi, Senin (29/09).

Pria terse­but dike­tahui berna­ma Pak Indra, seo­rang penge­mu­di ojek yang biasa mangkal di sek­i­tar halte Swiss-Bel, dekat Sta­si­un Kali­ba­ta. Ia bukan penge­mu­di ojek online seper­ti kebanyakan yang kini marak, melainkan masih men­jalankan pro­fesinya secara offline kare­na terk­endala tidak memi­li­ki tele­pon genggam.

Ciri-cirinya pun cukup jelas dise­butkan oleh 4pippss dalam ung­ga­han­nya, yaitu ker­ap ter­li­hat duduk di dekat halte Swiss-Bel, men­ge­nakan topi, dan meng­gu­nakan sepe­da motor Hon­da Supra X. “Namanya Pak Indra, ciri-ciri kurang lebih kaya divideo,” tulis akun terse­but.

Ung­ga­han viral itu mencer­i­takan bagaimana sulit­nya Pak Indra men­da­p­atkan penumpang. Pada hari ter­ten­tu, ia bahkan tidak men­da­p­at satu pun order­an hing­ga ber­jam-jam.

“Hari ini ceri­ta ke saya dari jam 12 belum dap­at order­an sama sekali,” ungkap 4pippss dalam ung­ga­han per­ta­manya.

  Buaya Viral Warga Diperingatkan Waspada

Pak Indra biasanya menawarkan jasa antar secara lang­sung kepa­da orang-orang yang kelu­ar dari sta­si­un atau lewat di sek­i­tar halte. Ia tidak bisa men­gan­dalkan aplikasi, sehing­ga peker­jaan­nya bergan­tung penuh pada belas kasih calon penumpang yang meli­hat­nya secara lang­sung.

Dalam salah satu kuti­pan, 4pippss menye­but bah­wa tarif yang ditawarkan Pak Indra san­gat ter­jangkau. “Diban­tu yuk guys, 10–15 ribu jarak dekat dia juga mau kok,” tulis­nya.

Lokasi Pak Indra biasanya bera­da di sek­i­tar Sta­si­un Kali­ba­ta, Jakar­ta Sela­tan, tepat­nya di dekat halte Swiss-Bel. Itu­lah sebab­nya ung­ga­han terse­but diarahkan kepa­da masyarakat yang ser­ing kelu­ar-masuk kawasan Kali­ba­ta untuk bisa mem­ban­tu beli­au, meskipun hanya den­gan jarak per­jalanan dekat.

Ung­ga­han itu diung­gah 4pippss sek­i­tar 9 jam sebelum tangka­pan layar beredar, yang artinya kisah ini masih san­gat baru. Keja­di­an yang dicer­i­takan berlang­sung pada hari itu juga, saat Pak Indra men­geluh sejak pukul 12 siang belum men­da­p­at satu pun penumpang.

Hing­ga saat beri­ta ini dit­ulis, ung­ga­han terse­but sudah diton­ton ribuan kali den­gan ratu­san inter­ak­si dari war­ganet. Banyak yang ikut bersim­pati dan menyuarakan agar kisah Pak Indra divi­ralkan supaya beli­au bisa ter­ban­tu.

Alasan uta­ma men­ga­pa kisah ini menyen­tuh banyak orang adalah kon­disi Pak Indra yang ser­ba ter­batas. Ia tidak memi­li­ki hand­phone, sehing­ga tidak bisa mendaf­tar seba­gai penge­mu­di ojek online seper­ti Gojek atau Grab yang kini lebih dom­i­nan.

Aki­bat­nya, ia harus men­gan­dalkan cara lama: mangkal, menung­gu, atau menawarkan jasa lang­sung ke penumpang yang lewat. Tak jarang, kare­na sepinya order­an, ia bahkan mena­han lapar.

  Mengapa Bencana Sumatera Tak Pernah Jadi Nasional?

“Atauboleh juga beli­in dia minum/makan kare­na dia suka nahan lapar sak­ing sepinya order­an. Aku cuma bisa jajanin cilok aja dari dulu kare­na dekat halte,” tam­bah 4pippss.

Kon­disi terse­but menggam­barkan beta­pa sulit­nya posisi Pak Indra yang ter­je­bak di ten­gah mod­ernisasi trans­portasi, tan­pa mam­pu men­gak­ses teknolo­gi yang men­ja­di syarat uta­ma berta­han di era dig­i­tal.

Ung­ga­han 4pippss terse­but segera men­u­ai respons sim­pati dari war­ganet. Banyak yang men­yarankan agar kisah ini divi­ralkan agar semakin banyak orang tahu dan bisa mem­ban­tu secara lang­sung.

Seo­rang peng­gu­na Threads berna­ma arliatara_ menuliskan,
“Yuk ban­tu viralin, biar bapaknya keban­tu. Nan­ti kalau lagi ke Jak­sel insyaAl­lah bisa kete­mu bapaknya. Btw sodara aku ada yang jualan di sana. Walaupun nggak bisa kasih reze­ki beru­pa uang/hape, tapi aku bisa kasih bapaknya makan & minum. Ban­tu yuk bapaknya.”

Komen­tar-komen­tar lain juga sena­da, menun­jukkan kepedu­lian sosial masyarakat ter­hadap kon­disi Pak Indra. Seba­gian besar menekankan bah­wa meskipun tidak bisa mem­berikan uang atau hand­phone, seti­daknya bisa mem­ban­tu beli­au den­gan mem­be­li makanan, minu­man, atau meng­gu­nakan jasanya untuk per­jalanan jarak dekat.

Fenom­e­na yang diala­mi Pak Indra sejatinya bukan hal baru. Banyak penge­mu­di ojek kon­ven­sion­al yang ters­ingkir sete­lah hadirnya trans­portasi berba­sis aplikasi. Bagi mere­ka yang tidak memi­li­ki modal atau kemam­puan teknolo­gi, bergabung ke aplikasi ojek online ham­pir mus­tahil.

Pak Indra hanyalah satu dari banyak kisah seru­pa. Namun yang mem­bu­at­nya berbe­da adalah keju­ju­ran, kesabaran, dan kegigi­han­nya tetap berta­han meskipun dalam keter­batasan. Ia masih setia menung­gu penumpang, menawarkan jasa den­gan sopan, dan tidak meny­er­ah pada keadaan.

  Mobil Dinas Camat Pantan Cuaca Hanyut, Jembatan Blangkejeren Ambruk

Kisah ini juga meny­ingkap kesen­jan­gan sosial di perko­taan: mod­ernisasi memang mem­bawa kemu­da­han, tetapi juga mening­galkan mere­ka yang tak mam­pu mengiku­ti arus­nya.

Melalui ung­ga­han yang kini viral itu, masyarakat dia­jak untuk peduli, seke­cil apa pun ben­tuknya. Mem­ban­tu den­gan ongkos Rp10 ribu hing­ga Rp15 ribu, mem­be­likan makanan atau minu­man, bahkan sekadar menye­barkan infor­masi, bisa berar­ti san­gat besar bagi Pak Indra.

Kisah ini juga men­ja­di pengin­gat bah­wa teknolo­gi yang memu­dahkan hidup seba­gian orang bisa men­ja­di peng­ha­lang reze­ki bagi yang lain. Sol­i­dar­i­tas sosial, kepedu­lian, dan empati san­gat dibu­tuhkan agar mere­ka yang tert­ing­gal tidak semakin ter­pu­ruk.

Kisah Pak Indra, penge­mu­di ojek offline di Kali­ba­ta, adalah gam­baran nya­ta per­juan­gan hidup di ten­gah keras­nya per­sain­gan ibu kota. Tidak memi­li­ki hand­phone mem­bu­at­nya tidak bisa bergabung den­gan ojek online, sehing­ga bergan­tung sepenuh­nya pada penumpang yang ia temui secara lang­sung.

Mes­ki penuh keter­batasan, ia tetap berusa­ha men­cari nafkah den­gan cara halal. Ung­ga­han war­ganet ten­tang dirinya berhasil mem­bu­ka mata banyak orang bah­wa masih ada sosok-sosok gigih yang butuh per­ha­t­ian kita.

Melalui seman­gat gotong roy­ong dan kepedu­lian bersama, hara­pan­nya semakin banyak orang yang mau meng­gu­nakan jasanya, mem­ban­tun­ya den­gan makanan, atau sekadar mem­beri per­ha­t­ian. Sebab, di balik wajah lelah­nya, ada hara­pan besar untuk tetap berta­han hidup den­gan penuh marta­bat. (Ahm/ahh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *