Berita Pendidikan

Orang Tua Diminta Waspada, Bullying Bernuansa Iman Ancam Anak di Sekolah

323
×

Orang Tua Diminta Waspada, Bullying Bernuansa Iman Ancam Anak di Sekolah

Sebarkan artikel ini

Ban­dar Lam­pung, SniperNew.id — Pesan singkat yang beredar melalui media sosial belakan­gan ini kem­bali menge­tuk kesadaran pub­lik, khusus­nya para orang tua. Dalam ung­ga­han akun sosial media Tre­ands “yerry_pattinasarany”, ter­sam­paikan peringatan keras agar orang tua lebih mem­per­hatikan kon­disi seko­lah anak-anak, teruta­ma dalam kai­tan­nya den­gan maraknya kasus bul­ly­ing, Selasa (19/08/2025).

Pesan terse­but berbun­yi:
“Per­hatikan kon­disi seko­lah anak-anak kita, pastikan mere­ka tidak men­ja­di kor­ban bul­ly teruta­ma kare­na iman dan keper­cayaan kita. Jika sudah tidak kon­dusif, jan­gan ragu untuk memindahkan atau home­school­ing anak kita sehing­ga tidak ada trau­ma. Bekali mere­ka den­gan iman sedi­ni mungkin sehing­ga mam­pu berta­han dalam tekanan.”

Ung­ga­han ini men­da­p­at banyak tang­ga­pan pub­lik, teruta­ma dari kalan­gan orang tua, pen­didik, hing­ga pemer­hati anak. Isu bul­ly­ing yang bernu­ansa iman, aga­ma, atau keyak­i­nan dini­lai berba­haya dan berpoten­si menim­bulkan luka psikol­o­gis yang dalam bagi anak-anak.

Fenom­e­na bul­ly­ing bukan­lah hal baru dalam dunia pen­didikan. Bul­ly­ing tidak hanya beru­pa kek­erasan fisik, tetapi juga ejekan, intim­i­dasi, dan diskrim­i­nasi yang bisa berlang­sung terus-menerus. Yang pal­ing mengkhawatirkan adalah jika perun­dun­gan itu ter­ja­di kare­na fak­tor iden­ti­tas, ter­ma­suk perbe­daan iman dan keper­cayaan.

Psikolog pen­didikan, dr. Siti Rah­ma­ni­ah, M.Psi, men­je­laskan bah­wa bul­ly­ing yang bernu­ansa aga­ma lebih sulit dis­em­buhkan diband­ingkan ben­tuk bul­ly­ing lain.

  Hari Pertama Sekolah, Peluk Cinta Murid SDN Tanjungsari Viral Harukan

“Anak yang men­ja­di kor­ban biasanya merasa dirinya dito­lak secara total. Mere­ka bukan hanya diren­dahkan secara per­son­al, tetapi juga dihubungkan den­gan keyak­i­nan yang dianut kelu­ar­ganya. Dampaknya bisa melu­as hing­ga mem­pen­garuhi har­ga diri dan perkem­ban­gan sosial anak,” ujarnya.

Pesan dari ung­ga­han terse­but menekankan pent­ingnya kewas­padaan orang tua. Menu­rut data KPAI, kasus perun­dun­gan di seko­lah terus meningkat dalam lima tahun ter­akhir. Di antaranya, kasus yang bernu­ansa aga­ma juga ikut dila­porkan, mes­ki ser­ing kali sulit dibuk­tikan kare­na diang­gap seba­gai “bercan­da” oleh pelaku.

Prak­tisi pen­didikan, Yusuf Hen­drawan, meni­lai langkah untuk memindahkan anak dari seko­lah yang tidak kon­dusif adalah pil­i­han real­is­tis. “Jika seko­lah tidak mam­pu mem­berikan lingkun­gan aman, maka orang tua berhak men­cari alter­natif lain, ter­ma­suk home­school­ing. Yang ter­pent­ing adalah kese­hatan men­tal anak tetap ter­ja­ga,” jelas­nya.

Orang tua, menu­rut Yusuf, harus proak­tif. “Jan­gan hanya per­caya pada lapo­ran seko­lah. Den­garkan ceri­ta anak, cer­mati peruba­han sikap­nya. Anak yang ser­ing murung, eng­gan ke seko­lah, atau kehi­lan­gan seman­gat bela­jar bisa jadi sedang men­gala­mi tekanan di lingkun­gan seko­lah.”

Ung­ga­han itu juga menye­butkan home­school­ing seba­gai jalan kelu­ar. Home­school­ing atau seko­lah rumah, kini semakin banyak dip­il­ih orang tua di Indone­sia. Data Asosi­asi Seko­lah Rumah dan Pen­didikan Alter­natif (Asah Pena) men­catat kenaikan sig­nifikan peser­ta home­school­ing sejak pan­de­mi hing­ga saat ini.

Alasan memil­ih home­school­ing beragam, mulai dari flek­si­bil­i­tas, lingkun­gan bela­jar yang lebih aman, hing­ga alasan per­lin­dun­gan ter­hadap kasus bul­ly­ing.

