Jakarta, SniperNew.id - Sebuah peristiwa kericuhan terjadi di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Rumah milik Ahmad Sahroni, seorang anggota DPR RI, dikabarkan menjadi sasaran amukan massa. Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, terlihat kerumunan warga memasuki kediaman, merusak fasilitas yang ada, serta membawa keluar sejumlah barang berharga, Sabtu (30/08).
Informasi ini pertama kali diunggah oleh akun media sosial infojawabarat melalui platform Threads. Dalam unggahannya disebutkan bahwa massa menghancurkan sebuah mobil mewah merek Lexus yang terparkir di garasi rumah. Selain itu, sejumlah barang rumah tangga, perabotan, hingga sebuah koleksi berbentuk robot Iron Man turut diambil oleh massa yang menyerbu.
Peristiwa ini menimbulkan perhatian publik dan langsung menjadi perbincangan hangat. Rekaman video memperlihatkan suasana kacau di area rumah. Beberapa orang tampak memasuki garasi, sementara yang lain terlihat melemparkan barang dari lantai atas rumah ke arah luar pagar.
Berdasarkan keterangan yang beredar di media sosial, rumah Ahmad Sahroni menjadi sasaran amukan warga. Massa melakukan aksi perusakan dan penjarahan. Mobil Lexus yang terparkir di garasi menjadi korban pertama. Bagian kaca mobil pecah, dan bodi kendaraan rusak akibat lemparan benda keras.
Tak hanya itu, massa juga terlihat mengambil berbagai barang rumah tangga, mulai dari furnitur hingga koleksi pribadi. Salah satu barang yang mencuri perhatian dalam keterangan unggahan adalah “robot Iron Man” yang disebut turut diambil.
Selain itu, dalam video yang beredar, terlihat kerumunan memenuhi area garasi dan halaman rumah. Suasana tampak tidak terkendali dengan teriakan, dorongan, serta beberapa barang dilempar keluar dari jendela lantai atas rumah.
Pihak utama yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah Ahmad Sahroni, seorang anggota DPR RI yang dikenal publik. Ia dikenal berasal dari daerah Tanjung Priok dan kerap dijuluki sebagai “crazy rich Tanjung Priok” karena latar belakang kehidupannya yang berawal dari sederhana hingga kini memiliki kehidupan mapan.
Adapun pihak yang terlibat dalam kericuhan adalah massa yang belum teridentifikasi secara resmi. Mereka merupakan kerumunan warga yang datang berbondong-bondong ke lokasi rumah. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai siapa saja yang terlibat, berapa jumlah massa yang hadir, serta apa motivasi utama aksi tersebut.
Namun, jika melihat dari kolom komentar di unggahan media sosial, banyak warga yang mengaitkan peristiwa ini dengan isu ketidakpuasan masyarakat terhadap pejabat publik dan dugaan adanya tindak korupsi di kalangan legislatif.
Berdasarkan unggahan yang beredar, peristiwa ini dilaporkan terjadi pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Informasi pertama muncul sekitar satu jam sebelum tangkapan layar diambil, menunjukkan bahwa kericuhan berlangsung di siang hingga sore hari.
Hingga saat ini, unggahan tersebut telah ditonton ribuan kali oleh warganet. Video dan foto kejadian menyebar dengan cepat di berbagai platform media sosial, menimbulkan perdebatan dan komentar keras dari publik.
Lokasi peristiwa berada di kediaman Ahmad Sahroni di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tanjung Priok dikenal sebagai kawasan pelabuhan terbesar di Jakarta dan salah satu titik padat aktivitas masyarakat.
Rumah Ahmad Sahroni yang menjadi sasaran dikenal sebagai hunian mewah dengan garasi luas. Dari video yang beredar, terlihat garasi besar berisi mobil mewah dan beberapa furnitur, yang kemudian dijarah oleh massa.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun dari Ahmad Sahroni sendiri mengenai penyebab massa melakukan penyerbuan ke rumahnya.
Namun, dari komentar publik yang beredar, terlihat adanya narasi bahwa kejadian ini berkaitan dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap perilaku pejabat publik.
Seorang pengguna menulis. “KaloRUU perampasan aset ga bisa DPR sahin biar rakyat yang rampas aset anggota dewan yg korup.”
Komentar lain menyebutkan. ““Hajarterus hahahah… Dasar belagu sama rakyat kau lawan ya jadi begini kejadiannya resiko.”
Komentar tersebut mengindikasikan bahwa sebagian publik melihat peristiwa ini sebagai bentuk kemarahan rakyat terhadap pejabat yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan. Meskipun demikian, motif sebenarnya masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak berwenang.
Dari video yang beredar, kronologi sementara dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Massa berkumpul di depan rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok. Jumlahnya terlihat puluhan orang.
2. Massa kemudian masuk ke garasi rumah dan langsung merusak sebuah mobil Lexus.
3. Beberapa orang terlihat mengambil barang-barang dari dalam rumah, baik furnitur maupun benda koleksi pribadi.
4. Dari lantai atas rumah, barang-barang dilempar keluar oleh sekelompok orang, kemudian diambil oleh massa yang berada di bawah.
5. Suasana terlihat ricuh dan tidak ada aparat keamanan di lokasi pada saat video direkam.
Sejauh ini, tidak ada laporan resmi mengenai korban luka ataupun jumlah kerugian materi akibat peristiwa tersebut.
Komentar warganet atas peristiwa ini sangat beragam. Ada yang menyetujui tindakan massa sebagai simbol perlawanan terhadap pejabat, ada pula yang mengkritik keras tindakan main hakim sendiri.
Beberapa komentar publik yang muncul di unggahan adalah:
imyoggs_: “Kalo RUU perampasan aset ga bisa DPR sahin biar rakyat yang rampas aset anggota dewan yg korup.”
dharma_dudi: “Hajar terus hahahah… Dasar belagu sama rakyat kau lawan ya jadi begini kejadiannya resiko.”
listiyo_dpk: “Ada sepeda RB nya yg ratusan juta itu.”
ahmadthohainsani: “Lanjut miskin kan.”
genam.id: “Maling teriak pejuang rakyat, apa bedanya.”
Komentar-komentar tersebut memperlihatkan adanya sentimen negatif publik terhadap pejabat yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Namun, sebagian komentar juga bernada sinis terhadap tindakan massa yang merusak dan menjarah.
Dari sisi hukum, tindakan massa yang merusak rumah dan mengambil barang-barang jelas termasuk tindak pidana perusakan dan penjarahan. Aparat kepolisian diharapkan segera turun tangan untuk mengamankan lokasi serta melakukan penyelidikan terhadap pelaku.
Sementara dari sisi etika sosial, kejadian ini memperlihatkan adanya ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap lembaga legislatif. Meski demikian, penyampaian aspirasi seharusnya dilakukan melalui jalur hukum dan mekanisme resmi, bukan dengan tindakan kekerasan atau perampasan aset pribadi.
Peristiwa penyerbuan rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok menjadi sorotan publik pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak korban maupun aparat keamanan. Motif aksi massa pun masih simpang siur dan banyak dikaitkan dengan isu politik serta ketidakpuasan publik terhadap pejabat.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa ketegangan antara masyarakat dan pejabat publik bisa berujung pada tindakan anarkis apabila tidak ada saluran komunikasi yang efektif. Penanganan hukum yang tegas diperlukan agar kasus ini tidak menjadi preseden buruk bagi demokrasi dan ketertiban sosial di Indonesia. (Linda)













