Berita TNI

Tak Hanya Bawa Senjata, Satgas Yonif 521/DY Datang Membawa Cinta di Balik Perbukitan Kurima

359
×

Tak Hanya Bawa Senjata, Satgas Yonif 521/DY Datang Membawa Cinta di Balik Perbukitan Kurima

Sebarkan artikel ini

Yahukimo, SniperNew.id – Di balik megahnya perbukitan Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, ada kisah hangat yang menyentuh hati. Bukan operasi militer, bukan pula latihan tempur, tapi kunjungan penuh kasih dari Satgas Yonif 521/DY ke Gereja Betel Polimo—tempat Ibu Beti (47) menjadi pelita rohani bagi warga sekitar. (22/6/2025)

Dengan langkah yang ringan namun bermakna, para prajurit yang berada di bawah kendali Kolakops Korem 172/PWY ini menapaki jalan menuju gereja yang terletak di pelosok tersebut. Kunjungan ini bukan hanya sekadar formalitas, tapi merupakan bentuk nyata anjangsana yang membangun jembatan hati—antara aparat dan rakyat, dalam semangat keimanan dan kemanusiaan.

“Yang datang, harus membawa rasa.” Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh para personel Pos Kurima. Bukan hanya sebagai representasi kekuatan negara, tetapi juga pribadi yang hadir untuk mendengar, memahami, dan merangkul. Bagi mereka, Gereja Betel bukan hanya tempat ibadah, tapi simbol bahwa di balik kesunyian, ada cahaya harapan. Dalam keterbatasan, ada kekuatan bersama.

Danpos Kurima, Letda Inf Dany Rizki Hardiyanto, S.Tr. Han., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama tentang pentingnya nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Menghargai perbedaan adalah langkah pertama menuju perdamaian. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan, apapun latar belakangnya. Karena dari keberagaman itulah kekuatan bangsa tumbuh.”

Suasana hangat pun menyelimuti pertemuan tersebut. Tak ada jarak, tak ada sekat. Yang ada hanyalah dialog, bukan dominasi. Interaksi, bukan instruksi. Inilah wajah kemanusiaan yang diusung Satgas Yonif 521/DY dalam setiap jejak langkahnya.

Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari program unggulan bertajuk “Adaptif Bersama Masyarakat Papua.” Pendekatan ini dibangun dari empati yang tulus, melalui komunikasi sosial (komsos) dan tindakan sederhana seperti menyapa, duduk bersama, dan berbagi.

“Prajurit Macan Kumbang bukan hanya penjaga keamanan, tetapi juga saudara bagi masyarakat Papua. Inilah wujud nyata dari pengabdian yang menyatu dengan rakyat.”

Dengan semangat itu pula, Satgas ingin menunjukkan bahwa keamanan bukan semata soal senjata, tetapi juga soal rasa. Sentuhan kemanusiaan yang mereka hadirkan telah membuka ruang kepercayaan dan menciptakan harmoni di tengah keberagaman.

Prajurit Macan Kumbang Berhasil Menyentuh Hati

Laporan: (Yonif 521/DY)
Editor: (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *