Terupdate

Majelis Pers: Pentingnya Pendalaman Disiplin Ilimu Jurnalistik Bagi Profesi Wartawan

516
×

Majelis Pers: Pentingnya Pendalaman Disiplin Ilimu Jurnalistik Bagi Profesi Wartawan

Sebarkan artikel ini

Bogor, SniperNew.id — Pen­dala­man Pro­fe­si Kejur­nal­is­tikan Dalam persep­si Pers bermarta­bat den­gan men­gangkat kode etik seba­gai pedo­man jur­nal­is­tik ser­ta men­jun­jung ting­gi UU Nomor 40 tahun 1999 ten­tang Pers meru­pakan kon­sis­ten­si yang tidak bisa ditawar menawar. Hal itu dikatakan Sekre­taris Jen­der­al (Sek­jen) Majelis Pers Ozzy Sulaiman Sudiro dalam mem­berikan pema­paran dan edukasi pen­dala­man pro­fe­si kejur­nal­is­tikan yang dilak­sanakan Forum Wartawan Jaya (FWJ) Indone­sia di Wis­ma Arga Muncar Bogor, Jum’at hing­ga Sab­tu (4 dan 5 Okto­ber 2024).

Per­soalan sen­gke­ta Pers kata Ozzy telah ter­ja­di sejak jaman orde baru hing­ga pas­ka refor­masi, meskipun dalam teorinya bah­wa sen­gke­ta pers harus melalui pros­es di dewan pers, namun banyak yang ter­abaikan dan tidak men­e­mukan solusinya, bahkan ker­ap diar­tikan seba­gai rull and the games.

“Kita bicara fak­tanya saja, sela­ma ini banyak teman-teman jur­nalis dikrim­i­nal­isasi hing­ga di meja hijaukan. Per­soalan itu muncul kare­na dewan pers tidak mam­pu men­gako­modir aspek pers. Pedo­man kode etik jur­nal­is­tik dan UU Pers ker­ap hanya seba­gai sim­bol, mere­ka berpe­do­man pada UU Siber dan UU ITE. Itu hal yang fatal dalam kemerdekan pers sehing­ga penyekatan dan diskrim­i­natif ter­hadap umat Pers terus berlang­sung. “Ujar Ozzy.

Majelis Pers menaruh hara­pan besar ter­hadap dewan pers saat ini. Sosok Ninik yang memi­li­ki con­trol val­ue diyaki­ni dap­at merubah tatanan yang telah men­gakar sela­ma ini.

“Kami yakin ket­ua dewan pers saat ini dap­at meli­hat dan mema­ha­mi fungsinya sehing­ga keber­adaan dewan pers tidak lagi men­ja­di mon­ster yang meny­er­amkan bagi umat pers seper­ti yang ter­ja­di sebelum — sebelum­nya.

  Wabup Pesawaran Bersama Danrem 043/Gatam Tinjau Progres Pembangunan KDMP Desa Sukaraja

“Kete­gasan, kepi­awa­ian Ninik dalam men­gako­modir aspek pers san­gat mam­pu mengem­ba­likan mar­wah Pers Indone­sia jika dia berpe­gang teguh pada 2 hal, yakni kode etik jur­nal­is­tik dan Undang Undang Pers, ser­ta meli­hat pros­es pas­ka refor­masi diben­tuknya kem­bali dewan pers inde­pen­dent oleh Majelis Pers. “Harap Ozzy.

Disi­ni lan­jut Ozzy, keterkai­tan Majelis Pers dalam pros­es sejarah pers pas­ka refor­masi tidak bisa dik­aburkan atau dihi­langkan. Ozzy men­je­laskan ter­ben­tuknya Majelis Pers atas doron­gan dari berba­gai pihak agar ter­cip­tanya dan ter­ja­ganya mar­wah Pers Indone­sia kede­pan.

“Majelis Pers wujud dari rasa empati ter­hadap perkem­ban­gan pers di Indone­sia. Atas kesep­a­katan 26 organ­isasi kewartawanan saat itu, tepat­nya pas­ka refor­masi tahun 1998. Dis­i­tuh­lah para organ­isasi yang diako­modir Komite Wartawan Refor­masi Indone­sia (KWRI) menarik sim­pul pent­ingnya pers Indone­sia memi­li­ki Undang Undang, Kode Etik Jur­nal­is­tik dan Dewan Pers yang Inde­pen­dent. Kami sep­a­kat 3 hal itu untuk diper­juangkan oleh Majelis Pers. “Ucap Ozzy.

Namun kata dia, sep­a­n­jang wak­tu sejak tahun 1999 hing­ga per­al­i­han sebelum dike­t­u­ai Ninik, dewan pers men­ja­di lem­ba­ga pen­ganut kekuasaan sehing­ga tidak ubah­nya seper­ti dewan pers sebelum­nya yang telah dibubarkan jaman orde baru. Bahkan Ozzy meli­hat lebih ter­pu­ruk kare­na banyaknya penyangkalan, pengabu­ran dan pem­be­naran yang dilakukan dewan pers saat ini.

“Wak­tu itu kita sep­a­kat akan diben­tuknya kem­bali dewan pers inde­pen­dent, namun ber­jalan­nya wak­tu, disini­lah letak keti­dak­patu­tan dewan pers inde­pen­dent, sehing­ga pub­lik diper­ton­tonkan pada sebuah lem­ba­ga hebat dan full pow­er. Muatan­nya begi­ni. Keti­ka ada adu­an sebuah karya jur­nal­is­tik, disini­lah letak keti­dak inde­pen­de­nan dewan pers. Pen­gadu dan teradu tidak per­nah diperte­mukan dalam menye­le­saikan sen­gke­tanya. Bahkan ter­li­hat dewan pers terke­san mem­berikan sanksi karya jur­nalis melang­gar kode etik pers, pedo­man media siber dan tan­pa adanya hak jawab maupun hak korek­si sebelum digali fak­ta-fak­tanya, sehing­ga terke­san adanya berpi­hakan, hing­ga akhirnya teradu ter­jer­at KUHP. “Bebernya.

  Sekretariat DPRD Pringsewu Bungkam Saat Dikonfirmasi Anggaran 2025, Ada Apa di Balik Ratusan Juta Rupiah?

Per­soalan lain­nya lan­jut Ozzy, dewan pers melu­pakan dan atau menomor limakan fungsinya yang ter­tuang di UU Pers itu sendiri, kare­na lem­ba­ga itu di era dig­i­tal­isasi ker­ap mengede­pankan pedo­man Media Siber yang bukan Undang Undang Pokok Pers.

“Di era dig­i­tal­isasi, media online yang memi­li­ki legal­i­tas hukum itu bukan media siber, akan tetapi ranah spe­si­fikasinya adalah media mas­sa. Jadi tidak tepat jika dewan pers meng­gu­nakan pedo­man media siber. Itu harus dipa­ha­mi oleh ket­ua dewan pers saat ini dan semua pihak, ter­ma­suk kepolisian, kare­na pedo­mam media siber adalah jebakan ker­anah UU ITE. “Ungkap­nya.

Dok­trin­isasi yang tidak baik ter­hadap pema­haman UU Pokok Pers dan Kode Etik Jur­nal­is­tik akan terus men­gakar jika tidak diben­dung. Lan­jut dia, dimana dewan pers harus mam­pu mengem­ba­likan mar­wah Pers Indone­sia tan­pa harus men­gelu­arkan Per­at­u­ran Pelak­sana (PP) dewan pers. Hal itu akan men­ja­di pre­sendent buruk bagi perkem­ban­gan Pers di Indone­sia.

“Yang per­lu dika­ji dan dipa­ha­mi adalah begi­ni. UU Pers memi­li­ki keku­atan tung­gal dan tidak ada atu­ran dari pro­duk man­a­pun ter­ma­suk dewan pers. Kare­na UU Pers bersi­fat tung­gal yang belum memi­li­ki Per­at­u­ran Pelak­sananya (PP). Jadi per­at­u­ran pelak­sana yang dibu­at dewan pers harus diper­tanyakan dan dika­ji ulang seba­gai lan­dasan hukum­nya ter­ma­suk ben­tukan ver­i­fi­asi, UKW dan lain seba­gainya. “Singgung dia.

Semen­tara itu ditem­pat yang sama, Ket­ua Umum FWJ Indone­sia, Musto­fa Hadi Karya atau yang biasa dis­apa Opan seba­gai pelak­sana kegiatan Pen­dala­man Pro­fe­si Kejur­nal­is­tikan ser­ta mema­ha­mi Kode Etik Jur­nal­is­tik, pem­be­da­han UU Pers dan UU ITE yang dige­lar sela­ma 2 hari di Wis­ma Arga Muncar Bogor men­gatakan bah­wa kegiatan terse­but meru­pakan ben­tuk kepri­hati­nan­nya ter­hadap perkem­ban­gan pers saat ini.

  Drama Buka Tutup Koperasi Desa Merah Putih

“Kami bukan hanya men­gu­pas sejarah Pers yang dilakukan Majelis Pers saat itu, akan tetapi kami juga mem­berikan peman­ta­pan kejur­nal­is­tikan kekin­ian beru­pa Mobile jur­nal­istm, tata cara pen­dala­man penulisan, pema­haman kode etik jur­nal­is­tik sam­pai kepa­da payung hukum pers dan ben­tuk kore­lasi UU ITE ter­hadap karya jur­nal­is­tik. “Ulas Opan.

Dia juga men­je­laskan para pen­didik dan pem­bicara yang hadir meru­pakan mere­ka yang sudah memi­li­ki keahlian­nya dalam pem­be­da­han kejur­nal­is­tikan dan hukum.

“Sen­ga­ja kami hadirkan lang­sung sek­jen Majelis Pers, Prak­tisi hukum sekali­gus penga­mat hukum dan poli­tik Damai Hari Lubis, Bunayya Sai­fud­din (Eks Har­i­an Peli­ta dan eks Kon­sul­tan Antara TV News), Ismet Novian­di (eks Metro TV), M Sunu Probo Basko­ro (eks LKBN Antara TV dan Eks Beri­ta Satu), Drs. Joko Irianto (eks Jawa Pos), Richard William (Gap­ta Fir­ma), Puguh Kri­bo, dan Jae­nal Abidin (Penga­mat Jur­nalis masyarakat). “Paparnya.

Opan juga menye­but kegiatan — kegiatan sper­ti ini akan terus dilakukan­nya dan men­ja­di pro­gram ruti­ni­tas per­ti­ga bulanan den­gan tema dan pen­ga­jar ser­ta pem­bicara yang dis­esuaikan den­gan pen­gala­man dan keahlian­nya.

“Ini akan men­ja­di agen­da ker­ja kami per­ti­ga bulan di FWJ Indone­sia, dan ten­tun­ya den­gan pen­ga­jar ser­ta pem­bicara yang pro­fe­sion­al, berani, berkeahlian dibidan­gnya agar next gen­erasi jur­nalis memi­li­ki pan­d­u­an dan kemam­puan mumpuni dalam men­jalankan pro­fesinya sesuai den­gan kode etik dan amanah pro­fe­si yang berkon­sti­tusi. “Pungkas­nya. [Abdul]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *