Muaro Jambi, SniperNew.id – Suasana hangat bercampur haru mewarnai pertemuan antara orang tua murid peserta drumband MTSN 7 Muaro Jambi dengan Camat Sungai Bahar, Agus Riyadi, di Sekolah MTSN 7 Bang, Unit 2 Desa Marga Mulya, Selasa (19/8/2025) siang, Selasa (19/08/2025).
Dalam kesempatan itu, sejumlah orang tua menyampaikan kekecewaan mereka terkait keikutsertaan anak-anak dalam kegiatan drumband yang disebut belum sepenuhnya sesuai dengan harapan.
Informasi mengenai pertemuan ini pertama kali mencuat setelah akun media sosial Treands dengan nama pengguna cititvjambi mengunggah kutipan: “Orang tua murid peserta drumband MTSN 7 Muaro Jambi mengungkapkan kekecewaan mereka di hadapan Camat Sungai Bahar, Agus Riyadi. Pertemuan tersebut berlangsung di Sekolah MTSN 7 Bang, Unit 2 Desa Marga Mulya, Muaro Jambi Selasa Siang.”
Unggahan tersebut ramai mendapat perhatian warganet, apalagi disertai dengan tagar #drumbandKecewa, #ultahCamat, dan #hutrike80, sehingga menimbulkan berbagai penafsiran di masyarakat.
Kegiatan drumband MTSN 7 Muaro Jambi sebenarnya dirancang sebagai salah satu bentuk ekstrakurikuler unggulan sekolah. Selain melatih kedisiplinan, kerja sama, dan kreativitas siswa, drumband juga kerap dipertunjukkan dalam berbagai acara seremonial, termasuk peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kecamatan Sungai Bahar yang berlangsung pekan lalu.
Namun, menurut penuturan sejumlah wali murid, persiapan kegiatan tersebut dinilai kurang maksimal. Beberapa di antara mereka menyoroti persoalan teknis, seperti pembagian jadwal latihan yang padat, biaya seragam yang dianggap cukup memberatkan, hingga fasilitas alat musik yang belum sepenuhnya memadai.
“Anak-anak memang senang ikut drumband, tapi kami sebagai orang tua merasa terbebani karena banyak kebutuhan yang mendadak. Kami berharap ke depan bisa lebih terorganisir,” ungkap salah seorang wali murid saat menyampaikan aspirasinya kepada Camat.
Dalam forum tatap muka tersebut, Camat Sungai Bahar, Agus Riyadi, dengan tenang mendengarkan keluh kesah yang disampaikan. Agus menegaskan bahwa pemerintah kecamatan mendukung penuh kegiatan ekstrakurikuler sekolah, termasuk drumband, karena sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas generasi muda.
“Suara orang tua murid sangat penting. Kami berterima kasih atas masukan yang disampaikan. Kegiatan drumband ini memang menjadi kebanggaan kita semua, namun tentu harus dikelola dengan baik agar tidak membebani siswa maupun orang tua,” ujar Agus Riyadi.
Ia menambahkan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mencari solusi terbaik. “Nanti kita akan bahas bersama kepala sekolah dan guru pembina drumband agar ke depan ada perbaikan. Intinya, jangan sampai anak-anak kita kehilangan semangat belajar hanya karena ada kendala dalam kegiatan ekstrakurikuler,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala MTSN 7 Muaro Jambi menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang hadir. Ia menilai bahwa masukan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan anak.
“Kami memahami ada kekecewaan yang muncul. Namun pada dasarnya, semua kegiatan kami rancang demi kebaikan siswa. Kami terbuka terhadap kritik dan siap melakukan evaluasi, termasuk soal anggaran dan fasilitas latihan drumband,” ujar kepala sekolah.
Menurutnya, persoalan biaya seragam dan perlengkapan sebenarnya sudah melalui musyawarah dengan perwakilan orang tua. Meski demikian, pihak sekolah berjanji akan memperbaiki mekanisme komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Sejak unggahan cititvjambi beredar, berbagai komentar warganet muncul di media sosial. Sebagian menyatakan dukungan kepada para orang tua yang menyuarakan aspirasi mereka, sementara sebagian lain berharap agar persoalan ini tidak dibesar-besarkan.
“Apa pun masalahnya, drumband itu bagus buat anak-anak. Jangan sampai jadi bahan polemik, sebaiknya duduk bersama cari solusi,” tulis salah satu akun Facebook yang ikut membagikan unggahan tersebut.
Ada pula warganet yang mengaitkan tagar #ultahCamat dan #hutrike80, menilai bahwa munculnya isu ini tidak lepas dari momentum perayaan ulang tahun kecamatan. Meski begitu, pihak Camat menegaskan bahwa hal tersebut hanyalah kebetulan.
Baik pihak orang tua, sekolah, maupun pemerintah kecamatan sepakat untuk menjadikan pertemuan ini sebagai langkah awal perbaikan. Mereka berharap, kegiatan drumband tetap bisa berjalan dengan baik tanpa menimbulkan beban berlebihan.
“Anak-anak sudah terlanjur cinta sama drumband. Kami orang tua hanya ingin kegiatan ini lebih tertata, biaya jelas, dan komunikasi lancar. Kalau itu terpenuhi, kami akan sangat mendukung,” kata salah satu wali murid lainnya.
Camat Sungai Bahar juga menekankan pentingnya menjadikan persoalan ini sebagai pelajaran bersama. “Intinya, mari kita jaga semangat anak-anak. Mereka generasi penerus yang harus kita dukung. Kalau ada masalah teknis, insya Allah bisa kita carikan jalan keluar,” tutup Agus Riyadi.
Kasus yang terjadi di MTSN 7 Muaro Jambi menjadi cerminan bahwa partisipasi orang tua sangat penting dalam dunia pendidikan. Aspirasi yang disampaikan tidak hanya sebatas kritik, tetapi juga wujud kepedulian terhadap perkembangan anak.
Dengan adanya komitmen bersama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah daerah, diharapkan kegiatan ekstrakurikuler seperti drumband dapat terus berkembang menjadi sarana pembinaan karakter dan bakat siswa, sekaligus menjaga keharmonisan antara semua pihak yang terlibat.
Editor: (Ahmad)



















