Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Bayi Meninggal dalam Kandungan, Keluarga Keluhkan Penolakan Layanan RS di Kutai Barat

382
×

Bayi Meninggal dalam Kandungan, Keluarga Keluhkan Penolakan Layanan RS di Kutai Barat

Sebarkan artikel ini

Snipernew.id — Kutai Barat, Kali­man­tan Timur,  Duka men­dalam menye­limu­ti kelu­ar­ga seo­rang ibu hamil berna­ma Sher­ly Ping­ka Dewi (28), war­ga Kam­pung Jen­gan, Keca­matan Mook Man­aar Bulatn, Kabu­pat­en Kutai Barat. Bayi dalam kan­dun­gan Sher­ly mening­gal dunia sete­lah kelu­ar­ga men­gaku men­gala­mi kendala men­da­p­atkan pelayanan medis di Rumah Sak­it Hara­pan Insan Sendawar (HIS).

Peri­s­ti­wa ini ter­ja­di pada Selasa (tang­gal sesuai kro­nolo­gi, red) malam, saat Sher­ly yang ten­gah hamil lima bulan men­gala­mi keluhan pen­dara­han ringan atau kelu­ar flek. Atas kon­disi terse­but, kelu­ar­ga memu­tuskan mem­bawa Sher­ly ke RS HIS sek­i­tar pukul 22.00 WITA untuk men­da­p­atkan pemerik­saan medis lebih lan­jut.

Namun, sesam­painya di rumah sak­it, kelu­ar­ga men­gaku tidak men­da­p­atkan tin­dakan medis apa pun. Menu­rut pen­gakuan mere­ka, pihak per­awat hanya mem­berikan ara­han secara lisan dan men­yarankan agar pasien meneb­us obat di apotek. “Per­awat bilang tidak ada pemerik­saan USG malam itu, dan men­yarankan untuk meneb­us obat pen­guat kan­dun­gan ser­ta obat pere­da nyeri,” ujar Sisil­ia, ibu dari Sher­ly, saat dite­mui awak media.

  Masyarakat Adat Way Lima Siap Aksi, Tuntut Pengembalian Tanah Ulayat dari PTPN VII

Selain itu, pihak kelu­ar­ga juga men­gaku sem­pat dim­inta untuk melengkapi doku­men kepen­dudukan seper­ti Nomor Induk Kepen­dudukan (NIK) dan Kar­tu Kelu­ar­ga (KK) jika ingin men­da­p­atkan layanan rawat inap. “Kare­na tidak bisa melengkapi doku­men saat itu, kami dis­arankan untuk pulang,” lan­jut Sisil­ia.

Kelu­ar­ga pun kem­bali ke rumah ker­abat di wilayah Sum­ber Sari, Kutai Barat, den­gan mem­bawa obat yang dibeli sehar­ga Rp90.000. Namun, malang tak dap­at dito­lak, sek­i­tar dini hari, Sher­ly men­gala­mi kegugu­ran. Bayi dalam kan­dun­gan yang beru­sia lima bulan itu diny­atakan mening­gal.

“Saya seba­gai orang tua merasa kece­wa dan sedih kare­na anak dan cucu saya tidak men­da­p­atkan pelayanan mak­si­mal. Ini nyawa manu­sia, kena­pa tidak ada tin­dakan atau tol­er­an­si? Kena­pa kami dis­u­ruh pulang? Lalu malam­nya dis­u­ruh kem­bali untuk USG, tapi apa artinya kalau bayinya sudah mening­gal?” ungkap Sisil­ia sam­bil menangis.

  Insan Brilian BRI BO Perdagangan Bermuhasabah Sambut Bulan Suci

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, pihak RS Hara­pan Insan Sendawar belum mem­berikan keteran­gan res­mi terkait dugaan peno­lakan pelayanan terse­but. Awak media Snipernew.id masih beru­paya men­gon­fir­masi man­a­je­men rumah sak­it dan pihak terkait untuk men­da­p­atkan pen­je­lasan lebih lan­jut.

Kasus ini meman­tik kepri­hati­nan masyarakat sek­i­tar. Beber­a­pa war­ga yang menden­gar kabar terse­but menyam­paikan dukun­gan kepa­da kelu­ar­ga kor­ban dan berharap ada eval­u­asi serius ter­hadap pelayanan kese­hatan di Kutai Barat, khusus­nya bagi pasien yang datang den­gan kon­disi daru­rat.

“Kalau benar ada pasien hamil datang den­gan keluhan seper­ti itu, seharus­nya min­i­mal ada pemerik­saan awal atau obser­vasi. Jan­gan sam­pai per­at­u­ran admin­is­trasi men­gor­bankan nyawa,” ujar salah satu tokoh masyarakat Kutai Barat yang eng­gan dise­butkan namanya.

Peri­s­ti­wa ini juga mem­bu­ka diskusi men­ge­nai pelayanan kese­hatan di daer­ah, teruta­ma di rumah sak­it rujukan yang men­ja­di hara­pan war­ga ped­ala­man. Keter­batasan fasil­i­tas, keter­batasan tena­ga medis pada malam hari, dan prose­dur admin­is­trasi ser­ing men­ja­di kendala dalam pelayanan cepat.

  BRI Kantor Cabang Perdagangan Salurkan Bantuan Bencana Alam untuk Warga Desa Gambus Laut dan Desa Perupuk

Pakar kebi­jakan pub­lik dan kese­hatan masyarakat, dr. Fitri Anwar, M.Kes, meni­lai bah­wa kasus seper­ti ini menun­jukkan per­lun­ya eval­u­asi kebi­jakan pelayanan daru­rat di rumah sak­it, ter­ma­suk penye­di­aan tena­ga medis dan fasil­i­tas pemerik­saan pent­ing seper­ti USG sela­ma 24 jam. “Nyawa pasien, apala­gi ibu dan anak, harus men­ja­di pri­or­i­tas uta­ma. Admin­is­trasi bisa dilengkapi kemu­di­an. Ini harus jadi bahan intro­speksi dan eval­u­asi,” ujarnya.

Kelu­ar­ga Sher­ly berharap ada per­ha­t­ian serius dari pihak pemer­in­tah daer­ah, Dinas Kese­hatan, dan man­a­je­men rumah sak­it agar keja­di­an seru­pa tidak teru­lang. Mere­ka juga mem­inta agar ada per­tang­gung­jawa­ban terkait pelayanan yang diang­gap kurang memadai.

Peri­s­ti­wa duka ini men­ja­di pengin­gat pent­ingnya pelayanan kese­hatan yang respon­sif dan huma­n­is, teruta­ma untuk pasien ibu dan anak. Keja­di­an di Kutai Barat ini dihara­p­kan dap­at men­ja­di bahan eval­u­asi bagi semua pihak, agar masyarakat merasa ter­lin­dun­gi dan memi­li­ki akses kese­hatan yang layak tan­pa kendala birokrasi yang mem­ber­atkan.

Penulis: Hen­ry Batara

Edi­tor: (Ahmad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *