Solo SniperNew.id - Tren digital dan budaya modern, seorang perempuan asal Indonesia tampil mencuri perhatian netizen dengan kecintaannya terhadap budaya tradisional. Ia adalah Nurul, 43 tahun, yang secara terbuka membagikan kisah dan semangatnya untuk melestarikan budaya lewat akun media sosialnya, khususnya dalam bentuk tarian tradisional Jawa, Sabtu (02/ 08/ 25).
Dalam sebuah unggahan yang mendapat perhatian luas, Nurul memperkenalkan dirinya: “My name is Nurul, I am 43 years old, I live in Indonesia. Everything on my account is real, not fake and I am not looking for attention, I just want to have lots of friends and introduce my culture.”
Ia juga membagikan video penampilannya membawakan tari tradisional Jawa lengkap dengan busana dan mahkota khas, mengundang decak kagum dari warganet.
Dalam unggahan tersebut, banyak pengguna media sosial memberikan apresiasi dan bertanya mengenai tarian yang dibawakannya. Salah satunya adalah pengguna bernama robotechjkt yang bertanya:
“Ini dipanggung tertutup Trimurti Prambanan?”
Namun Nurul menjawab:
“Bukan, ini tari LAMBANGSIH di pendopo Solo.”
Pengguna lain, tushy_o, juga penasaran:
“Apakah kakak penari di pertunjukan Ramayana di Prambanan?”
Diskusi kemudian berkembang lebih dalam, dengan pengguna bernama pitindriyan yang menanyakan:
“Mbaaa aku pengen latihan nari jugaa, yg tradisional, bukan modern, apa ada ya di daerah selain Jawa?”
Nurul merespons ramah, “Kamu tinggal di mana?”
Tak hanya dari dalam negeri, apresiasi datang juga dari luar negeri. Seorang pengguna bernama baabu_raj menulis:
“Even though Indonesia is a Muslim country, they are preserving their heritage and culture unlike India…”
Komentar ini menunjukkan kekaguman terhadap bagaimana Indonesia menjaga seni budaya, terlepas dari latar belakang agama.
Pengguna lain, nexusnova73, menyampaikan:
“Wonderful. I am very interested in learning about your culture,” yang kemudian dibalas singkat oleh Nurul: “Thank You.”
Dari sisi lokal, pengguna n_widyaningrum yang juga berasal dari Solo menulis dengan bangga:
“Cantik sekali tariannya, senang sekali masih ada yang meneruskan.”
Sementara itu, ada pula yang penasaran dengan jenis tarian yang dibawakan. Seperti daidwti yang bertanya, “Ini tari Gambyong atau Serimpi?”
Namun Nurul kembali menegaskan bahwa itu adalah Tari Lambangsih, sebuah tari khas Solo yang tidak kalah anggun dan sarat makna.
Beberapa penonton mengenang kembali masa muda mereka, seperti komentar dari gus_diaji:
“Sudah lama ndak lihat sendra tari dari dekat. Waktu masih remaja sering lihat pementasan tari di acara kenegaraan.”
Dengan jumlah penonton yang telah mencapai 18.799 tayangan, unggahan Nurul menjadi bukti nyata bahwa budaya Indonesia masih memiliki tempat di hati masyarakat, baik lokal maupun internasional. Semangatnya untuk memperkenalkan budaya tanpa motif mencari popularitas adalah sesuatu yang patut dihargai dan diteladani.
Melalui platform media sosial seperti Threads, Nurul telah membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya dan mencintai budaya. Di era digital ini, warisan budaya Indonesia justru bisa menjangkau lebih luas dan menyentuh hati banyak orang. Nurul bukan sekadar penari, ia adalah duta budaya. (Suwatno)



















