Berita Lifestyle

Yohanes Karwilus Habisi Ikan Goreng, Bukan Musuh Negara: Pikiran Tenang, Perut Kenyang!a

1103
×

Yohanes Karwilus Habisi Ikan Goreng, Bukan Musuh Negara: Pikiran Tenang, Perut Kenyang!a

Sebarkan artikel ini
Gambar Yohanes Karwilus habis makan siang di sebuah warung tradisional Minggu 27 Juli 2025 Wartawan senior dari media SniperNew.id,

Jin­gah, SniperNew.id — Ming­gu 27 Juli 2025 Wartawan senior dari media SniperNew.id, Yohanes Kar­wilus, kem­bali men­curi per­ha­t­ian bukan kare­na liputan inves­ti­gatif atau mem­bongkar skan­dal besar, melainkan kare­na aksi seder­hana namun penuh mak­na: meng­habiskan makan siang di sebuah warung tra­di­sion­al di kawasan Lam­on­gan, Jin­gah.

Dalam ung­ga­han What­sApp prib­adinya yang beredar inter­nal di redak­si SniperNew.id, Yohanes tam­pak ber­swafo­to den­gan latar belakang warung seder­hana namun ramai pem­be­li. Duduk ten­ang den­gan ekspre­si puas, ia mengabadikan momen sete­lah mela­hap menu yang tam­paknya didom­i­nasi oleh ikan goreng dan teh man­is din­gin. Tam­pak jelas di meja: pir­ing kosong den­gan sisa tulang ikan yang men­ja­di buk­ti keganasan eh, mak­sud­nya kenikmatan makan siang sang jur­nalis.

  Misteri Ilmu Rawanontek, Warisan Gaib yang Menginspirasi

“Menikmati makan di Lam­on­gan, di Jin­gah,” tulis­nya singkat, padat, dan penuh arti. Tapi jan­gan salah, ini bukan sekadar makan. Bagi Yohanes, makan di warung tra­di­sion­al pun­ya filosofi tersendiri.

“Makan di tem­pat seper­ti ini tuh bikin hati adem. Nggak ada tekanan dead­line, nggak ada debat redak­si. Cuma saya, makanan, dan suasana desa yang damai,” ungkap Yohanes kepa­da rekan-rekan jur­nalis di grup inter­nal.

Warung makan yang ia singgahi memang tam­pak seder­hana, den­gan atap seng dan bangku plas­tik, tapi jan­gan ter­tipu oleh penampi­lan­nya. Jus­tru dari tem­pat seper­ti ini­lah cita rasa aut­en­tik kulin­er Indone­sia muncul. Menu khas Lam­on­gan seper­ti ikan goreng, sam­bal segar, dan teh man­is din­gin jadi favorit banyak pen­gun­jung, ter­ma­suk sang wartawan.

  Uang Puluhan Juta Dimakan Rayap, Celengan Samin Bikin Haru

Menu­rut Yohanes, warung seper­ti ini jus­tru menya­jikan “kete­nan­gan spir­i­tu­al” yang sulit dite­mukan di restoran mewah. “Di sini, kita bisa makan sam­bil meli­hat orang ngo­b­rol san­tai, bapak-bapak ngopi sam­bil ngerokok, anak kecil main di pelataran. Rasanya kayak pulang ke rumah nenek,” tam­bah­nya.

Momen seder­hana ini terny­a­ta cukup viral di kalan­gan inter­nal SniperNew.id. Beber­a­pa rekan­nya bahkan berko­men­tar iseng di grup. “Jan­gan-jan­gandia lagi menya­mar inves­ti­gasi soal mafia sam­bal?”

“Lapo­ran inves­ti­gasi edisi spe­sial: Jejak Tulang Ikan di Lam­on­gan.”

Kalau Yohanes sudah turun tan­gan, bukan cuma beri­ta yang habis, makanan juga!”

Ten­tu saja semua komen­tar itu dis­am­but tawa dan can­daan hangat. Tapi satu hal yang pasti: keti­ka piki­ran sedang ten­ang, bahkan semangkuk nasi, sepo­tong ikan, dan secangkir teh pun terasa seper­ti jamuan ker­a­jaan.

  Opor Ayam Kampung, Hidangan Tradisional Nusantara yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu

Yohanes Kar­wilus mem­buk­tikan, wartawan pun butuh jeda. Dan jeda ter­baik adalah keti­ka perut kenyang, hati ten­ang, dan suasana warung desa mem­ba­lut semuanya. Mungkin dunia belum damai, tapi siang itu, di warung kecil di Jin­gah, Yohanes telah berdamai den­gan lapar dan den­gan dirinya sendiri.

Akhir kata, pela­jaran hari ini, Kalau tak bisa mene­nangkan dunia, ten­angkan dulu perut­mu. Seper­ti Yohanes.

Edi­tor: (Ahmad).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *