Manokwari, SniperNew.id – Di tengah euforia pengumuman daftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun ini, suasana haru biru justru terasa di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Alih-alih bergembira dengan peluang baru untuk menjadi aparatur negara, sejumlah tenaga honorer lama justru harus menelan pil pahit karena tidak masuk dalam daftar peserta CPNS yang diumumkan pemerintah. Ungkapan kekecewaan ini mencuat melalui sebuah unggahan di media sosial Threads oleh akun kikin_j.f, yang kemudian menjadi perhatian warganet.
Dalam unggahannya, akun tersebut menulis. “Di tengah euforia pengumuman daftar calon pegawai negeri sipil (CPNS) di berbagai daerah, termasuk di Manokwari, terselip kekecewaan mendalam dari sebagian tenaga honorer lama. Mereka yang merasa kecewa dan putus asa karena tidak masuk dalam daftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Mereka telah mengabdi selama bertahun-tahun dengan gaji yang minim dan tanpa jaminan keamanan kerja. Namun, ketika kesempatan untuk menjadi CPNS datang, mereka tidak masuk dalam daftar. #distrikprafi”
Unggahan itu juga dilengkapi sebuah video singkat yang memperlihatkan suasana di sebuah lokasi di Distrik Prafi, Manokwari. Terlihat dua sepeda motor tergeletak di lantai, dan seorang pria tampak berada di sekitar area tersebut. Dalam keterangan video, tertulis kalimat: “Distrik Prafi, Semoga aman terkendali.”
Peristiwa ini berawal dari pengumuman resmi pemerintah terkait daftar nama-nama yang lolos sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2025. Pengumuman tersebut menimbulkan reaksi beragam di kalangan masyarakat, termasuk rasa kecewa dari sebagian tenaga honorer lama yang merasa tidak dihargai.
Mereka mengungkapkan rasa frustasi karena tidak masuk dalam daftar CPNS, padahal telah mengabdi selama bertahun-tahun dengan gaji yang kecil dan tanpa kepastian status pekerjaan.
Kekecewaan ini akhirnya diungkapkan di media sosial, salah satunya oleh akun Threads kikin_j.f. Unggahan itu menjadi viral dan memantik diskusi hangat di kalangan warganet, terutama mereka yang memiliki nasib serupa.
Pihak yang terlibat dalam peristiwa ini adalah. Tenaga honorer lama di Kabupaten Manokwari yang merasa dirugikan karena tidak masuk daftar CPNS. Pemerintah pusat dan daerah yang bertanggung jawab atas proses rekrutmen CPNS.
Akun media sosial kikin_j.f yang mengunggah pernyataan dan video dari Distrik Prafi, menjadi salah satu sumber suara aspirasi para tenaga honorer.
Peristiwa ini terjadi di Kabupaten Manokwari, khususnya di Distrik Prafi. Video yang diunggah memperlihatkan situasi di sebuah lokasi yang disebut berada di wilayah distrik tersebut.
Pengumuman CPNS dilakukan pada pertengahan September 2025, dan unggahan media sosial yang menyoroti kekecewaan para tenaga honorer tersebut diunggah sekitar 22 jam sebelum berita ini diterbitkan, atau pada Selasa (16/09/2025).
Kekecewaan muncul karena banyak tenaga honorer yang berharap mendapatkan pengangkatan menjadi CPNS setelah bertahun-tahun mengabdi dengan status kerja tidak tetap. Mereka merasa layak untuk diakomodasi karena telah membantu jalannya pelayanan publik di daerah selama ini.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Nama mereka tidak tercantum dalam daftar CPNS yang diumumkan. Kondisi ini memicu rasa kecewa, frustrasi, dan putus asa di kalangan mereka yang merasa jasanya tidak diakui.
Kekecewaan ini kemudian diungkapkan melalui media sosial. Salah satu yang paling menonjol adalah unggahan akun kikin_j.f di Threads. Unggahan itu menyuarakan perasaan sedih, putus asa, dan harapan agar situasi tetap kondusif di Distrik Prafi. Pesan itu sekaligus menjadi bentuk seruan moral agar masyarakat tetap tenang meski ada kekecewaan yang dirasakan.
Bagi tenaga honorer, bekerja di instansi pemerintahan selama bertahun-tahun adalah sebuah pengabdian. Mereka mengisi kekosongan tenaga kerja di sektor publik dengan imbalan yang relatif kecil, bahkan ada yang hanya menerima gaji bulanan beberapa ratus ribu rupiah.
Harapan mereka sederhana, yakni mendapatkan kepastian status kerja melalui pengangkatan menjadi CPNS. Hal ini dianggap sebagai penghargaan atas loyalitas mereka. Namun, realitas pahit harus diterima ketika nama mereka tidak muncul dalam daftar yang diumumkan pemerintah.
Salah satu tenaga honorer yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kepada Snipernew.id, “Kami sudah kerja bertahun-tahun, membantu pemerintah. Tapi ketika ada kesempatan CPNS, kami malah tidak masuk. Rasanya sangat kecewa.”
Kekecewaan ini tidak hanya berdampak pada perasaan individu, tetapi juga memicu keresahan sosial di beberapa wilayah. Pemerintah daerah diharapkan segera memberikan klarifikasi dan solusi agar keresahan ini tidak berkembang menjadi konflik.
Unggahan yang beredar juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban. Kalimat “Semoga aman terkendali” menjadi pesan kunci agar situasi tetap kondusif, terutama di Distrik Prafi yang disebut dalam unggahan tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah terkait kekecewaan tenaga honorer yang tidak masuk daftar CPNS. Namun, sejumlah pihak mendesak agar pemerintah memberikan penjelasan transparan mengenai mekanisme seleksi.
Peristiwa di Manokwari ini menjadi potret nyata persoalan tenaga honorer yang belum tuntas di Indonesia. Di satu sisi, pemerintah berupaya melakukan reformasi birokrasi dengan rekrutmen CPNS yang transparan dan berbasis merit. Namun di sisi lain, masih banyak tenaga honorer yang merasa belum mendapatkan keadilan.
Kasus di Distrik Prafi ini mengingatkan semua pihak pentingnya komunikasi yang baik antara pemerintah dan tenaga honorer, agar kekecewaan yang timbul tidak berujung pada konflik sosial.
Para tenaga honorer berharap agar ada kebijakan afirmasi bagi mereka yang sudah lama mengabdi, sehingga kesempatan menjadi CPNS tidak sepenuhnya bergantung pada tes, tetapi juga mempertimbangkan masa pengabdian. (amh/ABB)













