SniperNew.id – Pasar malam tak pernah kehilangan pesonanya. Lampu kelap-kelip, aroma jajanan khas, tawa anak-anak, dan teriakan khas pedagang jadi pemandangan yang tak tergantikan. Tapi di balik itu, terselip satu atraksi yang diam-diam menguras dompet dan membuat pengunjung lupa waktu: game lempar gelang.
Dalam salah satu unggahan Facebook yang viral pada akhir Juni lalu, terlihat dua pria tengah serius melemparkan gelang ke atas kaleng-kaleng rokok di meja. Mereka bukan sedang main-main, tapi “bertaruh” dengan penuh konsentrasi. Postingan itu diberi keterangan singkat namun padat: “Suhu bikin bangkrut game pasar malam”.
Komentar pun membanjiri unggahan tersebut. Ada yang mengaku ahli, ada yang mengenang masa lalu, ada pula yang sekadar curhat tentang kerugian. Salah satu komentar datang dari Hamzah Rudy Syafriyan yang bertanya: “Fauzi Al Bantani gua mengadu nasib di rantau, terus apakah aku ini termasuk judi?” Pertanyaan ini jadi pemantik diskusi serius: apakah lempar gelang ini murni hiburan atau sudah masuk kategori perjudian?
Manto menjawab tegas, “Orang yang mengadu nasib itu termasuk judi, dan hasilnya jadi haram, gitu pemikiran lo.” Komentar ini pun menuai tanggapan beragam. Ada yang setuju, ada yang membelanya. Ismahentdra Elclasiccoo menambahkan, “Kalau lu ikut undian berhadiah di desa lu itu juga termasuk judi mengadu nasib.”
Di sisi lain, ada yang memandangnya sebagai bagian dari lika-liku hidup. Seperti komentar dari Agustina Pradita: “Hidup di dunia banyak cerita, kita hanya menjalani.” Sementara itu, Abu Hanifa Syarida mengingatkan, “Betul, boneka capit juga, semua ulama mengingatkannya.” Sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa bentuk hiburan rakyat pun bisa menjadi arena spekulasi.
Meski demikian, tak sedikit yang menganggap lempar gelang ini sebagai permainan nostalgia. Yudha Panji membagikan kisahnya, “Itu kerjaan saya tahun 2004. Malah sering ngabisin rokok orang yang buka lempar gelang… Dua kantong plastik besar pernah dapat.” Ia mengenang masa-masa jadi ‘bandar’ pasar malam dengan penuh kebanggaan dan cerita.
Namun, tak semua pemain punya nasib baik. Iki Rizki menulis, “Pengalaman… abis 150 ribuan cuma dapet rokok sebungkus… itupun merasa bangga dan rokoknya buat rame-rame sama temen-temen.” Komentar ini menunjukkan betapa permainan ini lebih banyak memakan korban “dompet tipis” ketimbang menebar kemenangan.
Ahmad Cio mencoba menghibur, “Bukan suhu, kalah banyak itu salah cara lemparnya, bro.” Sedangkan Agus Pina membanggakan dirinya: “Gampang lempar gelang MH. Saya pernah modal 10 ribu dapet satu selop.” Tapi komentar dari Andi Fajar justru menyindir: “Gelangnya kecil kali ituuu.”
Tak sedikit yang merasa tertipu oleh ukuran gelang yang terlalu pas dengan kaleng. El Arkah mengaku, “Gelangnya memang ukurannya ngpres banget mas, saya pernah ngalamin, saya tarik-tarikin gelangnya agar tambah gede baru masuk.” Praktik ini mengisyaratkan kemungkinan adanya “permainan” di balik layar agar peluang menang makin kecil.
Komentar dari Ziko Papanya Naylendra Laksamana mungkin jadi simpulan paling sarkastik namun jujur: “Yang bangkrut bukan pasar malamnya, tetapi yang lempar gelang.” Sementara Maulana Kang Asep berbagi nasib, “Habis 100 ribu, cuma dapet roko 1 bungkus, y.”
Beberapa lainnya menyoroti strategi permainan ini. Muhamad Bayu Aji mengomentari aksi “suhu” yang viral itu: “Katanya suhu tapi ko minta digeser, kocak.” Sedangkan Mohamad Fatoni menyatakan: “Tempatku udah kagak ada bandarnya, kalah jual rumah. Tak kasih tau kuncinya bang.” Candaan pedas yang mencerminkan betapa seriusnya sebagian orang terhadap permainan yang sekilas tampak sepele ini.
Al Gifari menutup dengan humor tragis: “Gua fokus ke BPK yang duduk sambil goyang-goyang kepalanya…” Ekspresi seorang bapak yang tampaknya sudah pasrah dengan hasil permainan, menjadi simbol universal bagi semua yang kalah antara tawa dan tangis.
Dari kacamata ekonomi, fenomena lempar gelang ini sebenarnya menunjukkan dinamika sirkulasi uang di sektor informal. Setiap gelang dihargai Rp10.000, dan dengan hadiah seperti rokok satu bungkus atau bahkan satu slop, nilai tukar permainan ini bersifat spekulatif.
Permainan ini memang menciptakan peluang ekonomi, terutama bagi penyelenggara dan pedagang rokok eceran. Tapi, jika dilihat dari sisi pemain, permainan ini tak ubahnya seperti lotre kecil-kecilan banyak yang keluar modal, sedikit yang balik modal.
Apakah ini judi? Dalam hukum positif Indonesia, praktik perjudian dilarang. Namun, jika permainan ini tak menggunakan sistem taruhan uang dan sekadar dinilai sebagai ‘game ketangkasan’, maka ia lolos secara hukum. Meski begitu, perdebatan dari sisi agama dan moral tetap menjadi diskusi hangat, seperti yang terlihat dari komentar-komentar netizen.
Permainan lempar gelang di pasar malam adalah cermin dari budaya hiburan rakyat yang sarat warna dan emosi. Ada tawa, ada kecewa, bahkan ada yang sampai merasa “bangkrut”. Meski bagi sebagian orang ini hanya hiburan receh, nyatanya ia menyimpan kisah-kisah serius: dari nostalgia masa lalu, candaan getir, hingga refleksi soal perjudian terselubung.
Jadi, lain kali ketika kamu ke pasar malam dan melihat tumpukan kaleng serta gelang-gelang kecil… ingatlah: yang kamu lempar mungkin bukan cuma gelang, tapi nasib dan sisa uang jajanmu.
Penulis: Redaksi Ekonomi Rakyat
Editor: Tim Nostalgia


















