Opini

Banjir Sampah di Selokan: Cermin Krisis Kesadaran Lingkungan Masyarakat

523
×

Banjir Sampah di Selokan: Cermin Krisis Kesadaran Lingkungan Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Fenom­e­na “ban­jir sam­pah” kem­bali men­ja­di per­ha­t­ian pub­lik sete­lah ung­ga­han sebuah akun media sosial menampilkan kon­disi memilukan di salah satu daer­ah per­muki­man. Sete­lah hujan reda, bukan genan­gan air yang ter­sisa di jalanan dan selokan, melainkan tumpukan sam­pah dalam jum­lah besar yang menu­tupi ali­ran air. Sam­pah-sam­pah plas­tik, botol, hing­ga sisa rumah tang­ga tam­pak menumpuk, memenuhi selokan, dan seba­gian ter­bawa ke jalan.

Kon­disi ini mem­per­li­hatkan bagaimana masalah pen­gelo­laan sam­pah masih men­ja­di peker­jaan rumah besar di ten­gah masyarakat. Bukan hanya per­soalan tek­nis pen­gangku­tan, tetapi juga mencer­minkan ren­dah­nya kesadaran war­ga untuk mem­buang sam­pah pada tem­pat­nya.

Ung­ga­han yang meny­er­takan keteran­gan “Fenom­e­na aneh, sam­pah bisa jalan sendiri di selokan” son­tak menarik per­ha­t­ian war­ganet. Banyak yang men­go­men­tari bah­wa tumpukan sam­pah yang terseret arus air kecil mem­bu­at seo­lah-olah sam­pah itu berg­er­ak den­gan sendirinya. Namun, di balik fenom­e­na yang diang­gap unik terse­but, ter­sim­pan masalah serius yang berhubun­gan den­gan keber­si­han, kese­hatan, dan keber­lan­ju­tan lingkun­gan.

Berdasarkan pan­tauan visu­al dalam video yang diung­gah, selokan yang seharus­nya men­ja­di jalur uta­ma ali­ran air hujan jus­tru berubah fungsi men­ja­di “jalan sam­pah”. Air ham­pir tidak ter­li­hat men­galir. Yang tam­pak hanyalah tumpukan kan­tong plas­tik berwar­na-warni, botol minu­man, dan berba­gai lim­bah rumah tang­ga lain yang memenuhi selu­ruh jalur selokan.

Fenom­e­na ini mengindikasikan adanya penyum­bat­an serius. Air hujan yang turun seharus­nya dap­at men­galir lan­car melalui salu­ran, namun kare­na salu­ran sudah dipenuhi sam­pah, air berhen­ti dan hanya mam­pu men­dorong lim­bah itu per­la­han. Perg­er­akan ini­lah yang kemu­di­an ter­li­hat seper­ti “sam­pah ber­jalan sendiri”.

  Sancang: Si Kecil yang Penuh Karisma di Atas Meja Kayu

Pihak yang pal­ing ter­li­bat dalam masalah ini ten­tu masyarakat setem­pat. Sam­pah-sam­pah yang menumpuk seba­gian besar berasal dari aktiv­i­tas rumah tang­ga: kan­tong plas­tik belan­ja, kemasan makanan instan, botol minu­man sekali pakai, hing­ga sisa-sisa organik.

Kesadaran seba­gian war­ga untuk mem­buang sam­pah pada tem­pat­nya masih ren­dah. Tidak jarang, sam­pah lang­sung dibuang ke selokan den­gan alasan prak­tis. Seba­gian lain menaruh sam­pah di tepi jalan, yang pada akhirnya ter­bawa air hujan ke salu­ran.

Pihak yang ter­dampak bukan hanya war­ga pem­buang sam­pah itu sendiri, tetapi juga selu­ruh lingkun­gan sek­i­tar. Jalanan men­ja­di kotor, bau tak sedap menyen­gat, risiko penyak­it meningkat, ser­ta ban­jir mudah ter­ja­di. Bahkan masyarakat yang sudah berusa­ha men­ja­ga keber­si­han tetap harus menang­gung dampaknya kare­na bera­da di lingkun­gan yang sama.

Ung­ga­han yang viral tidak menye­butkan lokasi pasti, tetapi fenom­e­na seru­pa bisa dite­mui di berba­gai daer­ah di Indone­sia, teruta­ma di kawasan padat pen­duduk den­gan akses pen­gelo­laan sam­pah yang ter­batas. Selokan di per­muki­man war­ga ser­ing men­ja­di sasaran uta­ma pem­buan­gan kare­na diang­gap seba­gai cara mudah untuk “menghi­langkan” sam­pah tan­pa harus menung­gu pen­gangku­tan res­mi.

Namun, yang sebe­narnya ter­ja­di hanyalah peminda­han masalah. Sam­pah memang hilang dari hala­man rumah, tetapi berpin­dah ke selokan yang berfungsi vital bagi ali­ran air hujan. Aki­bat­nya, ban­jir mudah sekali ter­ja­di bahkan den­gan inten­si­tas hujan yang tidak ter­lalu ting­gi.

  Transparansi Proyek Publik Harus Diawasi Demi Kepentingan Rakyat

Peri­s­ti­wa ini ter­ja­di sete­lah hujan reda. Hujan yang turun mem­bawa ser­ta sam­pah dari berba­gai titik ke dalam salu­ran. Keti­ka air mulai surut, jus­tru sam­pah yang ter­sisa menut­up jalur ali­ran. Fenom­e­na seper­ti ini umum­nya muncul di musim penghu­jan, saat inten­si­tas curah hujan ting­gi, dan vol­ume sam­pah yang ter­bawa semakin besar.

Ung­ga­han akun media sosial “beri­taasal” yang ter­pan­tau sek­i­tar tiga jam sebelum beri­ta ini dit­ulis men­ja­di pengin­gat bah­wa masalah ban­jir sam­pah bukan­lah hal baru, melainkan keja­di­an beru­lang yang ser­ing dia­baikan.

Sam­pah yang menumpuk di selokan tidak hanya merusak esteti­ka lingkun­gan, tetapi juga menim­bulkan banyak dampak negatif:

1. Penyum­bat­an Salu­ran Air
Sam­pah mem­bu­at ali­ran air ter­hen­ti. Jika hujan kem­bali turun, air akan melu­ap ke jalan dan rumah war­ga.

2. Sum­ber Penyak­it
Sam­pah basah yang menumpuk men­ja­di tem­pat berkem­bang biak nya­muk, lalat, dan tikus yang mem­bawa penyak­it berba­haya seper­ti demam berdarah, lep­tospiro­sis, hing­ga diare.

3. Pence­maran Lingkun­gan
Plas­tik dan bahan non-organik lain sulit teru­rai. Jika ter­bawa hing­ga ke sun­gai dan laut, sam­pah ini bisa men­gan­cam eko­sis­tem perairan.

4. Keru­gian Ekono­mi
Ban­jir aki­bat salu­ran ter­sum­bat dap­at merusak rumah, infra­struk­tur, dan menim­bulkan biaya tam­ba­han bagi war­ga maupun pemer­in­tah.

5. Cit­ra Buruk
Lingkun­gan yang kotor menu­runk­an kual­i­tas hidup dan mem­bu­at kawasan per­muki­man kurang layak huni.

Ada beber­a­pa langkah yang dap­at dilakukan untuk men­gatasi fenom­e­na ban­jir sam­pah:

1. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat
Edukasi men­ge­nai pent­ingnya mem­buang sam­pah pada tem­pat­nya harus digen­car­kan. Kesadaran indi­vidu adalah kun­ci uta­ma.

2. Penye­di­aan Fasil­i­tas yang Memadai
Pemer­in­tah daer­ah per­lu menam­bah jum­lah tem­pat sam­pah, mem­per­bai­ki sis­tem pen­gangku­tan, ser­ta memas­tikan sam­pah tidak menumpuk ter­lalu lama.

  Pesona Sungai Lobang, Mata Air Sejernih Kristal di Simalungun

3. Pro­gram Bank Sam­pah
Inisi­atif pen­gelo­laan sam­pah berba­sis masyarakat seper­ti bank sam­pah dap­at men­dorong war­ga memi­lah dan men­daur ulang.

4. Pene­gakan Atu­ran
Per­at­u­ran daer­ah ten­tang larangan mem­buang sam­pah sem­barangan harus dite­gakkan den­gan sanksi yang jelas dan kon­sis­ten.

5. Gotong Roy­ong Mem­ber­sihkan Lingkun­gan
Kegiatan rutin mem­ber­sihkan selokan dap­at dilakukan oleh war­ga bersama aparat setem­pat untuk mence­gah penyum­bat­an.

6. Pen­gu­ran­gan Plas­tik Sekali Pakai
Den­gan men­gu­ran­gi peng­gu­naan plas­tik, vol­ume sam­pah non-organik yang sulit teru­rai bisa ditekan.

Fenom­e­na ini memanc­ing banyak komen­tar dari masyarakat di media sosial. Seba­gian men­ertawakan den­gan nada sinis, menye­but sam­pah seper­ti “hidup dan bisa ber­jalan”. Namun lebih banyak yang merasa pri­hatin dan menekankan bah­wa hal ini tidak seharus­nya ter­ja­di jika kesadaran war­ga lebih ting­gi.

“Bukan sam­pah­nya yang aneh, tapi per­i­laku kita yang mem­buang sem­barangan,” tulis salah seo­rang war­ganet.

“Kalau terus begi­ni, jan­gan salahkan hujan kalau ban­jir melan­da. Yang salah ya kita sendiri,” komen­tar lain­nya.

Respon pub­lik ini mem­per­li­hatkan bah­wa kesadaran kolek­tif mulai tum­buh. Namun, tan­pa tin­dakan nya­ta di lapan­gan, per­soalan akan tetap beru­lang dari tahun ke tahun.

Fenom­e­na ban­jir sam­pah di selokan bukan sekadar peman­dan­gan aneh atau kon­ten viral di media sosial. Di balik itu, ada per­soalan serius ten­tang ren­dah­nya kesadaran masyarakat, lemah­nya pen­gelo­laan sam­pah, dan dampak lingkun­gan yang men­gan­cam.

Tan­pa peruba­han per­i­laku dan solusi berke­lan­ju­tan, ban­jir sam­pah akan terus men­ja­di masalah tahu­nan. Hujan bukan­lah penye­bab uta­ma, melainkan kebi­asaan buruk manu­sia yang tidak peduli lingkun­gan. (ABB/add)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *