Berita Hukum

JAM-Pidum Prof. Dr. Asep Nana Mulyana Terapkan Keadilan Restoratif pada Perkara Pencurian Handphone di Tanjung Perak

270
×

JAM-Pidum Prof. Dr. Asep Nana Mulyana Terapkan Keadilan Restoratif pada Perkara Pencurian Handphone di Tanjung Perak

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id - Selasa 30 Juli 2024, Jak­sa Agung RI melalui Jak­sa Agung Muda Tin­dak Pidana Umum (JAM-Pidum) Prof. Dr. Asep Nana Mulyana memimpin ekspose dalam rang­ka menyetu­jui 13 per­mo­ho­nan penye­le­sa­ian perkara berdasarkan mekanisme kead­i­lan restoratif.

Ada­pun salah satu perkara yang dis­e­le­saikan melalui mekanisme kead­i­lan restoratif yaitu ter­hadap Ter­sang­ka Moh Lut­fi bin Sawi dari Kejak­saan Negeri Tan­jung Per­ak, yang disang­ka melang­gar 362 KUHP ten­tang Pen­cu­ri­an.

Kro­nolo­gi bermu­la saat Ter­sang­ka Moh Lut­fi bin Sawi kelu­ar dari rumah den­gan ber­jalan kaki kemu­di­an tidak sen­ga­ja meli­hat 1 (satu) unit Hand­phone Sam­sung Galaxy A24 war­na sil­ver milik Sak­si Kor­ban MIFTAKHUL HUDA di das­bord sepe­da motor.

Selan­jut­nya Ter­sang­ka lang­sung mengam­bil 1 (satu) unit Hand­phone Sam­sung Galaxy A24 war­na sil­ver dan mema­sukan ke dalam saku celana pen­dek sebe­lah kiri. Sete­lah berhasil mengam­bil 1 (satu) unit Hand­phone Sam­sung Galaxy A24 war­na sil­ver ter­sang­ka masuk ke dalam gang Gadu­ka Utara Surabaya untuk memindahkan 1 (satu) unit Hand­phone Sam­sung Galaxy A24 war­na sil­ver ke depan perut ter­sang­ka den­gan ditu­tupi kaos dan keja­di­an terse­but dil­i­hat oleh war­ga dikare­nakan ger­ak-gerik.

  Tetap Tegas Meski Sempat Dihadang!, Kasatresnarkoba AKP Irwanta Sembiring Pimpin Razia di NES Restobar

Ter­sang­ka men­curi­gakan dan dia­mankan oleh pihak kepolisian.
Ter­sang­ka melakukan per­bu­atan itu kare­na fak­tor ekono­mi dan berkeing­i­nan untuk memi­li­ki sebuah Hand­phone namun tidak ada biaya.

Menge­tahui kasus posisi terse­but, Kepala Kejak­saan Negeri Tan­jung Per­ak Ricky Seti­awan Anas, S.H., M.H., Kasi Pidum Yusuf Akbar Amin, S.H., M.H. ser­ta Jak­sa Fasil­i­ta­tor Her­lam­bang Adhi Nugro­ho, S.H., mengin­isi­asikan penye­le­sa­ian perkara ini melalui mekanisme restora­tive jus­tice.

Dalam pros­es per­dama­ian, Ter­sang­ka men­gakui dan menye­sali per­bu­atan­nya ser­ta mem­inta maaf kepa­da Kor­ban. Sete­lah itu, Kor­ban mener­i­ma per­mintaan maaf dari Ter­sang­ka dan juga mem­inta agar pros­es hukum yang sedang dijalani oleh Ter­sang­ka dihen­tikan.

Ter­lebih, Sak­si Kor­ban juga belum men­gala­mi keru­gian kare­na Ter­sang­ka sudah dia­mankan sebelum Hand­phone terse­but ter­jual atau berpin­dah tan­gan.

Usai ter­ca­painya kesep­a­katan per­dama­ian, Kepala Kejak­saan Negeri Tan­jung Per­ak men­ga­jukan per­mo­ho­nan penghent­ian penun­tu­tan berdasarkan kead­i­lan restoratif kepa­da Kepala Kejak­saan Ting­gi Jawa Timur.

Sete­lah mem­pela­jari berkas perkara terse­but, Kepala Kejak­saan Ting­gi Jawa Timur Dr. Mia Amiati, S.H., M.H. sepen­da­p­at untuk dilakukan penghent­ian penun­tu­tan berdasarkan kead­i­lan restoratif dan men­ga­jukan per­mo­ho­nan kepa­da JAM-Pidum dan per­mo­ho­nan terse­but dis­e­tu­jui dalam ekspose Restora­tive Jus­tice yang dige­lar pada Selasa, 30 Juli 2024.

Selain itu, JAM-Pidum juga menyetu­jui 12 perkara lain melalui mekanisme kead­i­lan restoratif, ter­hadap ter­sang­ka.

Ter­sang­ka Ria­di bin Rubikan dari Kejak­saan Negeri Jom­bang, yang disang­ka melang­gar Pasal 351 Ayat (1) KUHP ten­tang Per­bu­atan Pen­ga­ni­ayaan.

  KPK Beberkan Kronologi Penangkapan Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Ter­sang­ka Hadrawa bin Tamun dari Kejak­saan Negeri Sumenep, yang disang­ka melang­gar Pasal 351 Ayat (1) KUHP ten­tang Pen­ga­ni­ayaan.

Ter­sang­ka Tau­fik Hiday­at­ul­lah bin Mis­tar dari Kejak­saan Negeri Sumenep, yang disang­ka melang­gar Pasal 80 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 ten­tang Per­lin­dun­gan Anak.

Ter­sang­ka Okta­vian Rizky Waluyo als Tig­or bin Pan­ca Waluyo dari Kejak­saan Negeri Surabaya, yang disang­ka melang­gar Pasal 80 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 ten­tang Per­lin­dun­gan Anak.

Ter­sang­ka Mohamad Agusal­im St bin Alm Mukhson dari Kejak­saan Negeri Kota Kediri, yang disang­ka melang­gar Pasal 351 Ayat (1) KUHP ten­tang Pen­ga­ni­ayaan.
Ter­sang­ka Muham­mad Syafi­ud­din bin Kas­mu­ji dari Kejak­saan Negeri Tuban, yang disang­ka melang­gar Pasal 351 Ayat (1) KUHP ten­tang Pen­ga­ni­ayaan.

Ter­sang­ka Sapu­tra Anan­da Suhen­da bin Ifan Suhen­dra dari Kejak­saan Negeri Tuban, yang disang­ka melang­gar Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 2009 Ten­tang Lalu lin­tas dan Angku­tan Jalan.

Ter­sang­ka Fif­ing Lias­dori dari Kejak­saan Negeri Jem­ber, yang disang­ka melang­gar Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 2009 ten­tang Lalu lin­tas dan Angku­tan Jalan.

Ter­sang­ka Rach­mad Zul­fi­an bin Alm Zulk­i­fli dari Kejak­saan Negeri Tan­jung Per­ak, yang disang­ka melang­gar Pasal 378 KUHP ten­tang Penipuan jo. Pasal 55 Ayat (1) ke‑1 KUHP atau Ked­ua Pasal 372 KUHP ten­tang Pengge­la­pan jo. Pasal 55 Ayat (1) ke‑1 KUHP.

  Kasus SPAM Memanas, Kejati Periksa Bupati Pesawaran Sepanjang Hari

Ter­sang­ka Muham­mad Hel­mi bin Ram­li dari Kejak­saan Negeri Samarin­da, yang disang­ka melang­gar Pasal 480 Ayat (1) KUHP ten­tang penada­han.

Ter­sang­ka Muham­mad Irsan Lestaluhu dari Kejak­saan Negeri Halma­hera Ten­gah, yang disang­ka melang­gar Pasal 351 Ayat (1) KUHP ten­tang penada­han.

Ter­sang­ka Nadia bin­ti Pauzi dari Kejak­saan Negeri Bang­ka Barat, yang disang­ka melang­gar Pasal 310 Ayat (3) Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2009 ten­tang Lalu Lin­tas dan Angku­tan Jalan.

Alasan pem­ber­ian penghent­ian penun­tu­tan berdasarkan kead­i­lan restoratif ini diberikan antara lain:
Telah dilak­sanakan pros­es per­dama­ian dimana Ter­sang­ka telah mem­inta maaf dan kor­ban sudah mem­berikan per­mo­ho­nan maaf.

Ter­sang­ka belum per­nah dihukum;
Ter­sang­ka baru per­ta­ma kali melakukan per­bu­atan pidana.

Anca­man pidana den­da atau pen­jara tidak lebih dari 5 (lima) tahun. Ter­sang­ka ber­jan­ji tidak akan lagi men­gu­lan­gi per­bu­atan­nya.

Pros­es per­dama­ian dilakukan secara sukarela den­gan musyawarah untuk mufakat, tan­pa tekanan, pak­saan, dan intim­i­dasi.

Ter­sang­ka dan kor­ban setu­ju untuk tidak melan­jutkan per­masala­han ke per­si­dan­gan kare­na tidak akan mem­bawa man­faat yang lebih besar, Per­tim­ban­gan sosi­ol­o­gis. Masyarakat mere­spon posi­tif.

Selan­jut­nya, JAM-Pidum memer­in­tahkan kepa­da Para Kepala Kejak­saan Negeri untuk mener­bitkan Surat Kete­ta­pan Penghent­ian Penun­tu­tan (SKP2) Berdasarkan Kead­i­lan Restoratif sesuai Per­at­u­ran Kejak­saan Repub­lik Indone­sia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tang­gal 10 Feb­ru­ari 2022 ten­tang Pelak­sanaan Penghent­ian Penun­tu­tan Berdasarkan Kead­i­lan Restoratif seba­gai per­wu­ju­dan kepas­t­ian hukum. (fitri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *