Berita Viral

Sultan HB X Jadi Contoh, Melintas Tanpa Sirine di Tengah Ramainya Aksi “StopTotTotWukWuk”

498
×

Sultan HB X Jadi Contoh, Melintas Tanpa Sirine di Tengah Ramainya Aksi “StopTotTotWukWuk”

Sebarkan artikel ini

Yog­jakar­ta, SniperNew.id – Di ten­gah maraknya ger­akan protes masyarakat ter­hadap iring-iringan kendaraan peja­bat yang meng­gu­nakan sirine atau pelat khusus di jalan raya, Guber­nur Daer­ah Istime­wa Yogyakar­ta (DIY) Sri Sul­tan Hamengkubu­wono X kem­bali men­ja­di sorotan. Sul­tan HB X ter­li­hat melin­tas di jalan raya tan­pa pen­gawalan, tan­pa sirine, dan tan­pa rom­bon­gan besar, Rabu (24/09).

Fenom­e­na ini muncul seir­ing den­gan men­guat­nya ger­akan war­ganet yang dike­nal den­gan tagar #Stop­Tot­TotWuk­Wuk, sebuah sindi­ran ter­hadap kebi­asaan peng­gu­naan sirine maupun pen­gawalan berlebi­han oleh peja­bat atau kalan­gan ter­ten­tu di jalan umum. Ger­akan terse­but men­ja­di viral, teruta­ma di media sosial, kare­na diang­gap mewak­ili kere­sa­han masyarakat ter­hadap prak­tik pelang­garan lalu lin­tas yang ser­ing meng­gang­gu peng­gu­na jalan lain.

Dalam sebuah ung­ga­han akun Insta­gram yogyakartac­i­ty yang diku­tip Kompas.com, Senin (23/9/2025), ter­li­hat video singkat yang mem­per­li­hatkan mobil dinas berpelat mer­ah AB 1, yang meru­pakan kendaraan res­mi Guber­nur DIY. Mobil terse­but melin­tas seper­ti kendaraan biasa, tan­pa sirine, tan­pa pen­gawalan polisi, dan tan­pa iring-iringan pan­jang.

“Di ten­gah maraknya ger­akan #Stop­Tot­TotWuk­Wuk, Guber­nur DIY Sri Sul­tan HB X mem­berikan con­toh. Beli­au tetap melin­tas tan­pa pen­gawalan, tan­pa sirine, tan­pa rom­bon­gan besar,” tulis akun terse­but dalam keteran­gan ung­ga­han­nya.

Lebih lan­jut, ung­ga­han itu juga menye­butkan bah­wa beber­a­pa wak­tu lalu, keti­ka ter­ja­di aksi unjuk rasa besar di depan Mapol­da DIY, Sul­tan tetap hadir tan­pa pen­gawalan khusus. Bahkan, beli­au mele­wati keru­mu­nan mas­sa demon­strasi tan­pa meng­gu­nakan fasil­i­tas sirine atau penga­manan ketat.

“Bahkan keti­ka men­e­mui ribuan pen­de­mo di Mapol­da DIY beber­a­pa wak­tu yang lalu, Sri Sul­tan tetap tan­pa pen­gawalan, dan melin­tas di ten­gah aksi unjuk rasa,” lan­jut ung­ga­han terse­but.

  Unggahan Facebook Luruskan Stigma Kelam Suku Dayak Nusantara

Aksi seder­hana Sul­tan HB X itu men­u­ai banyak tang­ga­pan posi­tif dari masyarakat, khusus­nya war­ganet yang mem­beri komen­tar pada ung­ga­han terse­but. Seba­gian besar men­gang­gap langkah Sul­tan patut dijadikan teladan bagi peja­bat lain.

Akun berna­ma @nurulhudha572 menuliskan, “Ini peja­bat yang sesung­guh­nya. Tidak minta val­i­dasi raja, yang sebe­narnya raja..?”

Peng­gu­na lain, @puguh_harjanto, mem­berikan doa, “Barakallah fikum Sul­tan. Ingin banget kete­mu Beli­au.”

Ada pula komen­tar dari @wantecsaestu yang singkat tetapi penuh mak­na, “Jog­ja istime­wa.”

Semen­tara akun @maysgi_christiana8 menam­bahkan, “Adem liat­nya, sehat berkah lan­car sela­mat Sul­tan Jog­ja.”

Komen­tar-komen­tar terse­but menggam­barkan kek­agu­man pub­lik pada sikap Sul­tan HB X yang tetap ren­dah hati mes­ki memi­li­ki kedudukan ting­gi seba­gai Guber­nur sekali­gus Raja Ker­a­ton Yogyakar­ta.

Fenom­e­na protes den­gan tagar #Stop­Tot­TotWuk­Wuk muncul dari kere­sa­han pub­lik ter­hadap prak­tik peng­gu­naan sirine dan pen­gawalan berlebi­han yang ser­ing dilakukan oleh sejum­lah kendaraan peja­bat maupun kendaraan berpelat khusus.

Di berba­gai kota, masyarakat ser­ing men­geluhkan adanya iring-iringan pan­jang yang mem­inta pri­or­i­tas jalan den­gan cara mem­bun­yikan sirine, menyalakan rota­tor, hing­ga mem­ber­hen­tikan kendaraan lain secara pak­sa. Hal ini diang­gap meng­gang­gu ketert­iban lalu lin­tas dan merugikan peng­gu­na jalan umum.

Ger­akan ini pun men­ja­di viral di media sosial, teruta­ma di Yogyakar­ta, yang dike­nal seba­gai kota budaya sekali­gus kota pela­jar. War­ganet banyak mem­bagikan ceri­ta, video, hing­ga sindi­ran kre­atif ter­hadap per­i­laku tidak tert­ib lalu lin­tas terse­but.

Dalam kon­teks itu, sikap Sul­tan HB X yang memil­ih melin­tas seper­ti war­ga biasa tan­pa pen­gawalan dan sirine diang­gap seba­gai jawa­ban nya­ta atas kere­sa­han masyarakat.

Sri Sul­tan HB X dike­nal seba­gai sosok yang seder­hana dan mer­aky­at. Dalam banyak kesem­patan, beli­au ker­ap meno­lak fasil­i­tas berlebi­han. Kepu­tu­san untuk tidak meng­gu­nakan sirine maupun iring-iringan besar bukan­lah hal baru.

Sebelum­nya, dalam wawan­cara di sejum­lah kesem­patan, Sul­tan per­nah menekankan bah­wa peja­bat seharus­nya bisa men­ja­di teladan dalam tert­ib lalu lin­tas, bukan jus­tru mem­beri con­toh buruk den­gan melang­gar atu­ran demi kenya­manan prib­a­di.

  Tiga Bupati Aceh Angkat Tangan: Video Banjir Dahsyat Picu Ledakan Reaksi Publik

Bagi Sul­tan, kea­manan dan ketert­iban bersama lebih uta­ma ketim­bang pri­or­i­tas jalan bagi satu atau dua orang peja­bat. Sikap ini­lah yang kemu­di­an menim­bulkan respek dari masyarakat luas.

Video yang diung­gah akun @yogyakartacity di Threads terekam pada Senin (23/9/2025), dan lang­sung men­ja­di perbin­can­gan hangat di kalan­gan war­ganet. Dalam reka­man, ter­li­hat jelas mobil dinas Guber­nur DIY ber­jalan nor­mal di ten­gah lalu lin­tas padat Kota Yogyakar­ta.

Selain itu, dise­butkan pula bah­wa keja­di­an seru­pa juga ter­ja­di beber­a­pa wak­tu lalu saat Sul­tan men­datan­gi Mapol­da DIY, keti­ka ada aksi unjuk rasa den­gan jum­lah mas­sa ribuan orang. Dalam situ­asi rawan sekalipun, Sul­tan tetap datang tan­pa pen­gawalan khusus.

Peri­s­ti­wa terse­but terekam di salah satu ruas jalan uta­ma di Kota Yogyakar­ta. Mobil dinas Sul­tan HB X, berpelat mer­ah AB 1, ter­li­hat melin­tas di ten­gah padat­nya arus kendaraan.

Lokasi ini tidak dise­butkan secara spe­si­fik dalam ung­ga­han, namun dari reka­man video ter­li­hat jelas suasana jalan kota den­gan ban­gu­nan per­tokoan dan bal­i­ho yang ramai. Kon­disi ini mene­gaskan bah­wa Sul­tan tidak mem­inta pri­or­i­tas khusus meskipun bera­da di ten­gah lalu lin­tas padat.

Tokoh uta­ma dalam peri­s­ti­wa ini adalah Sri Sul­tan Hamengkubu­wono X, Guber­nur DIY sekali­gus Raja Ker­a­ton Yogyakar­ta.

Selain itu, ter­da­p­at masyarakat umum yang turut merekam momen terse­but, ser­ta para peng­gu­na jalan lain yang bera­da di lokasi. Akun media sosial lokal @yogyakartacity kemu­di­an men­gung­gah kem­bali video terse­but hing­ga men­ja­di sorotan pub­lik.

Pihak lain yang juga ter­li­bat adalah ribuan demon­stran di Mapol­da DIY pada keja­di­an sebelum­nya. Dalam situ­asi yang berpoten­si ricuh, Sul­tan tetap datang den­gan cara yang sama: tan­pa sirine dan tan­pa rom­bon­gan besar.

Respons masyarakat secara umum san­gat posi­tif. Banyak yang memu­ji sikap Sul­tan HB X seba­gai teladan bagi peja­bat lain. Pub­lik meni­lai bah­wa peja­bat seharus­nya bisa men­con­toh per­i­laku seder­hana ini, den­gan tidak memak­sakan pri­or­i­tas di jalan raya.

  Bukan Horor, Ini Ciamis: Makam Keramat dengan Jejak Sejarah Panjang

Imp­likasinya cukup besar, kare­na ger­akan #Stop­Tot­TotWuk­Wuk bukan hanya sekadar tagar viral, melainkan mencer­minkan kere­sa­han nya­ta war­ga ter­hadap prak­tik-prak­tik keti­dakadi­lan di jalan raya.

Jika peja­bat set­ingkat guber­nur dan raja Yogyakar­ta saja bisa melin­tas tan­pa pen­gawalan, pub­lik berharap peja­bat lain pun dap­at melakukan hal yang sama. Den­gan demikian, atu­ran lalu lin­tas dap­at dite­gakkan secara adil bagi semua peng­gu­na jalan.

Dalam kon­teks sosial budaya Yogyakar­ta, tin­dakan Sul­tan HB X tidak bisa dipan­dang sebe­lah mata. Posisi beli­au bukan hanya seba­gai guber­nur, tetapi juga seba­gai sim­bol budaya sekali­gus panu­tan masyarakat.

Tin­dakan memil­ih untuk tidak meng­gu­nakan sirine atau iring-iringan besar men­ja­di sim­bol keseder­hanaan sekali­gus peng­hor­matan ter­hadap sesama peng­gu­na jalan. Langkah ini sejalan den­gan filosofi hidup masyarakat Jawa yang men­jun­jung ting­gi kese­larasan, keruku­nan, dan peng­hor­matan.

Lebih jauh, sikap ini juga bisa diba­ca seba­gai ben­tuk komu­nikasi poli­tik yang kuat: peja­bat tidak per­lu menun­jukkan kekuasaan den­gan fasil­i­tas berlebi­han, tetapi cukup den­gan kete­ladanan yang nya­ta.

Kehadi­ran Sri Sul­tan HB X di jalan raya tan­pa sirine dan pen­gawalan men­ja­di peri­s­ti­wa kecil yang berdampak besar. Dalam situ­asi maraknya protes ter­hadap peng­gu­naan sirine oleh peja­bat, Sul­tan menun­jukkan bah­wa atu­ran lalu lin­tas berlaku sama bagi semua orang.

Apa yang dilakukan Sul­tan HB X seakan mene­gaskan bah­wa peja­bat tidak bera­da di atas hukum. Jus­tru den­gan meng­hor­mati atu­ran, wibawa seo­rang pemimpin semakin ting­gi di mata raky­at­nya.

Sikap ini dihara­p­kan dap­at men­ja­di teladan nya­ta bagi peja­bat lain, agar tidak seme­na-mena meng­gu­nakan fasil­i­tas khusus di jalan raya. Den­gan begi­tu, lalu lin­tas men­ja­di lebih tert­ib, adil, dan masyarakat merasa dihar­gai.

Artikel ini dit­ulis berdasarkan ung­ga­han akun @yogyakartacity di Threads ser­ta komen­tar war­ganet, dan dis­usun den­gan tetap mem­per­hatikan kode etik jur­nal­is­tik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *