Berita Ekonomi

Ampo: Camilan Unik dari Tanah Lempung yang Bertahan Hingga Generasi Kelima

552
×

Ampo: Camilan Unik dari Tanah Lempung yang Bertahan Hingga Generasi Kelima

Sebarkan artikel ini

Tuban, Jawa Timur – Di ten­gah maraknya jajanan mod­ern dan cami­lan kekin­ian, sebuah tra­disi kulin­er kuno masih berta­han di sebuah desa di Tuban, Jawa Timur. Seo­rang nenek sepuh yang akrab dis­apa Sim­bah masih tekun meneku­ni pro­fe­si unik yang mungkin hanya satu-sat­un­ya di Indone­sia: mem­bu­at cami­lan tra­di­sion­al dari tanah lem­pung yang dike­nal den­gan sebu­tan ampo, Rabu (17/09/2025).

Ung­ga­han video yang dibagikan akun Face­book Bule Jowo Offi­cial mem­per­li­hatkan sosok nenek den­gan kerudung mer­ah dan kebaya bermo­tif bun­ga, ten­gah men­go­lah tanah lem­pung men­ja­di batan­gan tip­is-tip­is. Video terse­but menarik per­ha­t­ian neti­zen, kare­na cami­lan berba­han dasar tanah ini ter­den­gar asing bagi seba­gian masyarakat, namun mem­bawa nos­tal­gia bagi yang per­nah men­ci­cipinya.

Dalam ung­ga­han­nya, ter­tulis. “Mungkin cuma satu-sat­un­ya di Indone­sia yang masih meneku­ni pro­fe­si ini, sam­pai gen­erasi ke‑5 masih ditekunin Sim­bah ini. Pem­bu­atan ampo tanah buat cemi­lan.”

Ampo adalah cami­lan tra­di­sion­al khas masyarakat Jawa, khusus­nya di daer­ah Tuban. Bahan uta­manya adalah tanah lem­pung murni yang dip­il­ih secara khusus, lalu dio­lah hing­ga men­ja­di batan­gan tip­is yang renyah. Mes­ki ter­den­gar aneh bagi seba­gian orang, cami­lan ini diper­caya memi­li­ki khasi­at ter­ten­tu, mulai dari meredakan sak­it perut, hing­ga diang­gap seba­gai “pem­ber­sih” perut.

Tra­disi mem­bu­at ampo sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan menu­rut ceri­ta war­ga sudah diwariskan lin­tas gen­erasi. Kini, pro­fe­si itu mulai lang­ka. Hanya segelin­tir orang, seper­ti Sim­bah dalam video itu, yang masih melestarikan­nya.

  Dari Gagal Bisnis Bakmie, Farhan Bangkit Lagi dengan Modal 800 Ribu

Dalam video yang beredar, ter­li­hat Sim­bah mema­hat sebongkah tanah lem­pung besar den­gan pisau kecil. Tanah itu diiris tip­is, lalu dita­ta rapi di tam­pah (nam­pan bam­bu). Selan­jut­nya, tanah dipang­gang hing­ga ker­ing dan keras.

Dari situ lahirlah ampo, cami­lan yang konon lebih nikmat dimakan begi­tu saja, mes­ki bagi seba­gian orang rasanya seper­ti “100% tanah”, seba­gaimana diungkap­kan seo­rang neti­zen berna­ma Eva.  “Wak­tu kecil aku ser­ing lihat orang tua dulu makan ampo… Keli­atan­nya enak, gili­ran aku nyo­ba rasanya 100% tanah 😛.”

Ung­ga­han terse­but meman­tik banyak komen­tar dari war­ga yang merasa bernos­tal­gia den­gan cami­lan ini. Akun berna­ma Mba Pur Tung­gak menuliskan.

“Lem­pung namanya kalau di kam­pungku. Jaman saya kecil ya suka makan kare­na dulu gak ada cami­lan. Jadi kalau ibuku beli lem­pung buat rebus daun papaya biar gak pahit.”

Semen­tara itu, Suri­ni Rini menam­bahkan bah­wa di daer­ah­nya tanah lem­pung tidak hanya untuk dimakan, tetapi juga digu­nakan seba­gai bahan tam­ba­han saat mere­bus daun pepaya. “Kalau lem­pung di tem­patku buat nggodog daun pepaya biar nggak pahit, tapi kan bar di godog dicu­ci bersih.”

Komen­tar lain datang dari Moham­mad Rah­mat Dani, yang mengin­gat kem­bali masa kecil­nya di Tuban. “Sehat-sehat ya Mbah. Dulu saya masih di desa Kerek masih makan begi­t­u­an, tapi sekarang jauh dari kam­pung. Tidak per­nah kete­mu lagi ampo. InsyaAl­lah pulang ke Tuban bisa makan ampo lagi, Mbah. Salam dari saya.”

Tak sedik­it pula war­ganet yang kaget menge­tahui ada cami­lan dari tanah. Seo­rang neti­zen berna­ma Jumiati berko­men­tar. “Baru tau tanah buat makanan cami­lan, iiih 😁🥺.”

  Pedagang Mlijo Hidupkan Ekonomi Pagi di Desa Karang Sari

Komen­tar sena­da datang dari Tatia Kiki. “Baru tahu tanah dibikin cemi­lan.”

Semen­tara itu, ada juga yang mem­berikan komen­tar kri­tis. Akun Tri Yani menuliskan. “Itu namanya jorok lah, tanah kok dimakan. Gilak kali ya.”

Komen­tar itu pun men­u­ai perde­batan dari peng­gu­na lain yang men­je­laskan bah­wa ampo bukan sem­barang tanah, melainkan tanah lem­pung pil­i­han yang sudah melalui pros­es pemurn­ian dan pemang­gan­gan sehing­ga diang­gap aman.

Dari sisi medis, men­gon­sum­si tanah memang tidak dian­jurkan kare­na berpoten­si men­gan­dung bak­teri, par­a­sit, atau telur cac­ing. Hal ini sejalan den­gan komen­tar Priska Mar­diana yang menulis singkat. “Apa kabar telur cac­ing?”

Namun, seba­gian masyarakat Jawa mem­per­cayai bah­wa ampo memi­li­ki man­faat tra­di­sion­al. Konon, ibu hamil di masa lalu ada yang suka men­gon­sum­si ampo kare­na diyaki­ni dap­at men­gu­ran­gi rasa mual. Selain itu, masyarakat pedesaan juga per­caya bah­wa tanah lem­pung memi­li­ki kan­dun­gan min­er­al ter­ten­tu yang baik untuk tubuh, meskipun klaim terse­but belum ter­buk­ti secara ilmi­ah.

Ampo bukan sekadar cami­lan, melainkan bagian dari tra­disi pan­jang masyarakat Jawa. Di balik seder­hananya bahan baku, cami­lan ini meny­im­pan nilai his­toris dan budaya.

Seir­ing perkem­ban­gan zaman, cami­lan ini semakin sulit dite­mukan. Anak muda lebih men­ge­nal cami­lan mod­ern dari­pa­da kuda­pan seder­hana ini. Hanya segelin­tir pem­bu­at, seper­ti Sim­bah dalam video itu, yang masih melestarikan teknik pem­bu­atan ampo hing­ga gen­erasi keli­ma.

Ung­ga­han ini pun menyadark­an banyak orang bah­wa Indone­sia memi­li­ki kekayaan kulin­er tra­di­sion­al yang san­gat beragam, bahkan ada yang berba­han dasar tanah.

Men­ga­pa Ampo Masih Berta­han?

1. Fak­tor budaya: Tra­disi turun-temu­run mem­bu­at masyarakat di daer­ah ter­ten­tu tetap meng­hor­mati dan melestarikan­nya.

2. Fak­tor nos­tal­gia: Bagi seba­gian orang, ampo meng­hadirkan kenan­gan masa kecil di desa.

  Menkeu Purbaya Tegas! Barang Thrifting Diblokir Massal Demi Lindungi UMKM Lokal

3. Fak­tor keter­batasan zaman dulu: Pada masa lalu, sebelum banyak pil­i­han jajanan, ampo men­ja­di cami­lan murah dan mudah dibu­at.

Namun kini, alasan uta­manya lebih pada melestarikan budaya, bukan lagi seba­gai kebu­tuhan uta­ma cami­lan.

Ampo dibu­at dari tanah lem­pung khusus yang tidak berpasir.

Dibu­at den­gan cara dipa­hat dan dipang­gang, bukan dimasak den­gan minyak.

Dike­nal di daer­ah Tuban, Jawa Timur, dan seba­gian Jawa Ten­gah.

Diper­caya seba­gian masyarakat dap­at men­e­tralkan asam lam­bung.

Kini hanya segelin­tir orang yang masih mem­bu­at­nya.

Perde­batan soal ampo mencer­minkan ben­tu­ran antara tra­disi dan moder­ni­tas. Seba­gian orang men­gang­gap­nya unik dan layak dilestarikan, seba­gian lagi merasa tidak masuk akal men­gon­sum­si tanah.

Namun demikian, keber­adaan ampo adalah buk­ti beta­pa kayanya warisan kulin­er Indone­sia. Tra­disi ini menun­jukkan kemam­puan masyarakat masa lalu untuk beradap­tasi den­gan lingkun­gan dan meman­faatkan apa yang ada di sek­i­tarnya, ter­ma­suk tanah lem­pung.

Fenom­e­na ampo men­ga­jarkan bah­wa kulin­er tra­di­sion­al Indone­sia tidak hanya soal rasa, tetapi juga ten­tang sejarah, budaya, dan iden­ti­tas masyarakat­nya. Apa yang mungkin diang­gap aneh oleh seba­gian orang, jus­tru men­ja­di kebang­gaan bagi yang lain kare­na meru­pakan warisan leluhur.

Sim­bah, sosok perem­puan tua dalam video terse­but, adalah pen­ja­ga tra­disi yang tetap berta­han mes­ki dunia terus berubah. Sela­ma masih ada orang seper­ti beli­au, ampo akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Di era mod­ern, mungkin ampo tidak lagi pop­uler seba­gai cami­lan sehari-hari. Namun seba­gai warisan budaya, ampo layak dike­nang, dipela­jari, dan dihar­gai. Kare­na dari tanah, manu­sia berasal, dan mungkin dari tanah pula, manu­sia bisa bela­jar ten­tang keseder­hanaan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *