Sibolangit, SniperNew.id – Seorang pria yang diduga melakukan pungutan liar (pungli) terhadap wisatawan di kawasan wisata Air Terjun Dua Warna, Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, akhirnya muncul ke publik dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Permintaan maaf ini disampaikan setelah videonya viral di media sosial dan mendapat perhatian luas dari masyarakat, Selasa (19/08/2025).
Video klarifikasi tersebut diunggah oleh akun media lokal Posmetro Medan di Facebook dan Instagram. Dalam video berdurasi singkat itu, pria paruh baya tersebut terlihat berdiri dengan latar belakang papan yang biasanya digunakan oleh pihak kepolisian. Dengan wajah serius dan nada suara yang terdengar tulus, ia menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pihak, khususnya para pengunjung yang pernah merasa dirugikan.
“Saya minta maaf dan berjanji tidak akan pungli lagi,” ujarnya dalam potongan video yang kini ramai dibagikan warganet.
Namun, kalimat itu justru memancing beragam reaksi dari masyarakat. Sebagian netizen menilai pernyataan permintaan maaf tersebut seolah belum memberikan jaminan perubahan yang serius. Bahkan, sejumlah warganet menyoroti potongan kalimat tambahan yang beredar, yakni: “Dan kalau ketahuan pungli, saya janji minta maaf lagi.”
Ungkapan tersebut menimbulkan spekulasi bahwa permintaan maaf yang disampaikan hanya bersifat formalitas tanpa adanya komitmen nyata untuk menghentikan praktik pungutan liar di kawasan wisata tersebut.
Klarifikasi ini langsung memicu berbagai komentar dari warganet. Pada unggahan akun Posmetro Medan, kolom komentar dibanjiri ribuan tanggapan dengan nada beragam — mulai dari sindiran, kritik keras, hingga candaan sarkastik.
Akun bernama Pelabuhan Hati menulis, “Harusnya ada hukuman sosial jangan hanya minta maaf. Paling tidak disuruh ngutip sampah dari simpang pos sampai Simalingkar, biar ada efek jera buat yang lain.”
Komentar lain dari Liberius Sihombing mengatakan, “Gitu aja sudah selesai? Enak tenan. Besok ganti lagi yang lain, minta maaf lagi kalau viral, gitu seterusnya.” Ucapan ini sontak memancing tawa netizen lain yang menilai kasus serupa bisa terus berulang tanpa penyelesaian tuntas.
Tidak sedikit juga yang mengaitkan kasus ini dengan fenomena pejabat atau pihak berwenang yang kerap meminta maaf tanpa perubahan nyata. Seperti disampaikan oleh Deritaku Syahida, “Iya seperti pejabat, minta maaf hanya di bibir saja. Dalam hati, ‘ko tengok nanti aku buat lebih parah lagi’.”
Komentar bercampur sindiran terus bermunculan. Pak Sirgy Sagala menuliskan, “Saya janji tidak akan pungli lagi. Kalau pungli lagi, saya janji lagi.” Ungkapan bernada satir ini kemudian ditanggapi warganet lain dengan berbagai komentar lucu, bahkan ada yang menyebut janji itu seperti “hutang yang tak pernah lunas.”
Meski banyak komentar bernada humor, tidak sedikit pula masyarakat yang mendesak adanya tindakan hukum tegas terhadap pelaku.
Seorang pengguna bernama Pak Syaf mengingatkan agar aparat menyelidiki lebih jauh apakah uang hasil pungutan liar hanya dinikmati pribadi atau disetorkan kepada pihak tertentu. “Mungkin dia setor juga kepada yang lain. Sebaiknya diselidiki dulu apakah tiket masuk 30 ribu dimakan sendiri atau setor sama ketuanya. Perlu juga ditelusuri,” tulisnya.
Sementara itu, Tarmizi Tarmizi menilai permintaan maaf saja tidak cukup. “Walaupun minta maaf tetap di penjara biar kapok. Dan jadi pelajaran untuk semua,” tulisnya. Pernyataan ini juga mendapat dukungan dari beberapa netizen lain yang menganggap bahwa efek jera hanya bisa tercapai jika ada proses hukum yang jelas.
Kasus ini kembali membuka diskusi publik tentang maraknya praktik pungutan liar di berbagai objek wisata di Indonesia. Banyak pengunjung yang merasa dirugikan dengan adanya biaya tambahan di luar tarif resmi yang ditentukan pemerintah atau pengelola sah.
Air Terjun Dua Warna, sebagai salah satu destinasi populer di Sibolangit, memang kerap menjadi sorotan. Dengan keindahan alam yang dimilikinya, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah. Namun, isu pungli yang dilakukan oknum tertentu membuat citra wisata menjadi tercoreng.
Banyak pihak menilai, jika praktik semacam ini dibiarkan, maka akan berdampak buruk terhadap minat wisatawan untuk datang kembali. Lebih jauh, hal ini juga mencederai upaya pemerintah daerah yang tengah berusaha mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Dalam video klarifikasinya, pria yang mengaku sebagai “pemilik Sibolangit” ini menekankan bahwa dirinya berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Ia menyampaikan bahwa perbuatannya telah mencoreng nama baik kawasan wisata dan merugikan banyak pihak.
Meski begitu, kepercayaan publik terhadap pernyataan ini masih dipertanyakan. Banyak warganet yang menilai, permintaan maaf hanyalah strategi meredam viralitas tanpa adanya komitmen nyata untuk menghentikan praktik pungli di lapangan.
Kasus ini menjadi refleksi penting bahwa masalah pungli bukan sekadar persoalan individu, melainkan juga cerminan lemahnya pengawasan di lapangan. Aparat setempat dan pemerintah daerah diminta untuk tidak hanya berhenti pada klarifikasi permintaan maaf, melainkan juga mengambil langkah nyata agar kejadian serupa tidak terulang.
Selain itu, kasus ini menunjukkan betapa kuatnya peran media sosial dalam mengungkap praktik pungli di tengah masyarakat. Dengan sekali unggah, video menjadi viral dan memaksa pihak-pihak terkait untuk bertindak cepat.
Permintaan maaf pria yang videonya viral karena diduga melakukan pungli di kawasan wisata Sibolangit memang sudah disampaikan. Namun, apakah permintaan maaf tersebut cukup untuk mengembalikan kepercayaan publik? Itu masih menjadi tanda tanya besar.
Masyarakat berharap agar permintaan maaf ini benar-benar menjadi titik balik, bukan sekadar formalitas. Karena pada akhirnya, keindahan alam Sibolangit hanya akan benar-benar dinikmati oleh wisatawan jika bebas dari pungutan liar yang merugikan.
Dengan kata lain, permintaan maaf memang penting, tetapi tindakan nyata jauh lebih utama.
Editor: (Ahmad)



















