Pati, Jawa Tengah – Aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Pati pada Rabu (13/8) berujung ricuh. Sekitar pukul 11.10 WIB, situasi memanas ketika aparat kepolisian menembakkan gas air mata dan menyemprotkan water cannon ke arah massa yang berusaha merobohkan gerbang kantor bupati.
Menurut laporan akun folk_konoha di Threads, wartawan yang meliput terpaksa berlindung di dalam kantor. Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak terlihat di lokasi, sementara sejumlah polisi mengalami luka. Massa sempat berhasil masuk ke pendopo, namun Bupati Pati tidak berada di tempat.
“Demo di depan Kantor Bupati Pati, Rabu (13/8), ricuh. Sekitar pukul 11.10 WIB, polisi kasih gas air mata dan water cannon ke arah massa yang berusaha merobohkan gerbang. Wartawan berlindung di dalam kantor, ASN tak terlihat, dan sejumlah polisi terl*ka. Massa sempat masuk pendopo, namun bupati tidak ada di lokasi. Semoga segera kondusif semua,” tulis akun tersebut.
Dalam salah satu video yang dibagikan, terlihat gerbang pendopo hampir roboh akibat dorongan massa. Aparat kepolisian dengan perisai dan helm pelindung berbaris menghadang kerumunan. Teks dalam video tersebut menyebutkan:
“Suasana panas! Massa masuk Pendopo Pati dan mencari Bupati Sudewo, gerbang hampir ambruk akibat dorongan.”
Situasi ini memicu beragam komentar warganet. Sebagian mengaitkan aksi tersebut dengan kebijakan kenaikan pajak daerah yang sebelumnya menuai penolakan. Namun, menurut akun caca_mona07, aksi ini kemungkinan tidak sepenuhnya dilakukan oleh warga Pati.
“Takutnya ini bukan rakyat Pati semua, ada pihak lain yang tidak suka pada bupati, karena bupati sudah minta maaf dan kenaikan pajak tidak jadi,” tulisnya.
Komentar lain dari akun hartaji.aji menyebut bahwa seharusnya pimpinan daerah bertindak lebih cepat sebelum situasi memanas.
“Udah dibilang mundur aja, menteri dalam negeri, gubernur dan DPRD-nya telat bergerak, nggak peka, kurang responsif, nggak tahu cara memperlakukan rakyatnya dengan baik. Semoga tidak memicu dan menjalar ke mana-mana,” ujarnya.
Sementara itu, akun a.p.a921 menganggap aksi tersebut berbahaya jika memang murni gerakan rakyat yang kompak.
“Serem sih kalau udah murni rakyat yang bergerak. Mau disiapin polisi berapa kompi pun, kalau rakyat kompak bergerak mah nggak berpengaruh. Lanjutkan perjuanganmu wahai warga Pati, semoga menular ke kota lain yang pemimpinnya dzalim,” tulisnya disertai emotikon kepalan tangan dan api.
Akun al.rasy.fell mengungkapkan rasa prihatin dan mempertanyakan bentrokan antara aparat dengan warga.
“Ya Allah, sakit banget lihatnya. Apakah akan jadi pejabat dan polisi VS rakyat? Kok bisa? Kan kalian digaji rakyat? Bukankah harusnya menampung aspirasi yang gaji kalian?” tulisnya.
Di sisi lain, akun anatasyabira menyoroti fenomena penjualan bendera yang sedang laris di pasaran.
“Benderanya lagi laris sekarang, bukan merah putih lagi yang dicari. Buruan cek di Shopee,” tulisnya sambil membagikan tautan.
Dari rekaman yang tersebar, terlihat situasi di depan Kantor Bupati Pati benar-benar memanas. Massa membawa berbagai atribut, termasuk bendera, dan meneriakkan yel-yel di balik pagar yang sudah tampak miring akibat dorongan. Polisi berbaris di barisan depan sambil memegang tameng, sementara semprotan air dari water cannon menyapu kerumunan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Bupati Pati Sudewo terkait insiden tersebut. Informasi sementara menyebutkan bahwa aksi ini awalnya merupakan bentuk protes kebijakan daerah, namun berkembang menjadi kericuhan setelah massa memaksa masuk ke area pendopo.
Beberapa saksi mata melaporkan, sebelum bentrokan terjadi, sempat ada negosiasi singkat antara perwakilan massa dengan aparat, namun tidak menghasilkan kesepakatan. Massa kemudian mendorong gerbang pendopo secara bersamaan, membuat pagar besi besar itu hampir ambruk. Tindakan ini memicu aparat melepaskan tembakan gas air mata dan menyemprotkan air untuk membubarkan kerumunan.
Di media sosial, tagar terkait aksi ini langsung ramai diperbincangkan. Video dan foto-foto kericuhan tersebar luas, memperlihatkan situasi kacau di pusat pemerintahan kabupaten tersebut. Sejumlah warga Pati yang tidak ikut aksi mengaku khawatir karena jalan di sekitar kantor bupati ditutup, dan aktivitas perkantoran lumpuh total.
Pemerhati sosial menilai, aksi ini menjadi pelajaran penting bahwa komunikasi pemerintah daerah dengan masyarakat harus lebih terbuka, transparan, dan responsif. Kebijakan yang menyangkut kepentingan publik sebaiknya dibahas bersama dan tidak diputuskan sepihak agar tidak memicu konflik.
Hingga sore ini, aparat keamanan masih berjaga di sekitar Kantor Bupati Pati. Beberapa titik jalan raya di pusat kota dialihkan untuk menghindari kemacetan. Polisi juga memasang barikade tambahan untuk mengantisipasi jika massa kembali datang.
Situasi di Pati masih dinyatakan belum sepenuhnya kondusif, namun pihak kepolisian berharap keadaan bisa segera terkendali. (Ahmad)













