Tulang Bawang, SniperNew.id — Bumi Dipasena, sebuah kawasan yang dulunya dikenal sebagai jantung budidaya udang terbesar di Asia Tenggara, menyimpan sejarah panjang tentang kejayaan, konflik, dan harapan baru. Dikutip akun Facebook “Shanty Balqees” Minggu 06 Juli 2025, Terletak di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, wilayah ini pernah menjadi ikon keberhasilan sektor perikanan nasional pada era 1990-an.
Pada masa keemasannya, kawasan ini dikelola oleh PT Dipasena Citra Darmaja (DCD) yang mengembangkan sistem kemitraan inti-plasma bersama masyarakat. Dengan luas tambak mencapai 16.250 hektare, Dipasena mampu mencetak prestasi sebagai kawasan tambak udang terbesar di Asia Tenggara. Keberhasilan ini menjadikan nama Dipasena dikenal luas, tidak hanya di dalam negeri, namun juga di pasar ekspor internasional.
Namun, seiring waktu, konflik antara pihak perusahaan dan petambak plasma mulai mencuat. Perselisihan terkait hak pengelolaan lahan, tanggung jawab revitalisasi tambak, dan transparansi kemitraan menjadi sorotan utama. Akibat konflik yang berlarut-larut, kegiatan produksi pun sempat terhenti dan memukul perekonomian lokal.
PT Dipasena Citra Darmaja kemudian berganti nama menjadi PT Aruna Wijaya Sakti (AWS). Perubahan kepemilikan dan pengelolaan sempat menimbulkan ketidakpastian di kalangan petambak. Meski demikian, semangat masyarakat untuk kembali menghidupkan tambak tidak pernah padam.
Kini, meskipun belum sepenuhnya pulih, harapan untuk revitalisasi dan pembenahan sistem kembali mencuat. Dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, LSM, dan tokoh masyarakat lokal, menjadi kunci untuk membangun kembali kejayaan Dipasena sebagai sentra budidaya udang nasional.
Sejarah Bumi Dipasena bukan hanya tentang kejayaan masa lalu, namun juga tentang daya juang dan semangat perubahan. Dari ladang emas tambak yang sempat meredup, kini Dipasena perlahan kembali menata harapannya—menuju masa depan yang lebih cerah dan berdaulat.
Editor: (Redaksi)


















