Berita Peristiwa

Preman Diduga Bayaran Ancam Warga Jahab dengan Senjata Tajam

723
×

Preman Diduga Bayaran Ancam Warga Jahab dengan Senjata Tajam

Sebarkan artikel ini

Kutai Kar­tane­gara, 1 Okto­ber 2025 – Situ­asi mencekam ter­ja­di di Kelu­ra­han Jahab, Keca­matan Teng­garong, Kabu­pat­en Kutai Kar­tane­gara, pada Rabu (1/10/2025). Sekelom­pok orang yang diduga meru­pakan pre­man bayaran dik­abarkan hen­dak meny­erang war­ga den­gan meng­gu­nakan sen­ja­ta tajam beru­pa parang dan golok. Insi­d­en ini menam­bah pan­jang daf­tar kon­flik agraria yang meli­batkan masyarakat adat den­gan perusa­haan pemegang kons­esi di daer­ah terse­but.

Menu­rut infor­masi yang beredar melalui ung­ga­han di media sosial, sekelom­pok pria ter­li­hat datang ke wilayah Jahab den­gan mem­bawa sen­ja­ta tajam. Mere­ka dise­but-sebut berni­at melakukan peny­eran­gan ter­hadap war­ga. Video yang turut beredar mem­per­li­hatkan beber­a­pa orang sedang berdiri den­gan latar pagar rumah ibadah, sam­bil mem­bawa ben­da yang diduga sen­ja­ta tajam.

Keja­di­an ini dise­but dipicu oleh kon­flik tumpang tindih antara klaim tanah adat den­gan izin kons­esi perusa­haan tam­bang dan perke­bunan. War­ga meni­lai keber­adaan kelom­pok yang datang terse­but seba­gai ben­tuk intim­i­dasi, yang dikhawatirkan dap­at menim­bulkan ben­trokan fisik di lapan­gan.

Berun­tung, hing­ga beri­ta ini dis­usun, aksi peny­eran­gan secara lang­sung belum ter­ja­di. Namun, anca­man nya­ta dari keber­adaan sen­ja­ta tajam yang dibawa kelom­pok terse­but sudah cukup mem­bu­at masyarakat was-was.

Insi­d­en ini berlang­sung di Kelu­ra­han Jahab, Keca­matan Teng­garong, Kabu­pat­en Kutai Kar­tane­gara, Kali­man­tan Timur. Wilayah Jahab sendiri dike­nal seba­gai salah satu kawasan yang masih kuat memegang tra­disi dan tanah adat.

  Kepala KCP BRI Cempaka Putih Diduga Diculik di Pasar Rebo

Namun, belakan­gan wilayah ini masuk dalam peta izin kons­esi beber­a­pa perusa­haan tam­bang dan perke­bunan. Tumpang tindih klaim tanah ini­lah yang men­ja­di latar belakang kon­flik berkepan­jan­gan antara war­ga adat dan pihak perusa­haan.

Peri­s­ti­wa yang menim­bulkan kere­sa­han war­ga ini ter­ja­di pada Rabu, 1 Okto­ber 2025. Ung­ga­han terkait insi­d­en terse­but per­ta­ma kali muncul di media sosial sek­i­tar 10 jam sete­lah keja­di­an berlang­sung, dan lang­sung menye­bar luas.

Ada dua pihak uta­ma yang ter­li­bat dalam kon­flik ini:

1. Kelom­pok Orang yang Diduga Pre­man Bayaran – Mere­ka datang ke lokasi den­gan mem­bawa sen­ja­ta tajam. Hing­ga kini, iden­ti­tas kelom­pok terse­but masih belum jelas, namun masyarakat menud­ing bah­wa mere­ka dikir­im oleh pihak yang memi­li­ki kepentin­gan atas lahan.

2. Masyarakat Adat Jahab – War­ga yang sela­ma ini men­em­pati wilayah terse­but secara turun-temu­run merasa terusik oleh anca­man dari kelom­pok bersen­ja­ta. Mere­ka mene­gaskan bah­wa tanah yang mere­ka tem­pati meru­pakan warisan leluhur yang wajib dija­ga.

Selain ked­ua pihak itu, ada juga pihak perusa­haan tam­bang dan perke­bunan yang dise­but seba­gai pemegang kons­esi di wilayah terse­but. Meskipun belum ada perny­ataan res­mi dari perusa­haan terkait dugaan keter­li­batan mere­ka, kon­flik agraria yang ter­ja­di men­ja­di latar belakang kecuri­gaan war­ga.

Akar masalah dari peri­s­ti­wa ini adalah tumpang tindih klaim tanah. Masyarakat adat di Kelu­ra­han Jahab meyaki­ni bah­wa lahan yang mere­ka tem­pati meru­pakan tanah adat yang diwariskan secara turun-temu­run. Mere­ka menun­tut pen­gakuan dan per­lin­dun­gan dari negara atas wilayah adat terse­but.

Di sisi lain, pemer­in­tah mem­berikan izin kons­esi kepa­da perusa­haan tam­bang dan perke­bunan untuk men­gelo­la lahan di kawasan terse­but. Hal ini menim­bulkan gesekan kepentin­gan yang beru­jung pada kon­flik hor­i­zon­tal antara war­ga dan pihak yang men­dukung perusa­haan.

  Kebakaran Hebat Landa Pabrik di Cibinong, Asap Pekat Terlihat hingga Radius 1 Kilometer

Kehadi­ran kelom­pok yang diduga pre­man bayaran den­gan mem­bawa sen­ja­ta tajam semakin mem­perkeruh suasana. War­ga meni­lai hal terse­but seba­gai upaya intim­i­dasi agar mere­ka mening­galkan tanah yang telah mere­ka tem­pati sejak lama.

Masyarakat Jahab kini hidup dalam ketaku­tan. Kehadi­ran orang-orang bersen­ja­ta mem­bu­at mere­ka was­pa­da ter­hadap kemu­ngk­i­nan ter­jadinya ben­trokan. Dalam perny­ataan­nya, tokoh adat mene­gaskan bah­wa mere­ka tidak akan mundur dari tanah leluhur mes­ki men­da­p­at anca­man.

Selain itu, masyarakat adat juga terus menyuarakan tun­tu­tan mere­ka agar pemer­in­tah daer­ah maupun pusat segera turun tan­gan menye­le­saikan kon­flik. Mere­ka mem­inta:

Pen­gakuan hukum ter­hadap tanah adat. Per­lin­dun­gan kea­manan agar tidak lagi ter­ja­di intim­i­dasi. Eval­u­asi izin kons­esi perusa­haan yang tumpang tindih den­gan klaim tanah adat.

Hing­ga saat ini, belum ada keteran­gan res­mi dari pihak kepolisian maupun pemer­in­tah daer­ah terkait insi­d­en di Kelu­ra­han Jahab. Namun, pub­lik menaruh hara­pan besar agar aparat segera mengam­bil langkah pre­ven­tif untuk menghin­dari ben­trokan yang dap­at men­gor­bankan nyawa.

Lem­ba­ga swa­daya masyarakat (LSM) yang berg­er­ak di bidang lingkun­gan dan hak-hak masyarakat adat juga menyerukan per­lun­ya medi­asi antara war­ga den­gan perusa­haan. Mere­ka menekankan bah­wa hak-hak masyarakat adat harus dilin­dun­gi, sesuai den­gan amanat kon­sti­tusi dan undang-undang.

Kon­flik tanah adat bukan­lah hal baru di Kabu­pat­en Kutai Kar­tane­gara. Dalam beber­a­pa tahun ter­akhir, kasus seru­pa juga ser­ing muncul di berba­gai keca­matan, teruta­ma di wilayah yang memi­li­ki cadan­gan tam­bang melimpah atau lahan sub­ur untuk perke­bunan.

Menu­rut catatan organ­isasi masyarakat sip­il, seba­gian besar kon­flik agraria dipicu oleh:

1. Tumpang tindih izin lahan antara masyarakat adat, perusa­haan, dan bahkan pemer­in­tah daer­ah.

  Tragis! Terduga Pencuri Dibakar Massa, Publik Terguncang

2. Kurangnya par­tisi­pasi war­ga dalam pros­es pem­ber­ian izin kons­esi.

3. Min­im­nya per­lin­dun­gan hukum bagi masyarakat adat.

 

Kasus di Jahab men­ja­di salah satu potret bagaimana kete­gan­gan terse­but bisa berubah men­ja­di anca­man kek­erasan jika tidak segera ditan­gani secara serius.

Sejum­lah pihak mende­sak agar pemer­in­tah daer­ah Kutai Kar­tane­gara bersama aparat pene­gak hukum segera melakukan langkah-langkah berikut:

Men­gusut keber­adaan kelom­pok bersen­ja­ta yang diduga pre­man bayaran. Men­jamin kese­la­matan masyarakat adat yang kini bera­da dalam posisi tertekan. Menin­jau ulang izin kons­esi yang menim­bulkan kon­flik den­gan masyarakat adat.

Men­dorong dia­log ter­bu­ka antara perusa­haan, war­ga, dan pemer­in­tah den­gan pen­dampin­gan lem­ba­ga inde­pen­den.

Masyarakat Jahab berharap agar kon­flik ini dap­at dis­e­le­saikan secara damai. Mere­ka mene­gaskan bah­wa tun­tu­tan mere­ka bukan­lah sesu­atu yang berlebi­han, melainkan hak dasar untuk mem­per­ta­hankan tanah warisan leluhur.

“Kami hanya ingin hidup ten­ang di tanah kami sendiri, tan­pa intim­i­dasi, tan­pa kek­erasan,” ujar salah satu tokoh adat yang eng­gan dise­butkan namanya.

Insi­d­en anca­man oleh kelom­pok diduga pre­man bayaran di Kelu­ra­han Jahab men­ja­di peringatan keras bagi pemer­in­tah dan aparat kea­manan. Kon­flik agraria yang tidak kun­jung terse­le­saikan berpoten­si memicu kek­erasan ter­bu­ka di masyarakat.

Kasus ini mene­gaskan pent­ingnya pen­gakuan hak masyarakat adat ser­ta per­lun­ya kete­gasan aparat dalam men­ja­ga kea­manan dan menin­dak pihak-pihak yang beru­paya menim­bulkan kere­sa­han.

Selu­ruh ele­men, baik pemer­in­tah, aparat, masyarakat adat, maupun perusa­haan, harus segera duduk bersama men­cari solusi yang adil dan damai. Jika tidak, kon­flik seper­ti ini dikhawatirkan akan terus beru­lang di berba­gai daer­ah lain di Indone­sia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *