Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Terupdate

Terkendala Biaya, Sang Ibu Hanya Bisa Menangis Untuk Pemulangan Jenazah Putranya dari Kemboja

595
×

Terkendala Biaya, Sang Ibu Hanya Bisa Menangis Untuk Pemulangan Jenazah Putranya dari Kemboja

Sebarkan artikel ini

Kalian­da, SniperNew.id – Jan­nah (58), War­ga Desa Taman Agung, Keca­matan Kalian­da, Lam­pung Sela­tan, netranya sudah ham­pir tidak dap­at meneteskan air mata lagi . Ham­pir satu bulan lebih, dis­a­ban harinya ia ter­isak menangisi keper­gian sang buah hati untuk sela­manya. Ter­lebih, hanya ter­sisa hitun­gan lagi untuk men­gu­rus pengem­balian jasad anak nya itu dari negara Kam­bo­ja, Sab­tu (22/06/2024)

Ahmad Cahyani alias Jay (36), putranya itu mening­gal di Kam­bo­ja, pada 11 Mei 2024 lalu. Hal­imah (27), sang adik menu­turkan keper­gian Ahmad ke Kam­bo­ja sete­lah diim­ing-imin­gi peng­hasi­lan 12 juta Rupi­ah oleh Hani, kenalan kakaknya asal Kabu­pat­en Lam­pung Timur. Kepa­da Hani, Ahmad men­ge­nalkan diri den­gan pang­gi­lan Jay.

  KPU Pesawaran Sayangkan Caleg Terpilih Terlibat Perkara Penganiayaan

“Hani sela­ma ini men­gaku bek­er­ja dis­u­atu cafe di Kam­bo­ja dan men­gatakan berpeng­hasi­lan lumayan. Dia mengim­ing-imin­gi kakak untuk bek­er­ja dis­ana den­gan gaji 12 juta seti­ap bulan,” ujarnya. Sab­tu, 22 Juni 2024

Rupa­nya, Ahmad ter­tarik dan berangkat ke Kam­bo­ja. Tujuan­nya ingin merubah nasib. Namun jus­tru men­ja­di kor­ban penipuan.

“Kami kelu­ar­ga tidak berpun­ya, bapak sudah mening­gal. Rumah sudah ter­gadai. Jadi, abang pil­ih berangkat untuk menun­taskan semua, eh malah ter­tipu,” jelas Hal­imah

Hal­i­ma menye­but, kakaknya berangkat ke Kam­bo­ja pada bulan Desem­ber tahun 2023. Sesam­painya dis­ana, Ahmad diharuskan men­jalankan aksi scam­ming (penipuan), tidak seper­ti peker­jaan yang dis­am­paikan oleh Hani.

“Abang diharuskan menipu. Mer­ayu orang-orang dari Indone­sia. Harus capai tar­get seti­ap bulan­nya. Belum lagi, peng­hasi­lan yang diter­i­ma hanya Rp2,5 juta seti­ap bulan. Pada­hal, sang bos di Kam­bo­ja per­nah memang­gil Ahmad, menyam­paikan gajinya Rp15 juta. Sebab itu abang men­geluh ingin pulang,” urainya

Melalui chatin­gan berkeluh kesah di What­sapp den­gan Hal­imah, Ahmad kemu­di­an memu­tuskan untuk melarikan diri. Terny­a­ta, selain dia, ada 25 war­ga kebangsaan Indone­sia yang men­gala­mi hal senasip sepenang­gun­gan.

  Bupati Sergai Darma Wijaya Ajak Masyarakat Dolok Masihul Aktif dalam Pembangunan

Mere­ka mem­inta per­to­lon­gan polisi Imi­grasi. Kare­na keber­adaan di Kam­bo­ja meng­gu­nakan visa kun­jun­gan dan telah mele­wati batas wak­tu, mere­ka semua dita­han di Keimi­grasian. Kedu­taan Besar Repub­lik Indone­sia pun diber­i­tahukan, untuk dilakukan pros­es pem­u­lan­gan.

“Sebe­narnya, abang akan pulang pada hari Senin. Dua hari sebelum mening­gal, kami sem­pat komu­nikasi. Abang minta kir­imkan uang untuk pem­be­lian tiket pesawat. Tetapi terny­a­ta abang mening­gal Sab­tu. Dia sak­it nggak ngomong. Mungkin dita­han-tahan­nya,” kata Hal­imah

Kini, Jan­nah dan Hal­imah kelimpun­gan untuk mem­u­langkan jenazah kelu­ar­ganya itu. Sebab, sedari Ahmad mening­gal hing­ga saat ini sudah 40 har­i­an. Kelu­ar­ganya dim­inta mem­berikan kepu­tu­san akhir pada Ming­gu, 23 Juni 2024 besok, men­ge­nai pemaka­man kakaknya itu akan dike­bu­mikan di Kam­bo­ja atau dip­u­langkan ke Indone­sia.

“Kami terk­endala biaya. Untuk pem­u­lan­gan butuh Rp124 juta. Jadi kalau lewat Senin, dimakamkan di sana. Biayanya pun sama berat bagi kami, Rp 52 juta,”ucap adik Ahmad terse­but.

Hal­imah yang sudah berkelu­ar­ga dan mene­tap di Cile­gon, Provin­si Ban­ten, men­gaku sejak sang kakak mening­gal, harus bolak balik ke Provin­si Lam­pung. Dia terus beru­paya mene­nangkan kesedi­han hati sang bun­da. Sekali­gus beru­paya mem­pros­es pem­u­lan­gan jenazah Ahmad ke Indone­sia.

  Upaya Siapkan Pengamanan Malam Pawai Idul Adha 1445H di Kecamatan Tualang.

Hal­imah menyadari, keper­gian Ahmad ke Kam­bo­ja meng­gu­nakan visa kun­jun­gan, bukan seba­gai Peker­ja Migran Indone­sia (PMI). Namun, dia dan kelu­ar­ga nya hanya bisa men­ga­hara­p­kan ban­tu­an dari pemer­in­tah daer­ah, pemer­in­tah provin­si dan Pres­i­den.

Mes­ki begi­tu, dia men­gaku telah beru­paya untuk men­e­mui Bupati Lam­pung Sela­tan, Guber­nur Lam­pung, bahkan beru­paya men­e­mui Pres­i­den RI Joko Wido­do di istana negara, namun semua hasil­nya nihil.

“Ibu seti­ap hari menangis. Kem­analah saya harus mem­o­hon ban­tu­an. Pak Bupati Lam­pung Sela­tan, Pak Guber­nur Lam­pung, dan Pak Pres­i­den, tolong ban­tu pem­u­lan­gan jenazah kelu­ar­ga kami. Abang juga ditipu oleh teman­nya. Ini (Sab­tu pagi), saya lagi upaya berte­mu Pak Nanang Erman­to. Semalam sudah ke rumah beli­au, tapi tidak kete­mu. Infor­masinya hari ini ada bedah rumah di Sido­mu­lyo. Saya akan kesana,” kata Hal­imah. (Ardi)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *