Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Guru di Amuntai Diduga Aniaya Siswa, Kasus Viral dan Tuai Reaksi Warganet

415
×

Guru di Amuntai Diduga Aniaya Siswa, Kasus Viral dan Tuai Reaksi Warganet

Sebarkan artikel ini

Kali­man­tan Sela­tan, SniperNew.id - Sebuah video yang mem­per­li­hatkan dugaan tin­dakan pen­ga­ni­ayaan seo­rang guru ter­hadap siswanya di SMA Negeri 2 Amuntai, Kali­man­tan Sela­tan, men­dadak viral di media sosial. Insi­d­en ini dila­porkan ter­ja­di pada Jumat (19/9/2025) dan memicu reak­si keras dari masyarakat, khusus­nya para war­ganet yang mem­ban­jiri kolom komen­tar den­gan berba­gai pen­da­p­at.

Video terse­but per­ta­ma kali diung­gah oleh akun @brorondm di plat­form Threads. Dalam ung­ga­han­nya, ia menulis. “Saya sih setu­ju disi­plin tegas tapi gak gini juga kelessss.”

Ung­ga­han itu dis­er­tai den­gan narasi bah­wa seo­rang guru mata pela­jaran Fisi­ka berin­isial H diduga melakukan tin­dak pen­ga­ni­ayaan ter­hadap siswanya sendiri. Aksi yang tidak ter­pu­ji terse­but terekam kam­era pon­sel dan menye­bar luas di dunia maya.

Berdasarkan infor­masi, insi­d­en ter­ja­di pada Jumat (19/9/2025). Orang tua kor­ban telah mela­porkan keja­di­an ini kepa­da pihak berwa­jib den­gan hara­pan agar guru yang bersangku­tan men­da­p­at sanksi sesuai atu­ran yang berlaku.

Pihak yang ter­li­bat adalah seo­rang guru berin­isial H, yang men­ga­jar mata pela­jaran Fisi­ka di SMA Negeri 2 Amuntai, Kali­man­tan Sela­tan. Kor­ban­nya adalah seo­rang siswa di seko­lah terse­but yang hing­ga kini iden­ti­tas­nya masih dira­hasi­akan demi per­lin­dun­gan anak.

Reka­man mem­per­li­hatkan ade­gan guru terse­but melakukan kek­erasan fisik. Mes­ki belum ada klar­i­fikasi res­mi dari pihak seko­lah maupun guru yang bersangku­tan, kasus ini sudah menim­bulkan gelom­bang reak­si pub­lik.

  Hujan Deras Bikin Sukabumi Hampir Tenggelam

Ung­ga­han terse­but men­u­ai lebih dari 10 ribu tayan­gan dan ratu­san komen­tar. War­ganet mem­berikan beragam tang­ga­pan, mulai dari keca­man keras hing­ga pem­be­laan ter­hadap sang guru.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma _juta84 menulis. “Saya di Kalsel dan memang anak muda sini (ga semua tapi kebanyakan) sekarang banyak yang kurang ajar dan berani sama orang yang lebih tua pada­hal aslinya kicep. Selidi­ki dulu sam­pai segi­tu khi­lafnya gurun­ya pasti udah kurang ajar banget, ngomong nggak usah pake kek­erasan. Tapi kalau kalian di posisi si guru juga akan melakukan hal yang sama.”

Semen­tara itu, peng­gu­na lain my.ganakom.id mem­berikan komen­tar yang lebih menekankan solusi.

“Jan­gan­lah begi­tu, pak guru. Jika siswa bapak sudah keter­lalu­an nakalnya, kem­ba­likan saja ke orang tuanya. Biar orang tuanya men­car­ikan seko­lah yang cocok untuk anaknya. Bisa jadi kalau sudah kele­watan nakal, orang tuanya masukkan anaknya ke SLB. Dari­pa­da pak guru nan­ti kena pen­jara.”

Ada juga war­ganet yang menge­cam keras tin­dakan guru terse­but, seper­ti komen­tar dari papah­ponk. “Ini mah niat mem­bunuh, min­i­mal melukai…”

Komen­tar lain­nya datang dari akong_ati_cet_uyuh yang menulis. “Hadeu­uh­hh pak guru. Kalo ada murid ban­del jan­gan dia­ni­aya. Tar masuk bui rugi sendiri lu.”

Sedan­gkan yoit­saru­ru men­co­ba meni­lai dari sisi lain. “Mungkin gurun­ya udah kesel banget sama tu anak, kita juga nggak tau kayak gimana anak itu di seko­lah.. bran­dal atau anak baik-baik. Videonya nggak lengkap.”

  Perjalanan Terhambat 5 Hari, Warganet Suarakan Doa untuk Aceh

Di sisi lain, komen­tar keras dilon­tarkan oleh azhies_firmans. “Yaela pa, ribut­nya ama gua aja sini, beraninya ama anak kecil, cuih.”

Peri­s­ti­wa ini dik­abarkan ter­ja­di pada Jumat, 19 Sep­tem­ber 2025 di lingkun­gan SMA Negeri 2 Amuntai, Kali­man­tan Sela­tan. Lokasi tepat­nya bera­da di hala­man seko­lah yang saat itu masih dalam jam bela­jar. Video yang beredar menun­jukkan situ­asi di luar ruang kelas, den­gan sejum­lah siswa dan guru lain bera­da di sek­i­tar lokasi.

Hing­ga saat ini, motif pasti di balik tin­dakan guru terse­but belum jelas. Namun, dari sejum­lah komen­tar war­ganet, muncul dugaan bah­wa peri­s­ti­wa ini dipicu oleh ulah siswa yang diang­gap nakal atau kurang ajar kepa­da gurun­ya.

Namun, apapun alasan­nya, tin­dakan kek­erasan fisik dalam dunia pen­didikan diang­gap tidak bisa dibenarkan. Hal ini menyalahi prin­sip dasar pen­didikan yang seharus­nya men­jun­jung ting­gi nilai-nilai kemanu­si­aan dan men­didik den­gan kasih sayang ser­ta kete­ladanan.

Menu­rut infor­masi, orang tua kor­ban sudah mela­porkan kasus ini kepa­da pihak berwa­jib. Lapo­ran terse­but dihara­p­kan dap­at dipros­es sesuai hukum yang berlaku.

Jika ter­buk­ti bersalah, guru berin­isial H dap­at dijer­at den­gan pasal pen­ga­ni­ayaan sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Selain itu, dari sisi admin­is­trasi, pihak seko­lah maupun Dinas Pen­didikan setem­pat juga dap­at mem­berikan sanksi disi­plin ter­hadap guru yang bersangku­tan.

Kasus ini juga dihara­p­kan men­ja­di per­ha­t­ian serius bagi pemer­in­tah, khusus­nya dalam mem­perku­at reg­u­lasi dan pen­gawasan ter­hadap prak­tik pen­didikan di seko­lah agar tidak lagi ter­ja­di tin­dakan kek­erasan seru­pa.

Kasus ini mem­bu­ka kem­bali diskusi pan­jang ten­tang metode disi­plin dalam pen­didikan. Seba­gian kalan­gan meni­lai bah­wa anak zaman sekarang semakin berani melawan guru sehing­ga diper­lukan kete­gasan lebih. Namun, batas antara kete­gasan dan kek­erasan ser­ing kali tip­is dan berba­haya.

  Banjir Nyelonong dari Belakang Rumah, Warga: ‘Lima Langkah Lagi Kena Juga!’

Kek­erasan fisik tidak hanya berisiko melukai secara jas­mani, tetapi juga mening­galkan trau­ma psikol­o­gis men­dalam bagi siswa. Hal ini dap­at meng­gang­gu perkem­ban­gan men­tal, rasa per­caya diri, bahkan masa depan siswa.

Semen­tara itu, disi­plin sejatinya dap­at ditanamkan melalui pen­dekatan yang huma­n­is, seper­ti komu­nikasi yang efek­tif, pem­ber­ian sanksi edukatif, hing­ga kon­sel­ing. Guru ditun­tut mam­pu men­gen­da­likan emosi dan men­ja­di teladan posi­tif bagi murid.

War­ganet berharap kasus ini dipros­es den­gan transparan dan adil. Seba­gian pihak mem­inta agar guru terse­but diberikan sanksi tegas agar men­ja­di pela­jaran bagi tena­ga pen­didik lain­nya.

Namun, ada juga yang berharap penye­lidikan dilakukan menyelu­ruh untuk menge­tahui duduk perkara sebe­narnya, ter­ma­suk per­i­laku siswa yang men­ja­di kor­ban. Hal ini menun­jukkan adanya dile­ma di ten­gah masyarakat dalam meni­lai kasus kek­erasan di seko­lah.

Peri­s­ti­wa dugaan pen­ga­ni­ayaan siswa oleh seo­rang guru di SMA Negeri 2 Amuntai, Kali­man­tan Sela­tan, telah men­ja­di sorotan pub­lik. Video yang viral meman­tik pro dan kon­tra di media sosial, sekali­gus meny­oroti kem­bali prob­lem klasik dalam dunia pen­didikan: bagaimana menye­im­bangkan disi­plin den­gan pen­dekatan yang men­didik tan­pa kek­erasan.

Kasus ini kini bera­da di tan­gan pihak berwa­jib, dan masyarakat menung­gu tin­dak lan­jut ser­ta keje­lasan hukum yang akan dijatuhkan kepa­da guru berin­isial H. Di ten­gah semua kon­tro­ver­si, satu hal yang pasti: dunia pen­didikan seharus­nya men­ja­di ruang aman, ramah, dan men­didik bagi gen­erasi penerus bangsa. (abd/ABB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *