Berita Ekonomi

Ampo: Camilan Unik dari Tanah Lempung yang Bertahan Hingga Generasi Kelima

450
×

Ampo: Camilan Unik dari Tanah Lempung yang Bertahan Hingga Generasi Kelima

Sebarkan artikel ini

Tuban, Jawa Timur – Di tengah maraknya jajanan modern dan camilan kekinian, sebuah tradisi kuliner kuno masih bertahan di sebuah desa di Tuban, Jawa Timur. Seorang nenek sepuh yang akrab disapa Simbah masih tekun menekuni profesi unik yang mungkin hanya satu-satunya di Indonesia: membuat camilan tradisional dari tanah lempung yang dikenal dengan sebutan ampo, Rabu (17/09/2025).

Unggahan video yang dibagikan akun Facebook Bule Jowo Official memperlihatkan sosok nenek dengan kerudung merah dan kebaya bermotif bunga, tengah mengolah tanah lempung menjadi batangan tipis-tipis. Video tersebut menarik perhatian netizen, karena camilan berbahan dasar tanah ini terdengar asing bagi sebagian masyarakat, namun membawa nostalgia bagi yang pernah mencicipinya.

Dalam unggahannya, tertulis. “Mungkin cuma satu-satunya di Indonesia yang masih menekuni profesi ini, sampai generasi ke-5 masih ditekunin Simbah ini. Pembuatan ampo tanah buat cemilan.”

Ampo adalah camilan tradisional khas masyarakat Jawa, khususnya di daerah Tuban. Bahan utamanya adalah tanah lempung murni yang dipilih secara khusus, lalu diolah hingga menjadi batangan tipis yang renyah. Meski terdengar aneh bagi sebagian orang, camilan ini dipercaya memiliki khasiat tertentu, mulai dari meredakan sakit perut, hingga dianggap sebagai “pembersih” perut.

Tradisi membuat ampo sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan menurut cerita warga sudah diwariskan lintas generasi. Kini, profesi itu mulai langka. Hanya segelintir orang, seperti Simbah dalam video itu, yang masih melestarikannya.

Dalam video yang beredar, terlihat Simbah memahat sebongkah tanah lempung besar dengan pisau kecil. Tanah itu diiris tipis, lalu ditata rapi di tampah (nampan bambu). Selanjutnya, tanah dipanggang hingga kering dan keras.

Dari situ lahirlah ampo, camilan yang konon lebih nikmat dimakan begitu saja, meski bagi sebagian orang rasanya seperti “100% tanah”, sebagaimana diungkapkan seorang netizen bernama Eva.  “Waktu kecil aku sering lihat orang tua dulu makan ampo… Keliatannya enak, giliran aku nyoba rasanya 100% tanah 😛.”

Unggahan tersebut memantik banyak komentar dari warga yang merasa bernostalgia dengan camilan ini. Akun bernama Mba Pur Tunggak menuliskan.

“Lempung namanya kalau di kampungku. Jaman saya kecil ya suka makan karena dulu gak ada camilan. Jadi kalau ibuku beli lempung buat rebus daun papaya biar gak pahit.”

Sementara itu, Surini Rini menambahkan bahwa di daerahnya tanah lempung tidak hanya untuk dimakan, tetapi juga digunakan sebagai bahan tambahan saat merebus daun pepaya. “Kalau lempung di tempatku buat nggodog daun pepaya biar nggak pahit, tapi kan bar di godog dicuci bersih.”

Komentar lain datang dari Mohammad Rahmat Dani, yang mengingat kembali masa kecilnya di Tuban. “Sehat-sehat ya Mbah. Dulu saya masih di desa Kerek masih makan begituan, tapi sekarang jauh dari kampung. Tidak pernah ketemu lagi ampo. InsyaAllah pulang ke Tuban bisa makan ampo lagi, Mbah. Salam dari saya.”

Tak sedikit pula warganet yang kaget mengetahui ada camilan dari tanah. Seorang netizen bernama Jumiati berkomentar. “Baru tau tanah buat makanan camilan, iiih 😁🥺.”

