Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Nurul dari Solo, Penari Tradisional 43 Tahun yang Menyuarakan Budaya Indonesia Lewat Media Sosial

249
×

Nurul dari Solo, Penari Tradisional 43 Tahun yang Menyuarakan Budaya Indonesia Lewat Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Solo SniperNew.id - Tren dig­i­tal dan budaya mod­ern, seo­rang perem­puan asal Indone­sia tampil men­curi per­ha­t­ian neti­zen den­gan kecin­taan­nya ter­hadap budaya tra­di­sion­al. Ia adalah Nurul, 43 tahun, yang secara ter­bu­ka mem­bagikan kisah dan seman­gat­nya untuk melestarikan budaya lewat akun media sosial­nya, khusus­nya dalam ben­tuk tar­i­an tra­di­sion­al Jawa, Sab­tu (02/ 08/ 25).

Dalam sebuah ung­ga­han yang men­da­p­at per­ha­t­ian luas, Nurul mem­perke­nalkan dirinya: “My name is Nurul, I am 43 years old, I live in Indone­sia. Every­thing on my account is real, not fake and I am not look­ing for atten­tion, I just want to have lots of friends and intro­duce my cul­ture.”
Ia juga mem­bagikan video penampi­lan­nya mem­bawakan tari tra­di­sion­al Jawa lengkap den­gan busana dan mahko­ta khas, men­gun­dang decak kagum dari war­ganet.

  Perpustakaan Keliling, Bikin Warga Makin Melek Literasi!

Dalam ung­ga­han terse­but, banyak peng­gu­na media sosial mem­berikan apre­si­asi dan bertanya men­ge­nai tar­i­an yang dibawakan­nya. Salah sat­un­ya adalah peng­gu­na berna­ma robot­echjkt yang bertanya:
“Ini dipang­gung ter­tut­up Trimur­ti Pram­banan?”
Namun Nurul men­jawab:
“Bukan, ini tari LAMBANGSIH di pen­dopo Solo.”

Peng­gu­na lain, tushy_o, juga penasaran:
“Apakah kakak penari di per­tun­jukan Ramayana di Pram­banan?”

Diskusi kemu­di­an berkem­bang lebih dalam, den­gan peng­gu­na berna­ma pitin­driyan yang menanyakan:
“Mbaaa aku pen­gen lati­han nari jugaa, yg tra­di­sion­al, bukan mod­ern, apa ada ya di daer­ah selain Jawa?”
Nurul mere­spons ramah, “Kamu ting­gal di mana?”

  Melalui P5 SMKN 1 Lubuk Sikaping, Wujudkan Generasi  Berkarakter Unggul dan Berbudaya

Tak hanya dari dalam negeri, apre­si­asi datang juga dari luar negeri. Seo­rang peng­gu­na berna­ma baabu_raj menulis:
“Even though Indone­sia is a Mus­lim coun­try, they are pre­serv­ing their her­itage and cul­ture unlike India…”
Komen­tar ini menun­jukkan kek­agu­man ter­hadap bagaimana Indone­sia men­ja­ga seni budaya, ter­lepas dari latar belakang aga­ma.

Peng­gu­na lain, nexusnova73, menyam­paikan:
“Won­der­ful. I am very inter­est­ed in learn­ing about your cul­ture,” yang kemu­di­an dibalas singkat oleh Nurul: “Thank You.”

Dari sisi lokal, peng­gu­na n_widyaningrum yang juga berasal dari Solo menulis den­gan bang­ga:
“Can­tik sekali tar­i­an­nya, senang sekali masih ada yang meneruskan.”

Semen­tara itu, ada pula yang penasaran den­gan jenis tar­i­an yang dibawakan. Seper­ti daidwti yang bertanya, “Ini tari Gam­by­ong atau Ser­impi?”
Namun Nurul kem­bali mene­gaskan bah­wa itu adalah Tari Lam­bangsih, sebuah tari khas Solo yang tidak kalah anggun dan sarat mak­na.

  Wujud Sinergi TNI–Polri di HUT ke-80 TNI, Kapolresta Palangka Raya Hadiri Upacara Bersama Forkopimda Kalteng

Beber­a­pa penon­ton men­ge­nang kem­bali masa muda mere­ka, seper­ti komen­tar dari gus_diaji:
“Sudah lama ndak lihat sendra tari dari dekat. Wak­tu masih rema­ja ser­ing lihat pemen­tasan tari di acara kene­garaan.”

Den­gan jum­lah penon­ton yang telah men­ca­pai 18.799 tayan­gan, ung­ga­han Nurul men­ja­di buk­ti nya­ta bah­wa budaya Indone­sia masih memi­li­ki tem­pat di hati masyarakat, baik lokal maupun inter­na­sion­al. Seman­gat­nya untuk mem­perke­nalkan budaya tan­pa motif men­cari pop­u­lar­i­tas adalah sesu­atu yang patut dihar­gai dan dite­ladani.

Melalui plat­form media sosial seper­ti Threads, Nurul telah mem­buk­tikan bah­wa usia bukan peng­ha­lang untuk berkarya dan menc­in­tai budaya. Di era dig­i­tal ini, warisan budaya Indone­sia jus­tru bisa men­jangkau lebih luas dan menyen­tuh hati banyak orang. Nurul bukan sekadar penari, ia adalah duta budaya. (Suwat­no)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *