Medan, SniperNew.id – Kondisi ekonomi yang belum stabil tampaknya semakin dirasakan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya para pedagang pasar tradisional. Sebuah video yang diunggah oleh akun nazwashop dan diliput oleh media axialnews.id menjadi viral setelah menampilkan curahan hati para pedagang pakaian dan fashion di salah satu pasar di Kota Medan, Senin (04/08).
Dalam unggahan di platform Threads, yang sudah dilihat sebanyak 528 kali, axialnews.id menuliskan, “Video viral diunggah akun ‘nazwashop’ menampilkan curahan hati para pedagang #pakaian & #fashion di salah satu pasar di Kota Medan yang mengeluhkan kondisi sepi pembeli.”
Lebih lanjut, para pedagang yang diwawancarai mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap menurunnya minat masyarakat untuk berbelanja langsung di pasar. “Para #pedagang mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap menurunnya minat masyarakat #berbelanja langsung di #pasar,” tulis axialnews.id.
Dua tangkapan layar dari video tersebut memperlihatkan suasana pasar yang lengang. Dalam gambar pertama, terlihat beberapa lapak pakaian yang dipenuhi gantungan baju, namun tanpa keramaian pembeli. Nama toko “NAZWA” terlihat jelas di latar belakang. Di bagian bawah gambar tersebut tertulis “Viral Pedagang Pasar” dengan warna oranye mencolok.
Gambar kedua menampilkan lorong pasar yang dipenuhi dengan pajangan busana muslim seperti gamis dan kerudung. Beberapa pedagang tampak duduk sambil menunggu calon pembeli yang tak kunjung datang. Seorang wanita berhijab merah tampak berjalan di tengah lorong yang kosong. Tulisan di layar berbunyi, “Viral Pedagang Pasar Curhat Karena Sepi”.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Medan. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, tren belanja online yang semakin masif, ditambah dengan tekanan ekonomi global dan daya beli masyarakat yang menurun, menjadi faktor utama sepinya pasar tradisional di banyak kota di Indonesia.
Sejumlah pedagang mengaku bahwa dalam beberapa bulan terakhir omzet mereka menurun drastis. “Biasanya di akhir pekan atau menjelang Lebaran kami ramai pembeli. Sekarang sepi terus, bahkan ada yang tidak laku sama sekali,” keluh seorang pedagang yang tak disebutkan namanya dalam video tersebut.
Pemerintah sebenarnya sudah berupaya memberikan dukungan melalui program pembiayaan UMKM, pelatihan digital marketing, dan insentif pajak. Namun, sebagian pedagang pasar tradisional masih kesulitan beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang cenderung memilih kenyamanan belanja daring.
Pengamat ekonomi lokal menyarankan agar para pelaku UMKM, khususnya pedagang pasar, mulai mempertimbangkan strategi pemasaran hybrid, yakni menggabungkan metode penjualan offline dan online untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Pasar tradisional tetap punya keunggulan, terutama dalam hal interaksi sosial, kualitas barang yang bisa langsung dilihat, dan harga yang bisa dinegosiasikan. Tetapi adaptasi digital adalah sebuah keharusan di era sekarang,” ujar seorang analis yang dimintai komentar oleh media.
Kisah para pedagang pasar di Medan ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya tantangan yang dihadapi UMKM di tengah arus perubahan zaman dan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Para pedagang berharap adanya solusi konkret dari pihak berwenang untuk membantu menggerakkan kembali roda perekonomian pasar tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. [Abd].


















