Sidoarjo, SniperNew.id – Suasana di Terminal Purabaya (Bungurasih), Sidoarjo, sempat memanas pada Rabu (20/8/2025) pagi. Seorang calo diduga terlibat keributan dengan seorang penumpang di pintu keluar terminal, setelah terjadi ketegangan terkait tawaran pembelian tiket bus.
Informasi mengenai peristiwa ini beredar luas di media sosial pada Kamis (21/8/2025), setelah sebuah akun bernama Andreli_48 mengunggah keterangan mengenai insiden tersebut. Dalam unggahan itu disebutkan bahwa keributan bermula ketika seorang calo mencoba menawarkan tiket bus kepada seorang penumpang yang baru saja melintas di area terminal.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, awalnya situasi berjalan biasa seperti aktivitas di terminal pada umumnya. Calo tersebut menghampiri penumpang dan menawarkan tiket dengan cara yang dianggap cukup memaksa. Penumpang yang dimaksud menolak dengan halus, namun calo itu tetap berusaha mendorong penjualan tiketnya.
Penumpang kemudian merasa terganggu karena calo terus mendesak meskipun telah ditolak. Suasana pun memanas saat penumpang menolak dengan nada tegas. Kondisi semakin tidak terkendali ketika penumpang tersebut meminta bantuan dari orang-orang di sekitarnya.
Keributan pun tak terelakkan. Dari informasi yang beredar, calo tersebut akhirnya tersungkur setelah mendapat perlawanan. Meski demikian, belum ada keterangan resmi mengenai bagaimana benturan fisik itu terjadi serta siapa saja yang terlibat dalam melerai peristiwa tersebut.
Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi menyebut bahwa praktik percaloan di Terminal Purabaya bukan hal yang baru. “Sudah sering, mas. Banyak penumpang yang mengeluh karena dipaksa membeli tiket dengan harga lebih tinggi dari loket resmi,” ujar salah satu pedagang sekitar terminal yang enggan disebutkan namanya.
Menurutnya, beberapa calo biasanya bergerak di area pintu keluar maupun pintu masuk terminal, menyasar penumpang yang terlihat kebingungan. “Kadang ada yang tidak tahu bus jurusan mana yang harus dinaiki. Calo memanfaatkan situasi itu. Kalau menolak, sering dipaksa atau dibuntuti,” tambahnya.
Kehadiran calo di terminal kerap menimbulkan keresahan, tidak hanya bagi penumpang, tetapi juga bagi pengelola resmi. Harga tiket yang ditawarkan calo umumnya lebih mahal daripada tarif resmi, sehingga merugikan penumpang. Selain itu, percaloan juga mengganggu kenyamanan dan keamanan di area terminal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Terminal Purabaya belum memberikan keterangan resmi mengenai keributan yang terjadi. Namun, sejumlah petugas keamanan internal terminal dikabarkan langsung turun tangan untuk meredam situasi agar tidak berlanjut.
Sementara itu, aparat kepolisian dari Polsek Waru, Sidoarjo, disebut tengah menelusuri informasi terkait kejadian tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan kebenaran kabar yang beredar di media sosial serta menindaklanjuti keresahan masyarakat.
Kapolsek Waru, saat dimintai konfirmasi, menyatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi. “Kami sudah mendapatkan laporan awal dari masyarakat mengenai adanya keributan di Terminal Purabaya. Saat ini kami sedang menelusuri kebenaran peristiwa tersebut, termasuk siapa saja yang terlibat,” katanya.
Ia menambahkan, polisi akan berkoordinasi dengan pengelola terminal dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap praktik percaloan. “Kami akan menindak tegas jika memang terbukti ada praktik pemaksaan atau tindakan yang merugikan penumpang,” tegasnya.
Fenomena percaloan di terminal bus sebenarnya bukan hal baru. Hampir di setiap terminal besar di Indonesia, calo seringkali muncul untuk menawarkan tiket. Keberadaan mereka kerap dikaitkan dengan jaringan yang sulit diberantas karena bergerak secara informal dan menyasar penumpang yang membutuhkan kepastian transportasi dengan cepat.
Terminal Purabaya sendiri merupakan salah satu terminal terbesar di Jawa Timur, bahkan disebut sebagai terminal tersibuk di Indonesia. Dengan ribuan penumpang yang keluar masuk setiap harinya, potensi terjadinya percaloan cukup tinggi.
Pengamat transportasi publik menilai bahwa percaloan muncul karena masih adanya celah dalam sistem layanan penumpang. “Jika sistem informasi keberangkatan dan penjualan tiket semakin transparan serta mudah diakses, ruang gerak calo akan semakin sempit. Penumpang tidak lagi bingung atau ragu mencari tiket,” ujar seorang pengamat transportasi dari Surabaya.
Ia menambahkan, perlindungan terhadap penumpang harus menjadi prioritas, terutama di terminal besar. “Pihak pengelola dan aparat harus bekerja sama menertibkan calo. Penumpang harus merasa aman, nyaman, dan tidak dipaksa membeli tiket di luar ketentuan resmi.”
Banyak penumpang berharap kejadian keributan antara calo dan penumpang di Terminal Purabaya dapat menjadi perhatian serius. Sejumlah penumpang yang ditemui mengaku merasa lebih tenang jika ada pengawasan ketat dari aparat dan petugas terminal.
“Kalau ada polisi atau petugas sering keliling, calo biasanya tidak berani mendekat. Kami sebagai penumpang ingin bisa naik bus dengan tenang tanpa harus ribut dulu sama calo,” ungkap seorang penumpang jurusan Malang.
Selain itu, mereka juga berharap sistem digitalisasi tiket bisa diperluas, sehingga pembelian tiket dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi resmi atau loket digital. Dengan begitu, penumpang tidak perlu lagi berhadapan dengan calo yang kerap menawarkan tiket dengan harga lebih tinggi.
Keributan yang terjadi di Terminal Purabaya pada Rabu (20/8/2025) pagi menjadi sorotan publik, terutama setelah kabar ini tersebar melalui media sosial. Peristiwa tersebut mengingatkan kembali bahwa praktik percaloan masih menjadi masalah klasik di sejumlah terminal besar di Indonesia.
Meski belum ada keterangan resmi lengkap mengenai detail insiden tersebut, kejadian ini menegaskan perlunya langkah serius dari pengelola terminal, aparat kepolisian, dan pemerintah daerah untuk menciptakan terminal yang aman dan nyaman bagi penumpang.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan adanya pengawasan yang ketat, diharapkan peristiwa serupa tidak lagi terjadi, dan penumpang dapat melakukan perjalanan dengan rasa aman serta tenang.
Editor: (Ahmad)