  Wina Astuti Resmi lulusan Doktor Pendidikan di Universitas Lampung

“Home­school­ing bukan sekadar memindahkan anak bela­jar di rumah. Ini juga ten­tang mem­ban­gun ruang aman, mem­bekali anak den­gan nilai-nilai iman, ser­ta menanamkan karak­ter sejak dini,” kata Lidya Mar­i­ani, peng­giat home­school­ing di Jakar­ta.

Menu­rut Lidya, mes­ki masih ada stig­ma bah­wa home­school­ing mengiso­lasi anak dari lingkun­gan sosial, fak­tanya banyak komu­ni­tas home­school­ing yang jus­tru aktif mem­ban­gun inter­ak­si sosial sehat melalui kegiatan bersama, kelas komu­ni­tas, hing­ga out­ing edukatif.

Mes­ki home­school­ing bisa men­ja­di solusi, para ahli menekankan bah­wa tang­gung jawab uta­ma sebe­narnya ada di pihak seko­lah. Seko­lah harus mam­pu men­cip­takan lingkun­gan inklusif dan aman bagi selu­ruh siswa tan­pa mem­be­dakan latar belakang aga­ma atau keyak­i­nan.

Pakar kebi­jakan pen­didikan, Dr. Ahmad Fathoni, meni­lai pemer­in­tah juga harus turun tan­gan serius. “Bul­ly­ing bernu­ansa aga­ma tidak boleh diang­gap sepele. Harus ada mekanisme pen­gawasan, sanksi, ser­ta pro­gram pen­didikan mul­ti­kul­tur­al yang kuat di seko­lah. Anak-anak per­lu dia­jarkan sejak dini ten­tang tol­er­an­si, sal­ing meng­har­gai, dan empati,” tegas­nya.

Menu­rut­nya, jika seko­lah gagal mene­gakkan prin­sip ini, maka gen­erasi muda berpoten­si tum­buh dalam budaya intol­er­an­si yang merugikan bangsa.

Trau­ma aki­bat bul­ly­ing bukan­lah hal remeh. Banyak penelit­ian menye­butkan bah­wa kor­ban bul­ly­ing berisiko men­gala­mi depre­si, kece­masan, bahkan gang­guan keprib­a­di­an saat dewasa.

Psikolog anak, Dewi Kur­ni­asih, mengin­gatkan bah­wa pence­ga­han adalah langkah ter­baik. “Orang tua harus mem­bekali anak den­gan iman, keper­cayaan diri, dan kemam­puan meng­hadapi tekanan. Tapi yang pal­ing pent­ing, anak harus merasa bah­wa mere­ka pun­ya tem­pat aman untuk berceri­ta — baik di rumah maupun di seko­lah.”

  AIPTU H. Swandi Sinaga Hadiri Kegiatan Pelepasan Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Kec. Sitiotio Kab.Samosir

Ia juga menekankan pent­ingnya lit­erasi dig­i­tal bagi orang tua agar lebih cepat mende­tek­si jika ada indikasi anaknya jadi kor­ban perun­dun­gan. “Saat ini bul­ly­ing tidak hanya ter­ja­di di ruang kelas, tetapi juga di dunia maya. Cyber­bul­ly­ing bernu­ansa aga­ma makin ser­ing muncul. Ini lebih berba­haya kare­na bisa menye­bar cepat dan sulit diha­pus,” ujarnya.

Pen­didikan seharus­nya men­ja­di ruang per­tum­buhan yang aman, bukan sum­ber ketaku­tan. Oleh kare­na itu, pesan dari ung­ga­han “yerry_pattinasarany” diang­gap rel­e­van untuk kem­bali mengin­gatkan masyarakat.

Seti­ap orang tua diim­bau untuk tidak menut­up mata. Jika seko­lah tidak kon­dusif, langkah memindahkan anak bukan berar­ti ben­tuk kekala­han, melainkan usa­ha melin­dun­gi mere­ka dari luka batin berkepan­jan­gan.

Semen­tara itu, bagi lem­ba­ga pen­didikan, isu ini harus men­ja­di reflek­si. Guru, kepala seko­lah, hing­ga pemer­in­tah daer­ah wajib mem­per­ke­tat pen­gawasan, mem­ban­gun budaya seko­lah yang sehat, dan mengede­pankan nilai tol­er­an­si.

Bul­ly­ing, teruta­ma yang bernu­ansa iman dan keper­cayaan, adalah anca­man serius yang bisa merusak gen­erasi. Pesan singkat yang sem­pat viral di media sosial terse­but layak dijadikan peringatan bagi semua pihak.

Anak-anak adalah masa depan bangsa. Mere­ka berhak tum­buh dalam lingkun­gan pen­didikan yang aman, ramah, dan meng­har­gai keber­aga­man. Jan­gan sam­pai trau­ma aki­bat perun­dun­gan mem­bu­at mere­ka kehi­lan­gan seman­gat bela­jar dan keper­cayaan diri.

Orang tua, seko­lah, dan pemer­in­tah harus bahu mem­bahu. Kare­na melin­dun­gi anak dari bul­ly­ing bukan sekadar tang­gung jawab indi­vidu, tetapi juga tang­gung jawab bersama seba­gai bangsa.

Edi­tor (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *