Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Orangutan Kalimantan Kehilangan Rumah: Jeritan Sunyi dari Hutan yang Hilang

491
×

Orangutan Kalimantan Kehilangan Rumah: Jeritan Sunyi dari Hutan yang Hilang

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id -- Defor­estasi besar-besaran kem­bali men­ja­di sorotan pub­lik sete­lah ung­ga­han di media sosial menampilkan seekor orang­utan Kali­man­tan yang tam­pak bert­e­duh di depan rumah war­ga. Video terse­but, diung­gah oleh akun @yosep_alexander18 di plat­form Threads, mem­per­li­hatkan bagaimana sat­wa lang­ka itu kehi­lan­gan habi­tat alaminya aki­bat alih fungsi hutan men­ja­di perke­bunan saw­it, tam­bang, dan peruma­han.

  Satu Arah ke Jakarta, Lalin Puncak Padat di Akhir Pekan

Dalam ung­ga­han itu dije­laskan bah­wa hutan memi­li­ki per­an pent­ing seba­gai habi­tat bagi flo­ra dan fau­na, tem­pat berlin­dung ser­ta tem­pat bernaung dari panas dan hujan.

Namun, aktiv­i­tas defor­estasi yang marak, teruta­ma di wilayah Kali­man­tan Ten­gah, kini men­gan­cam kelang­sun­gan hidup berba­gai sat­wa, ter­ma­suk orang­utan. Lokasi keja­di­an dise­but bera­da di Taman Nasion­al Tan­jung Put­ing.

Ung­ga­han terse­but men­u­ai beragam tang­ga­pan war­ganet. Peng­gu­na @maryeta.p menandai akun @aljazeeraenglish dan @wwf, menyuarakan kepri­hati­nan­nya atas “keser­aka­han tam­bang dan perke­bunan saw­it” yang meng­han­curkan hutan Indone­sia.

  Sah di Rumah: Akad Nikah Penuh Haru Muhliyanto–Noviyana

Ia menulis bah­wa masyarakat tidak tahu harus kepa­da sia­pa mem­inta kead­i­lan kare­na suara mere­ka tidak per­nah diden­gar oleh pemer­in­tah.

Komen­tar lain dari @shnugraheni menye­but kerusakan habi­tat sat­wa ter­ja­di aki­bat kebi­jakan pemer­in­tah yang hanya mement­ingkan kepentin­gan prib­a­di dan golon­gan ter­ten­tu.

Semen­tara itu, @inayulanti meny­oroti angga­pan keliru seba­gian orang yang men­gang­gap orang­utan seba­gai hama kebun saw­it.

Peng­gu­na lain seper­ti @devinodile dan @megjoearee turut men­gungkap­kan kemara­han dan kesedi­han atas kon­disi terse­but. Mere­ka meni­lai hutan yang seharus­nya men­ja­di taman nasion­al kini berubah men­ja­di “paguyuban pohon saw­it,” ser­ta berharap pelaku perusakan hutan dap­at merasakan pen­der­i­taan kehi­lan­gan tem­pat ting­gal seper­ti hewan-hewan yang ter­dampak.

  FPII Lambar: Mantan PJ Bupati Harus Belajar Memanusiakan Manusia dan Hentikan Kriminalisasi Pers

Ung­ga­han ini kem­bali mem­bu­ka mata pub­lik ten­tang dampak nya­ta dari defor­estasi ter­hadap sat­wa liar dan lingkun­gan. Seru­an war­ganet mengge­ma agar pemer­in­tah, lem­ba­ga kon­ser­vasi, ser­ta masyarakat luas lebih tegas men­ja­ga kelestar­i­an hutan yang ter­sisa bukan hanya demi sat­wa, tetapi juga demi masa depan manu­sia dan bumi.

Penulis Iskan­dar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *