Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Opini

“Antara Kekhawatiran dan Tanggung Jawab: Suara Hati Seorang Bapak”

316
×

“Antara Kekhawatiran dan Tanggung Jawab: Suara Hati Seorang Bapak”

Sebarkan artikel ini

Tang­gal: 3 Juni 2025

Penulis: Tim Redak­si Opi­ni

Isi:

Di balik wajah tegar dan diam seo­rang bapak, tersem­bun­yi lau­tan kekhawati­ran yang jarang teru­cap. Ia bukan sekadar pen­cari nafkah, bukan hanya sosok yang pulang larut malam demi memenuhi kebu­tuhan rumah. Seo­rang bapak adalah ben­teng diam keluarga—yang per­an­nya tak selalu ter­den­gar, tapi keber­adaan­nya tak ter­gan­tikan.

Dalam dunia yang terus berubah—dengan anca­man per­gaulan bebas, bahaya dig­i­tal, hing­ga tan­ta­n­gan ekono­mi yang kian tak menentu—seorang bapak memang­gul tang­gung jawab besar yang tak kasat mata: men­ja­ga masa depan anak-anaknya.

  Musim Hujan Datang, Pringsewu Menyambut Berkah Alam

Kekhawati­ran seo­rang bapak tidak selalu dita­m­pakkan den­gan kata-kata. Ia hadir dalam ben­tuk ker­ja keras yang tak kenal lelah, dalam kepu­tu­san-kepu­tu­san sulit, dan dalam batasan-batasan yang kadang tak disukai anak-anaknya. Namun semua itu lahir dari cin­ta, bukan dari otori­tas.

“Mere­ka tidak tahu aku tidak tidur semala­man, bukan kare­na lelah, tapi kare­na khawatir memikirkan masa depan mere­ka,” ujar Pak Dar­mawan, seo­rang buruh pabrik yang men­gaku ser­ing ter­me­nung di malam hari memikirkan biaya pen­didikan keti­ga anaknya.

Fenom­e­na ini bukan ceri­ta satu-dua orang. Banyak bapak di negeri ini menang­gung beban yang tak mere­ka cer­i­takan. Di ten­gah tekanan hidup, mere­ka ditun­tut untuk tetap kuat, rasion­al, dan men­ja­di panu­tan. Namun, kepa­da sia­pa mere­ka boleh lemah?

Di sisi lain, tang­gung jawab seba­gai ayah tidak hanya soal finan­sial. Lebih dari itu, ini adalah per­an moral dan emo­sion­al. Bapak adalah kom­pas yang mem­beri arah, teladan dalam keju­ju­ran, ker­ja keras, dan integri­tas. Namun, di zaman yang semakin lib­er­al dan cepat berubah, ser­ingkali suara bapak tengge­lam dalam riuh ren­dah teknolo­gi dan gaya hidup.

  Mak-Mak Tangguh: Warna-Warni Keringat di Tengah Pasar, Ekonomi Kecil yang Menghidupi Negeri

Tan­ta­n­gan terbe­sar bagi para bapak masa kini adalah bagaimana menye­im­bangkan kon­trol dan keper­cayaan. Anak-anak zaman sekarang tum­buh den­gan lebih banyak infor­masi, lebih banyak pil­i­han, dan lebih banyak dis­trak­si. Dalam kon­disi ini, pen­dekatan otorit­er tidak lagi rel­e­van. Seba­liknya, yang dibu­tuhkan adalah komu­nikasi ter­bu­ka dan hubun­gan yang penuh pengert­ian.

Para ayah per­lu hadir—bukan hanya secara fisik, tapi juga emo­sion­al. Sebuah pelukan, per­caka­pan ringan, atau bahkan wak­tu lima menit menden­garkan keluh kesah anak bisa mem­ban­gun keper­cayaan yang tak terni­lai har­ganya.

Iro­nis­nya, banyak anak yang tum­buh tan­pa benar-benar men­ge­nal bapaknya. Mere­ka tahu sosoknya, tapi tidak hatinya. Pada­hal, di sanalah tem­pat berse­mayam kekhawati­ran yang sejati—kekhawatiran yang lahir dari cin­ta dan tang­gung jawab.

  Ambulans Menembus Sunyi Malam, Nyawa Pasien Dipertaruhkan

Sudah wak­tun­ya masyarakat lebih meng­har­gai per­an bapak, bukan hanya seba­gai pen­cari nafkah, tapi seba­gai pen­didik dan pelin­dung emo­sion­al dalam kelu­ar­ga. Negara pun per­lu mem­beri ruang dan dukun­gan, mis­al­nya melalui kebi­jakan cuti ayah, pro­gram par­ent­ing bagi bapak, ser­ta kam­pa­nye kesadaran per­an ayah dalam pem­ben­tukan karak­ter anak.

Kare­na sejatinya, bapak adalah fon­dasi tak ter­li­hat yang menopang banyak kisah suk­ses. Dan di balik seo­rang anak yang tum­buh kuat, ser­ingkali ada seo­rang ayah yang berko­r­ban dalam diam.

Akhir Kata:
Dalam kesi­bukan kita memu­li­akan ibu, jan­gan sam­pai kita melu­pakan suara hati seo­rang bapak. Mere­ka mungkin tak banyak bicara, tapi cin­ta dan tang­gung jawab mere­ka nya­ta. Dan kini, sudah wak­tun­ya kita menden­garkan mere­ka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *