Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Warga Tarumajaya Pertanyakan Arah Tower SUTT, Lahan Sawah Kosong Jadi Sorotan

154
×

Warga Tarumajaya Pertanyakan Arah Tower SUTT, Lahan Sawah Kosong Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

Bekasi, SniperNew.id – Polemik pem­ban­gu­nan jaringan listrik tegan­gan ting­gi atau Salu­ran Udara Tegan­gan Ting­gi (SUTT) di wilayah Keca­matan Taru­ma­jaya, Kabu­pat­en Bekasi, terus men­ja­di sorotan war­ga. Sejak 2021, masyarakat setem­pat mem­per­juangkan haknya agar keber­adaan tow­er listrik tidak merugikan mere­ka. Hing­ga kini, belum ada keje­lasan men­ga­pa jalur tow­er terse­but harus melin­tas di atas rumah war­ga, pada­hal beber­a­pa puluh meter di belakang kom­pleks masih ter­da­p­at lahan kosong yang diper­gu­nakan seba­gai sawah.

Ung­ga­han salah satu akun media sosial di plat­form Threads “bro­rondm” yang diku­tip Senin (08/09), yang dis­er­tai den­gan video aktiv­i­tas war­ga, menggam­barkan kere­sa­han itu. Dalam ung­ga­han terse­but ter­tulis:

“War­ga Taru­ma­jaya, Kabu­pat­en Bekasi mem­per­juangkan haknya dari 2021. Sam­pai sekarang tidak ada keje­lasan kena­pa Tow­er SUTT harus melin­tasi rumah war­ga pada­hal beber­a­pa puluh meter belakang kom­plek ada tanah kosong yg lagi diper­gu­nakan seba­gai sawah. Sia­pakah devel­op­er pemi­lik tanah kosong terse­but?”

Perny­ataan itu meman­tik per­tanyaan pub­lik men­ge­nai sia­pa sebe­narnya pemi­lik atau devel­op­er dari lahan kosong terse­but.

Per­soalan ini beraw­al keti­ka pem­ban­gu­nan tow­er SUTT dite­tap­kan mele­wati per­muki­man war­ga. Sejum­lah rumah ter­an­cam bera­da tepat di bawah lin­tasan kabel tegan­gan ting­gi. War­ga Taru­ma­jaya meni­lai hal ini berba­haya, baik dari sisi kese­hatan maupun kese­la­matan.

  Berbagi Berkah Ramadhan, Ketum WLC Turun Langsung Pimpin Baksos di Tiga Titik Bandar Lampung

Seo­rang war­ga yang dite­mui dalam doku­men­tasi ung­ga­han itu tam­pak duduk bersama kelu­ar­ganya di sebuah gubuk seder­hana. Mere­ka menun­jukkan kehidu­pan sehari-hari yang seder­hana, namun di balik itu ada kege­lisa­han men­dalam.

“Kami sejak 2021 menung­gu pen­je­lasan. Kena­pa jalurnya harus mele­wati rumah-rumah kami? Pada­hal jelas di belakang masih ada tanah kosong luas,” keluh salah satu war­ga.

Fokus per­ha­t­ian kini ter­tu­ju pada sebidang lahan kosong yang bera­da hanya beber­a­pa puluh meter dari kom­pleks peruma­han. Lahan terse­but masih berfungsi seba­gai area per­sawa­han. Dalam logi­ka war­ga, seharus­nya pem­ban­gu­nan tow­er dap­at dial­ihkan ke area terse­but tan­pa harus mem­be­bani mere­ka.

Namun, hing­ga saat ini, belum ada pen­je­lasan res­mi dari pihak berwe­nang maupun pengem­bang terkait sta­tus tanah kosong itu. War­ga men­duga ada keterkai­tan den­gan kepentin­gan ter­ten­tu, namun belum ada buk­ti jelas yang bisa men­gon­fir­masi.

“Yang kami tanyakan seder­hana, sia­pa pemi­lik tanah itu? Men­ga­pa jalurnya tidak ke sana?” tanya war­ga lain­nya.

Ung­ga­han di Threads terse­but menarik per­ha­t­ian banyak peng­gu­na media sosial. Den­gan lebih dari 12 ribu tayan­gan, ung­ga­han itu ramai diko­men­tari war­ganet yang meny­oroti keber­pi­hakan ter­hadap war­ga. Beber­a­pa meny­atakan sim­pati dan men­dorong pemer­in­tah daer­ah agar segera turun tan­gan.

  Ihya Ramadan Perdana MB Kelantan Himpun Perantau di Shah Alam

Dalam foto yang meny­er­tai ung­ga­han, tam­pak suasana akrab war­ga Taru­ma­jaya. Beber­a­pa orang duduk di gubuk kecil berat­ap seng, den­gan span­duk kam­pa­nye lama yang ter­pasang seba­gai pene­duh. Anak-anak kecil pun ikut men­e­mani orang tuanya.

Kehangatan itu seakan men­ja­di sim­bol per­juan­gan mere­ka yang tak surut mes­ki sudah berlang­sung sela­ma bertahun-tahun.

Kehadi­ran span­duk tokoh poli­tik dalam doku­men­tasi terse­but mengisyaratkan bah­wa isu ini per­nah dis­en­tuh dalam ruang poli­tik. Namun, hing­ga kini war­ga meni­lai belum ada solusi nya­ta yang mere­ka rasakan.

War­ga mende­sak agar para pemangku kepentin­gan — baik pemer­in­tah daer­ah, PLN seba­gai pelak­sana proyek, maupun pihak pengem­bang yang memi­li­ki lahan kosong — duduk bersama men­cari jalan kelu­ar. “Kami tidak meno­lak pem­ban­gu­nan. Listrik untuk kepentin­gan umum kami dukung. Tapi jan­gan sam­pai kese­la­matan war­ga diko­r­bankan,” ujar salah seo­rang tokoh masyarakat.

Polemik pem­ban­gu­nan tow­er Salu­ran Udara Tegan­gan Ting­gi (SUTT) yang melin­tas di atas rumah war­ga Taru­ma­jaya, Bekasi. War­ga mem­per­tanyakan men­ga­pa jalur terse­but tidak dial­ihkan ke lahan kosong yang masih beru­pa sawah di belakang kom­pleks.

War­ga Taru­ma­jaya, Kabu­pat­en Bekasi, seba­gai pihak yang ter­dampak lang­sung.

Pemer­in­tah daer­ah dan PLN seba­gai pihak yang berwe­nang men­gatur pem­ban­gu­nan jaringan listrik. Devel­op­er atau pemi­lik lahan kosong yang masih belum jelas iden­ti­tas­nya.

Per­soalan ini men­cu­at sejak 2021 dan hing­ga kini, pada 2025, masih belum men­e­mukan titik terang.

Di Keca­matan Taru­ma­jaya, Kabu­pat­en Bekasi, Jawa Barat, tepat­nya di area per­muki­man war­ga dan lahan sawah kosong di belakang kom­pleks.

  Tinjau Huntara, Bobby Nasution Pastikan Relokasi Segera Tuntas

Kare­na jalur tow­er SUTT diren­canakan mele­wati per­muki­man war­ga, bukan lahan kosong di sek­i­tarnya. Hing­ga kini tidak ada keje­lasan men­ge­nai alasan pemil­i­han jalur terse­but, sehing­ga memicu dugaan adanya kepentin­gan ter­ten­tu.

War­ga sejak 2021 terus mem­per­juangkan haknya melalui berba­gai cara, ter­ma­suk menyuarakan kere­sa­han di media sosial. Namun, hing­ga saat ini belum ada jawa­ban yang memuaskan dari pihak terkait.

Hara­pan terbe­sar war­ga Taru­ma­jaya adalah adanya keje­lasan dan kepu­tu­san yang berpi­hak pada kese­la­matan mere­ka. Mere­ka tidak meno­lak pem­ban­gu­nan infra­struk­tur listrik, tetapi mem­inta agar jalur tow­er dial­ihkan ke lokasi yang lebih aman dan logis.

“Kami ingin pemer­in­tah hadir dan menden­gar suara kami. Jan­gan sam­pai raky­at kecil hanya jadi kor­ban kebi­jakan,” kata war­ga.

Kasus ini mencer­minkan tan­ta­n­gan besar dalam pem­ban­gu­nan infra­struk­tur. Di satu sisi, jaringan listrik berte­gan­gan ting­gi san­gat dibu­tuhkan untuk men­dukung kebu­tuhan ener­gi nasion­al. Namun di sisi lain, peren­canaan yang tidak mem­per­hatikan kese­la­matan dan kenya­manan masyarakat bisa menim­bulkan kon­flik sosial berkepan­jan­gan.

Polemik SUTT di Taru­ma­jaya, Bekasi, men­ja­di pengin­gat bah­wa pem­ban­gu­nan harus sejalan den­gan prin­sip kead­i­lan dan keter­bukaan infor­masi. Per­tanyaan besar war­ga — sia­pa pemi­lik lahan kosong di belakang kom­pleks-masih meng­gan­tung. Sela­ma itu belum ter­jawab, per­juan­gan war­ga diyaki­ni akan terus berlan­jut. (Darm/Dar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *