Berita Viral

Bendera One Piece di Tengah HUT RI, Warga dan Netizen Terbelah

308
×

Bendera One Piece di Tengah HUT RI, Warga dan Netizen Terbelah

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta Sela­tan, SniperNew.id – Sebuah ung­ga­han di media sosial menghe­bohkan jagat maya usai seo­rang war­ga Jakar­ta Sela­tan terekam ogah memasang ben­dera Mer­ah Putih pada momen Hari Ulang Tahun (HUT) Repub­lik Indone­sia. Alih-alih menun­jukkan sim­bol kene­garaan, war­ga terse­but jus­tru memil­ih men­gibarkan ben­dera bajak laut dari ani­me One Piece, yaitu Jol­ly Roger milik karak­ter Mon­key D. Luffy, di depan rumah­nya.

Diku­tip Selasa 05 Agus­tus 2025, dari ung­ga­han yang berasal dari akun Face­book Warta Desa pada 31 Juli pukul 15.17 itu segera men­u­ai beragam respons dari war­ganet. Postin­gan terse­but telah disukai lebih dari 24.000 kali, diko­men­tari sebanyak 4.100 kali, dan dibagikan lebih dari 300 kali hanya dalam wak­tu singkat. Aksi kon­tro­ver­sial ini memicu perde­batan sen­git di kolom komen­tar antara protes sim­bo­lik ter­hadap pemer­in­tah dan ben­tuk nasion­al­isme yang diper­tanyakan.

Mes­ki tidak dije­laskan iden­ti­tas war­ga yang memasang ben­dera One Piece terse­but, gam­bar yang beredar mem­per­li­hatkan situ­asi di sebuah acara pub­lik, den­gan layar besar menampilkan pria berpaka­ian olahra­ga memegang ben­dera bajak laut. Banyak yang men­gaitkan aksi ini den­gan ben­tuk protes diam ter­hadap kon­disi sosial-poli­tik saat ini.

  Buaya Viral Warga Diperingatkan Waspada

Salah satu komen­tar tajam datang dari war­ganet berna­ma Dwi yang menulis:
“Siap­kan pida­to yg men­ge­nai miris­nya negara ini negara yg katanya merde­ka tapi masih dija­jah pemer­in­tah sendiri para pet­ing­gi-pet­ing­gi yg mement­ingkan kepentin­gan­nya prib­a­di tan­pa memikirkan raky­at­nya, hilang sudah Pan­casi­la sila ke‑5 kead­i­lan bagi selu­ruh raky­at Indone­sia.”

Komen­tar ini dis­am­but oleh ratu­san suka dan komen­tar lan­ju­tan yang menan­dakan bah­wa seba­gian pub­lik merasa kehi­lan­gan hara­pan ter­hadap insti­tusi pemer­in­ta­han yang seharus­nya men­gay­o­mi.

Sub­han Sub­han pun menam­bahkan:
“Untuk men­gu­ran­gi korup­tor, para sar­jana libatkan untuk men­gaw­al sam­pai RT. Yang macam-macam bikin kegaduhan, tangkap. Pemer­in­tah harus tegas.”

Namun, tidak semua komen­tar berna­da pes­imistis. Banyak war­ganet tetap menun­jukkan kecin­taan­nya pada Mer­ah Putih mes­ki den­gan penuh kesadaran ter­hadap kon­disi negeri.

Putra Bung­su Con­nect, mis­al­nya, berka­ta. “Tetap mer­ah putih, apapun keadaan negeri ini. Mer­ah putih adalah lam­bang per­juan­gan. Tapi diband­ingkan den­gan kon­disi sekarang, terasa ada yang berse­beran­gan, khusus­nya dalam hal pen­er­a­pan mak­na kemerdekaan secara bijak.”

Udin Kulon menim­pali den­gan nada getir. “Hanya para peja­bat dan aparat yang merde­ka, mere­ka bebas melakukan apa saja ter­ma­suk memeras raky­at.”

Seba­gian neti­zen lain, seper­ti Oki Wijaya, tetap memegang teguh nasion­al­isme mere­ka. “Saya tetap pasang ben­dera mer­ah putih, kare­na saya cin­ta negeri ini.”

 

Isu Nasion­al­isme di Era Dig­i­tal

Isu ini memicu diskusi men­dalam ten­tang mak­na nasion­al­isme, kebe­basan berek­spre­si, dan batas antara kri­tik sosial dan penghi­naan ter­hadap sim­bol negara. Ada yang meni­lai bah­wa tin­dakan meng­gan­ti ben­dera Mer­ah Putih den­gan ben­dera One Piece meru­pakan ben­tuk kri­tik kre­atif ter­hadap pemer­in­tah. Namun ada pula yang meman­dang tin­dakan terse­but mele­cehkan sim­bol negara dan menghi­na jasa para pahlawan.

  Warga Muara Sibuntuon Bertaruh Nyawa Menyebrangi Sungai Deras

Aimar Emery mene­gaskan. “Tetap mer­ah putih, saya meng­har­gai per­juan­gan para pahlawan.”

Semen­tara Rendy Amar berko­men­tar seba­liknya. “Kita belum merde­ka bos, masih dija­jah. Mendin­gan mer­ah puti­h­nya dis­im­pan di lemari.”

Neti­zen lain­nya, Kang Bejo, berusa­ha menen­gahi. “Meskipun pemer­in­ta­han ambu­radul, raky­at gak boleh ikut ambu­radul.”

 

Pro dan Kon­tra Menge­mu­ka

Komen­tar netral dan men­co­ba bijak juga turut muncul. Seper­ti dari Arie Andro yang meny­atakan bah­wa ini bisa men­ja­di ben­tuk aspi­rasi. “Itu gak masalah dan seba­gai ben­tuk protes masyarakat ter­hadap pemer­in­tah saat ini kare­na merasa tidak merde­ka, yang pent­ing jan­gan diga­bung den­gan ben­dera mer­ah putih, nan­ti dicari-cari kesala­han­mu.”

Komen­tar ini mem­per­li­hatkan bah­wa masyarakat saat ini semakin kre­atif menyam­paikan keti­dakpuasan mere­ka, meskipun caranya bisa diang­gap melang­gar nor­ma.

Di sisi lain, banyak war­ganet tetap menun­jukkan seman­gat cin­ta tanah air. Supin Yama­ha bahkan mem­bubuhkan emotikon ben­dera Indone­sia dan menulis:
“Tetap mer­ah putih 🇮🇩🇮🇩🇮🇩.”

 

Cer­min Keke­ce­waan Masyarakat

Komen­tar-komen­tar seper­ti milik Azze Zezi dan Yunir­wan Pur­ba men­ja­di gam­baran konkret dari keti­dakpuasan masyarakat.
“Min­i­mal negara tuh jalanan gak berlubang, gak rusak, bayar pajak mudah, balik nama mudah, biar terasa man­faat­nya ke selu­ruh raky­at.” tulis Azze.
Yunir­wan bahkan menyindir julukan “Macan Asia” yang kini diang­gap sudah “tua”.

  Bukan Horor, Ini Ciamis: Makam Keramat dengan Jejak Sejarah Panjang

Komen­tar lain seper­ti dari Junai Di, yang menulis “Merde­ka Pajak”, dan Teguh Arjun yang menyen­til soal raky­at berutang, mem­per­je­las bah­wa keluhan masyarakat tidak sekadar sen­ti­men, tapi juga terkait kesuli­tan hidup sehari-hari.

Peri­s­ti­wa ini muncul men­je­lang per­ayaan HUT ke-80 Repub­lik Indone­sia pada 17 Agus­tus men­datang. Di ten­gah eufo­ria nasion­al­isme, seba­gian masyarakat jus­tru merasa kehi­lan­gan mak­na kemerdekaan yang sejati. Ung­ga­han ini men­ja­di sim­bol bah­wa masih banyak peker­jaan rumah bagi pemer­in­tah untuk mengem­ba­likan keper­cayaan pub­lik.

Namun, tetap ada hara­pan. Komen­tar seper­ti milik Supin, Aimar, dan Oki menun­jukkan bah­wa nasion­al­isme belum padam sepenuh­nya di hati raky­at.
“Mer­ah Putih tetap nomor satu di hati kami,” tulis Putra Bung­su Con­nect.

Aksi seo­rang war­ga yang memil­ih memasang ben­dera bajak laut One Piece ketim­bang Mer­ah Putih pada momen pent­ing kene­garaan meman­tik diskusi luas sep­utar iden­ti­tas, nasion­al­isme, dan keke­ce­waan raky­at. Reak­si pub­lik yang terba­gi menun­jukkan beta­pa pent­ingnya dia­log antara raky­at dan negara untuk mem­ban­gun keper­cayaan yang kini tam­pak retak.

Mer­ah Putih bukan sekadar kain dua war­na, tapi sim­bol sejarah dan hara­pan. Namun, jika raky­at merasa tert­ing­gal dari mak­na sim­bol terse­but, bukan tidak mungkin mere­ka memil­ih ben­dera lain untuk menyuarakan isi hati mere­ka.

Edi­tor: Tim Inves­ti­gasi Media Sosial
Sum­ber: Face­book Warta Desa dan komen­tar pub­lik (31 Juli — 5 Agus­tus 2025).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *