Berita Peristiwa

Posting Kondisi Hutan Gundul, Warga Buleleng Didatangi Petugas Kehutanan

450
×

Posting Kondisi Hutan Gundul, Warga Buleleng Didatangi Petugas Kehutanan

Sebarkan artikel ini

Bali, SniperNew.id – Seo­rang war­ga Desa Amben­gan, Kabu­pat­en Bule­leng, Bali, berna­ma Nen­gah Seti­awan, men­ja­di sorotan pub­lik sete­lah ung­ga­han­nya ten­tang kon­disi hutan gun­dul di wilayah­nya viral di media sosial. Ung­ga­han terse­but awal­nya dimak­sud­kan seba­gai ben­tuk kepedu­lian ter­hadap lingkun­gan, namun jus­tru beru­jung pada kun­jun­gan dari pihak Dinas Kehutanan Kabu­pat­en Bule­leng ke rumah­nya, Selasa (07/10).

Peri­s­ti­wa ini men­ja­di bahan perbin­can­gan hangat di plat­form Threads, sete­lah akun @everythingbalii mem­bagikan video dan kro­nolo­gi keja­di­an. Dalam ung­ga­han itu dije­laskan bah­wa Nen­gah Seti­awan sem­pat mem­post­ing kon­disi hutan yang gun­dul di sek­i­tar Desa Amben­gan. Namun sete­lah video itu menye­bar luas dan viral, pihak Dinas Kehutanan men­datan­gi rumah­nya untuk mem­per­tanyakan alasan di balik postin­gan terse­but.

> “Pihak Dinas Kehutanan Bule­leng men­datan­gi rumah­nya dan mem­per­masalahkan postin­gan terse­but. Mere­ka juga mem­per­tanyakan kena­pa harus mem­post­ing hal seper­ti itu, kena­pa tidak mela­porkan dulu ke pihak Dinas Kehutanan setem­pat,” tulis akun @everythingbalii dalam keteran­gan­nya.

Video dan keteran­gan terse­but segera men­gun­dang beragam komen­tar dari neti­zen. Banyak peng­gu­na Threads yang menyayangkan sikap aparat kehutanan yang jus­tru mem­per­masalahkan ung­ga­han war­ga, bukan kon­disi hutan yang men­ja­di pokok per­soalan.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma @febrinamarie menuliskan komen­tar yang men­da­p­at ratu­san tan­da suka dari war­ganet. “Bisa-bisanya yang diper­masalahkan kena­pa dia buat postin­gan begi­tu. Mestinya yang diper­masalahkan tuh kena­pa bisa sam­pai gun­dul begi­tu hutan­nya. Kalau gak dipost­ing, emang bakal dipeduli­in?”

  Nyaris Terjun ke Sungai! Truk Hajatan Gagal Nanjak di Ngawi, Jadi Pengingat Pentingnya Waspada Berkendara

Komen­tar terse­but menggam­barkan keke­ce­waan masyarakat ter­hadap aparat yang diang­gap lebih fokus pada hal admin­is­tratif ketim­bang sub­stan­si masalah.

Komen­tar lain datang dari akun @olanfahrozi, yang menyindir sikap petu­gas kehutanan. “Kare­na orang Dinas Kehutanan lebih nya­man di kan­tor saja, tidak peduli den­gan hutan­nya. Pas viral baru sok-sokan. (Kena­pa gak lapor ke dinas kehutanan?) Bilang lo malu. Bukan­nya men­gapre­si­asi, malah meng­in­ter­ven­si.”

Semen­tara akun lain, @alfinpranata42, meny­oroti kurangnya empati dari peja­bat pub­lik ter­hadap masyarakat yang mela­porkan kere­sa­han lingkun­gan­nya:

“Orang pemer­in­tah ini bukan­nya fokus sama tugas­nya, malah mem­per­masalahkan masyarakat yang mem­post­ing soal kere­sa­han­nya.”

Keti­ga komen­tar itu mewak­ili sen­ti­men umum dari masyarakat di ruang maya, yang meni­lai bah­wa tin­dakan Dinas Kehutanan terke­san reak­tif ter­hadap kri­tik pub­lik, namun tidak proak­tif ter­hadap masalah lingkun­gan.

Berdasarkan keteran­gan dari ung­ga­han @everythingbalii, Nen­gah Seti­awan dike­tahui men­gung­gah video yang mem­per­li­hatkan kon­disi kawasan hutan di Desa Amben­gan yang tam­pak gun­dul dan tidak ter­awat. Ia meny­oroti hilangnya veg­e­tasi di area yang sebelum­nya dike­nal seba­gai salah satu kawasan hijau di wilayah Bule­leng.

Ung­ga­han terse­but men­ja­di viral di media sosial kare­na diang­gap mencer­minkan kere­sa­han masyarakat ter­hadap menu­run­nya kual­i­tas lingkun­gan di daer­ah pegu­nun­gan Bali Utara. Tak lama kemu­di­an, pihak Dinas Kehutanan Kabu­pat­en Bule­leng men­datan­gi rumah Nen­gah Seti­awan untuk mem­inta klar­i­fikasi dan mem­per­tanyakan motif postin­gan­nya.

Petu­gas kehutanan dise­but menyam­paikan bah­wa war­ga seharus­nya ter­lebih dahu­lu mela­por ke dinas terkait, bukan lang­sung mem­pub­likasikan di media sosial. Namun, pen­dekatan terse­but jus­tru men­u­ai kri­tik kare­na diang­gap menekan ekspre­si war­ga dan mengabaikan esen­si dari masalah lingkun­gan yang diangkat.

  Main Bola Kandas, Motor Ikut Terguling: Drama Kaget-kagetan di Depan Kosan

Dalam video yang turut diung­gah, ter­li­hat suasana di depan rumah Nen­gah Seti­awan. Beber­a­pa war­ga tam­pak hadir, ter­ma­suk sejum­lah petu­gas yang berdia­log den­gan nada cukup serius. Dari ekspre­si dan ges­tur para war­ga, ter­li­hat suasana diskusi yang tegang namun tetap dalam kori­dor sopan.

Beber­a­pa war­ga setem­pat, seba­gaimana diku­tip dari ung­ga­han terse­but, men­dukung tin­dakan Nen­gah Seti­awan. Mere­ka meni­lai bah­wa postin­gan itu bukan ben­tuk pro­vokasi, melainkan cara untuk menyuarakan kepedu­lian ter­hadap lingkun­gan yang mulai rusak.

Salah satu war­ga menye­butkan, “Kalau tidak dipost­ing, mungkin tidak ada yang tahu kon­disi hutan kami yang makin parah. Jus­tru kami berharap pihak dinas bisa turun lang­sung meli­hat kon­disi di lapan­gan.”

Kasus yang menim­pa Nen­gah Seti­awan ini memu­nculkan perde­batan etis di ruang pub­lik: sam­pai sejauh mana masyarakat boleh mengkri­tik kebi­jakan pemer­in­tah melalui media sosial, teruta­ma terkait isu lingkun­gan.

Dalam kon­teks kebe­basan berpen­da­p­at, masyarakat berhak menyam­paikan pen­da­p­at dan infor­masi, teruta­ma bila menyangkut kepentin­gan pub­lik seper­ti pelestar­i­an alam. Namun di sisi lain, aparat pemer­in­tah juga memi­li­ki hak untuk mengk­lar­i­fikasi dan mem­berikan pen­je­lasan bila ada infor­masi yang diang­gap tidak aku­rat.

Yang men­ja­di sorotan pub­lik dalam kasus ini adalah cara penyam­pa­ian aparat yang dini­lai kurang pro­por­sion­al, kare­na lang­sung men­datan­gi rumah war­ga alih-alih mem­bu­ka ruang dia­log ter­bu­ka. Banyak pihak meni­lai pen­dekatan seper­ti itu bisa menim­bulkan kesan intim­i­datif.

Kon­disi hutan di Kabu­pat­en Bule­leng sendiri memang telah men­ja­di per­ha­t­ian beber­a­pa wak­tu ter­akhir. Berdasarkan data berba­gai lem­ba­ga lingkun­gan, kawasan pegu­nun­gan di Bule­leng men­gala­mi penu­runan tutu­pan hutan aki­bat alih fungsi lahan dan peneban­gan liar.

  Jadi Catatan Buruk, Kematian Bayi di Puskesmas Tirtajaya Kerawang

Desa Amben­gan, yang dike­nal seba­gai daer­ah den­gan poten­si wisa­ta air ter­jun dan peman­dan­gan alam yang indah, kini meng­hadapi tan­ta­n­gan serius terkait pelestar­i­an lingkun­gan. Banyak war­ga meni­lai, kegiatan pem­ban­gu­nan dan kurangnya pen­gawasan turut mem­per­cepat kerusakan eko­sis­tem di wilayah terse­but.

Postin­gan seper­ti yang dilakukan oleh Nen­gah Seti­awan diang­gap pent­ing oleh seba­gian war­ga, kare­na men­ja­di ben­tuk “alarm sosial” agar pemer­in­tah lebih tang­gap ter­hadap peruba­han kon­disi alam yang ter­ja­di di daer­ah mere­ka.

Beber­a­pa penga­mat lingkun­gan meni­lai, alih-alih mem­per­masalahkan war­ga yang menyuarakan kepedu­lian, pihak dinas seharus­nya mem­bu­ka ruang dia­log dan men­jadikan lapo­ran war­ga seba­gai bahan eval­u­asi kebi­jakan.

Kasus ini, menu­rut para pemer­hati, seharus­nya men­ja­di momen­tum bagi pemer­in­tah daer­ah untuk mem­perku­at komu­nikasi pub­lik dan meningkatkan transparan­si dalam pen­gelo­laan hutan. Keter­li­batan masyarakat dalam men­ja­ga lingkun­gan harus dipan­dang seba­gai mitra ker­ja pemer­in­tah, bukan anca­man.

Kasus Nen­gah Seti­awan men­ja­di reflek­si pent­ing ten­tang hubun­gan antara masyarakat, media sosial, dan pemer­in­tah dalam meng­hadapi isu lingkun­gan. Di satu sisi, media sosial kini men­ja­di sarana efek­tif bagi war­ga untuk menyuarakan kepedu­lian. Namun di sisi lain, respons pemer­in­tah ter­hadap kri­tik pub­lik per­lu dilakukan den­gan pen­dekatan yang bijak dan edukatif.

Pub­lik berharap agar keja­di­an seper­ti ini tidak lagi teru­lang, dan agar seti­ap suara war­ga yang peduli pada alam tidak diang­gap seba­gai anca­man, melainkan seba­gai wujud cin­ta ter­hadap tanah tem­pat mere­ka berpi­jak. (abd/Ahm).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *