Jakarta, SniperNew.id - Perempuan kerap kali dipandang hanya memiliki ruang terbatas dalam dunia kerja yang identik dengan laki-laki. Salah satu profesi yang sering dianggap hanya milik kaum pria adalah masinis, pengendali kereta api. Namun, anggapan itu mulai terbantahkan dengan hadirnya para masinis perempuan di tubuh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Jumat (05/09).
Melalui akun resmi media sosial Threads dengan nama pengguna kai121_, pada Jumat (9/5/2025), KAI membagikan sebuah unggahan bertajuk “Kisah Inspiratif Masinis Perempuan Hebat, sang Srikandi di Balik Kemudi Lokomotif 🚂”. Unggahan tersebut menjadi perhatian publik, sebab menampilkan sosok para perempuan muda yang kini berperan sebagai pengendali lokomotif diesel di Indonesia.
Dalam unggahan itu, KAI membuka narasi dengan pertanyaan retoris. “Siapa bilang profesi Masinis cuma buat laki-laki? Atau mengira kalau perempuan nggak bisa jadi Masinis? 🤔”
Pertanyaan ini seolah menjadi sindiran halus terhadap pandangan lama yang masih melekat di sebagian masyarakat, bahwa masinis hanya diperuntukkan bagi laki-laki.
Lebih lanjut, KAI memperkenalkan beberapa sosok masinis perempuan yang dijuluki sebagai Srikandi di balik kemudi lokomotif diesel. Mereka adalah Kak Avy, Kak Ajeng, dan Kak Dea.
“Railmin ajak kalian buat dengerin cerita inspiratif Kak Avy, Kak Ajeng & Kak Dea, Srikandi di balik kemudi lokomotif diesel di Indonesia. 🙌,” tulis akun resmi KAI.
Unggahan ini juga menyelipkan pesan semangat untuk para calon pelamar rekrutmen KAI. “Keren banget ya kakak kakak Masinis ini? Yang ikutan rekrutmen KAI, semoga hasilnya memuaskan ya! 😉”
Akun itu kemudian menutup dengan menyematkan beberapa tagar:
#KAI121 #MasinisPerempuanKeretaApi #AyoNaikKereta #KeretaApi.
Unggahan KAI di Threads tersebut disertai foto tiga masinis perempuan. Mereka tampil mengenakan seragam putih khas petugas KAI dengan atribut lengkap, termasuk papan nama, emblem, dan jilbab berwarna biru tua.
Di latar belakang terlihat sebuah bangunan bercat putih dengan atap merah, dihiasi bendera Merah Putih yang berkibar. Ketiga perempuan itu berdiri berjejer dengan percaya diri, mewakili wajah baru profesi masinis di Indonesia.
Salah satu dari mereka, yang bernama Ajeng, juga tampil dalam video pendek. Ajeng duduk di sebuah ruangan kelas sederhana dengan meja, kursi, serta jam dinding di belakangnya. Dengan seragam rapi lengkap dengan lencana bertuliskan “DAOP PURWOKERTO” di lengannya, Ajeng menceritakan kisah singkat tentang cita-cita masa kecilnya.
Dalam potongan video itu, muncul teks di bagian bawah yang berbunyi:
“pengen jadi dokter.”
Kalimat tersebut menandakan bahwa Ajeng pada mulanya memiliki cita-cita berbeda, sebelum akhirnya menjadi masinis.
Kehadiran para masinis perempuan ini jelas menjadi langkah maju. Selama puluhan tahun, profesi masinis di Indonesia hampir sepenuhnya didominasi laki-laki. Faktor teknis, beban kerja, hingga tuntutan jam operasional yang panjang sering dijadikan alasan mengapa perempuan dianggap tidak cocok.
Namun, perkembangan zaman, kesetaraan gender, serta semangat emansipasi perempuan membuktikan bahwa asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Para masinis perempuan di KAI kini mampu menjalankan tugas dengan profesional, sama seperti rekan-rekan laki-laki mereka.
Kisah Kak Avy, Kak Ajeng, dan Kak Dea menunjukkan bahwa keterampilan, dedikasi, serta disiplin tidak mengenal jenis kelamin. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, kesiapan menghadapi tanggung jawab, serta komitmen terhadap keselamatan perjalanan kereta api.
Unggahan KAI tersebut langsung mendapatkan berbagai reaksi positif dari para warganet. Hingga beberapa jam setelah dipublikasikan, unggahan itu memperoleh tanda suka, komentar, serta bagikan dari para pengguna Threads.
Banyak netizen merasa kagum dan bangga melihat perempuan Indonesia bisa menembus batas-batas profesi yang selama ini didominasi laki-laki. Mereka menilai kehadiran masinis perempuan menjadi bukti bahwa kesempatan karier kini semakin terbuka lebar untuk siapa pun tanpa memandang gender.
Ada pula yang memberikan doa dan semangat agar para Srikandi masinis KAI tetap sehat, semangat, dan mampu menginspirasi generasi muda.
Unggahan ini juga bertepatan dengan momentum rekrutmen KAI yang sedang berlangsung. KAI sengaja menampilkan sosok masinis perempuan agar dapat memotivasi peserta rekrutmen, khususnya kalangan muda dan perempuan, untuk tidak ragu mengejar cita-cita di dunia perkeretaapian.
Dengan menampilkan Kak Avy, Kak Ajeng, dan Kak Dea, KAI ingin menegaskan bahwa kesempatan berkarier sebagai masinis terbuka luas, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Pesan ini sejalan dengan semangat inklusivitas dan kesetaraan gender yang kini terus digaungkan dalam dunia kerja di Indonesia.
Kisah para masinis perempuan KAI tidak sekadar tentang profesi. Lebih dari itu, mereka menjadi simbol emansipasi perempuan Indonesia modern.
Jika dahulu Raden Ajeng Kartini memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan, kini perjuangan itu berlanjut di berbagai bidang kehidupan, termasuk profesi yang menuntut keterampilan teknis tinggi seperti masinis.
Dengan hadirnya para Srikandi di balik kemudi lokomotif, generasi muda perempuan di Indonesia mendapatkan inspirasi nyata bahwa tidak ada pekerjaan yang mustahil dilakukan. Selama ada tekad dan kemampuan, semua bisa diwujudkan.
Unggahan kai121_ tentang kisah inspiratif masinis perempuan KAI ini mengingatkan publik bahwa dunia kerja kini semakin terbuka dan inklusif. Kak Avy, Kak Ajeng, dan Kak Dea menjadi bukti nyata bahwa perempuan bisa menjalani profesi masinis dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme.
Cerita mereka bukan hanya sekadar kisah pribadi, melainkan sebuah pesan kuat bahwa mimpi dan cita-cita tidak boleh dibatasi oleh stereotip gender.
“Siapa bilang profesi Masinis cuma buat laki-laki?”
Pertanyaan pembuka unggahan KAI itu kini telah terjawab dengan hadirnya para Srikandi yang menginspirasi di balik kemudi lokomotif Indonesia. (Ahmad)