Komentar senada datang dari Tatia Kiki. “Baru tahu tanah dibikin cemilan.”

Sementara itu, ada juga yang memberikan komentar kritis. Akun Tri Yani menuliskan. “Itu namanya jorok lah, tanah kok dimakan. Gilak kali ya.”

Komentar itu pun menuai perdebatan dari pengguna lain yang menjelaskan bahwa ampo bukan sembarang tanah, melainkan tanah lempung pilihan yang sudah melalui proses pemurnian dan pemanggangan sehingga dianggap aman.

Dari sisi medis, mengonsumsi tanah memang tidak dianjurkan karena berpotensi mengandung bakteri, parasit, atau telur cacing. Hal ini sejalan dengan komentar Priska Mardiana yang menulis singkat. “Apa kabar telur cacing?”

Namun, sebagian masyarakat Jawa mempercayai bahwa ampo memiliki manfaat tradisional. Konon, ibu hamil di masa lalu ada yang suka mengonsumsi ampo karena diyakini dapat mengurangi rasa mual. Selain itu, masyarakat pedesaan juga percaya bahwa tanah lempung memiliki kandungan mineral tertentu yang baik untuk tubuh, meskipun klaim tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Ampo bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari tradisi panjang masyarakat Jawa. Di balik sederhananya bahan baku, camilan ini menyimpan nilai historis dan budaya.

Seiring perkembangan zaman, camilan ini semakin sulit ditemukan. Anak muda lebih mengenal camilan modern daripada kudapan sederhana ini. Hanya segelintir pembuat, seperti Simbah dalam video itu, yang masih melestarikan teknik pembuatan ampo hingga generasi kelima.

Unggahan ini pun menyadarkan banyak orang bahwa Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisional yang sangat beragam, bahkan ada yang berbahan dasar tanah.

Mengapa Ampo Masih Bertahan?

1. Faktor budaya: Tradisi turun-temurun membuat masyarakat di daerah tertentu tetap menghormati dan melestarikannya.

2. Faktor nostalgia: Bagi sebagian orang, ampo menghadirkan kenangan masa kecil di desa.

3. Faktor keterbatasan zaman dulu: Pada masa lalu, sebelum banyak pilihan jajanan, ampo menjadi camilan murah dan mudah dibuat.

Namun kini, alasan utamanya lebih pada melestarikan budaya, bukan lagi sebagai kebutuhan utama camilan.

Ampo dibuat dari tanah lempung khusus yang tidak berpasir.

Dibuat dengan cara dipahat dan dipanggang, bukan dimasak dengan minyak.

Dikenal di daerah Tuban, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Tengah.

Dipercaya sebagian masyarakat dapat menetralkan asam lambung.

Kini hanya segelintir orang yang masih membuatnya.

Perdebatan soal ampo mencerminkan benturan antara tradisi dan modernitas. Sebagian orang menganggapnya unik dan layak dilestarikan, sebagian lagi merasa tidak masuk akal mengonsumsi tanah.

Namun demikian, keberadaan ampo adalah bukti betapa kayanya warisan kuliner Indonesia. Tradisi ini menunjukkan kemampuan masyarakat masa lalu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya, termasuk tanah lempung.

Fenomena ampo mengajarkan bahwa kuliner tradisional Indonesia tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, budaya, dan identitas masyarakatnya. Apa yang mungkin dianggap aneh oleh sebagian orang, justru menjadi kebanggaan bagi yang lain karena merupakan warisan leluhur.

Simbah, sosok perempuan tua dalam video tersebut, adalah penjaga tradisi yang tetap bertahan meski dunia terus berubah. Selama masih ada orang seperti beliau, ampo akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Di era modern, mungkin ampo tidak lagi populer sebagai camilan sehari-hari. Namun sebagai warisan budaya, ampo layak dikenang, dipelajari, dan dihargai. Karena dari tanah, manusia berasal, dan mungkin dari tanah pula, manusia bisa belajar tentang kesederhanaan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *