Pemalang, SniperNew.id – Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang pria paruh baya mencurahkan kekecewaan dan kesedihannya di tengah aksi unjuk rasa di Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu (06/09).
Dengan suara lantang dan gestur penuh emosi, pria itu menceritakan bagaimana dirinya ditipu oleh oknum aparat yang menjanjikan anak-anaknya bisa masuk kepolisian.
Pria tersebut mengaku rela menjual sawah demi memenuhi permintaan uang dari oknum polisi. Namun janji itu ternyata palsu. Lima tahun berselang, bukan hanya anak-anaknya gagal masuk kepolisian, uang yang ia serahkan pun tidak pernah kembali. Dalam pengakuannya, ia menyebut uang itu justru digunakan untuk judi online oleh oknum yang menipunya.
Kisah ini kemudian diunggah ulang oleh akun media sosial Sindiranjenius dan memicu diskusi hangat di kalangan warganet. Berikut laporan lengkap berdasarkan rekaman video, unggahan, serta komentar masyarakat yang muncul.
Dalam video berdurasi singkat yang beredar, tampak seorang pria memakai baju kotak-kotak dengan tas selempang hitam berbicara lantang di hadapan massa aksi. Ia menceritakan pengalamannya menjadi korban penipuan oknum aparat yang menjanjikan jalur instan masuk kepolisian untuk anaknya.
Menurut unggahan Sindiranjenius, pria itu rela menjual sawah untuk membayar sejumlah uang, sesuai permintaan oknum tersebut. Namun setelah lima tahun berlalu, janji itu tidak ditepati. Kedua anaknya tidak kunjung diterima sebagai anggota kepolisian, sementara uang hasil penjualan sawah hilang begitu saja.
“Seorang pria mencurahkan kekesalannya saat demo di Pemalang, Jawa Tengah. Di hadapan banyak orang, bapak ini bercerita ia ditipu oleh oknum polisi. Dirinya dijanjikan kedua anaknya akan masuk kepolisian apabila ia memberikan sejumlah uang. Ia pun menjual sawahnya demi bisa memenuhi permintaan itu. Janji tersebut ternyata palsu. Lima tahun berlalu, bapak ini tidak mendapatkan kembali uangnya. Ia menyebutkan oknum tersebut menggunakan uangnya untuk judi online,” tulis akun Sindiranjenius dalam unggahan.
Ada beberapa pihak yang terlibat dalam peristiwa ini:
1. Pria korban penipuan
Ia merupakan warga Pemalang yang tampil dalam aksi unjuk rasa. Identitas lengkapnya tidak diungkapkan untuk menjaga privasi, namun ia menjadi sorotan utama dalam kisah ini.
2. Oknum aparat kepolisian
Pria tersebut menyebut ada oknum polisi yang menjanjikan jalur masuk bagi anak-anaknya. Namun, oknum inilah yang diduga melakukan penipuan dan menyalahgunakan uang korban untuk kepentingan pribadi, termasuk judi online.
3. Massa aksi dan masyarakat
Video memperlihatkan banyak warga yang menyaksikan pengakuan pria itu. Selain itu, masyarakat luas juga turut menanggapi kisah ini di media sosial, sebagian menyayangkan, sebagian lain mengkritisi tindakan sang bapak.
4. Netizen
Unggahan Sindiranjenius memancing berbagai komentar. Ada yang bersimpati, ada pula yang menyoroti niat awal bapak tersebut yang ingin memasukkan anaknya ke kepolisian melalui jalur suap.
Peristiwa ini terjadi di Pemalang, Jawa Tengah. Pria tersebut menyampaikan curahan hatinya di tengah aksi unjuk rasa di jalanan, dengan backdrop massa aksi, spanduk, dan aparat yang berjaga.
Video itu diunggah sekitar awal September 2025 oleh akun Sindiranjenius di platform Threads. Menurut keterangannya, kejadian berlangsung saat aksi demonstrasi yang belum disebutkan detail agendanya.
Pria tersebut juga menyebut pengalaman pahit ini sudah berlangsung lima tahun terakhir, sejak ia menyerahkan uang hasil penjualan sawahnya. Hingga kini, uang itu tidak pernah kembali.
Motif utamanya adalah janji palsu dari oknum aparat yang menjanjikan jalan pintas bagi anak korban untuk masuk kepolisian. Korban percaya karena adanya harapan besar untuk masa depan anak-anaknya.
Namun di sisi lain, masyarakat mengkritisi bahwa peristiwa ini juga terjadi karena korban sendiri mau menempuh jalan suap. Beberapa komentar netizen menegaskan bahwa budaya “jalur belakang” dalam seleksi aparatur negara masih ada karena adanya permintaan dari masyarakat yang menginginkan hasil instan.
Berdasarkan kesaksian korban dan unggahan yang beredar, kronologinya sebagai berikut:
1. Beberapa tahun lalu, pria itu bertemu dengan oknum polisi yang menjanjikan anak-anaknya bisa masuk kepolisian asalkan memberikan sejumlah uang.
2. Demi memenuhi permintaan, ia menjual sawah yang menjadi sumber penghidupannya.
3. Uang hasil penjualan sawah diserahkan kepada oknum tersebut dengan harapan anak-anaknya diterima sebagai polisi.
4. Lima tahun kemudian, janji itu tidak kunjung ditepati. Anaknya tidak masuk kepolisian, sementara uangnya raib.
5. Belakangan, ia mengetahui bahwa uang tersebut justru dipakai untuk bermain judi online oleh oknum tersebut.
6. Kekecewaan itu ia tumpahkan di tengah aksi demo di Pemalang, hingga akhirnya viral.
Unggahan kisah ini memicu perdebatan panjang di kolom komentar.
Beberapa warganet menyalahkan sang bapak. “Lhabapaknya malah buka aib sendiri, mau masukin anak ke kepolisian tapi dengan nyuap. Coba kalau anaknya diterima jadi polisi pasti diem-diem bae kan?” tulis akun eprabaningsih.
“Bapak ini juga bermasalah logikanya. Nyogok itu haram menurut agama, dan salah menurut hukum. Semestinya si bapak sadar,” komentar hadmosaksono.
“Yaelah pak, orang dari awal kalau ujung-ujungnya duit, ke depannya udah nggak bakal berkah. Coba anaknya kalau jadi polisi, pasti udah petantang-petenteng bapak ini,” tulis akun aziz_fatchulhd.
Namun ada pula yang bersimpati dan meminta agar kasus ini ditindaklanjuti:
“Ya Allah kasihan membodohi orang susah, semoga pelaku segera ditindaklanjuti,” tulis akun anisaalayrus.
“Udah tahu begitu pak, masih aja percaya. Kasihan dia sampai kayak orang gangguan,” komentar armen.erwin.37 yang mengaku pernah melihat kisah bapak ini berulang kali diunggah.
Sebagian lain menyebut bahwa praktik suap dan calo bisa terus hidup karena adanya “supply and demand”.
“Ngapain dibelain bapaknya? Dua-duanya sama aja perusak bangsa ini. Calo ada karena ada konsumennya. Kalau masyarakat nggak nyogok-nyogok juga nggak akan ada calo,” tulis meda_yulianti.
Kisah ini membuka kembali luka lama tentang praktik suap dalam rekrutmen aparatur negara. Di satu sisi, ada masyarakat yang ingin mencari jalan pintas, di sisi lain ada oknum aparat yang memanfaatkan peluang untuk meraup keuntungan pribadi.
Kasus ini menyoroti beberapa hal penting:
1. Budaya Korupsi dan Suap
Kejadian di Pemalang menjadi contoh bagaimana budaya suap masih tumbuh subur. Proses seleksi yang seharusnya murni berdasarkan merit justru dimanipulasi dengan uang.
2. Kerentanan Masyarakat
Harapan orang tua akan masa depan anak seringkali menjadi celah empuk bagi oknum tak bertanggung jawab.
3. Judi Online sebagai Masalah Serius
Dugaan penggunaan uang hasil penipuan untuk judi online menunjukkan betapa masifnya dampak perjudian digital di Indonesia.
4. Kritik Publik
Komentar warganet yang beragam memperlihatkan adanya kesadaran bahwa praktik “jalur belakang” tidak seharusnya terjadi. Ada tuntutan agar masyarakat berhenti memberi peluang bagi calo maupun oknum aparat.
Curahan hati seorang pria di Pemalang tentang kehilangan sawah dan uang karena janji palsu oknum polisi viral di media sosial. Kisah ini bukan hanya menggambarkan penderitaan seorang korban, tetapi juga mencerminkan persoalan lebih luas tentang praktik suap, calo, serta judi online.
Reaksi warganet memperlihatkan dua sisi: simpati atas penderitaan korban, sekaligus kritik terhadap mentalitas masyarakat yang masih percaya pada jalan pintas.
Kini, publik menantikan langkah tegas dari aparat terkait untuk mengusut dugaan keterlibatan oknum, sekaligus membenahi sistem agar peristiwa serupa tidak terulang. (Ahm/abd).



















