Jakarta Selatan, SniperNew.id – Sebuah unggahan di media sosial menghebohkan jagat maya usai seorang warga Jakarta Selatan terekam ogah memasang bendera Merah Putih pada momen Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia. Alih-alih menunjukkan simbol kenegaraan, warga tersebut justru memilih mengibarkan bendera bajak laut dari anime One Piece, yaitu Jolly Roger milik karakter Monkey D. Luffy, di depan rumahnya.
Dikutip Selasa 05 Agustus 2025, dari unggahan yang berasal dari akun Facebook Warta Desa pada 31 Juli pukul 15.17 itu segera menuai beragam respons dari warganet. Postingan tersebut telah disukai lebih dari 24.000 kali, dikomentari sebanyak 4.100 kali, dan dibagikan lebih dari 300 kali hanya dalam waktu singkat. Aksi kontroversial ini memicu perdebatan sengit di kolom komentar antara protes simbolik terhadap pemerintah dan bentuk nasionalisme yang dipertanyakan.
Meski tidak dijelaskan identitas warga yang memasang bendera One Piece tersebut, gambar yang beredar memperlihatkan situasi di sebuah acara publik, dengan layar besar menampilkan pria berpakaian olahraga memegang bendera bajak laut. Banyak yang mengaitkan aksi ini dengan bentuk protes diam terhadap kondisi sosial-politik saat ini.
Salah satu komentar tajam datang dari warganet bernama Dwi yang menulis:
“Siapkan pidato yg mengenai mirisnya negara ini negara yg katanya merdeka tapi masih dijajah pemerintah sendiri para petinggi-petinggi yg mementingkan kepentingannya pribadi tanpa memikirkan rakyatnya, hilang sudah Pancasila sila ke‑5 keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Komentar ini disambut oleh ratusan suka dan komentar lanjutan yang menandakan bahwa sebagian publik merasa kehilangan harapan terhadap institusi pemerintahan yang seharusnya mengayomi.
Subhan Subhan pun menambahkan:
“Untuk mengurangi koruptor, para sarjana libatkan untuk mengawal sampai RT. Yang macam-macam bikin kegaduhan, tangkap. Pemerintah harus tegas.”
Namun, tidak semua komentar bernada pesimistis. Banyak warganet tetap menunjukkan kecintaannya pada Merah Putih meski dengan penuh kesadaran terhadap kondisi negeri.
Putra Bungsu Connect, misalnya, berkata. “Tetap merah putih, apapun keadaan negeri ini. Merah putih adalah lambang perjuangan. Tapi dibandingkan dengan kondisi sekarang, terasa ada yang berseberangan, khususnya dalam hal penerapan makna kemerdekaan secara bijak.”
Udin Kulon menimpali dengan nada getir. “Hanya para pejabat dan aparat yang merdeka, mereka bebas melakukan apa saja termasuk memeras rakyat.”
Sebagian netizen lain, seperti Oki Wijaya, tetap memegang teguh nasionalisme mereka. “Saya tetap pasang bendera merah putih, karena saya cinta negeri ini.”
Isu Nasionalisme di Era Digital
Isu ini memicu diskusi mendalam tentang makna nasionalisme, kebebasan berekspresi, dan batas antara kritik sosial dan penghinaan terhadap simbol negara. Ada yang menilai bahwa tindakan mengganti bendera Merah Putih dengan bendera One Piece merupakan bentuk kritik kreatif terhadap pemerintah. Namun ada pula yang memandang tindakan tersebut melecehkan simbol negara dan menghina jasa para pahlawan.
Aimar Emery menegaskan. “Tetap merah putih, saya menghargai perjuangan para pahlawan.”
Sementara Rendy Amar berkomentar sebaliknya. “Kita belum merdeka bos, masih dijajah. Mendingan merah putihnya disimpan di lemari.”
Netizen lainnya, Kang Bejo, berusaha menengahi. “Meskipun pemerintahan amburadul, rakyat gak boleh ikut amburadul.”
Pro dan Kontra Mengemuka
Komentar netral dan mencoba bijak juga turut muncul. Seperti dari Arie Andro yang menyatakan bahwa ini bisa menjadi bentuk aspirasi. “Itu gak masalah dan sebagai bentuk protes masyarakat terhadap pemerintah saat ini karena merasa tidak merdeka, yang penting jangan digabung dengan bendera merah putih, nanti dicari-cari kesalahanmu.”
Komentar ini memperlihatkan bahwa masyarakat saat ini semakin kreatif menyampaikan ketidakpuasan mereka, meskipun caranya bisa dianggap melanggar norma.
Di sisi lain, banyak warganet tetap menunjukkan semangat cinta tanah air. Supin Yamaha bahkan membubuhkan emotikon bendera Indonesia dan menulis:
“Tetap merah putih 🇮🇩🇮🇩🇮🇩.”
Cermin Kekecewaan Masyarakat
Komentar-komentar seperti milik Azze Zezi dan Yunirwan Purba menjadi gambaran konkret dari ketidakpuasan masyarakat.
“Minimal negara tuh jalanan gak berlubang, gak rusak, bayar pajak mudah, balik nama mudah, biar terasa manfaatnya ke seluruh rakyat.” tulis Azze.
Yunirwan bahkan menyindir julukan “Macan Asia” yang kini dianggap sudah “tua”.
Komentar lain seperti dari Junai Di, yang menulis “Merdeka Pajak”, dan Teguh Arjun yang menyentil soal rakyat berutang, memperjelas bahwa keluhan masyarakat tidak sekadar sentimen, tapi juga terkait kesulitan hidup sehari-hari.
Peristiwa ini muncul menjelang perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang. Di tengah euforia nasionalisme, sebagian masyarakat justru merasa kehilangan makna kemerdekaan yang sejati. Unggahan ini menjadi simbol bahwa masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Namun, tetap ada harapan. Komentar seperti milik Supin, Aimar, dan Oki menunjukkan bahwa nasionalisme belum padam sepenuhnya di hati rakyat.
“Merah Putih tetap nomor satu di hati kami,” tulis Putra Bungsu Connect.
Aksi seorang warga yang memilih memasang bendera bajak laut One Piece ketimbang Merah Putih pada momen penting kenegaraan memantik diskusi luas seputar identitas, nasionalisme, dan kekecewaan rakyat. Reaksi publik yang terbagi menunjukkan betapa pentingnya dialog antara rakyat dan negara untuk membangun kepercayaan yang kini tampak retak.
Merah Putih bukan sekadar kain dua warna, tapi simbol sejarah dan harapan. Namun, jika rakyat merasa tertinggal dari makna simbol tersebut, bukan tidak mungkin mereka memilih bendera lain untuk menyuarakan isi hati mereka.
Editor: Tim Investigasi Media Sosial
Sumber: Facebook Warta Desa dan komentar publik (31 Juli — 5 Agustus 2025).













