Jakarta, SniperNew.id -- Deforestasi besar-besaran kembali menjadi sorotan publik setelah unggahan di media sosial menampilkan seekor orangutan Kalimantan yang tampak berteduh di depan rumah warga. Video tersebut, diunggah oleh akun @yosep_alexander18 di platform Threads, memperlihatkan bagaimana satwa langka itu kehilangan habitat alaminya akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit, tambang, dan perumahan.
Dalam unggahan itu dijelaskan bahwa hutan memiliki peran penting sebagai habitat bagi flora dan fauna, tempat berlindung serta tempat bernaung dari panas dan hujan.
Namun, aktivitas deforestasi yang marak, terutama di wilayah Kalimantan Tengah, kini mengancam kelangsungan hidup berbagai satwa, termasuk orangutan. Lokasi kejadian disebut berada di Taman Nasional Tanjung Puting.
Unggahan tersebut menuai beragam tanggapan warganet. Pengguna @maryeta.p menandai akun @aljazeeraenglish dan @wwf, menyuarakan keprihatinannya atas “keserakahan tambang dan perkebunan sawit” yang menghancurkan hutan Indonesia.
Ia menulis bahwa masyarakat tidak tahu harus kepada siapa meminta keadilan karena suara mereka tidak pernah didengar oleh pemerintah.
Komentar lain dari @shnugraheni menyebut kerusakan habitat satwa terjadi akibat kebijakan pemerintah yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan tertentu.
Sementara itu, @inayulanti menyoroti anggapan keliru sebagian orang yang menganggap orangutan sebagai hama kebun sawit.
Pengguna lain seperti @devinodile dan @megjoearee turut mengungkapkan kemarahan dan kesedihan atas kondisi tersebut. Mereka menilai hutan yang seharusnya menjadi taman nasional kini berubah menjadi “paguyuban pohon sawit,” serta berharap pelaku perusakan hutan dapat merasakan penderitaan kehilangan tempat tinggal seperti hewan-hewan yang terdampak.
Unggahan ini kembali membuka mata publik tentang dampak nyata dari deforestasi terhadap satwa liar dan lingkungan. Seruan warganet menggema agar pemerintah, lembaga konservasi, serta masyarakat luas lebih tegas menjaga kelestarian hutan yang tersisa bukan hanya demi satwa, tetapi juga demi masa depan manusia dan bumi.
Penulis Iskandar.













