Berita Investigasi

Bantuan Kambing Poktan Mulyatani Disorot: Anggota Mengaku Tak Pernah Terima Bantuan

1107
×

Bantuan Kambing Poktan Mulyatani Disorot: Anggota Mengaku Tak Pernah Terima Bantuan

Sebarkan artikel ini

Pringsewu ‑SniperNew.id – Sejum­lah catatan ter­tulis tan­gan dari anggota Kelom­pok Tani (Pok­tan) Muly­atani di Dusun Sinar Kul­tum, Kabu­pat­en Pringsewu, Lam­pung, men­gungkap adanya dugaan keti­dak­tert­iban penyalu­ran ban­tu­an kamb­ing yang bersum­ber dari pro­gram pemer­in­tah pada tahun 2024.

Den­gan infor­masi ini diduga Ket­ua dan anggota tidak sinkron, semen­tara pihak pen­gu­rus menye­but telah ada penyalu­ran den­gan jum­lah ter­ten­tu, Senin (06/10/2025).

Doku­men yang diper­oleh redak­si berisi tiga lem­bar catatan ter­tang­gal 1 Okto­ber 2025, yang dit­ulis oleh sejum­lah anggota kelom­pok tani. Keti­ganya memu­at keteran­gan berbe­da dari pihak pen­gu­rus dan anggota men­ge­nai keber­adaan ban­tu­an kamb­ing.

Keteran­gan Ket­ua Kelom­pok Tani: 23 Ekor Ban­tu­an, Seba­gian Sudah Berkem­bang

Dalam lem­bar per­ta­ma, sese­o­rang berna­ma Wibowo, yang dise­but seba­gai Ket­ua Kelom­pok Tani Muly­atani, menulis iden­ti­tas­nya secara lengkap:

“Nama inisial WB. HP: 0827 9764 31XX. NIK: 1810080870680005. Ala­mat: Sinar Kucung. Jabatan: Kelom­pok Tani Muly­atani – Ket­ua. Anggota: 43 orang anggota di awal 2024 sam­pai sekarang.”

WB Ket­ua Kelom­pok tani, kemu­di­an men­jawab serangka­ian per­tanyaan terkait ban­tu­an kamb­ing. Ia meny­atakan bah­wa sela­ma men­ja­bat seba­gai ket­ua kelom­pok tani, dirinya per­nah mener­i­ma ban­tu­an kamb­ing sebanyak 23 ekor.

“Apakah Pak WB per­nah dap­at ban­tu­an sela­ma men­ja­di Ket­ua Pok­tan? Dap­at ban­tu­an kamb­ing 23 ekor,” tulis­nya dalam catatan itu.

WB juga menuliskan sum­ber ban­tu­an terse­but berasal dari aspi­rasi tahun 2024 yang dis­alurkan melalui Dinas Peter­nakan dan Per­tan­ian Kabu­pat­en Pesawaran.

“Dari man­akah sum­ber ban­tu­an kamb­ing terse­but? Dari aspi­rasi 2024 dan Dinas Peter­nakan,” lan­jut keteran­gan ter­tulis itu.

  LSM GPHKN Akan Laporkan Dugaan Penyelewengan BOS SDN 1 Kotaway, Kasui Way Kanan

Menu­rut WB, kamb­ing ban­tu­an terse­but diberikan kepa­da beber­a­pa anggota kelom­pok tani secara bergili­ran, dan seba­gian di antaranya telah berkem­bang biak.

“Dari 23 ekor kamb­ing apakah sudah beranak? Beti­na beranak 6 ekor, mati 7 ekor. Total jum­lah yang ada: 22 ekor,” tulis­nya.

Dalam bagian akhir catatan itu, Wibowo menan­datan­gani perny­ataan yang juga memu­at daf­tar nama anggota yang dise­but mener­i­ma atau memeli­hara kamb­ing, antara lain:
Suwon­do (2 ekor), Sur­so (2 ekor), Amri (2 ekor), Mis­bah (8 ekor), Nafi­an (4 ekor), Riswan­to (2 ekor), dan Fauzi (1 ekor).

Catatan terse­but ditan­datan­gani di Sinar­baru, 1 Okto­ber 2025. Keteran­gan Anggota: Kamb­ing Dipeli­hara 8 Bulan, 6 Ekor Mati

Lem­bar ked­ua berisi tulisan tan­gan milik Suwon­do, yang juga men­gaku seba­gai anggota Pok­tan Muly­atani. Dalam catatan itu, ia men­je­laskan per­nah memeli­hara kamb­ing ban­tu­an sebanyak 25 ekor yang ter­diri dari 23 ekor beti­na dan 2 ekor jan­tan.

“Apakah per­nah memeli­hara kamb­ing ban­tu­an? Per­nah. Bera­pa ekor? 25 ekor. Beti­na 23 ekor, jan­tan 2 ekor,” tulis Suwon­do.

Ia menam­bahkan bah­wa masa pemeli­haraan­nya berlang­sung sela­ma 8 bulan sebelum kamb­ing-kamb­ing itu dis­er­ahkan kem­bali kepa­da empat anggota kelom­pok lain.

“Sete­lah 8 bulan, kamb­ing terse­but saya ser­ahkan kepa­da 4 anggota Pok­tan Muly­atani,” tulis­nya.

Dalam catatan itu, berin­isial SW juga mer­in­ci nama-nama pener­i­ma berikut jum­lah kamb­ing yang diter­i­ma:

1. Mis­bah – 5 ekor

2. Nafi­an – 3 ekor

3. Juma­di – 2 ekor

4. Kiy Warto – 4 ekor

5. Suyoso – 5 ekor

Namun, SW juga men­catat bah­wa 6 ekor kamb­ing mati sela­ma masa pemeli­haraan. Ia meny­atakan bah­wa sela­ma dirinya memeli­hara, belum ada hasil beru­pa kelahi­ran kamb­ing baru.

“Yang mati 6 ekor. Sela­ma saya memeli­hara belum per­nah beranak. Demikian keteran­gan ini saya buat den­gan sebe­narnya,” tulis Suwon­do.
Doku­men itu juga ditan­datan­gani di Sinar­baru, tang­gal 1 Okto­ber 2025.

  Disnakertrans Karawang Diduga Bayar Rp 25 Juta Untuk Back Up Pemberitaan Miring

Dalam surat perny­ataan­nya, Suroso mene­gaskan bah­wa sela­ma terdaf­tar seba­gai anggota, dirinya tidak per­nah mener­i­ma maupun memeli­hara kamb­ing yang dise­but seba­gai ban­tu­an kelom­pok.

“Demi kebe­naran perny­ataan ini saya buat den­gan sebe­nar-benarnya,” tulis­nya.

Surat itu ditan­datan­gani oleh Suroso sendiri, dibubuhi stem­pel bertuliskan Lem­ba­ga Inves­ti­gasi dan Pen­gawasan Aset Negara (LIPAN) Repub­lik Indone­sia, dan bertang­gal Sinar­baru, 1 Okto­ber 2025.

Dari hasil penelusuran ter­hadap Dua doku­men terse­but, tam­pak adanya perbe­daan data antara keteran­gan Ket­ua Kelom­pok Tani dan para anggotanya.
WB men­gaku telah menyalurkan ban­tu­an 23 ekor kamb­ing dari pro­gram aspi­rasi tahun 2024 kepa­da anggota kelom­pok.

Selain itu, SW menye­but bah­wa jum­lah awal kamb­ing men­ca­pai 25 ekor, berbe­da den­gan data ver­si ket­ua kelom­pok yang men­catat hanya 23 ekor. Suwon­do juga men­gungkap adanya kema­t­ian enam ekor kamb­ing sela­ma masa pemeli­haraan ser­ta belum ada hasil perkem­ban­gan ter­nak.

Keti­dak­sesua­ian ini memu­nculkan dugaan adanya keke­liru­an dalam pros­es dis­tribusi atau pen­catatan ban­tu­an yang seharus­nya diter­i­ma oleh selu­ruh anggota kelom­pok.

Berdasarkan keteran­gan ter­tulis, ban­tu­an kamb­ing terse­but berasal dari pro­gram aspi­rasi tahun 2024, yang dis­alurkan melalui Dinas Peter­nakan dan Per­tan­ian Kabu­pat­en Pesawaran. Tujuan­nya adalah men­dukung pengem­ban­gan ekono­mi masyarakat pedesaan melalui pro­gram kelom­pok tani dan peter­nak.

Namun, dari keteran­gan di lapan­gan, beber­a­pa anggota kelom­pok menye­but belum mener­i­ma ban­tu­an, semen­tara seba­gian lain­nya men­gaku sem­pat memeli­hara tetapi hasil­nya tidak sesuai hara­pan.

Kasus ini mem­per­li­hatkan pent­ingnya transparan­si dan pen­dataan yang aku­rat dalam pelak­sanaan ban­tu­an pemer­in­tah di tingkat kelom­pok masyarakat. Dalam situ­asi seper­ti ini, perbe­daan keteran­gan antarang­gota dap­at menim­bulkan kecuri­gaan dan men­gu­ran­gi keper­cayaan ter­hadap pro­gram pem­ber­dayaan.

Lem­ba­ga pen­gawasan seper­ti LIPAN (Lem­ba­ga Inves­ti­gasi dan Pen­gawasan Aset Negara) yang dise­but dalam doku­men turut men­catat kasus terse­but seba­gai ben­tuk pen­gawasan pub­lik ter­hadap real­isasi ban­tu­an pemer­in­tah.

  Realisasi DD Kampung Sukajadi Patut Dipertanyakan, Untuk Inspektorat Jagan Loyo!

Jika dit­in­jau dari kro­nolo­gi yang ter­tulis, ban­tu­an dis­alurkan pada tahun 2024, namun hing­ga Okto­ber 2025 masih belum jelas sia­pa saja pener­i­ma pastinya, bera­pa jum­lah kamb­ing yang masih hidup, dan bagaimana pen­gelo­laan­nya. Beber­a­pa anggota bahkan men­gaku tidak per­nah menge­tahui adanya ban­tu­an terse­but.

Secara admin­is­tratif, ban­tu­an ter­nak seharus­nya dis­alurkan berdasarkan daf­tar pener­i­ma yang dis­ahkan dalam beri­ta acara. Pen­gu­rus kelom­pok memi­li­ki kewa­jiban mem­bu­at lapo­ran perkem­ban­gan, ter­ma­suk data kema­t­ian ter­nak, kelahi­ran, dan pem­ba­gian hasil.
Jika dalam prak­tiknya ter­ja­di selisih antara lapo­ran dan keny­ataan, hal itu dap­at men­ja­di dasar eval­u­asi oleh instan­si berwe­nang.

Selain itu, pro­gram ban­tu­an ter­nak biasanya memi­li­ki keten­tu­an bah­wa hasil berkem­bang biak dari hewan ban­tu­an harus dis­er­ahkan kem­bali ke kelom­pok untuk dibagikan kepa­da anggota lain, sehing­ga man­faat­nya berke­lan­ju­tan.

Namun, berdasarkan catatan yang ada, mekanisme seper­ti ini tam­pak belum ber­jalan opti­mal di kelom­pok Muly­atani.

Dari doku­men yang dite­mukan, ter­da­p­at tiga fak­ta uta­ma:

1. WB (ket­ua kelom­pok) men­gaku mener­i­ma dan menyalurkan ban­tu­an kamb­ing 23 ekor kepa­da anggota.

2. SW (anggota) meny­atakan memeli­hara 25 ekor kamb­ing sela­ma 8 bulan, den­gan 6 ekor mati dan tidak ada yang beranak.

Keteran­gan yang tidak sejalan ini mem­bu­ka ruang bagi eval­u­asi dan klar­i­fikasi res­mi dari pihak dinas terkait ser­ta aparat pemer­in­ta­han desa untuk memas­tikan bah­wa ban­tu­an pemer­in­tah tepat sasaran.

Hing­ga beri­ta ini dit­ulis, belum ada keteran­gan res­mi dari Dinas Peter­nakan dan Per­tan­ian Kabu­pat­en Pesawaran men­ge­nai hasil pemerik­saan atau tin­dak lan­jut atas perbe­daan data terse­but. Namun doku­men ini men­ja­di buk­ti pent­ing adanya poten­si salah kelo­la atau dis­tribusi tidak mer­a­ta dalam pro­gram ban­tu­an peter­nakan di tingkat kelom­pok tani. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *