Wamena, SniperNew.id — Di balik sunyi dan dinginnya kabut pegunungan Papua, kehangatan justru datang dari aksi nyata prajurit TNI. Satgas Yonif 521/DY Pos Walesi menunjukkan wajah kemanusiaan mereka lewat aksi berbagi kasih di Kampung Asoyelipele, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Jumat 20 Juni 2025.
Prajurit Macan Kumbang — julukan Yonif 521/DY — menggelar kegiatan binter (pembinaan teritorial) dengan membagikan pakaian layak pakai, bibit tanaman (cabai, terong, sawi, kangkung), hingga snack ringan berupa biskuit dan permen kepada warga dan anak-anak kampung.
Mereka tak sekadar datang dan pergi, tetapi hadir membawa harapan dan perhatian yang tulus. Suasana penuh kehangatan menyelimuti kegiatan tersebut, terlihat dari senyum anak-anak hingga mata berkaca para orang tua kampung.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Pasiter Satgas Yonif 521/DY, Lettu Inf Asmaun, dan mendapat sambutan luar biasa dari warga setempat. Dalam keterangannya, Lettu Asmaun menegaskan bahwa kehadiran TNI di tanah Papua bukan hanya menjalankan tugas keamanan, tetapi juga membangun ikatan kemanusiaan.
“Kami hadir tidak hanya menjalankan tugas pokok, tetapi juga sebagai saudara yang peduli. Lewat kegiatan ini, kami berharap bisa menjalin hubungan emosional yang erat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Warga pun menyambut kegiatan ini dengan penuh suka cita. Salah satunya, Bapak Didik Pele (49), yang menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan dan perhatian dari TNI.
“Terima kasih bapak-bapak TNI. Kami merasa diperhatikan. Semoga kegiatan seperti ini bisa sering dilakukan,” ucapnya penuh haru.
Aksi kemanusiaan ini berlangsung pada Kamis, 20 Juni 2025, di Kampung Asoyelipele, Distrik Walesi, sebuah kawasan terpencil di pegunungan Kabupaten Jayawijaya.
Menurut Dansatgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., kegiatan ini adalah bagian dari program unggulan Satgas yang bertajuk “Adaptif Bersama Masyarakat Papua”.
Program tersebut menekankan pentingnya kehadiran TNI dalam membangun keterikatan sosial melalui kegiatan teritorial yang humanis dan berkelanjutan.
“Kami ingin menyatu dengan masyarakat. Melalui potensi lokal seperti bercocok tanam, kami harap masyarakat bisa mandiri dan sejahtera,” jelas Letkol Rahadyan.
Tak hanya membawa bantuan fisik, kegiatan ini membawa pengaruh emosional yang kuat. Anak-anak mendapatkan keceriaan, orang tua merasa diperhatikan, dan prajurit pun semakin diterima sebagai bagian dari masyarakat.
Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa di balik disiplin dan ketegasan seragam hijau loreng, tersimpan empati dan cinta yang tulus untuk tanah Papua.
Editor: (Redaksi)



















