Berita Ekonomi

Sampah Plastik Inggris Membanjiri Indonesia: Ancaman Baru di Balik Ekspor Polusi Global

671
×

Sampah Plastik Inggris Membanjiri Indonesia: Ancaman Baru di Balik Ekspor Polusi Global

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Lon­jakan ekspor sam­pah plas­tik dari Ing­gris ke Indone­sia memicu kepri­hati­nan pub­lik dan men­ja­di sorotan tajam di kalan­gan pemer­hati lingkun­gan dunia. Berdasarkan lapo­ran ter­baru dari akun media sosial iknpos.id melalui ung­ga­han di plat­form Threads, pada tahun 2025 Ing­gris ter­catat men­gir­imkan 24.006 ton sam­pah plas­tik ke Indone­sia. Angka ini mel­on­jak lebih dari 45 kali lipat diband­ingkan tahun sebelum­nya, menan­dakan pen­ingkatan yang luar biasa sekali­gus memicu tan­da bahaya men­ge­nai arah kebi­jakan pen­gelo­laan lim­bah inter­na­sion­al, Kamis (09/10/25).

Ung­ga­han yang ramai diperbin­cangkan terse­but meny­oroti bagaimana prak­tik ekspor lim­bah plas­tik dari negara maju ke negara berkem­bang masih terus berlang­sung mes­ki banyak men­u­ai kri­tik. Data dari organ­isasi lingkun­gan The Last Beach Cleanup men­ja­di pemicu perde­batan serius sete­lah men­e­mukan fak­ta bah­wa seba­gian besar sam­pah plas­tik asal Ing­gris jus­tru berakhir di negara-negara Asia Teng­gara, ter­ma­suk Indone­sia.

Menu­rut lapo­ran terse­but, pada tahun 2025, Ing­gris secara res­mi ter­catat men­gir­imkan 24.006 ton sam­pah plas­tik ke Indone­sia. Jum­lah ini meningkat lebih dari 4.400 persen diband­ing tahun sebelum­nya. Pen­ingkatan ini menim­bulkan kepri­hati­nan men­dalam kare­na menan­dakan bah­wa Ing­gris semakin bergan­tung pada ekspor lim­bah plas­tik untuk men­gelo­la masalah domestiknya.

Ung­ga­han iknpos.id menulis. “Tahun 2025, Ing­gris ter­catat men­gir­im 24.006 ton sam­pah plas­tik ke Indone­sia, naik lebih dari 45 kali lipat diband­ing tahun lalu. Data dari The Last Beach Cleanup memicu kri­tik tajam kare­na prak­tik ini diang­gap seba­gai ben­tuk ekspor polusi.”

Kri­tik terse­but menge­mu­ka kare­na ekspor lim­bah plas­tik ser­ing diang­gap seba­gai upaya negara maju memindahkan beban pence­maran lingkun­gan ke negara berkem­bang. Indone­sia sendiri, menu­rut para aktivis, masih meng­hadapi tan­ta­n­gan besar dalam men­gelo­la sam­pah domestik tan­pa tam­ba­han beban dari luar negeri.

  Pemutihan Pajak Kendaraan Sumbar Diperpanjang hingga 30 September 

Organ­isasi lingkun­gan The Last Beach Cleanup meni­lai prak­tik ini seba­gai ben­tuk “ekspor polusi”—di mana negara maju seper­ti Ing­gris mengek­spor sam­pah plas­tik ke negara berkem­bang den­gan alasan daur ulang, pada­hal seba­gian besar lim­bah terse­but sulit dipros­es dan jus­tru mence­mari lingkun­gan.

Semen­tara itu, aktivis lingkun­gan di Indone­sia mengin­gatkan bah­wa seba­gian besar lim­bah plas­tik impor berakhir di tem­pat pem­buan­gan ter­bu­ka, pesisir pan­tai, atau mence­mari sun­gai. Kon­disi ini berdampak lang­sung pada kese­hatan masyarakat, keanekaraga­man hay­ati, ser­ta keber­lan­ju­tan eko­sis­tem laut.

Di sisi lain, Uni Eropa telah menyepakati kebi­jakan yang melarang ekspor lim­bah plas­tik ke negara-negara miskin mulai tahun 2026. Namun Ing­gris, yang telah kelu­ar dari Uni Eropa melalui pros­es Brex­it, belum menun­jukkan langkah tegas dalam mengiku­ti kebi­jakan terse­but. Hal ini­lah yang kemu­di­an menim­bulkan kri­tik glob­al terkait komit­men Ing­gris ter­hadap kead­i­lan lingkun­gan.

Ung­ga­han iknpos.id juga menuliskan. “Semen­tara Uni Eropa sudah sep­a­kat melarang ekspor lim­bah ke negara miskin mulai 2026, Ing­gris jus­tru dini­lai belum menun­jukkan langkah tegas.”

Seba­gian besar sam­pah plas­tik ekspor Ing­gris ke Indone­sia dikir­im melalui jalur pelabuhan uta­ma di Jawa dan Suma­tra. Setibanya di Indone­sia, lim­bah terse­but biasanya dio­lah di pabrik daur ulang atau indus­tri pen­go­la­han plas­tik skala kecil. Namun dalam prak­tiknya, banyak dari sam­pah ini yang tidak dap­at didaur ulang kare­na kon­t­a­m­i­nasi dan kual­i­tas bahan yang ren­dah.

Hasil inves­ti­gasi beber­a­pa lem­ba­ga lingkun­gan di Indone­sia menun­jukkan bah­wa lim­bah impor ser­ing kali bercam­pur den­gan sam­pah rumah tang­ga, bahan berba­haya, dan sisa makanan, yang akhirnya berakhir di TPA atau bahkan dibakar secara ter­bu­ka. Pem­bakaran terse­but berpoten­si meng­hasilkan gas bera­cun seper­ti dioksin yang berba­haya bagi kese­hatan manu­sia dan mence­mari udara.

  Travel Bengkulu-Jabodetabek Viral, Terima Bayar Ongkos Pakai Beras

Sebuah foto yang turut dis­er­takan dalam ung­ga­han Threads oleh iknpos.id mem­per­li­hatkan para relawan lingkun­gan sedang memu­ngut tumpukan plas­tik di tepi pan­tai yang penuh den­gan sam­pah war­na-warni. Peman­dan­gan ini mem­perku­at gam­baran nya­ta bagaimana sam­pah impor mem­per­bu­ruk kri­sis lingkun­gan di daer­ah pesisir.

Pen­ingkatan ekspor lim­bah plas­tik dari Ing­gris tidak lep­as dari kebi­jakan domestik yang menekan peng­gu­naan TPA di dalam negeri ser­ta keter­batasan fasil­i­tas daur ulang. Untuk menghe­mat biaya dan mem­per­cepat pros­es pem­buan­gan, seba­gian besar perusa­haan pen­gelo­la sam­pah memil­ih men­gir­imkan lim­bah ke luar negeri — teruta­ma ke negara berkem­bang di Asia.

Secara res­mi, Ing­gris berdal­ih bah­wa ekspor terse­but dilakukan dalam kon­teks “ker­ja sama daur ulang inter­na­sion­al.” Namun, lapo­ran-lapo­ran inde­pen­den menun­jukkan bah­wa lebih dari 80% lim­bah yang dikir­im tidak dap­at dio­lah den­gan aman, sehing­ga seba­gian besar jus­tru berakhir men­ja­di pence­mar baru di negara tujuan.

Para penga­mat meni­lai kebi­jakan ini tidak hanya melang­gar seman­gat Cir­cu­lar Econ­o­my (ekono­mi sirku­lar), tetapi juga mencer­minkan ketim­pan­gan ekol­o­gis glob­al, di mana negara miskin menang­gung dampak lingkun­gan dari kon­sum­si berlebi­han negara kaya.

Hing­ga beri­ta ini dit­ulis, belum ada perny­ataan res­mi dari pemer­in­tah Indone­sia terkait lon­jakan ekspor sam­pah plas­tik terse­but. Namun, aktivis lingkun­gan dalam negeri mende­sak pemer­in­tah untuk bersikap lebih tegas dan selek­tif ter­hadap impor lim­bah plas­tik, teruta­ma yang berasal dari negara maju.

Beber­a­pa organ­isasi seper­ti Nexus3 Foun­da­tion dan Eco­log­i­cal Obser­va­tion and Wet­lands Con­ser­va­tion (Eco­ton) menyerukan agar Indone­sia mem­per­ke­tat izin impor lim­bah plas­tik dan meningkatkan transparan­si data impor. Mere­ka meni­lai bah­wa impor lim­bah ser­ingkali dibungkus den­gan isti­lah “bahan baku indus­tri daur ulang”, pada­hal banyak di antaranya adalah sam­pah yang tak bisa dio­lah.

Selain itu, desakan juga datang dari berba­gai lem­ba­ga pen­didikan dan peneli­ti lingkun­gan yang meni­lai prak­tik ini berpoten­si merusak rep­utasi Indone­sia seba­gai negara mar­itim dan men­gan­cam pari­wisa­ta bahari.

  Malaysia Bakal Hadapi Tarif 19% dari AS di Bawah Dasar Baru Trump

Dalam kon­teks glob­al, isu ini meny­oroti pent­ingnya ker­ja sama lin­tas negara dalam men­gelo­la lim­bah plas­tik secara berkead­i­lan. Beber­a­pa langkah yang dis­arankan oleh para ahli antara lain:

Transparan­si ekspor lim­bah: Ing­gris dan negara maju lain­nya harus mem­bu­ka data vol­ume, jenis, dan tujuan pen­gi­r­i­man lim­bah plas­tik secara pub­lik.

Pen­ingkatan kap­a­sitas daur ulang domestik: Negara pener­i­ma, ter­ma­suk Indone­sia, per­lu mem­perku­at fasil­i­tas pen­go­la­han lim­bah agar mam­pu meman­faatkan plas­tik den­gan benar, bukan sekadar menam­pungnya.

Ker­jasama inter­na­sion­al berba­sis kead­i­lan lingkun­gan: Seti­ap negara per­lu bertang­gung jawab atas lim­bah yang mere­ka hasilkan. Prin­sip pol­luter pays harus dit­er­ap­kan secara nya­ta.

Edukasi pub­lik dan indus­tri: Baik masyarakat maupun pelaku usa­ha per­lu lebih sadar akan dampak peng­gu­naan plas­tik sekali pakai ser­ta pent­ingnya ino­vasi bahan ramah lingkun­gan.

Ung­ga­han iknpos.id menut­up lapo­ran­nya den­gan per­tanyaan reflek­tif. “Apakah ini ben­tuk keti­dakadi­lan lingkun­gan glob­al?”

Per­tanyaan terse­but kini mengge­ma di berba­gai forum inter­na­sion­al dan men­ja­di bahan perde­batan hangat di antara pegiat lingkun­gan. Banyak pihak meni­lai, sela­ma negara maju masih mengek­spor lim­bah­nya ke negara berkem­bang, dunia belum benar-benar adil secara ekol­o­gis.

Lon­jakan ekspor sam­pah plas­tik Ing­gris ke Indone­sia bukan sekadar per­soalan perda­gan­gan lim­bah, tetapi juga cer­min dari ketim­pan­gan lingkun­gan glob­al. Di satu sisi, negara maju beru­paya men­ja­ga keber­si­han lingkun­gan­nya, semen­tara di sisi lain, negara berkem­bang harus menang­gung dampak ekol­o­gis­nya.

Den­gan 24.006 ton lim­bah plas­tik yang masuk hanya dalam satu tahun, Indone­sia kini bera­da di per­sim­pan­gan antara kepentin­gan ekono­mi dan kelestar­i­an lingkun­gan. Dunia menan­ti langkah nya­ta baik dari Ing­gris yang harus bertang­gung jawab atas lim­bah­nya, maupun dari Indone­sia yang per­lu mene­gakkan kedaula­tan ekol­o­gis­nya.

Jika tidak, maka per­tanyaan yang dia­jukan dalam ung­ga­han iknpos.id itu akan tetap rel­e­van:
“Apakah ini ben­tuk keti­dakadi­lan lingkun­gan glob­al?”

(SniperNew.id | Lapo­ran Redak­si, 2025)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *