Berita Peristiwa

Kakek Dihalangi Saat Hendak ke Masjid Karena Jalan Dipakai Hajatan

289
×

Kakek Dihalangi Saat Hendak ke Masjid Karena Jalan Dipakai Hajatan

Sebarkan artikel ini

Fenom­e­na penu­tu­pan jalan untuk hajatan atau pes­ta war­ga kem­bali men­ja­di sorotan pub­lik sete­lah sebuah video viral di media sosial mem­per­li­hatkan seo­rang kakek yang hen­dak menu­ju masjid jus­tru men­da­p­at per­lakuan tidak pan­tas dari pani­tia acara. Keja­di­an ini men­u­ai per­ha­t­ian war­ganet dan menim­bulkan diskusi hangat men­ge­nai eti­ka peng­gu­naan fasil­i­tas umum ser­ta hak masyarakat atas akses jalan.

Sebuah video berdurasi singkat mem­per­li­hatkan seo­rang pria lan­jut usia yang ten­gah men­gen­darai sepe­da motor berusa­ha mele­wati jalan yang dipenuhi ten­da hajatan. Alih-alih diberikan ruang untuk lewat, kakek terse­but jus­tru men­gala­mi per­lakuan tidak menye­nangkan. Dalam reka­man ter­li­hat seo­rang pani­tia hajatan menepuk kepala sang kakek den­gan sikap kurang pan­tas, seo­lah merasa ter­gang­gu kare­na kakek terse­but melin­tas di ten­gah jalan­nya pes­ta.

Peri­s­ti­wa itu menim­bulkan rasa iba di kalan­gan masyarakat. Sebab, menu­rut narasi yang meny­er­tai ung­ga­han, sang kakek sebe­narnya hen­dak berangkat ke masjid untuk melak­sanakan ibadah. Namun akses jalan­nya ter­ha­lang penuh oleh ten­da yang menut­up ruas jalan umum.

Pihak yang ter­li­bat dalam peri­s­ti­wa ini adalah:

1. Seo­rang kakek yang belum dike­tahui iden­ti­tas­nya. Ia men­ja­di pihak yang dirugikan kare­na haknya untuk melin­tas di jalan umum ter­ha­lang dan men­da­p­at per­lakuan tidak pan­tas. Dari reka­man, ter­li­hat kakek itu berpaka­ian seder­hana, men­ge­nakan sarung, baju koko, peci hitam, dan men­gen­darai motor bebek tua.

  Warga Bireuen Putus Komunikasi, Minta Update Banjir Peusangan

2. Pani­tia hajatan, yang tam­pak menut­up akses jalan den­gan ten­da pes­ta. Salah seo­rang dari mere­ka, yang berdiri di dekat lokasi kakek melin­tas, diduga melakukan tin­dakan menepuk kepala sang kakek den­gan cara tidak sopan.

3. War­ga sek­i­tar, yang men­ja­di sak­si sekali­gus penon­ton acara hajatan. Beber­a­pa orang ter­li­hat menyak­sikan insi­d­en itu tan­pa berusa­ha mence­gah atau mene­gur.

4. War­ganet dan media sosial, yang kemu­di­an men­ja­di per­pan­jan­gan peri­s­ti­wa ini. Ung­ga­han video oleh akun beritaterkini_masyarakat mem­per­lu­as jangkauan kasus hing­ga men­ja­di bahan diskusi nasion­al.

Berdasarkan infor­masi yang beredar, peri­s­ti­wa ini dila­porkan pada Sab­tu, 30 Agus­tus 2025, melalui sebuah ung­ga­han di plat­form media sosial Threads. Dalam ung­ga­han terse­but dise­butkan bah­wa keja­di­an berlang­sung belum lama berse­lang. Mes­ki wak­tu pastinya tidak diungkap­kan, peri­s­ti­wa ini dise­but baru ter­ja­di beber­a­pa jam sebelum video beredar dan men­ja­di viral.

Lokasi per­sis insi­d­en ini belum dise­butkan secara rin­ci oleh pen­gung­gah. Namun dari reka­man visu­al, ter­li­hat suasana pedesaan atau perkam­pun­gan den­gan jalan kecil yang sepenuh­nya ditut­up oleh ten­da pes­ta.

Kon­disi seper­ti ini memang laz­im dite­mukan di berba­gai wilayah Indone­sia, khusus­nya di perkam­pun­gan, di mana war­ga ser­ing meng­gu­nakan jalan umum seba­gai lokasi acara hajatan pernika­han, sunatan, atau per­ayaan lain­nya. Mes­ki diang­gap tra­disi, prak­tik menut­up jalan umum sebe­narnya ser­ing memu­nculkan masalah sosial, teruta­ma keti­ka meng­gang­gu aktiv­i­tas masyarakat lain.

Ada beber­a­pa fak­tor yang men­ja­di penye­bab keja­di­an ini:

1. Tra­disi hajatan di jalan umum
Di banyak daer­ah di Indone­sia, peng­gu­naan jalan seba­gai tem­pat hajatan sudah diang­gap hal lum­rah. Min­im­nya lahan kosong atau hala­man rumah mem­bu­at war­ga memil­ih menut­up jalan seba­gai alter­natif.

2. Kurangnya koor­di­nasi den­gan pihak berwe­nang. Biasanya, untuk menut­up jalan, pani­tia hajatan seharus­nya men­gu­rus izin ke RT, RW, kelu­ra­han, bahkan kepolisian. Namun, dalam prak­tiknya, izin ser­ing diang­gap for­mal­i­tas bela­ka tan­pa memikirkan solusi agar akses war­ga lain tetap ter­ja­ga.

  Banjir Nyelonong dari Belakang Rumah, Warga: ‘Lima Langkah Lagi Kena Juga!’

3. Ren­dah­nya kesadaran sosial
Per­lakuan tidak pan­tas ter­hadap kakek terse­but mencer­minkan kurangnya empati pani­tia hajatan. Alih-alih mem­beri jalan dan meng­hor­mati orang yang lebih tua, pani­tia jus­tru menun­jukkan sikap aro­gan den­gan menepuk kepala sang kakek.

4. Kurangnya atu­ran tegas
Hing­ga kini, belum ada reg­u­lasi khusus yang men­gatur secara detail batasan peng­gu­naan jalan untuk acara prib­a­di. Aki­bat­nya, banyak war­ga yang merasa bebas menut­up jalan tan­pa mem­per­hatikan kepentin­gan umum.

Dalam video yang diung­gah, kro­nolo­gi peri­s­ti­wa terekam seba­gai berikut. Seo­rang kakek tam­pak men­gen­darai motor menu­ju masjid. Ia harus mele­wati jalan yang sudah ter­tut­up penuh oleh ten­da hajatan.

Jalanan dipenuhi kur­si, pang­gung, dan kera­ma­ian tamu undan­gan. Sang kakek tetap berusa­ha melin­tas di antara keru­mu­nan.

Saat melin­tas, salah seo­rang pani­tia yang berdiri di sisi jalan jus­tru menepuk kepala sang kakek den­gan cara yang ter­li­hat tidak sopan. Sang kakek hanya diam, melan­jutkan per­jalanan tan­pa mem­balas tin­dakan terse­but.

Video berakhir den­gan suasana gaduh pes­ta di belakangnya, semen­tara kakek itu tetap men­gen­darai motor per­la­han menu­ju arah masjid.

Sete­lah video ini viral, masyarakat di media sosial ramai men­go­men­tari. Seba­gian besar menge­cam tin­dakan pani­tia hajatan yang diang­gap tidak meng­hor­mati orang tua, ter­lebih keti­ka sang kakek hen­dak menunaikan ibadah.

Komen­tar war­ganet antara lain menyayangkan tra­disi menut­up jalan tan­pa memikirkan dampak bagi orang lain. Ada pula yang menun­tut agar pemer­in­tah daer­ah mem­berikan atu­ran tegas soal izin peng­gu­naan jalan untuk hajatan.

Fenom­e­na ini bukan per­ta­ma kalinya ter­ja­di. Ham­pir seti­ap tahun, kasus seru­pa selalu muncul ke per­mukaan. Ada beber­a­pa poin yang dap­at dijadikan bahan eval­u­asi:

  Perjalanan Terhambat 5 Hari, Warganet Suarakan Doa untuk Aceh

1. Hak pub­lik atas jalan umum
Jalan meru­pakan fasil­i­tas pub­lik yang harus bisa diak­ses semua orang. Menut­up jalan untuk kepentin­gan prib­a­di tan­pa solusi alter­natif jelas menyalahi prin­sip kead­i­lan sosial.

2. Eti­ka bermasyarakat
Indone­sia dike­nal den­gan budaya gotong roy­ong dan teng­gang rasa. Namun, peri­s­ti­wa ini jus­tru mem­per­li­hatkan menu­run­nya rasa empati di seba­gian masyarakat.

3. Per­an pemer­in­tah
Per­lu ada reg­u­lasi yang lebih jelas men­ge­nai tata cara peng­gu­naan jalan umum untuk acara prib­a­di, ter­ma­suk kewa­jiban menye­di­akan jalur alter­natif bagi masyarakat.

Ada beber­a­pa langkah yang bisa dilakukan untuk mence­gah kasus seru­pa teru­lang: Pemer­in­tah daer­ah per­lu mene­gakkan atu­ran izin hajatan di jalan. Pani­tia wajib menye­di­akan akses jalan alter­natif.

Masyarakat harus lebih sadar bah­wa jalan adalah hak bersama, bukan milik kelom­pok ter­ten­tu. Aparat kea­manan dap­at berper­an aktif men­gawasi jalan­nya acara yang meng­gu­nakan fasil­i­tas umum.

Edukasi sosial ten­tang eti­ka bermasyarakat harus digen­car­kan, ter­ma­suk meng­hor­mati orang tua dan meng­har­gai hak orang lain.

Peri­s­ti­wa kakek yang diha­lan­gi saat hen­dak ke masjid kare­na jalan dipakai hajatan men­ja­di potret kecil dari masalah besar dalam kehidu­pan sosial masyarakat Indone­sia. Tra­disi boleh dijalankan, namun tidak boleh sam­pai merugikan orang lain. Kasus ini seharus­nya men­ja­di pengin­gat bagi kita semua untuk lebih mengede­pankan rasa hor­mat, empati, dan kepatuhan ter­hadap atu­ran.

Keja­di­an ini juga mem­bu­ka ruang diskusi men­ge­nai per­lun­ya reg­u­lasi lebih tegas dari pemer­in­tah dalam men­gatur peng­gu­naan fasil­i­tas umum, demi ter­cip­tanya kehidu­pan sosial yang har­mo­nis, adil, dan sal­ing meng­har­gai.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *