Terupdate

Redaksi Media Online Indonesia-monitoring.com dan mediakompas.id, Snipernew.id. Mengucapkan Selamat Memperingati HUT TNI Ke ‑79 Pada Oktober 2024

384
×

Redaksi Media Online Indonesia-monitoring.com dan mediakompas.id, Snipernew.id. Mengucapkan Selamat Memperingati HUT TNI Ke ‑79 Pada Oktober 2024

Sebarkan artikel ini

Medan, Snipernew.id - Akan Menya­jikan Sejarah Singkat TNI, Salam PRIMA. PRIMA adalah singkatan dari (Pro­fe­sion­al, Respon­sif, Inte­gratif, Mod­ern dan Adap­tif.)

 

Berikut Sejarah TNI :

Ten­tara Nasion­al Indone­sia (TNI) lahir dalam kanc­ah per­juan­gan bangsa Indone­sia mem­per­ta­hankan kemerdekaan dari anca­man Belan­da yang beram­bisi untuk men­ja­jah Indone­sia kem­bali melalui kek­erasan sen­ja­ta. TNI meru­pakan perkem­ban­gan organ­isasi yang beraw­al dari Badan Kea­manan Raky­at (BKR). Selan­jut­nya pada tang­gal 5 Okto­ber 1945 men­ja­di Ten­tara Kea­manan Raky­at (TKR), dan untuk mem­per­bai­ki susunan yang sesuai den­gan dasar militer inter­na­tion­al, dirubah men­ja­di Ten­tara Repub­lik Indone­sia (TRI).

Dalam perkem­ban­gan selan­jut­nya usa­ha pemer­in­tah untuk menyem­pur­nakan ten­tara kebangsaan terus ber­jalan, ser­aya bertem­pur dan berjuang untuk tegaknya kedaula­tan dan kemerdekaan bangsa. Untuk mem­per­satukan dua keku­atan bersen­ja­ta yaitu TRI seba­gai ten­tara reg­u­lar dan badan-badan per­juan­gan raky­at, maka pada tang­gal 3 Juni 1947 Pres­i­den mengesyahkan den­gan res­mi berdirinya Ten­tara Nasion­al Indone­sia (TNI).

Pada saat-saat kri­tis sela­ma Perang Kemerdekaan (1945–1949), TNI berhasil mewu­jud­kan dirinya seba­gai ten­tara raky­at, ten­tara rev­o­lusi, dan ten­tara nasion­al. Seba­gai keku­atan yang baru lahir, dis­amp­ing TNI mena­ta dirinya, pada wak­tu yang bersamaan harus pula meng­hadapi berba­gai tan­ta­n­gan, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Dari dalam negeri, TNI meng­hadapi ron­gron­gan-ron­gron­gan baik yang berdi­men­si poli­tik maupun dimen­si militer. Ron­gron­gan poli­tik bersum­ber dari golon­gan komu­nis yang ingin men­em­patkan TNI dibawah pen­garuh mere­ka melalui Pepolit, Biro Per­juan­gan, dan TNI-Masyarakat:. Sedan­gkan tan­ta­n­gan dari dalam negeri yang berdi­men­si militer yaitu TNI meng­hadapi per­go­lakan bersen­ja­ta di beber­a­pa daer­ah dan pem­berontakan PKI di Madi­un ser­ta Darul Islam (DI) di Jawa Barat yang dap­at men­gan­cam integri­tas nasion­al. Tan­ta­n­gan dari luar negeri yaitu TNI dua kali meng­hadapi Agre­si Militer Belan­da yang memi­li­ki organ­isasi dan persen­jataan yang lebih mod­ern.

Sadar akan keter­batasan TNI dalam meng­hadapi agre­si Belan­da, maka bangsa Indone­sia melak­sanakan Perang Raky­at Semes­ta dimana sege­nap keku­atan TNI dan masyarakat ser­ta sum­ber daya nasion­al dik­er­ahkan untuk meng­hadapi agre­si terse­but.

Den­gan demikian, integri­tas dan eksis­ten­si Negara Kesat­u­an Repub­lik Indone­sia telah dap­at diper­ta­hankan oleh keku­atan TNI bersama raky­at.

Sesuai den­gan kepu­tu­san Kon­fer­en­si Meja Bun­dar (KMB), pada akhir tahun 1949 diben­tuk Repub­lik Indone­sia Serikat (RIS). Sejalan den­gan itu, diben­tuk pula Angkatan Perang RIS (APRIS) yang meru­pakan gabun­gan TNI dan KNIL den­gan TNI seba­gai intinya.

  Peringati Hari Pahlawan Nasional, Danrem 143/HO Pimpin Ziarah di TMP Watubangga

Pada bulan Agus­tus 1950 RIS dibubarkan dan Indone­sia kem­bali ke ben­tuk Negara kesat­u­an. APRIS pun bergan­ti nama men­ja­di Angkatan Perang RI (APRI).

Sis­tem demokrasi par­lementer yang dianut pemer­in­tah pada peri­ode 1950–1959, mem­pen­garuhi kehidu­pan TNI. Cam­pur tan­gan poli­tisi yang ter­lalu jauh dalam masalah intern TNI men­dorong ter­jadinya Peri­s­ti­wa 17 Okto­ber 1952 yang men­gak­i­batkan adanya kere­takan di lingkun­gan TNI AD. Di sisi lain, cam­pur tan­gan itu men­dorong TNI untuk ter­jun dalam kegiatan poli­tik den­gan mendirikan par­tai poli­tik yaitu Ikatan Pen­dukung Kemerdekaan Indone­sia (IP-KI) yang ikut seba­gai kon­tes­tan dalam Pemil­i­han Umum tahun 1955.

Peri­ode yang juga dise­but Peri­ode Demokrasi Lib­er­al ini diwar­nai pula oleh berba­gai pem­berontakan dalam negeri. Pada tahun 1950 seba­gian bekas anggota KNIL melan­car­kan pem­berontakan di Ban­dung (pem­berontakan Angkatan Perang Ratu Adil/APRA), di Makas­sar Pem­berontakan Andi Azis, dan di Maluku pem­berontakan Repub­lik Maluku Sela­tan (RMS).

Semen­tara itu, DI TII Jawa Barat mele­barkan pen­garuh­nya ke Kali­man­tan Sela­tan, Sulawe­si Sela­tan dan Aceh. Pada tahun 1958 Pemer­in­tah Rev­o­lu­sion­er Repub­lik Indonesia/Perjuangan Raky­at Semes­ta (PRRI/Permesta) melakukan pem­berontakan di seba­gian besar Sumat­era dan Sulawe­si Utara yang mem­ba­hayakan integri­tas nasion­al. Semua pem­berontakan itu dap­at ditumpas oleh TNI bersama keku­atan kom­po­nen bangsa lain­nya.

Upaya meny­atukan organ­isasi angkatan perang dan Kepolisian Negara men­ja­di organ­isasi Angkatan Bersen­ja­ta Repub­li­ka Indone­sia (ABRI) pada tahun 1962 meru­pakan bagian yang pent­ing dari sejarah TNI pada dekade tahun enam­pu­luhan.

Meny­atun­ya keku­atan Angkatan Bersen­ja­ta di bawah satu koman­do, dihara­p­kan dap­at men­ca­pai efek­ti­fi­tas dan efisien­si dalam melak­sanakan per­an­nya, ser­ta tidak mudah ter­pen­garuh oleh kepentin­gan kelom­pok poli­tik ter­ten­tu. Namun hal terse­but meng­hadapi berba­gai tan­ta­n­gan, teruta­ma dari Par­tai Komu­nis Indone­sia (PKI) seba­gai bagian dari komu­nisme inter­na­sion­al yang senan­ti­asa gigih beru­paya menanamkan pen­garuh­nya ke dalam tatanan kehidu­pan bangsa Indone­sia ter­ma­suk ke dalam tubuh ABRI melalui penyusu­pan dan pem­bi­naan khusus, ser­ta meman­faatkan pen­garuh Presiden/Panglima Tert­ing­gi ABRI untuk kepentin­gan poli­tiknya.

Upaya PKI makin gen­car dan memu­ncak melalui kude­ta ter­hadap pemer­in­tah yang syah oleh G30S/PKI, men­gak­i­batkan bangsa Indone­sia saat itu dalam situ­asi yang san­gat kri­tis. Dalam kon­disi terse­but TNI berhasil men­gatasi situ­asi kri­tis meng­ga­galkan kude­ta ser­ta menumpas keku­atan pen­dukungnya bersama-sama den­gan keku­atan-keku­atan masyarakat bahkan selu­ruh raky­at Indone­sia.

Dalam situ­asi yang ser­ba chaos itu, ABRI melak­sanakan tugas­nya seba­gai keku­atan han­kam dan seba­gai keku­atan sospol. Seba­gai alat keku­atan han­kam, ABRI menumpas pem­berontak PKI dan sisa-sisanya. Seba­gai keku­atan sospol ABRI men­dorong ter­cip­tanya tatanan poli­tik baru untuk melak­sanakan Pan­casi­la dan UUD 45 secara murni dan kon­sek­wen.

  Kapolres Muara Enim Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat 42 Personel Polres Muara Enim

Semen­tara itu, ABRI tetap melakukan pem­be­na­han diri den­gan cara meman­tap­kan inte­grasi inter­nal. Langkah per­ta­ma adalah meng­in­te­grasikan dok­trin yang akhirnya melahirkan dok­trin ABRI Catur Dhar­ma Eka Kar­ma (Cadek). Dok­trin ini berim­p­likasi kepa­da reor­gan­isasi ABRI ser­ta pen­didikan dan lati­han gabun­gan antara Angkatan dan Pol­ri.

Dis­isi lain, ABRI juga melakukan inte­grasi ekster­nal dalam ben­tuk kema­nung­galan ABRI den­gan raky­at yang diap­likasikan melalui pro­gram ABRI Masuk Desa (AMD).

Per­an, Fungsi dan Tugas TNI (dulu ABRI) juga men­gala­mi peruba­han sesuai den­gan Undang-Undang Nomor: 34 tahun 2004. TNI berper­an seba­gai alat negara di bidang per­ta­hanan yang dalam men­jalankan tugas­nya berdasarkan kebi­jakan dan kepu­tu­san poli­tik negara. TNI seba­gai alat per­ta­hanan negara, berfungsi seba­gai: penangkal ter­hadap seti­ap ben­tuk anca­man militer dan anca­man bersen­ja­ta dari luar dan dalam negeri ter­hadap kedaula­tan, keu­tuhan wilayah, dan kese­la­matan bangsa, penin­dak ter­hadap seti­ap ben­tuk anca­man seba­gaimana dimak­sud di atas, dan pemulih ter­hadap kon­disi kea­manan negara yang ter­gang­gu aki­bat keka­cauan kea­manan.

Tugas pokok TNI adalah mene­gakkan kedaula­tan negara, mem­per­ta­hankan keu­tuhan wilayah Negara Kesat­u­an Repub­lik Indone­sia yang berdasarkan Pan­casi­la dan Undang-Undang Dasar Negara Repub­lik Indone­sia Tahun 1945, ser­ta melin­dun­gi sege­nap bangsa dan selu­ruh tumpah darah Indone­sia dari anca­man dan gang­guan ter­hadap keu­tuhan bangsa dan negara.

Tugas pokok itu diba­gi 2(dua) yaitu: operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang.

Operasi militer selain perang meliputi operasi men­gatasi ger­akan sep­a­ratis bersen­ja­ta, men­gatasi pem­berontakan bersen­ja­ta, men­gatasi aksi teror­isme, menga­mankan wilayah per­batasan, menga­mankan objek vital nasion­al yang bersi­fat strate­gis, melak­sanakan tugas per­dama­ian dunia sesuai den­gan kebi­jakan poli­tik luar negeri, menga­mankan Pres­i­den dan Wak­il Pres­i­den beser­ta kelu­ar­ganya, mem­ber­dayakan wilayah per­ta­hanan dan keku­atan pen­dukungnya secara dini sesuai den­gan sis­tem per­ta­hanan semes­ta, mem­ban­tu tugas pemer­in­ta­han di daer­ah, mem­ban­tu Kepolisian Negara Repub­lik Indone­sia dalam rang­ka tugas kea­manan dan ketert­iban masyarakat yang diatur dalam undang-undang, mem­ban­tu menga­mankan tamu negara set­ingkat kepala negara dan per­wak­i­lan pemer­in­tah asing yang sedang bera­da di Indone­sia, mem­ban­tu menang­gu­lan­gi aki­bat ben­cana alam, pen­gungsian, dan pem­ber­ian ban­tu­an kemanu­si­aan, mem­ban­tu pen­car­i­an dan per­to­lon­gan dalam kece­lakaan (search and res­cue) ser­ta mem­ban­tu pemer­in­tah dalam penga­manan pela­yaran dan pener­ban­gan ter­hadap pem­ba­jakan, per­ompakan dan penyelundu­pan.

  Pj.Bupati Pringsewu DPRD Sahkan APBD-P 2024 & RPJPD 2025-2045 Sekaligus Sampaikan APBD 2025

Semen­tara dalam bidang refor­masi inter­nal, TNI sam­pai saat ini masih terus melak­sanakan refor­masi inter­nal­nya sesuai den­gan tun­tu­tan refor­masi nasion­al. TNI tetap pada komit­men­nya men­ja­ga agar refor­masi inter­nal dap­at men­ca­pai sasaran yang diinginkan dalam mewu­jud­kan Indone­sia baru yang lebih baik dimasa yang akan datang dalam bingkai tetap tegaknya Negara Kesat­u­an Repub­lik Indone­sia. Bahkan, sejak tahun 1998 sebe­narnya secara inter­nal TNI telah melakukan berba­gai peruba­han yang cukup sig­nifikan, antara lain:

Per­ta­ma, meru­muskan par­a­dig­ma baru per­an ABRI Abad XXI.

Ked­ua, meru­muskan par­a­dig­ma baru per­an TNI yang lebih men­jangkau ke masa depan, seba­gai aktu­al­isasi atas par­a­dig­ma baru per­an ABRI Abad XXI.

Keti­ga, pemisa­han Pol­ri dari ABRI yang telah men­ja­di kepu­tu­san Pimp­inan ABRI mulai 1–4‑1999 seba­gai Trans­for­masi Awal.

Keem­pat, peng­ha­pu­san Kekaryaan ABRI melalui kepu­tu­san pen­si­un atau alih sta­tus. (Kep: 03/)/II/1999).

Keli­ma, peng­ha­pu­san Wan­sospol­pus dan Wansospolda/Wansospolda Tk‑I.

Keenam, penyusu­tan jum­lah anggota F.TNI/Polri di DPR RI dan DPRD I dan II dalam rang­ka peng­ha­pu­san fungsi sosial poli­tik.

Ketu­juh, TNI tidak lagi ter­li­bat dalam Poli­tik Praktis/day to day Pol­i­tics.

Kede­la­pan, pemu­tu­san hubun­gan organ­isatoris den­gan Par­tai Golkar dan mengam­bil jarak yang sama den­gan semua par­pol yang ada.

Kesem­bi­lan, komit­men dan kon­sis­ten­si netral­i­tas TNI dalam Pemilu.

Kesepu­luh, penataan hubun­gan TNI den­gan KBT (Kelu­ar­ga Besar TNI).

Kese­be­las, revisi Dok­trin TNI dis­esuaikan den­gan Refor­masi dan Per­an ABRI Abad XXI.

Kedu­a­belas, peruba­han Staf Sospol men­ja­di Staf Kom­sos.

Keti­ga­belas, peruba­han Kepala Staf Sosial Poli­tik (Kas­sospol) men­ja­di Kepala Staf Ter­i­to­r­i­al (Kaster).

Keem­pat­be­las, peng­ha­pu­san Sospoldam, Babinkar­dam, Sospol­rem dan Sospoldim.

Kelima­belas, likuidasi Staf Syawan ABRI, Staf Kamtib­mas ABRI dan Babinkar ABRI.

Keenam­be­las, pen­er­a­pan akunt­abil­i­tas pub­lic ter­hadap Yayasan-yayasan milik TNI/Badan Usa­ha Militer.

Ketu­juh­be­las, likuidasi Organ­isasi Wak­il Pan­gli­ma TNI.

Kede­la­pan­be­las, peng­ha­pu­san Bako­rstanas dan Bako­rstanas­da.

Kesem­bi­lan­be­las, pene­gasan calon KDH dari TNI sudah harus pen­si­un sejak tahap pen­yaringan;

Ked­u­a­pu­luh, peng­ha­pu­san Posko Kewas­padaan;

Ked­u­a­pu­luh­satu, pen­cabu­tan materi Sospol ABRI dari kuriku­lum pen­didikan TNI.

Ked­u­a­pu­luh­d­ua, likuidasi Organ­isasi Kaster TNI.

Ked­u­a­pu­luhti­ga, likuidasi Staf Komu­nikasi Sosial (Skom­sos) TNI sesuai SKEP Pan­gli­ma TNI No.21/ VI/ 2005.

Ked­u­a­pu­luh empat, berlakun­ya dok­trin TNI Tri Dhar­ma Eka Kar­ma (Tridek) meng­gan­tikan Catur Dhar­ma Eka Kar­ma (Cadek) sesuai Kepu­tu­san Pan­gli­ma TNI nomor Kep/2/I/2007 tang­gal 12 Jan­u­ari 2007.

Seba­gai alat per­ta­hanan negara, TNI berkomit­men untuk terus melan­jutkan refor­masi inter­nal TNI, seir­ing den­gan tun­tu­tan refor­masi dan kepu­tu­san poli­tik negara.

Kuti­pan : Pus­pen TNI (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *