Sukabumi, SniperNew.id – Suasana Masjid Al-Himayah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Sukabumi, tampak berbeda pada Jumat (29/8/2025). Sejak pagi, ribuan warga binaan dengan pakaian rapi dan wajah penuh harap berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah.
Kegiatan ini bukan sekadar ibadah rutin, tetapi momentum pembinaan spiritual yang sarat makna, sekaligus bukti komitmen Lapas Warungkiara dalam mengedepankan nilai-nilai keagamaan sebagai bagian penting dari proses pemasyarakatan.
Kehadiran tokoh-tokoh penting, seperti Dewan Pakar Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H., bersama Kepala Lapas Warungkiara Panji Kurnia Pamekas dan jajaran, menambah bobot acara tersebut. Kegiatan ini menjadi oase ketenangan di tengah keterbatasan, menghadirkan semangat baru bagi warga binaan untuk terus memperbaiki diri.
Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Saiful Bahri, S.S., anggota Presidium FPII sekaligus alumni Pondok Pesantren Yapink Tambun, Bekasi, berhasil menggetarkan hati para jamaah. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjadikan masa di balik jeruji sebagai kesempatan emas untuk introspeksi dan hijrah menuju pribadi yang lebih baik.
“Jadikan setiap detik di tempat ini sebagai pengingat, bahwa Allah SWT selalu memberi kesempatan kedua. Bukan semata hukuman, tetapi jalan untuk memperbaiki diri,” ujar Ustadz Saiful penuh keteduhan.
Suasana masjid yang penuh khidmat membuat banyak jamaah terharu. Beberapa warga binaan tampak menundukkan kepala, tak kuasa menahan air mata. Kehadiran Ustadz Saiful tidak hanya memberikan pencerahan spiritual, tetapi juga semangat hidup untuk menjalani hari-hari di balik jeruji dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
Salah satu sorotan utama kegiatan ini adalah kehadiran Dewan Pakar FPII, Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pembinaan keagamaan di Lapas adalah langkah nyata dalam membangun karakter dan moral para warga binaan.
“Kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa Lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga wadah pembinaan yang mempersiapkan narapidana kembali ke masyarakat dengan lebih baik. Saya berharap kegiatan positif ini terus berjalan dan membawa manfaat luas,” ujar Lilik.
Lilik juga menegaskan pentingnya dukungan masyarakat terhadap proses pemasyarakatan. Menurutnya, stigma sosial yang kerap melekat pada mantan narapidana bisa dipatahkan jika proses pembinaan dijalankan secara serius dan berkesinambungan.
Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara, Panji Kurnia Pamekas, tak lupa memberikan apresiasi tinggi atas dukungan FPII. Panji menegaskan bahwa program pembinaan spiritual adalah salah satu fokus utama Lapas Warungkiara.
“Dukungan dari berbagai pihak, termasuk FPII, semakin memperkuat program pembinaan kami. Tujuan kami adalah mempersiapkan warga binaan agar kembali ke masyarakat dengan keimanan dan akhlak yang lebih baik. Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat menjadi motivasi luar biasa bagi mereka,” ujar Panji.
Panji juga menyampaikan bahwa pembinaan keagamaan tidak hanya berdampak positif pada mental warga binaan, tetapi juga pada stabilitas keamanan di dalam lapas. Kegiatan religius terbukti mampu menciptakan suasana kondusif, memperkuat rasa kebersamaan, dan mengurangi potensi konflik antar warga binaan.
Di tengah keterbatasan, kegiatan keagamaan ini menjadi sumber ketenangan bagi banyak warga binaan. Beberapa di antaranya mengaku merasa lebih damai dan optimistis setelah mengikuti khutbah.
“Saya merasa seperti mendapat energi baru. Di sini kami belajar sabar, ikhlas, dan berusaha menjadi orang yang lebih baik,” ujar salah satu warga binaan dengan mata berkaca-kaca.
Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi para narapidana untuk merenungi kesalahan masa lalu dan menatap masa depan dengan lebih bijak. Suasana masjid yang tertib, doa bersama untuk bangsa, dan kebersamaan dalam ibadah menjadi momen spiritual yang menguatkan tekad untuk berubah.
Transformasi Lapas Warungkiara menjadi lembaga pembinaan yang humanis patut diapresiasi. Masjid Al-Himayah, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan, bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol harapan bagi warga binaan.
Kegiatan ini mencerminkan pendekatan rehabilitatif dalam sistem pemasyarakatan Indonesia, di mana narapidana diperlakukan bukan hanya sebagai pelanggar hukum, tetapi juga individu yang memiliki hak untuk mendapatkan pembinaan moral dan spiritual.
Dengan program-program seperti pembinaan keagamaan, keterampilan kerja, hingga pembinaan mental, Lapas Warungkiara berupaya mencetak warga binaan yang siap kembali ke masyarakat dengan bekal positif.
Keterlibatan FPII dalam kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara lembaga pemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan media. Sebagai organisasi pers independen, FPII berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat agar lebih bijak menyikapi isu-isu seputar pemasyarakatan.
“Stigma negatif terhadap mantan narapidana masih sangat kuat di masyarakat. Media punya peran besar untuk membantu mereka diterima kembali. Kami berharap publik melihat bahwa pembinaan di Lapas Warungkiara benar-benar berjalan,” kata salah satu anggota FPII yang hadir.
Dengan adanya liputan dan dukungan media, pesan positif dari kegiatan ini dapat menyebar luas, menginspirasi masyarakat untuk mendukung proses reintegrasi sosial bagi warga binaan.
Di tengah panasnya isu-isu sosial dan hukum, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan harus tetap dijunjung tinggi. Ribuan warga binaan yang berkumpul di Masjid Al-Himayah untuk beribadah bersama membuktikan bahwa meski hidup dalam keterbatasan, semangat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tidak pernah padam.
Pemandangan jamaah yang memenuhi masjid, lantunan doa yang khusyuk, serta raut wajah yang penuh harapan menciptakan suasana yang menggetarkan hati siapa pun yang hadir. Bagi sebagian warga binaan, Jumat ini menjadi titik balik dalam perjalanan hidup mereka.
Kegiatan keagamaan di Lapas Warungkiara memberikan pelajaran penting bahwa pembinaan bukan sekadar tentang disiplin, tetapi juga tentang membangkitkan kesadaran spiritual. Inisiatif ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga memperkuat citra positif lembaga pemasyarakatan sebagai institusi yang membina, bukan sekadar menghukum.
Di tengah tantangan modernisasi sistem hukum dan pemasyarakatan, pendekatan berbasis agama dan nilai moral menjadi solusi efektif untuk mencetak individu yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah bebas. Masjid Al-Himayah menjadi saksi bisu perjalanan spiritual ribuan warga binaan yang tengah berusaha menapaki jalan baru.
Shalat Jumat yang berlangsung dengan tertib dan khidmat ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, keluarga para warga binaan, serta keberkahan bagi seluruh penghuni Lapas Warungkiara. Dukungan dari tokoh agama, FPII, dan pihak lapas menjadi energi baru bagi para warga binaan untuk terus memperbaiki diri.
Kegiatan seperti ini bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi menjadi sarana menghapus sekat antara dunia luar dan dalam lapas. Di balik jeruji besi, semangat untuk berubah tetap berkobar, dan kegiatan keagamaan menjadi pengingat bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan kedua.
Penulis: (Sufiyawan)
Sumber: Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII)













