Bekasi, SniperNew.id – Unggahan dari akun media sosial Treands “brorondm” kembali menjadi sorotan publik, setelah menyuarakan keresahan warga terkait persoalan yang belum juga tuntas di wilayah Desa Mulyajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Dalam postingan pada Kamis, 21 Agustus 2025, akun tersebut menuliskan pernyataan yang menggambarkan kekecewaan masyarakat terhadap dugaan berulangnya masalah infrastruktur listrik yang melibatkan pihak Bukaka dan PLN.
Unggahan itu berbunyi: “Nah khan kejadian lagi. Gini jadinya kalau dari awal zolim sama warga. Masalah nambah terus.
Bukaka & PLN harus terbuka kepada publik kenapa bisa berkali kali terjadi. Hasil investigasi yang putus bulan lalu sudah ada belum?
Desa Mulyajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.”*
Unggahan ini segera mendapatkan respons beragam dari warganet, terutama masyarakat sekitar yang merasa terdampak.
Warga mendesak agar Bukaka—yang diketahui terlibat dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan di wilayah tersebut – serta PLN memberikan penjelasan resmi dan terbuka. Desakan ini muncul karena peristiwa serupa sudah bukan sekali terjadi, melainkan berulang kali.
Menurut warga, masalah kelistrikan ini telah menimbulkan keresahan yang cukup serius. Aktivitas harian terganggu, pelaku usaha kecil mengalami kerugian, hingga fasilitas umum yang bergantung pada listrik tidak dapat berjalan optimal.
Seorang warga Mulyajaya yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, “Kami tidak menuntut banyak, hanya butuh kejelasan. Kalau ada masalah teknis, sampaikan secara transparan. Jangan sampai kami hanya jadi korban tanpa tahu duduk persoalannya.”
Dari catatan warga, gangguan serupa telah beberapa kali terjadi sepanjang tahun ini. Bahkan, pada bulan lalu sempat disebutkan bahwa ada tim investigasi yang dibentuk untuk menelusuri penyebab masalah. Namun hingga kini, hasil investigasi tersebut belum dipublikasikan secara resmi.
Padahal, masyarakat sempat berharap bahwa laporan akhir dari investigasi itu akan memberi gambaran jelas terkait penyebab kerusakan dan langkah pencegahan agar tidak terulang kembali.
“Kalau memang ada kesalahan teknis, jelaskan. Kalau ada faktor lain, sampaikan juga. Jangan hanya diam. Keterbukaan itu penting supaya warga tidak kehilangan kepercayaan,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Unggahan akun “brorondm” di platform Treands tidak hanya mengutip keresahan, tetapi juga menjadi wadah aspirasi warga yang sulit disampaikan langsung ke pihak berwenang. Banyak komentar yang menegaskan hal serupa: bahwa masyarakat ingin kepastian dan jawaban resmi.
Sejumlah netizen bahkan menyinggung soal tanggung jawab sosial perusahaan. Menurut mereka, Bukaka dan PLN semestinya tidak hanya memikirkan proyek, tetapi juga dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
“Kalau terus berulang, itu artinya bukan sekadar gangguan teknis biasa. Bisa jadi ada kesalahan dari hulu, entah dari manajemen, perencanaan, atau pengawasan,” tulis salah seorang pengguna Treands menanggapi postingan tersebut.
Gangguan listrik bukan hanya soal kenyamanan. Di Desa Mulyajaya, banyak usaha mikro dan kecil bergantung pada pasokan listrik. Mulai dari usaha makanan beku, percetakan, hingga warung internet, semua mengalami kerugian ketika listrik padam berulang kali.
Salah seorang pelaku usaha kecil menuturkan, “Kami punya usaha rumahan yang butuh freezer jalan terus. Kalau listrik mati lama, barang bisa rusak. Kerugian bisa jutaan rupiah dalam sehari.”
Selain itu, fasilitas pendidikan dan pelayanan masyarakat juga ikut terimbas. Anak-anak yang sudah terbiasa belajar dengan bantuan perangkat digital menjadi kesulitan. Begitu pula layanan administrasi desa yang terganggu karena sistem digital tidak bisa diakses.
Warga Desa Mulyajaya menekankan dua hal utama. Pertama, transparansi hasil investigasi yang disebut selesai bulan lalu. Kedua, rencana jangka panjang pencegahan agar gangguan serupa tidak terjadi lagi.
Mereka menilai bahwa tanpa adanya kejelasan, kepercayaan terhadap pihak perusahaan dan penyedia layanan publik akan terus menurun.
“Ini bukan sekadar soal listrik padam, tapi soal tanggung jawab. Kalau masalah ini tidak segera dijelaskan, artinya ada sesuatu yang ditutupi,” tegas seorang warga.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak Bukaka maupun PLN mengenai unggahan tersebut. Masyarakat berharap, dalam waktu dekat akan ada konferensi pers atau pernyataan resmi yang menjawab keresahan publik.
Sementara itu, sejumlah pengamat energi menilai bahwa keterbukaan informasi menjadi kunci untuk meredam keresahan masyarakat. Tanpa komunikasi yang baik, gangguan kecil pun bisa menimbulkan spekulasi yang lebih besar.
“PLN adalah perusahaan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jadi, komunikasi terbuka dan cepat itu wajib. Apalagi kalau melibatkan mitra perusahaan besar seperti Bukaka,” jelas seorang pengamat energi nasional.
Kasus yang terjadi di Desa Mulyajaya bukanlah hal baru. Banyak daerah lain di Indonesia menghadapi tantangan serupa, terutama ketika pembangunan infrastruktur belum berjalan sempurna. Namun, yang membedakan adalah bagaimana perusahaan merespons keluhan masyarakat.
Warga Mulyajaya kini menunggu itikad baik dari Bukaka dan PLN. Mereka berharap agar ada penjelasan resmi, langkah perbaikan, serta jaminan bahwa kejadian serupa tidak akan terus berulang.
Pada akhirnya, transparansi bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bagian dari membangun kepercayaan publik. Dan bagi masyarakat, kejelasan itu sama pentingnya dengan keberlangsungan listrik itu sendiri.
Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis berdasarkan informasi yang diunggah akun media sosial Treands “brorondm” pada Kamis, 21 Agustus 2025, serta keterangan tambahan dari warga dan pengamat energi. Seluruh pihak terkait, termasuk Bukaka dan PLN, terbuka untuk memberikan hak jawab guna keseimbangan informasi sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Editor: (Ahmad)












