Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Hukum

“Rumah Dinas Jadi Benteng Tertutup: Ajudan Halangi Wartawan, Bupati Bungkam”

421
×

“Rumah Dinas Jadi Benteng Tertutup: Ajudan Halangi Wartawan, Bupati Bungkam”

Sebarkan artikel ini

Simalun­gunSnipetnew.id

Suasana hala­man Rumah Dinas Bupati Simalun­gun pada Jumat sore (15/8/2025) berubah men­ja­di catatan getir bagi dunia pers. Seo­rang wartawan yang hen­dak melakukan tugas jur­nal­is­tik di lokasi itu jus­tru men­da­p­at peng­ha­lang dari seo­rang aju­dan berna­ma Leo, yang men­gaku seba­gai per­pan­jan­gan tan­gan Bupati Simalun­gun.

Kehadi­ran wartawan di rumah dinas terse­but sema­ta-mata untuk mem­inta kon­fir­masi atas keru­mu­nan war­ga yang konon katanya ingin menyam­paikan aspi­rasi. Namun, bukan­nya men­da­p­at ruang untuk men­jalankan tugas, langkah sang wartawan ter­hen­ti keti­ka aju­dan Bupati meng­hadan­gnya. Leo mem­inta agar wartawan menun­jukkan surat izin res­mi jika ingin melakukan wawan­cara atau kon­fir­masi terkait peri­s­ti­wa yang sedang berlang­sung.

  Penggeledahan dan Penyitaan Terhadap Beberapa Smelter dan Alat Berat Perkara Komoditas Timah

Pada­hal, menu­rut Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, wartawan tidak berke­wa­jiban mem­bawa surat izin keti­ka men­cari infor­masi. Pasal 4 ayat (3) mene­gaskan den­gan jelas: “Pers nasion­al berhak men­cari, mem­per­oleh, dan menye­bar­lu­askan gagasan ser­ta infor­masi.” Den­gan demikian, tin­dakan peng­ha­lan­gan yang dilakukan aju­dan terse­but dini­lai tidak sejalan den­gan atu­ran hukum yang berlaku.

Tidak berhen­ti di situ, aju­dan Bupati juga menanyai kar­tu tan­da anggota (KTA) wartawan men­gatakan jika ingin kon­fir­masi harus memi­li­ki surat izin, bahkan den­gan nada aro­gan sem­pat mel­on­tarkan tudin­gan bah­wa wartawan itu tidak per­nah mengiku­ti pelati­han pers. Sikap ini jelas keliru, kare­na otori­tas untuk memver­i­fikasi iden­ti­tas maupun kom­pe­ten­si wartawan sepenuh­nya bera­da di organ­isasi pers dan Dewan Pers, bukan pada aju­dan seo­rang kepala daer­ah.

Wartawan yang diha­lan­gi, Zul­fan­di Kus­nomo, menyam­paikan keke­ce­waan­nya atas per­lakuan terse­but. Menu­rut­nya, insi­d­en itu bukan hanya menyudutkan dirinya secara prib­a­di, tetapi juga menced­erai kebe­basan pers di daer­ah. “Saya datang hanya untuk kon­fir­masi, bukan men­cari masalah. Tugas saya memas­tikan infor­masi berim­bang agar masyarakat men­da­p­at beri­ta yang fak­tu­al. Tapi saya jus­tru dihadang dan ditanya macam-macam, seo­lah-olah saya tidak sah seba­gai wartawan. Pada­hal jelas di UU Pers, kami dilin­dun­gi,” ujarnya kepa­da awak media.

  Masyarakat Desa Baru Meminta APH Beck List CV.Wiseva Mendalam

Peman­dan­gan di balik pagar rumah dinas itu pun men­ja­di ironi. Demokrasi yang semestinya bernafas melalui kebe­basan pers, jus­tru terasa sesak oleh prak­tik birokrasi yang tidak pada tem­pat­nya. Seakan-akan, cahaya kebe­naran harus ter­lebih dahu­lu mele­wati izin seo­rang aju­dan sebelum bisa dis­am­paikan kepa­da pub­lik. Hal ini mengin­gatkan bah­wa tan­pa pema­haman dan peng­hor­matan ter­hadap atu­ran, kebe­basan pers bisa ter­an­cam bahkan di ten­gah sis­tem demokrasi.

Pasal 18 ayat (1) UU Pers secara tegas menye­butkan: “Seti­ap orang yang secara melawan hukum den­gan sen­ga­ja melakukan tin­dakan yang berak­i­bat meng­ham­bat atau meng­ha­lan­gi pelak­sanaan keten­tu­an Pasal 4 ayat (2) dan (3), dip­i­dana den­gan pidana pen­jara pal­ing lama dua tahun atau den­da pal­ing banyak Rp500 juta.” Den­gan keten­tu­an ini, peng­ha­lan­gan ter­hadap ker­ja jur­nal­is­tik bukan­lah perkara sepele, melainkan tin­dak pidana yang memi­li­ki kon­sekuen­si hukum serius.

  Triwahyuni Diduga Gelapkan Dana Arisan Rp35 Juta, Korban Ancam Tempuh Jalur Hukum

Koor­di­na­tor Daer­ah Komite Wartawan Refor­masi Indone­sia (KWRI) Sumat­era Utara, Kemas Edi Junae­di, ikut menang­gapi insi­d­en terse­but. Ia mene­gaskan bah­wa tin­dakan aju­dan Bupati sudah ter­ma­suk kat­e­gori peng­ha­lan­gan ker­ja pers yang dilin­dun­gi undang-undang. “Seo­rang aju­dan tidak berhak mem­inta surat izin atau menanyakan KTA wartawan, apala­gi meng­ha­lan­gi liputan. Itu ben­tuk aro­gan­si dan pele­ce­han ter­hadap pro­fe­si jur­nalis. Jika tidak mema­ha­mi atu­ran, sebaiknya bela­jar dulu ten­tang UU Pers, agar tidak menced­erai demokrasi,” tegas­nya.

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, belum ada klar­i­fikasi res­mi baik dari aju­dan Bupati Simalun­gun maupun pihak Pemer­in­tah Kabu­pat­en terkait insi­d­en yang menim­pa wartawan terse­but. Kasus ini dihara­p­kan men­ja­di eval­u­asi bagi para peja­bat dan aparat yang bera­da di sek­i­tar kepala daer­ah, agar tidak melam­paui kewe­nan­gan ser­ta tetap meng­hor­mati per­an pers seba­gai pilar keem­pat demokrasi.

Bas­t­ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *