Yogjakarta, SniperNew.id – Di tengah maraknya gerakan protes masyarakat terhadap iring-iringan kendaraan pejabat yang menggunakan sirine atau pelat khusus di jalan raya, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X kembali menjadi sorotan. Sultan HB X terlihat melintas di jalan raya tanpa pengawalan, tanpa sirine, dan tanpa rombongan besar, Rabu (24/09).
Fenomena ini muncul seiring dengan menguatnya gerakan warganet yang dikenal dengan tagar #StopTotTotWukWuk, sebuah sindiran terhadap kebiasaan penggunaan sirine maupun pengawalan berlebihan oleh pejabat atau kalangan tertentu di jalan umum. Gerakan tersebut menjadi viral, terutama di media sosial, karena dianggap mewakili keresahan masyarakat terhadap praktik pelanggaran lalu lintas yang sering mengganggu pengguna jalan lain.
Dalam sebuah unggahan akun Instagram yogyakartacity yang dikutip Kompas.com, Senin (23/9/2025), terlihat video singkat yang memperlihatkan mobil dinas berpelat merah AB 1, yang merupakan kendaraan resmi Gubernur DIY. Mobil tersebut melintas seperti kendaraan biasa, tanpa sirine, tanpa pengawalan polisi, dan tanpa iring-iringan panjang.
“Di tengah maraknya gerakan #StopTotTotWukWuk, Gubernur DIY Sri Sultan HB X memberikan contoh. Beliau tetap melintas tanpa pengawalan, tanpa sirine, tanpa rombongan besar,” tulis akun tersebut dalam keterangan unggahannya.
Lebih lanjut, unggahan itu juga menyebutkan bahwa beberapa waktu lalu, ketika terjadi aksi unjuk rasa besar di depan Mapolda DIY, Sultan tetap hadir tanpa pengawalan khusus. Bahkan, beliau melewati kerumunan massa demonstrasi tanpa menggunakan fasilitas sirine atau pengamanan ketat.
“Bahkan ketika menemui ribuan pendemo di Mapolda DIY beberapa waktu yang lalu, Sri Sultan tetap tanpa pengawalan, dan melintas di tengah aksi unjuk rasa,” lanjut unggahan tersebut.
Aksi sederhana Sultan HB X itu menuai banyak tanggapan positif dari masyarakat, khususnya warganet yang memberi komentar pada unggahan tersebut. Sebagian besar menganggap langkah Sultan patut dijadikan teladan bagi pejabat lain.
Akun bernama @nurulhudha572 menuliskan, “Ini pejabat yang sesungguhnya. Tidak minta validasi raja, yang sebenarnya raja..?”
Pengguna lain, @puguh_harjanto, memberikan doa, “Barakallah fikum Sultan. Ingin banget ketemu Beliau.”
Ada pula komentar dari @wantecsaestu yang singkat tetapi penuh makna, “Jogja istimewa.”
Sementara akun @maysgi_christiana8 menambahkan, “Adem liatnya, sehat berkah lancar selamat Sultan Jogja.”
Komentar-komentar tersebut menggambarkan kekaguman publik pada sikap Sultan HB X yang tetap rendah hati meski memiliki kedudukan tinggi sebagai Gubernur sekaligus Raja Keraton Yogyakarta.
Fenomena protes dengan tagar #StopTotTotWukWuk muncul dari keresahan publik terhadap praktik penggunaan sirine dan pengawalan berlebihan yang sering dilakukan oleh sejumlah kendaraan pejabat maupun kendaraan berpelat khusus.
Di berbagai kota, masyarakat sering mengeluhkan adanya iring-iringan panjang yang meminta prioritas jalan dengan cara membunyikan sirine, menyalakan rotator, hingga memberhentikan kendaraan lain secara paksa. Hal ini dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas dan merugikan pengguna jalan umum.
Gerakan ini pun menjadi viral di media sosial, terutama di Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota budaya sekaligus kota pelajar. Warganet banyak membagikan cerita, video, hingga sindiran kreatif terhadap perilaku tidak tertib lalu lintas tersebut.
Dalam konteks itu, sikap Sultan HB X yang memilih melintas seperti warga biasa tanpa pengawalan dan sirine dianggap sebagai jawaban nyata atas keresahan masyarakat.
Sri Sultan HB X dikenal sebagai sosok yang sederhana dan merakyat. Dalam banyak kesempatan, beliau kerap menolak fasilitas berlebihan. Keputusan untuk tidak menggunakan sirine maupun iring-iringan besar bukanlah hal baru.
Sebelumnya, dalam wawancara di sejumlah kesempatan, Sultan pernah menekankan bahwa pejabat seharusnya bisa menjadi teladan dalam tertib lalu lintas, bukan justru memberi contoh buruk dengan melanggar aturan demi kenyamanan pribadi.
Bagi Sultan, keamanan dan ketertiban bersama lebih utama ketimbang prioritas jalan bagi satu atau dua orang pejabat. Sikap inilah yang kemudian menimbulkan respek dari masyarakat luas.
Video yang diunggah akun @yogyakartacity di Threads terekam pada Senin (23/9/2025), dan langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Dalam rekaman, terlihat jelas mobil dinas Gubernur DIY berjalan normal di tengah lalu lintas padat Kota Yogyakarta.
Selain itu, disebutkan pula bahwa kejadian serupa juga terjadi beberapa waktu lalu saat Sultan mendatangi Mapolda DIY, ketika ada aksi unjuk rasa dengan jumlah massa ribuan orang. Dalam situasi rawan sekalipun, Sultan tetap datang tanpa pengawalan khusus.
Peristiwa tersebut terekam di salah satu ruas jalan utama di Kota Yogyakarta. Mobil dinas Sultan HB X, berpelat merah AB 1, terlihat melintas di tengah padatnya arus kendaraan.
Lokasi ini tidak disebutkan secara spesifik dalam unggahan, namun dari rekaman video terlihat jelas suasana jalan kota dengan bangunan pertokoan dan baliho yang ramai. Kondisi ini menegaskan bahwa Sultan tidak meminta prioritas khusus meskipun berada di tengah lalu lintas padat.
Tokoh utama dalam peristiwa ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta.
Selain itu, terdapat masyarakat umum yang turut merekam momen tersebut, serta para pengguna jalan lain yang berada di lokasi. Akun media sosial lokal @yogyakartacity kemudian mengunggah kembali video tersebut hingga menjadi sorotan publik.
Pihak lain yang juga terlibat adalah ribuan demonstran di Mapolda DIY pada kejadian sebelumnya. Dalam situasi yang berpotensi ricuh, Sultan tetap datang dengan cara yang sama: tanpa sirine dan tanpa rombongan besar.
Respons masyarakat secara umum sangat positif. Banyak yang memuji sikap Sultan HB X sebagai teladan bagi pejabat lain. Publik menilai bahwa pejabat seharusnya bisa mencontoh perilaku sederhana ini, dengan tidak memaksakan prioritas di jalan raya.
Implikasinya cukup besar, karena gerakan #StopTotTotWukWuk bukan hanya sekadar tagar viral, melainkan mencerminkan keresahan nyata warga terhadap praktik-praktik ketidakadilan di jalan raya.
Jika pejabat setingkat gubernur dan raja Yogyakarta saja bisa melintas tanpa pengawalan, publik berharap pejabat lain pun dapat melakukan hal yang sama. Dengan demikian, aturan lalu lintas dapat ditegakkan secara adil bagi semua pengguna jalan.
Dalam konteks sosial budaya Yogyakarta, tindakan Sultan HB X tidak bisa dipandang sebelah mata. Posisi beliau bukan hanya sebagai gubernur, tetapi juga sebagai simbol budaya sekaligus panutan masyarakat.
Tindakan memilih untuk tidak menggunakan sirine atau iring-iringan besar menjadi simbol kesederhanaan sekaligus penghormatan terhadap sesama pengguna jalan. Langkah ini sejalan dengan filosofi hidup masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi keselarasan, kerukunan, dan penghormatan.
Lebih jauh, sikap ini juga bisa dibaca sebagai bentuk komunikasi politik yang kuat: pejabat tidak perlu menunjukkan kekuasaan dengan fasilitas berlebihan, tetapi cukup dengan keteladanan yang nyata.
Kehadiran Sri Sultan HB X di jalan raya tanpa sirine dan pengawalan menjadi peristiwa kecil yang berdampak besar. Dalam situasi maraknya protes terhadap penggunaan sirine oleh pejabat, Sultan menunjukkan bahwa aturan lalu lintas berlaku sama bagi semua orang.
Apa yang dilakukan Sultan HB X seakan menegaskan bahwa pejabat tidak berada di atas hukum. Justru dengan menghormati aturan, wibawa seorang pemimpin semakin tinggi di mata rakyatnya.
Sikap ini diharapkan dapat menjadi teladan nyata bagi pejabat lain, agar tidak semena-mena menggunakan fasilitas khusus di jalan raya. Dengan begitu, lalu lintas menjadi lebih tertib, adil, dan masyarakat merasa dihargai.
Artikel ini ditulis berdasarkan unggahan akun @yogyakartacity di Threads serta komentar warganet, dan disusun dengan tetap memperhatikan kode etik jurnalistik.













