Berita Nasional

Tidak Ada Batasan Waktu Aksi Demonstrasi

569
×

Tidak Ada Batasan Waktu Aksi Demonstrasi

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Akademisi Seko­lah Ting­gi Hukum (STH) Indone­sia Jen­tera, Asfi­nawati, mene­gaskan bah­wa aksi demon­strasi tidak memi­li­ki batasan wak­tu yang diatur dalam per­at­u­ran perun­dang-undan­gan. Hal terse­but ia sam­paikan dalam sebuah video yang diung­gah akun media sosial Threads @diakronikcom, Jumat (05/09).

Dalam keteran­gan yang dis­am­paikan, Asfi­nawati men­je­laskan bah­wa reg­u­lasi tert­ing­gi terkait penyam­pa­ian pen­da­p­at di muka umum telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 ten­tang Kemerdekaan Meny­atakan Pen­da­p­at di Muka Umum. Undang-undang ini mene­gaskan tidak ada pem­bat­asan wak­tu dalam melak­sanakan aksi demon­strasi, dan yang berhak menen­tukan kapan aksi dim­u­lai maupun berakhir adalah peser­ta aksi itu sendiri.

Dalam ung­ga­han Threads @diakronikcom, Asfi­nawati men­gatakan. “Tidak ada pem­bat­asan wak­tu untuk melakukan aksi demon­strasi. Keten­tu­an itu meru­juk pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 ten­tang Kebe­basan Meny­atakan Pen­da­p­at di Muka Umum. Undang-undang itu juga mene­gaskan bah­wa aksi demon­strasi tidak per­lu izin, melainkan pem­ber­i­tahuan soal wak­tu dan lama demon­strasi berlang­sung.”

Ia menekankan bah­wa peser­ta aksi memi­li­ki kewe­nan­gan penuh atas jalan­nya kegiatan. “Jadi yang berhak menen­tukan kapan mere­ka aksi, kapan mere­ka bubar, adalah peser­ta aksi,” ujarnya.

Ung­ga­han terse­but juga memu­at pen­je­lasan tam­ba­han dari Asfi­nawati bah­wa Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 meru­pakan reg­u­lasi tert­ing­gi yang men­gatur penyam­pa­ian pen­da­p­at di muka umum. Oleh kare­na itu, pro­duk hukum di bawah­nya, seper­ti Per­at­u­ran Kapol­ri, Surat Edaran, atau keten­tu­an lain­nya, tidak boleh berten­tan­gan den­gan undang-undang terse­but.

  Infrastruktur Bukan Soal Beton, Tapi Soal Masa Depan: ICI 2025 Satukan Kekuatan Bangun Indonesia Tangguh

Dalam video yang sama, ter­li­hat ia menyam­paikan pen­je­lasan di ten­gah aksi unjuk rasa, den­gan latar mas­sa demon­stran yang mem­bawa ben­dera dan span­duk di sek­i­tar jalan raya.

Perny­ataan ini dis­am­paikan oleh Asfi­nawati, seo­rang akademisi dari Seko­lah Ting­gi Hukum (STH) Indone­sia Jen­tera. Ia dike­nal seba­gai sosok yang aktif menyuarakan pent­ingnya per­lin­dun­gan hukum ter­hadap hak-hak war­ga negara, teruta­ma hak dalam meny­atakan pen­da­p­at di muka umum.

Pihak yang men­gung­gah perny­ataan terse­but adalah akun media sosial @diakronikcom, yang dalam keteran­gan­nya menye­butkan bah­wa perny­ataan Asfi­nawati men­ja­di pent­ing untuk mengin­gatkan pub­lik men­ge­nai hak-hak kon­sti­tu­sion­al dalam menyam­paikan aspi­rasi.

Perny­ataan Asfi­nawati itu diung­gah oleh akun @diakronikcom sek­i­tar 7 jam sebelum tangka­pan layar diam­bil, seba­gaimana ter­li­hat dari indika­tor wak­tu pada ung­ga­han Threads.

Den­gan demikian, infor­masi ini dap­at dikatakan seba­gai perny­ataan terki­ni yang masih rel­e­van den­gan kon­disi aksi-aksi demon­strasi di berba­gai daer­ah.

Perny­ataan terse­but dis­am­paikan dalam sebuah aksi demon­strasi yang berlang­sung di ruang pub­lik, ter­li­hat dari latar jalan raya perko­taan den­gan gedung ting­gi dan keru­mu­nan mas­sa yang mem­bawa ben­dera organ­isasi. Lokasi per­sis tidak dise­butkan dalam ung­ga­han, namun secara visu­al tam­pak bera­da di pusat kota besar, yang kemu­ngk­i­nan besar Jakar­ta.

Akun @diakronikcom kemu­di­an menye­barkan perny­ataan itu melalui media sosial Threads agar dap­at diak­ses pub­lik luas.

Isu ini pent­ing kare­na menyangkut hak dasar war­ga negara yang dijamin kon­sti­tusi, yakni kebe­basan menyam­paikan pen­da­p­at di muka umum. Dalam prak­tiknya, ser­ing muncul pem­bat­asan men­ge­nai wak­tu dan durasi aksi demon­strasi, mis­al­nya melalui surat edaran atau per­at­u­ran kepolisian.

  Takut Dikonfirmasi Wartawan Soal TPG IV Tahun 2024, Sekretaris Disdik Sergai Kurung Diri di Ruangan

Asfi­nawati mene­gaskan bah­wa reg­u­lasi di bawah undang-undang tidak boleh berten­tan­gan den­gan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998. Den­gan kata lain, apa­bi­la ada atu­ran yang mem­bat­asi wak­tu aksi, hal terse­but tidak sah kare­na melang­gar keten­tu­an reg­u­lasi yang lebih ting­gi.

Perny­ataan ini juga berim­p­likasi pada per­lin­dun­gan hukum bagi peser­ta aksi. Den­gan adanya keje­lasan men­ge­nai hak-hak mere­ka, masyarakat tidak per­lu merasa takut untuk menyam­paikan aspi­rasi sep­a­n­jang dilakukan sesuai prose­dur pem­ber­i­tahuan.

Menu­rut Asfi­nawati, mekanisme aksi demon­strasi sudah diatur jelas oleh undang-undang. Aksi tidak mem­bu­tuhkan izin, melainkan cukup den­gan pem­ber­i­tahuan kepa­da pihak berwe­nang men­ge­nai wak­tu dan durasi demon­strasi.

Hal ini berbe­da den­gan prak­tik yang ker­ap diber­lakukan, di mana pihak kepolisian atau aparat setem­pat mem­berikan batasan wak­tu ter­ten­tu, mis­al­nya hanya boleh berlang­sung hing­ga sore hari. Dalam pan­dan­gan hukum yang dis­am­paikan Asfi­nawati, atu­ran pem­bat­asan seper­ti itu tidak sah kare­na berten­tan­gan den­gan undang-undang.

Undang-undang itu meru­pakan reg­u­lasi tert­ing­gi yang men­gatur ten­tang penyam­pa­ian pen­da­p­at di muka umum. Sehing­ga, pro­duk hukum di bawah­nya yang mem­bat­asi wak­tu aksi seper­ti Per­at­u­ran Kapol­ri, Surat Edaran, dan lain­nya, tidak boleh berten­tan­gan den­gan undang-undang terse­but,” jelas Asfi­nawati, seba­gaimana diku­tip dari ung­ga­han Threads @diakronikcom.

Den­gan demikian, yang memi­li­ki kewe­nan­gan penuh untuk menen­tukan kapan aksi dim­u­lai dan kapan aksi dibubarkan adalah peser­ta aksi sendiri, bukan pihak ekster­nal.

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 lahir pas­ca refor­masi seba­gai ben­tuk jam­i­nan kebe­basan berek­spre­si. Undang-undang ini men­gatur berba­gai aspek tek­nis penyam­pa­ian pen­da­p­at di muka umum, mulai dari kewa­jiban pem­ber­i­tahuan, ben­tuk kegiatan, hing­ga per­lin­dun­gan hukum ter­hadap peser­ta aksi.

  India-Korsel Pererat Kerja Sama Strategis: Modi dan Presiden Lee Jae-myung Bertemu di Kanada

Mes­ki demikian, dalam prak­tik di lapan­gan, ser­ing muncul dinami­ka antara peser­ta aksi den­gan aparat kea­manan terkait soal izin, pem­bat­asan lokasi, dan batasan wak­tu. Dalam kon­teks itu­lah perny­ataan Asfi­nawati men­ja­di rel­e­van, yakni mene­gaskan kem­bali bah­wa atu­ran di bawah undang-undang tidak boleh men­gu­ran­gi hak kon­sti­tu­sion­al war­ga negara.

Perny­ataan ini berpoten­si mem­perku­at posisi masyarakat sip­il dalam mem­per­juangkan hak menyam­paikan pen­da­p­at. Apa­bi­la diiku­ti, aparat dihara­p­kan lebih meng­hor­mati mekanisme yang telah diatur undang-undang tan­pa menam­bah atu­ran tam­ba­han yang mem­bat­asi kebe­basan war­ga.

Selain itu, perny­ataan ini juga men­ja­di pengin­gat bagi para peser­ta aksi bah­wa mere­ka memi­li­ki dasar hukum yang jelas dalam men­jalankan kegiatan demon­strasi. Sep­a­n­jang mengiku­ti prose­dur pem­ber­i­tahuan, masyarakat berhak menen­tukan jalan­nya aksi tan­pa harus dibatasi atu­ran yang tidak sesuai den­gan undang-undang.

Ung­ga­han Threads @diakronikcom yang memu­at perny­ataan Asfi­nawati dari STH Indone­sia Jen­tera kem­bali mene­gaskan bah­wa aksi demon­strasi meru­pakan hak kon­sti­tu­sion­al war­ga negara yang tidak boleh dibatasi oleh atu­ran di bawah undang-undang. Peser­ta aksi adalah pihak yang berhak menen­tukan jalan­nya demon­strasi, semen­tara per­an aparat adalah memas­tikan kea­manan tan­pa men­gu­ran­gi sub­stan­si hak terse­but.

Perny­ataan ini sekali­gus mengin­gatkan pub­lik dan aparat pene­gak hukum agar men­jun­jung ting­gi Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 seba­gai payung hukum uta­ma dalam penyam­pa­ian pen­da­p­at di muka umum. (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *