Jakarta, SniperNew.id — Peringatan Hari Tani Nasional tahun ini diwarnai dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh ratusan petani dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berkumpul di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/9), untuk menyuarakan aspirasi terkait konflik agraria, perlindungan terhadap petani, dan penghentian kekerasan yang masih kerap dialami kelompok tani di berbagai wilayah.
Namun ada pemandangan berbeda yang menyita perhatian publik. Di tengah aksi yang biasanya penuh ketegangan, aparat kepolisian terlihat memberikan nasi tumpeng kepada para petani. Peristiwa ini menjadi simbol kepedulian sekaligus bentuk penghormatan kepada petani yang berjuang untuk mempertahankan hak-hak mereka.
Dalam momentum Hari Tani Nasional, para petani yang hadir membawa berbagai spanduk, poster, dan atribut pertanian sebagai simbol perjuangan mereka. Mereka menuntut pemerintah untuk lebih serius dalam menangani konflik agraria, mempercepat reforma agraria sejati, serta menghentikan kriminalisasi terhadap petani yang memperjuangkan lahan garapan.
Aksi ini awalnya berlangsung dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Namun, situasi menjadi lebih cair ketika pihak kepolisian memberikan nasi tumpeng kepada massa aksi. Nasi tumpeng yang biasanya hadir dalam perayaan atau peringatan tertentu dianggap menjadi tanda penghormatan dan harapan agar tuntutan petani dapat didengar secara damai.
Peserta aksi berasal dari berbagai daerah. Mereka hadir untuk memperingati Hari Tani Nasional sekaligus menyampaikan aspirasi terkait kesejahteraan, keadilan agraria, serta perlindungan hukum.
Polisi yang bertugas mengamankan jalannya aksi bukan hanya mengawal, tetapi juga melakukan pendekatan persuasif. Dengan memberikan nasi tumpeng, polisi berusaha menunjukkan empati dan mencairkan suasana.
Kehadiran media, termasuk Metro TV yang melaporkan langsung, membuat momen ini viral di media sosial. Publik pun menaruh perhatian karena peristiwa tersebut dinilai jarang terjadi dalam konteks aksi unjuk rasa.
Lokasi: Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Tanggal 24 September diperingati setiap tahun sebagai Hari Tani Nasional, merujuk pada penetapan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960. Momen ini selalu menjadi titik penting bagi kelompok tani untuk menegaskan kembali perjuangan mereka terhadap hak atas tanah dan kesejahteraan.
Nasi tumpeng memiliki makna simbolis dalam budaya Indonesia. Biasanya disajikan dalam perayaan, syukuran, atau momentum penting. Kehadiran nasi tumpeng di tengah aksi unjuk rasa menjadi hal yang tidak biasa.
Menurut aparat kepolisian, pemberian nasi tumpeng dimaksudkan sebagai simbol kepedulian, rasa hormat, serta bentuk komunikasi non-verbal yang menekankan bahwa penyampaian aspirasi sebaiknya berlangsung damai. Dengan demikian, kehadiran polisi bukan semata-mata sebagai pengawal ketertiban, melainkan juga sebagai mitra masyarakat.
Bagi para petani, nasi tumpeng yang diberikan memiliki makna mendalam. Selain sebagai simbol penghormatan, mereka menganggap hal itu sebagai tanda bahwa perjuangan petani diakui dan diapresiasi.
Aksi unjuk rasa dimulai sejak pagi hari. Ratusan petani datang dengan membawa alat pertanian seperti caping (topi khas petani), replika cangkul, serta spanduk berisi tuntutan. Mereka berorasi di depan kantor pemerintahan, menyampaikan keluhan dan desakan agar konflik agraria segera diselesaikan.
Beberapa poin penting yang disuarakan antara lain:
1. Pemerintah diminta mempercepat reforma agraria sejati, bukan sekadar distribusi sertifikat tanah.
2. Menyelesaikan konflik lahan yang melibatkan perusahaan besar dengan masyarakat petani.
3. Menghentikan kriminalisasi dan kekerasan terhadap petani.
4. Memberikan perlindungan harga dan akses terhadap pupuk serta sarana produksi pertanian.
Suasana aksi berjalan tertib. Ketika aparat kepolisian hadir dengan membawa tumpeng, massa aksi menyambut dengan tepuk tangan. Beberapa perwakilan petani menerima tumpeng tersebut sebagai tanda persahabatan dan harapan baru.
Beberapa perwakilan petani menyatakan bahwa mereka menghargai langkah polisi yang mau menunjukkan empati. Namun mereka menekankan bahwa simbolisasi harus diikuti dengan aksi nyata, yakni keberpihakan negara dalam penyelesaian konflik agraria.
Polisi menegaskan bahwa mereka hadir bukan untuk menghalangi aspirasi, melainkan memastikan jalannya aksi berlangsung aman. Pemberian tumpeng disebut sebagai bentuk penghargaan kepada petani yang dianggap pahlawan pangan bangsa.
Media sosial ramai membicarakan peristiwa ini. Banyak yang mengapresiasi pendekatan humanis aparat, meski ada pula yang menilai bahwa langkah tersebut jangan berhenti pada simbolis semata.
Hari Tani Nasional diperingati setiap 24 September sejak ditetapkannya UUPA 1960. Undang-undang ini menjadi tonggak sejarah perjuangan petani Indonesia dalam memperoleh hak atas tanah dan menjamin pemerataan agraria.
Meski sudah lebih dari enam dekade, persoalan agraria di Indonesia masih kompleks. Data dari berbagai lembaga menyebutkan masih banyak konflik tanah antara masyarakat dengan perusahaan besar, maupun dengan pemerintah sendiri. Kondisi ini membuat Hari Tani Nasional tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga momentum konsolidasi perjuangan.
Pemberian nasi tumpeng oleh polisi di tengah aksi unjuk rasa memiliki arti simbolis yang kuat. Hal ini mencerminkan keinginan untuk membangun hubungan harmonis antara aparat keamanan dan masyarakat.
Namun, simbol tidak cukup tanpa langkah konkret. Para petani tetap menunggu realisasi dari tuntutan mereka, termasuk penyelesaian konflik agraria, pemberian akses lahan, dan penghentian tindakan represif.
Dengan demikian, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa harmoni antara rakyat dan aparat harus ditopang oleh kebijakan nyata yang berpihak pada petani.
Aksi unjuk rasa memperingati Hari Tani Nasional di Jakarta tahun ini meninggalkan kesan berbeda. Pemberian nasi tumpeng oleh kepolisian menandai adanya upaya pendekatan persuasif dalam mengawal aspirasi rakyat.
Meski begitu, perjuangan para petani belum selesai. Mereka masih menunggu janji pemerintah untuk menyelesaikan konflik agraria, menghentikan kriminalisasi, serta memberikan perlindungan yang nyata.
Hari Tani Nasional 2025 pun tidak hanya menjadi ajang simbolik, tetapi juga momentum refleksi tentang sejauh mana negara hadir untuk petani sebagai penopang ketahanan pangan bangsa. (abd)













