Berita Daerah

Ritual Belian Dayak: Ramai-Ramai Usir Penyakit, Bukan Mantan!

673
×

Ritual Belian Dayak: Ramai-Ramai Usir Penyakit, Bukan Mantan!

Sebarkan artikel ini
Gambar screenshot video Doc Yohanes Karwilus/SniperNew.id, 27 Juli 2025.

Desa Trinsing, SniperNew.d – Suasana malam Sabtu, 26 Juli 2025, berubah menjadi sakral sekaligus hangat di Dusun Bayan, Desa Trinsing, Kabupaten Barito Tengah, Provinsi Kalimantan Tengah, Dalam sebuah tradisi yang penuh makna, masyarakat Dayak berkumpul dalam ritual adat yang dikenal sebagai Belian, sebuah upacara penyembuhan dan pembersihan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun, Minggu 27 Juli 2025.

Tangkapan layar video yang dibagikan oleh Yohanes Karwilus di grup WhatsApp SniperNew.id memperlihatkan puluhan warga duduk bersila dalam rumah panjang khas Dayak.

Sebagian terlihat serius, lainnya terlihat santai namun khidmat, menyimak prosesi yang tengah berlangsung. Beberapa warga mengabadikan momen dengan kamera ponsel, menunjukkan bahwa meski tradisi ini kuno, semangat melestarikannya tetap modern.

  Bawa Sabu 100 Gram, Anak Medan Diciduk Polisi Di Labura 

Upacara Belian merupakan bentuk pengobatan tradisional suku Dayak yang melibatkan unsur spiritual, tarian, nyanyian ritual, dan mantra-mantra khusus.

Tidak hanya untuk menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani, Belian juga dipercaya mampu mengusir roh jahat, menolak bala, serta sebagai sarana memulihkan keharmonisan antara manusia dan alam.

“Ini bukan cuma adat, ini doa massal untuk kesehatan dan kedamaian dusun,” kata Yohanes melalui pesan di grup. Ia juga menegaskan bahwa Belian adalah wujud nyata dari kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhur, sekaligus bukti betapa kuatnya nilai gotong royong dan spiritualitas lokal.

Dalam gambar tersebut, tampak seorang tokoh adat berdiri di tengah ruangan, kemungkinan sedang memimpin jalannya ritual. Lantunan doa dan suara gong kecil menjadi irama pengiring malam yang tak biasa itu.

  Kapolri Tinjau GPM Banten, 27 Ton Beras Murah Disalurkan ke Warga

Beberapa warga terlihat membawa alas tidur dan makanan, tanda bahwa acara ini bisa berlangsung semalaman, bahkan hingga fajar menyingsing.

Menariknya, suasana yang terkesan serius ini tetap dibalut keakraban dan kekeluargaan. Anak-anak duduk bersama orang tua mereka, para remaja ikut aktif, dan kaum ibu menyuguhkan minuman hangat. Tidak ada sekat kasta atau jabatan semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Ritual Belian di Dusun Bayan tahun ini dianggap istimewa karena sekaligus menjadi ungkapan syukur atas keberhasilan panen dan kesehatan warga pasca musim penghujan yang cukup ekstrem.

Kami percaya, ketika roh alam senang, kami pun akan diberi berkah,” ujar salah satu tetua adat yang turut hadir.

Momen seperti ini, meski tak tersorot kamera media besar, justru menjadi simbol kekayaan budaya Indonesia yang sesungguhnya. Di tengah gempuran budaya luar, masyarakat Dayak tetap teguh menjaga identitas dan nilai-nilai luhur mereka.

  Bupati Kuantan Singingi Langsung Bersihkan Sampah di Tepian Narosa

Sebagai penutup, Yohanes menuliskan dalam grup: “Kalau ada yang masih sering sakit-sakitan, jangan buru-buru ke IGD, coba ikut Belian dulu. Siapa tahu bukan karena virus, tapi karena banyak pikiran dan lupa bersyukur.”

Sebuah pesan sederhana tapi dalam, yang mengingatkan kita bahwa kadang, penyembuhan paling ampuh bukan cuma dari obat, tapi juga dari kebersamaan, ketulusan, dan ritual yang menyentuh hati.

Laporan: (Yohanes Karwilus).

Editor: (Abdullah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *