Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Isu Aksi Demo 25 Agustus, Seruan Pembubaran DPR Ramai di Medsos

642
×

Isu Aksi Demo 25 Agustus, Seruan Pembubaran DPR Ramai di Medsos

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Ajakan demon­strasi di depan Gedung Dewan Per­wak­i­lan Raky­at (DPR) Repub­lik Indone­sia pada Senin, 25 Agus­tus 2025, belakan­gan ramai beredar di berba­gai plat­form media sosial. Seru­an aksi terse­but dise­but-sebut akan menun­tut pem­bubaran DPR RI seba­gai ben­tuk protes ter­hadap isu gaji anggota dewan yang dalam beber­a­pa wak­tu ter­akhir men­ja­di sorotan pub­lik.

Infor­masi men­ge­nai ajakan demon­strasi ini salah sat­un­ya diung­gah oleh akun media sosial kabarpadang melalui aplikasi Threads. Dalam ung­ga­han terse­but ter­tulis bah­wa ajakan demon­strasi per­ta­ma kali men­cu­at dari akun @jktdulu.

Dalam ung­ga­han kabarpadang dise­butkan. “Via @jktdulu Ajakan demon­strasi di depan Gedung DPR RI pada 25 Agus­tus 2025 beredar luas di media sosial. Aksi terse­but dise­butkan akan menun­tut pem­bubaran DPR.

Seru­an itu ramai dise­barkan untuk men­ga­jak masyarakat turun ke jalan seba­gai respons atas isu gaji DPR yang belakan­gan men­ja­di sorotan pub­lik.

Namun belum ada keteran­gan res­mi dari alian­si maupun organ­isasi mana pun terkait ren­cana aksi demon­strasi terse­but.”

Ung­ga­han itu kemu­di­an ditut­up den­gan per­tanyaan ter­bu­ka kepa­da pub­lik: “Bagaimana menu­rut kalian?”

Postin­gan terse­but turut dilengkapi den­gan tan­da pagar (hash­tag) #Jakar­ta #dewan­per­wak­i­lan­raky­at #kabarpadang.

Ren­cana aksi ini tak lep­as dari polemik yang muncul sete­lah isu gaji dan tun­jan­gan anggota DPR men­ja­di perbin­can­gan luas di masyarakat. Pub­lik meny­oroti besarnya angka yang diter­i­ma anggota DPR, teruta­ma di ten­gah kon­disi ekono­mi yang belum sepenuh­nya pulih.

  Mahasiswa FEB Unila Gelar Aksi Protes, Tuding Dekan Bungkam Kasus Kekerasan dan Etik Ormawa

Kri­tik ter­hadap gaji DPR semakin keras sete­lah beber­a­pa akun media sosial meny­oroti per­bandin­gan antara pen­da­p­atan anggota leg­is­latif den­gan kon­disi perekono­mi­an masyarakat kecil. Ungka­pan keke­ce­waan dan keti­dakpuasan itu kemu­di­an melu­as dalam ben­tuk seru­an demon­strasi den­gan tun­tu­tan drastis: pem­bubaran lem­ba­ga DPR.

Mes­ki demikian, hing­ga beri­ta ini dit­ulis, belum ada perny­ataan res­mi dari pihak man­a­pun yang men­gaku seba­gai inisi­a­tor atau penang­gung jawab ren­cana aksi.

Selain ung­ga­han kabarpadang, sebuah video yang diung­gah mem­per­li­hatkan situ­asi terki­ni di sek­i­tar Gedung DPR RI, Senayan, Jakar­ta. Video terse­but diberi keteran­gan:

 “Point of View: SITUASI GEDUNG DPR, PASCA ISU DEMO 25 AGUSTUS.”

 

Dalam reka­man itu ter­li­hat pagar ting­gi yang men­gelilin­gi kom­pleks DPR den­gan tam­ba­han barikade beton di bagian depan. Beber­a­pa mobil tam­pak kelu­ar-masuk melalui pin­tu uta­ma, semen­tara suasana jalan ter­li­hat cukup lengang dan terk­endali.

Keber­adaan barikade beton di depan pagar DPR RI ker­ap dipasang seba­gai langkah anti­si­pasi apa­bi­la ada poten­si aksi unjuk rasa. Mes­ki begi­tu, dari pan­tauan video terse­but, situ­asi di lapan­gan pada saat itu ter­li­hat kon­dusif tan­pa tan­da-tan­da keru­mu­nan mas­sa.

Ajakan demon­strasi untuk 25 Agus­tus ini menim­bulkan pro dan kon­tra di kalan­gan war­ganet. Beber­a­pa akun meni­lai aksi turun ke jalan diper­lukan seba­gai ben­tuk protes keras ter­hadap DPR yang diang­gap tidak peka den­gan kon­disi raky­at.

Semen­tara itu, ada pula yang meni­lai seru­an pem­bubaran DPR ter­lalu berlebi­han. Menu­rut pan­dan­gan mere­ka, kri­tik bisa dilakukan melalui jalur kon­sti­tu­sion­al, mis­al­nya lewat pemilu atau mekanisme pen­gawasan pub­lik, bukan den­gan mem­bubarkan lem­ba­ga negara.

Bagi seba­gian kalan­gan, seru­an ini juga dini­lai belum jelas kare­na tidak ada organ­isasi atau alian­si res­mi yang meny­atakan diri seba­gai peng­ga­gas. Kekhawati­ran pun muncul, jan­gan sam­pai isu ini hanya men­ja­di rumor liar yang bisa memicu kere­sa­han di ten­gah masyarakat.

  Patroli Blue Light, Antisipasi Premanisme dan Kejahatan Jalanan

Hing­ga kini, belum ada perny­ataan res­mi dari pihak kepolisian terkait poten­si atau izin penye­leng­garaan aksi pada tang­gal 25 Agus­tus. Aparat kea­manan biasanya akan menyi­ap­kan langkah anti­si­pasi apa­bi­la ada lapo­ran res­mi men­ge­nai ren­cana unjuk rasa di area strate­gis, ter­ma­suk di sek­i­tar kom­pleks DPR RI.

Begi­tu juga den­gan pihak DPR, belum ada tang­ga­pan res­mi yang men­jawab lang­sung men­ge­nai kabar seru­an aksi demon­strasi terse­but. Namun, beber­a­pa anggota DPR dalam kesem­patan ter­pisah sebelum­nya mene­gaskan bah­wa gaji dan tun­jan­gan anggota dewan telah diatur dalam per­at­u­ran perun­dang-undan­gan, sehing­ga tidak bisa ser­ta-mer­ta dipu­tuskan secara sepi­hak.

Demon­strasi di depan Gedung DPR RI bukan­lah hal baru. Dalam sejarah poli­tik Indone­sia pas­care­for­masi, area Senayan ker­ap men­ja­di titik sen­tral berba­gai aksi unjuk rasa, baik yang dilakukan maha­siswa, buruh, maupun alian­si masyarakat sip­il.

Isu yang diangkat pun beragam, mulai dari peno­lakan ran­can­gan undang-undang, protes ter­hadap kebi­jakan pemer­in­tah, hing­ga kri­tik ter­hadap per­i­laku anggota DPR sendiri.

Seru­an pem­bubaran DPR kali ini men­ja­di unik kare­na muncul dari per­caka­pan war­ganet di media sosial, bukan dari organ­isasi res­mi yang ter­struk­tur. Fenom­e­na ini menun­jukkan kuat­nya per­an media sosial seba­gai kanal mobil­isasi opi­ni pub­lik.

Namun, tan­pa koor­di­nasi yang jelas, seru­an semacam ini berpoten­si menim­bulkan kebin­gun­gan di masyarakat. Tidak jarang pula, isu yang beredar di media sosial dap­at diman­faatkan pihak-pihak ter­ten­tu untuk kepentin­gan yang tidak sejalan den­gan aspi­rasi masyarakat luas.

Apa­bi­la benar-benar ter­ja­di, aksi demon­strasi pada 25 Agus­tus bisa men­ja­di salah satu unjuk rasa besar den­gan isu yang cukup sen­si­tif, yakni pem­bubaran lem­ba­ga leg­is­latif.

  Pasar Caringin Bandung Disorot Publik, Sampah Menumpuk dan Ganggu Aktivitas Warga

Dampaknya bisa melu­as, baik ter­hadap sta­bil­i­tas poli­tik, kea­manan, maupun keper­cayaan pub­lik ter­hadap lem­ba­ga demokrasi. Kare­na itu, pihak kepolisian maupun lem­ba­ga pemer­in­tah terkait kemu­ngk­i­nan akan mengam­bil langkah penga­manan ekstra untuk men­ja­ga ketert­iban di ibu kota.

Seba­liknya, apa­bi­la seru­an ini terny­a­ta tidak ter­buk­ti atau tidak dire­spons masyarakat, maka kabar ten­tang demon­strasi ini akan berhen­ti hanya seba­gai wacana di dunia maya.

Dalam menyikapi isu-isu yang berkem­bang di media sosial, masyarakat dihara­p­kan tetap kri­tis dan cer­das dalam memi­lah infor­masi. Tidak semua kabar yang beredar benar adanya, ter­lebih jika belum ada sum­ber res­mi yang bisa diper­tang­gung­jawabkan.

Seru­an pem­bubaran DPR yang ramai dibicarakan ini men­ja­di con­toh nya­ta bagaimana isu di media sosial dap­at memicu reak­si besar, meskipun fak­tanya belum jelas apakah akan benar-benar ter­ja­di aksi di lapan­gan.

Pakar komu­nikasi poli­tik ker­ap mengin­gatkan, keku­atan media sosial bisa men­ja­di pisau berma­ta dua: di satu sisi efek­tif menyuarakan aspi­rasi, namun di sisi lain juga rawan dis­alah­gu­nakan untuk menye­barkan kabar yang menye­satkan.

Men­je­lang tang­gal 25 Agus­tus 2025, per­ha­t­ian pub­lik kini ter­tu­ju pada isu demon­strasi di depan Gedung DPR RI. Apakah seru­an ini akan benar-benar diwu­jud­kan dalam ben­tuk aksi mas­sa atau hanya berakhir seba­gai per­caka­pan viral di media sosial, masih harus ditung­gu perkem­ban­gan­nya.

Yang pasti, dinami­ka ini kem­bali mene­gaskan bah­wa isu gaji dan kin­er­ja DPR masih men­ja­di salah satu titik sen­si­tif dalam hubun­gan antara raky­at dan wakil­nya.

Sam­pai beri­ta ini ditu­runk­an, belum ada keteran­gan res­mi baik dari pihak kepolisian, DPR, maupun organ­isasi masyarakat sip­il men­ge­nai kepas­t­ian adanya aksi pada 25 Agus­tus.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *