Jambi, SniperNew.id – Senin, 4 Agustus 2025 Sebuah unggahan di media sosial mendadak viral dan memicu perdebatan hangat di kalangan warganet. Unggahan tersebut berasal dari akun Facebook bernama Amar Pd, yang mengunggah foto dirinya memegang bendera bajak laut dari anime populer One Piece. Dalam keterangannya, Amar menulis, “Saya kibarkan sepanjang jalan Jambi-Pekanbaru 😁.”
Amar Pd, pemilik akun Facebook terverifikasi, adalah sosok di balik unggahan viral tersebut. Ia memperlihatkan dengan bangga bendera Jolly Roger—lambang bajak laut Topi Jerami (Straw Hat Pirates) dari serial One Piece. Unggahan itu mendapat lebih dari 78 ribu tanda suka, 10.900 komentar, dan telah dibagikan sebanyak 526 kali dalam kurun waktu singkat.
Amar menyatakan dirinya mengibarkan bendera tersebut sepanjang jalan Jambi-Pekanbaru. Meskipun konteksnya tampak santai dan jenaka, unggahan itu memicu beragam reaksi dari netizen. Banyak yang melihat aksinya sebagai bentuk ekspresi penggemar anime, namun tak sedikit pula yang menilainya sebagai tindakan yang kurang tepat, terutama menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus.
Unggahan tersebut dibuat pada hari Minggu (3/08/25) dan mulai viral hanya dalam waktu beberapa jam. Perdebatan di kolom komentar terus berlanjut hingga Senin pagi (4/08/25).
Aksi pengibaran bendera fiksi ini diklaim dilakukan Amar di sepanjang jalan lintas Jambi menuju Pekanbaru, sebuah jalur penting yang menghubungkan dua provinsi di Pulau Sumatera.
Aksi Amar memicu perdebatan karena dinilai sebagian pihak kurang menghormati momen menjelang perayaan Hari Kemerdekaan. Bendera Merah Putih sebagai simbol negara dianggap harus tetap menjadi prioritas dalam hal penghormatan nasional, terlebih pada bulan Agustus yang dikenal sebagai bulan kemerdekaan.
Bagaimana Reaksi Publik:
Komentar-komentar netizen terbagi menjadi beberapa kelompok besar. Berikut ini adalah kutipan langsung dari beberapa komentar warganet:
1. Andi Ishak menyindir bahwa masyarakat Indonesia sendiri sering lalai dalam menghargai nilai-nilai nasionalisme:
“Yang salah itu kita sendiri sebagai rakyat Indonesia. Ibaratnya nanam ubi tapi yang di petik cabe… coba nanam padi yang di panen padi juga. Insyaallah pasti keren.”
2. Sutrisno Zar, seorang sopir, mengaku tetap setia mengibarkan bendera Merah Putih menjelang 17 Agustus:
“Jujur saya akan tetap kibarkan bendera merah putih… bentuk rasa terima kasih kepada para pejuang dulu yang rela bertaruh nyawa, harta, dan keluarga… alfatihah buat para pahlawan negriku.”
3. Alan Dahlan menanggapi dengan nada kritis terhadap kondisi bangsa:
“Sayangnya kemerdekaan milik pejabat, korupsi di mana-mana, angka kemiskinan kian bertambah.”
4. Rudy Panjaitan menanggapi Alan dengan tegas:
“Saya tetap mengibarkan bendera merah putih. Saudara saya gugur di Papua untuk mempertahankan NKRI. Kau hanya ikut-ikutan membenci pemerintah.”
5. Jasa Print Dongkal dan Sarial Setiawan menyoroti kondisi bangsa yang menurut mereka kini telah dinodai oleh ketidakjujuran dan ketimpangan sosial.
6. Jpo Jpo dan beberapa lainnya menanggapi secara pragmatis. “Mikirin pejabat mending mikirin priok masing-masing… ampe kiamat pun gak kelar-kelar.”
7. Rama Pbl memberikan peringatan hukum. “Kalau berani kibarkan aja sendiri bos ku… jangan salahkan kalau anda di pidana.”
Namun pernyataan ini dibantah oleh Rhisky Lilis Handayani, yang menilai bahwa tidak ada unsur pidana selama bendera Merah Putih tetap dihormati dan ditempatkan sesuai aturan:
“Itu tidak ada unsur pidananya, selama bendera merah putih ditaruh di tempatnya.”
8. Septi Awan membela Amar dengan mengatakan:
“Gak takut itu bukan bendera negara lain, cuman bendera One Piece untuk membela negara kotor ini… bendera merah putih di hati.”
9. Budi Triono dan Buds Budi menyesalkan kurangnya pendidikan moral dan sejarah perjuangan bangsa:
“Bendera Merah Putih adalah lambang perjuangan… ini akibat tidak adanya pendidikan tentang perjuangan bangsa.”
10. Brow Badrueh dan M Hadi Purwanto memilih fokus pada realitas kehidupan masyarakat kecil:
“Begitu sulitnya mencari nafkah sekarang… cari nafkah sulit… ngapain nambah kesulitan lain.”
Fenomena ini mencerminkan betapa kuatnya peran media sosial dalam membentuk opini publik dan memperlihatkan ketegangan antara ekspresi individual dan penghormatan terhadap simbol nasional. Aksi Amar mungkin diniatkan sebagai candaan atau bentuk apresiasi terhadap budaya pop, namun di tengah situasi sosial dan politik yang sensitif, hal itu menjadi pemicu refleksi nasionalisme, rasa kecewa terhadap elit politik, dan kerinduan pada keadilan sosial.
Berbagai sudut pandang muncul, dari nasionalisme patriotik hingga pragmatisme rakyat kecil. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya edukasi sejarah bangsa serta perlunya kebebasan berekspresi yang tetap berada dalam koridor etika dan hukum.
Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, kisah ini membuka ruang diskusi tentang makna nasionalisme di era digital. Apakah kecintaan terhadap tanah air hanya bisa diwujudkan lewat simbol tradisional, ataukah sudah saatnya makna tersebut ditinjau ulang dengan tetap menjunjung tinggi semangat perjuangan?. (Amad)






