Pesawaran, SniperNew.id - Suasana haru, tawa bahagia, dan keakraban yang begitu terasa mengiringi acara “Temu Keluarga Besar TRANS-AD II (Transmigrasi Angkatan Darat) Desa Hanura” yang berlangsung meriah di Sanggar Mangliawan, Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, pada Rabu malam (17/9/2025). Kegiatan ini menjadi momentum bersejarah sekaligus pengingat kuat akan arti kebersamaan, perjuangan, dan identitas budaya yang telah diwariskan selama 59 tahun terakhir, Kamis (18/09/2015).
Sejak sore hari, arus kedatangan para putra-putri TRANS-AD II Hanura—baik yang menetap di desa maupun yang datang dari berbagai daerah di luar Lampung-sudah mulai terasa. Jalanan menuju Sanggar Mangliawan ramai dengan suara sapaan akrab, pelukan hangat, dan tawa riang yang menyiratkan kerinduan mendalam.
“Sudah bertahun-tahun tidak bertemu teman-teman masa kecil di Hanura. Rasanya seperti kembali ke masa-masa dulu, saat semuanya masih sederhana,” ungkap Rini (48), salah satu anak transmigran generasi kedua yang kini menetap di Palembang.
Panggung acara dihias sederhana namun sarat makna, menampilkan foto-foto lama para pendahulu dan momen bersejarah awal kedatangan program transmigrasi angkatan darat. Potret wajah-wajah muda para orang tua mereka yang dulu menapaki kehidupan baru di Hanura membuat banyak peserta tak kuasa menahan haru.
Kepala Desa Hanura, Rio Remota, dalam sambutannya menegaskan pentingnya acara ini bukan sekadar nostalgia. Ia menyampaikan apresiasi besar kepada panitia Putrad (Putra-Putri Trans-ad) yang telah bekerja keras merealisasikan acara temu kangen ini.
“Pentingnya menjaga tali silaturahmi dan terus menjalin komunikasi, meskipun ada yang sudah tidak tinggal lagi di Desa Hanura,” ucap Rio Remota, disambut tepuk tangan riuh.
Ia menambahkan bahwa peringatan hari jadi TRANS-AD Hanura yang ke-59 bukan hanya untuk mengenang perjalanan panjang para pendahulu, tetapi juga sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan dan identitas yang telah dibangun bersama.
“Semangat kebersamaan yang diwariskan para bapak-bapak Trans-ad II Hanura inilah yang harus kita teruskan. Jangan sampai generasi muda melupakan sejarah perjuangan itu,” imbuhnya.
Di sela-sela acara, beberapa tokoh keluarga besar TRANS-AD II Hanura menegaskan kembali semboyan “Jangan Lupakan Sejarah” atau Jasmerah, yang menjadi pengingat bagi seluruh warga. Bagi mereka, semboyan ini bukan sekadar slogan, tetapi pesan moral yang harus terus dijaga agar identitas budaya dan perjuangan para pendahulu tidak memudar.
Suwito (65), salah satu generasi pertama anak Trans-ad, mengenang bagaimana orang tuanya dulu memulai hidup baru di Hanura pada era transmigrasi angkatan darat. “Mereka datang ke sini dengan tekad kuat, meski serba terbatas. Kita sekarang bisa menikmati hasil kerja keras itu. Jangan sampai perjuangan mereka sia-sia,” ujarnya penuh emosi.
Nilai-nilai ini, lanjut Suwito, penting untuk diwariskan. “Anak-anak sekarang harus tahu, apa yang mereka nikmati hari ini adalah hasil dari darah dan keringat para pendahulu. Persatuan itu penting, jangan mudah terpecah,” tambahnya.
Setelah sambutan resmi, acara dilanjutkan dengan potong tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Potongan pertama diserahkan kepada salah satu tokoh tertua di keluarga besar TRANS-AD II Hanura sebagai bentuk penghormatan.
Kemeriahan berlanjut dengan pembagian doorprize yang memancing tawa dan sorak gembira. Hadiah-hadiah sederhana seperti peralatan rumah tangga, cenderamata khas Hanura, hingga paket sembako menjadi pengikat suasana kekeluargaan.
Tak ketinggalan, sesi makan malam bersama menjadi puncak keakraban. Aneka masakan khas Lampung dan hidangan tradisional Jawa disajikan, mencerminkan keragaman budaya yang hidup di Hanura. Banyak yang memanfaatkan momen ini untuk berbagi cerita lama dan bertukar kabar tentang kehidupan masing-masing.
“Ini bukan soal hadiah atau makanannya, tapi kebersamaan yang membuat semuanya terasa istimewa,” ujar Bayu (42), peserta yang datang dari Jakarta.
TRANS-AD II Hanura adalah bagian penting dari sejarah transmigrasi angkatan darat yang dimulai pada era 1960-an. Desa Hanura menjadi salah satu titik awal penempatan transmigran yang kemudian berkembang menjadi komunitas mandiri. Perjalanan panjang selama hampir enam dekade ini telah melahirkan banyak cerita tentang perjuangan, persatuan, dan pembangunan desa.
Menurut pengamat sosial lokal, Dr. Lestari Widodo, acara seperti ini memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas budaya. “Ketika masyarakat berkumpul untuk mengenang sejarah, mereka bukan hanya merayakan masa lalu, tetapi juga memperkuat jati diri kolektif. Ini penting untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan di tengah tantangan modernisasi,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Banyak anak-anak dan remaja yang hadir malam itu tampak antusias mendengarkan cerita-cerita masa lalu yang diceritakan oleh orang tua dan kakek-nenek mereka.
Beberapa tokoh masyarakat dalam acara itu berpesan agar generasi muda tidak sekadar mengenang, tetapi juga menerapkan nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang tantangannya berbeda. Bukan lagi soal membuka hutan atau membangun rumah dari nol. Tapi tantangan moral, teknologi, dan identitas. Kalau generasi muda bisa menjaga nilai gotong royong dan kebersamaan, itu sudah meneruskan perjuangan orang tua kita,” ujar Rini.
Kepala Desa Rio Remota juga menambahkan bahwa pemerintah desa siap mendukung kegiatan serupa di masa depan. “Kami akan terus memfasilitasi agar silaturahmi ini tidak berhenti di tahun ke-59 saja. Kita ingin setiap tahun ada momentum seperti ini, sebagai pengingat dan penguat persatuan,” tegasnya.
Di akhir acara, panitia menyampaikan harapan agar temu kangen ini dapat menjadi tradisi tahunan. Mereka juga merencanakan program sosial bersama, seperti bantuan pendidikan untuk anak-anak keluarga TRANS-AD II dan pelatihan keterampilan bagi pemuda desa.
“Temu kangen ini bukan hanya untuk nostalgia, tetapi juga wadah untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat Hanura,” kata Ketua Panitia, Arif Santoso.
Arif menambahkan bahwa kegiatan sosial tersebut akan menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan generasi pertama transmigran. “Kita tidak bisa membayar pengorbanan mereka dengan apa pun, tetapi kita bisa meneruskan nilai-nilai yang mereka ajarkan—kerja keras, kebersamaan, dan rasa syukur,” katanya.
Malam itu, Sanggar Mangliawan kembali senyap setelah gelak tawa dan lagu-lagu nostalgia berhenti. Namun, semangat yang ditinggalkan begitu terasa. Temu kangen ke-59 TRANS-AD II Hanura bukan hanya tentang reuni keluarga, tetapi tentang warisan nilai-nilai luhur yang terus hidup di hati setiap anggotanya.
Dengan pelukan perpisahan dan janji untuk bertemu kembali, para peserta meninggalkan Sanggar Mangliawan membawa kenangan baru, semangat persatuan, dan kebanggaan sebagai bagian dari sejarah panjang Desa Hanura.
Temu kangen ini sekali lagi membuktikan, bahwa Jasmerah — Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah- bukan sekadar slogan, melainkan kompas moral yang akan terus menuntun keluarga besar TRANS-AD II Hanura di tengah arus perubahan zaman.
Penulis: (Sufiyawan)













