Terupdate

Ricuh Aksi di Surabaya: Gedung Grahadi Terbakar, Publik Sesalkan Tindakan Anarkis

295
×

Ricuh Aksi di Surabaya: Gedung Grahadi Terbakar, Publik Sesalkan Tindakan Anarkis

Sebarkan artikel ini

Surabaya, SniperNew.idAksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, berakhir ricuh hingga menyebabkan kebakaran di bangunan bersejarah tersebut. Peristiwa ini memicu sorotan luas masyarakat, baik dari kalangan pejabat maupun warganet, yang menyesalkan adanya tindakan anarkis dalam aksi yang semula bertujuan menyampaikan aspirasi, Minggu (31/08/2025).

Sebuah aksi demonstrasi di Surabaya berujung pada pembakaran Gedung Negara Grahadi, salah satu bangunan cagar budaya dan ikon sejarah di Jawa Timur. Berdasarkan unggahan akun @surabayakabarmetro, sebelum peristiwa kebakaran terjadi, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sempat menemui langsung para demonstran. Dalam kesempatan itu, Khofifah menyatakan akan berupaya membebaskan sejumlah demonstran yang diamankan oleh aparat keamanan.

Namun, meski sudah ada dialog, kericuhan tetap pecah. Gedung Grahadi yang seharusnya dijaga bersama justru dilalap api, memicu kecaman luas dari publik.

1. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa Khofifah turun langsung menemui massa. Ia menyampaikan kesediaan untuk menampung aspirasi demonstran sekaligus berupaya agar mereka yang ditahan aparat dapat dibebaskan.

2. Demonstran. Ribuan orang yang hadir di lokasi menyuarakan tuntutan. Namun di tengah aksi, terjadi tindakan anarkis berupa pembakaran fasilitas negara. Identitas pelaku pembakaran belum dipastikan.

3. Aparat Keamanan. Sejumlah anggota TNI dan Polri hadir di lokasi untuk menjaga keamanan serta mengawal Gubernur Jawa Timur saat berdialog dengan massa.

4. Masyarakat dan Netizen. Ribuan komentar bermunculan di media sosial yang berisi keprihatinan, kritik, hingga tuduhan adanya provokator di balik pembakaran.

Peristiwa ricuh terjadi pada malam hari, saat aksi massa memuncak di depan Gedung Negara Grahadi. Berdasarkan unggahan akun media sosial yang ramai beredar, peristiwa ini terjadi dalam 24 jam terakhir sebelum berita ini diturunkan.

Lokasi peristiwa adalah Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Jawa Timur. Gedung bersejarah yang juga merupakan cagar budaya tersebut menjadi saksi sejarah panjang Jawa Timur, termasuk sebagai tempat resmi berbagai acara kenegaraan.

Meski Gubernur sudah menemui massa, ricuh tetap pecah. Dari komentar masyarakat di media sosial, ada beberapa kemungkinan penyebab:

Aksi Disusupi Provokator
Beberapa warganet menduga ada pihak yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja membuat kerusuhan untuk mencoreng aksi damai. Seorang netizen menulis: “Hati-hati provokator gentayangan.”

Emosi Massa yang Memuncak
Ada pula yang menilai massa terbawa emosi sehingga aksi yang awalnya untuk menyampaikan aspirasi berubah menjadi tindakan anarkis.

Ada Unsur Kesengajaan
Komentar lain menyebut bahwa tindakan ini bukan spontan, melainkan sudah ada unsur kesengajaan untuk menghancurkan negeri lewat perusakan aset negara.

Awalnya, demonstrasi berlangsung dengan orasi massa. Gubernur Khofifah hadir untuk berdialog. Situasi sempat terkendali, namun kemudian muncul kabar dan rekaman visual yang menunjukkan api melalap Gedung Grahadi. Hingga kini, belum ada kejelasan resmi siapa yang memicu pembakaran tersebut.

Unggahan akun @surabayakabarmetro tentang pertemuan Gubernur Khofifah dengan demonstran langsung menuai beragam tanggapan. Berikut rangkuman komentar warganet:

1. Menyayangkan Tindakan Anarkis
Banyak yang menyayangkan tindakan membakar Gedung Grahadi, mengingat bangunan tersebut adalah cagar budaya dan memiliki nilai sejarah tinggi.

“Heee Grahadi lho, ya ampun kok sampai kebakar sih. Itu cagar budaya lhooo eman banget, nanti bangunnya lagi pakai uang rakyat lagi lhooo.” tulis akun @madeena0808.

Akun lain menegaskan: “Siapapun kamu dibalik topeng ini, nggak lucu ya bakar Gedung Grahadi. Itu bukan FASUM, tapi cagar budaya!”

2. Menuding Ada Provokator
Sejumlah komentar menilai bahwa pembakaran dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab.

“Tuh kan, tuh kan, provokator dancuk,” tulis akun @dameliarosa.

Akun @mochsalim1 mengingatkan: “Hati-hati provokator gentayangan.”

3. Menilai Aksi Tak Lagi Murni
Ada warganet yang menyebut demonstrasi telah melenceng dari tujuan awal.

“Ini bukan murni, tapi sudah ada unsur kesengajaan untuk menghancurkan negeri lewat orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ujar akun @m.asrum.

Akun lain menulis: “Fix kalau beneran demonstran yang membabi buta, kalian udah melenceng jauh dari fokus awal.”

4. Mengkritik Pemerintah
Di sisi lain, sebagian komentar juga mengkritik pemerintah karena dianggap lamban merespons tuntutan rakyat.

“Iki pemerintah wes kasep, kadong emosi. Sekarang maunya pemerintah bagaimana? Kalau nggak mampu mundur aja, rakyat sudah muak,” tulis akun @rawajitu750.

5. Menghargai Langkah Gubernur
Tak sedikit pula yang menghargai upaya Gubernur Khofifah menemui langsung massa.

“Padahal wes ditemui lo guys. Fix ini yang demo bukan atas nama rakyat pakai bakar-bakar,” tulis akun @mama_baik_hatinya.

Komentar lain menambahkan: “Udah ditemui, suara yang mau disampaikan sementara ini udah tertampung. Terus kenapa masih dibakar?”

Gedung Negara Grahadi bukan sekadar bangunan pemerintahan. Diresmikan sejak masa kolonial Belanda, gedung ini merupakan warisan sejarah dan cagar budaya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Jawa Timur.

Banyak warga menyayangkan pembakaran ini karena dikhawatirkan akan merusak warisan sejarah. Selain itu, bila harus direnovasi atau dibangun kembali, maka biaya akan diambil dari anggaran negara yang bersumber dari pajak rakyat.

Unggahan @surabayakabarmetro juga menyertakan doa: “Ya Allah, mugo-mugo Jatim dan Suroboyo damai maneh yo rek.” Pesan ini sejalan dengan harapan banyak pihak agar situasi di Jawa Timur segera kembali kondusif.

Sejumlah komentar pun mendesak agar provokasi dan tindakan anarkis segera dihentikan. Publik menilai bahwa aspirasi bisa disampaikan dengan cara damai tanpa harus merusak aset negara atau warisan budaya.

Dari rangkaian peristiwa dan komentar publik, terlihat adanya dua arus besar dalam menyikapi kerusuhan ini:

1. Arus Keprihatinan
Masyarakat menyesalkan Gedung Grahadi sebagai cagar budaya justru jadi korban. Banyak yang menganggap aksi sudah keluar dari jalur aspirasi rakyat.

2. Arus Kecurigaan
Tak sedikit yang mencurigai adanya provokator yang menunggangi aksi untuk memperkeruh keadaan.

3. Arus Kritik terhadap Pemerintah
Beberapa warganet menilai pemerintah lamban dan gagal mengendalikan situasi sehingga rakyat frustrasi.

Terlepas dari semua itu, yang jelas kericuhan ini telah merugikan banyak pihak. Gedung Grahadi sebagai simbol sejarah terbakar, citra aksi demonstrasi ternodai, dan masyarakat kembali terpecah oleh pro-kontra.

Kasus kericuhan di Surabaya ini menjadi pelajaran penting bahwa menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap warga negara, namun harus dilakukan dengan cara damai dan bertanggung jawab. Aksi yang berubah menjadi anarkis justru merugikan semua pihak, terutama rakyat sendiri.

Kini, publik menantikan langkah pemerintah dan aparat dalam mengusut tuntas dalang pembakaran Gedung Grahadi, sekaligus memastikan agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan. (Darma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *