Berita Peristiwa

Oknum Parkir Diduga Jual Nomor Antrian RSU Tanjung Pura, Warga Langkat Resah

410
×

Oknum Parkir Diduga Jual Nomor Antrian RSU Tanjung Pura, Warga Langkat Resah

Sebarkan artikel ini

Langkat, SniperNew.id - Sebuah video yang diung­gah akun media sosial @mudanewscom di Threads mem­per­li­hatkan dugaan prak­tik jual beli nomor antri­an di Polik­linik RSU Tan­jung Pura, Kabu­pat­en Langkat, Sumat­era Utara. Video terse­but meman­tik per­ha­t­ian war­ganet sete­lah mem­per­li­hatkan seo­rang petu­gas parkir yang mengam­bil banyak nomor antri­an sejak pagi hari. Nomor-nomor itu diduga dijual kepa­da pasien yang mem­bu­tuhkan pelayanan cepat.

Peri­s­ti­wa ini segera men­u­ai kri­tik dari masyarakat setem­pat, kare­na prak­tik terse­but dini­lai merugikan pasien lain dan menun­jukkan lemah­nya pen­gawasan ter­hadap pelayanan pub­lik.

Oknum yang dise­but dalam ung­ga­han itu adalah seo­rang petu­gas parkir di RSU Tan­jung Pura. Dalam keteran­gan ung­ga­han, ia diduga mengam­bil banyak nomor antri­an dari mesin antri­an polik­linik rumah sak­it terse­but.

Ung­ga­han menye­butkan, tin­dakan ini dilakukan tan­pa pen­gawasan ketat dari petu­gas kea­manan (sat­pam) rumah sak­it. Iden­ti­tas petu­gas parkir itu tidak diungkap­kan dalam ung­ga­han maupun oleh pihak terkait, sehing­ga sta­tus­nya hing­ga kini belum dap­at dipastikan secara res­mi.

Selain petu­gas parkir, pihak rumah sak­it, teruta­ma man­a­je­men RSU Tan­jung Pura dan petu­gas kea­manan, juga men­ja­di sorotan masyarakat. Mere­ka dini­lai memi­li­ki tang­gung jawab untuk memas­tikan sis­tem antri­an ber­jalan adil dan transparan.

Menu­rut keteran­gan yang dit­ulis dalam ung­ga­han @mudanewscom, petu­gas parkir mengam­bil banyak nomor antri­an ke polik­linik RSU Tan­jung Pura untuk kemu­di­an dijual kepa­da pasien yang memer­lukan layanan cepat. Prak­tik ini berlang­sung keti­ka mesin antri­an baru dibu­ka di pagi hari. Den­gan cara terse­but, petu­gas parkir diduga bisa men­gen­da­likan seba­gian besar nomor antri­an awal dan men­jual­nya kepa­da pasien lain.

  Sinyal Padam, Warga Marelan Terjebak Banjir Tanpa Komunikasi

Video yang diung­gah menun­jukkan suasana di sek­i­tar mesin antri­an rumah sak­it. Dalam video berdurasi pen­dek itu, ter­li­hat seo­rang indi­vidu mengam­bil ker­tas nomor antri­an dari mesin. Di sek­i­tar mesin antri­an, tam­pak pula beber­a­pa war­ga lain.

Meskipun video terse­but tidak menampilkan transak­si jual-beli secara lang­sung, keteran­gan pada ung­ga­han mene­gaskan bah­wa tin­dakan pengam­bi­lan banyak nomor itu diman­faatkan untuk tujuan komer­sial.

Ung­ga­han terse­but berbun­yi. “Seo­rang Petu­gas Parkir mengam­bil banyak No Antri­an ke Polik­linik RSU Tan­jung Pura, Langkat – Sumut untuk di Jual Beli den­gan orang yang butuh cepat pelayanan di RSU tan­pa ada kon­trol dari Sat­pam begi­tu mesin antri­an di buka di pagi hari. (22/09/2025)..

Peri­s­ti­wa ini dila­porkan ter­ja­di pada Senin, 22 Sep­tem­ber 2025, di pagi hari keti­ka mesin antri­an rumah sak­it mulai diop­erasikan. Video terse­but diung­gah sek­i­tar 24 menit sebelum tangka­pan layar diam­bil dan telah diton­ton ratu­san kali di Threads.

Lokasi keja­di­an adalah RSU Tan­jung Pura, sebuah rumah sak­it umum yang bera­da di Kabu­pat­en Langkat, Provin­si Sumat­era Utara. Rumah sak­it ini melayani ribuan pasien seti­ap bulan, teruta­ma masyarakat di sek­i­tar Keca­matan Tan­jung Pura dan wilayah sek­i­tarnya. Mesin antri­an yang men­ja­di sorotan bera­da di area polik­linik rumah sak­it terse­but.

Dugaan moti­vasi di balik tin­dakan ini adalah keun­tun­gan prib­a­di. Den­gan mengam­bil banyak nomor antri­an lebih awal, pelaku dap­at menawarkan nomor-nomor terse­but kepa­da pasien yang ingin men­da­p­atkan pelayanan cepat tan­pa harus menung­gu lama.

Bagi pasien yang sedang ter­bu­ru-buru, memi­li­ki nomor antri­an awal ten­tu diang­gap seba­gai keun­tun­gan, mes­ki harus men­gelu­arkan biaya tam­ba­han.

Prak­tik semacam ini biasanya ter­ja­di kare­na beber­a­pa fak­tor: Kurangnya pen­gawasan: Tidak adanya kon­trol ketat dari petu­gas kea­manan atau staf rumah sak­it saat mesin antri­an dibu­ka.

  Waspada Pecah Kaca Mobil, Terjadi di Cikupa Tangerang

Tingginya kebu­tuhan layanan cepat: Polik­linik RSU Tan­jung Pura kemu­ngk­i­nan memi­li­ki antre­an pan­jang seti­ap hari, sehing­ga seba­gian pasien berse­dia mem­ba­yar untuk men­da­p­atkan nomor lebih awal.

Min­im­nya sis­tem dig­i­tal­isasi: Pros­es pengam­bi­lan nomor antri­an man­u­al den­gan ker­tas memu­ngkinkan oknum mengam­bil banyak nomor sekali­gus.

Berdasarkan ung­ga­han video dan keteran­gan yang dis­er­takan, berikut kro­nolo­gi dugaan prak­tik terse­but:

1. Pagi Hari, Mesin Antri­an Dibu­ka
Sek­i­tar pukul pagi, mesin antri­an polik­linik RSU Tan­jung Pura mulai diak­tifkan. Mesin ini biasanya digu­nakan oleh pasien untuk mengam­bil nomor antri­an sebelum men­da­p­atkan pelayanan.

2. Petu­gas Parkir Mengam­bil Banyak Nomor. Saat mesin baru dibu­ka dan belum diawasi ketat oleh sat­pam, seo­rang petu­gas parkir ter­li­hat mengam­bil banyak ker­tas nomor antri­an sekali­gus.

3. Nomor Antri­an Diduga Dijual
Nomor-nomor antri­an terse­but kemu­di­an diduga dijual kepa­da pasien lain yang mem­bu­tuhkan layanan lebih cepat. Mes­ki dalam video tidak ter­li­hat transak­si lang­sung, keteran­gan pada ung­ga­han menye­butkan prak­tik jual-beli itu dilakukan.

4. Tidak Ada Tin­dakan Kon­trol Lang­sung
Pada saat keja­di­an, tidak ada tin­dakan pence­ga­han dari pihak kea­manan rumah sak­it, sehing­ga aksi ini dap­at berlang­sung tan­pa ham­bat­an.

Video ini menim­bulkan kehe­bo­han di media sosial. Banyak war­ganet menge­cam tin­dakan terse­but kare­na diang­gap merugikan pasien lain dan men­coreng cit­ra rumah sak­it. Beber­a­pa komen­tar meny­atakan bah­wa prak­tik ini bukan hanya masalah eti­ka, tetapi juga dap­at masuk kat­e­gori pung­utan liar (pungli).

Sejum­lah war­ganet mem­inta pihak rumah sak­it segera menye­lidi­ki kebe­naran infor­masi ini. Ada juga yang men­yarankan agar sis­tem antri­an rumah sak­it didig­i­tal­isasi, mis­al­nya den­gan pendaf­taran online, sehing­ga tidak ada celah bagi oknum untuk melakukan kecu­ran­gan.

Hing­ga beri­ta ini dit­ulis, belum ada keteran­gan res­mi dari pihak RSU Tan­jung Pura atau Dinas Kese­hatan Kabu­pat­en Langkat terkait dugaan prak­tik ini. Pub­lik menung­gu klar­i­fikasi dan langkah konkret yang akan diam­bil pihak rumah sak­it, seper­ti:

  Sore Mencekam, Puting Beliung Hantam Pasar Karangpandan

Melakukan penye­lidikan inter­nal untuk memas­tikan kebe­naran video terse­but. Mem­berikan sanksi tegas jika benar ada oknum yang meman­faatkan posisinya untuk keun­tun­gan prib­a­di. Mem­per­ke­tat pen­gawasan saat mesin antri­an dibu­ka.

Meningkatkan sis­tem pelayanan, mis­al­nya den­gan sis­tem antre­an berba­sis aplikasi.

Jika prak­tik semacam ini dib­iarkan, ada beber­a­pa dampak negatif yang mungkin ter­ja­di: Keti­dakadi­lan bagi pasien: Pasien yang datang lebih awal tetapi tidak men­da­p­atkan nomor antri­an awal akan dirugikan.

Menu­run­nya keper­cayaan pub­lik: Rep­utasi RSU Tan­jung Pura dap­at ter­coreng di mata masyarakat. Poten­si pelang­garan hukum: Jual-beli nomor antri­an di fasil­i­tas pub­lik dap­at digo­longkan seba­gai pungli.

Penga­mat layanan pub­lik menekankan pent­ingnya transparan­si dan pen­gawasan. Dalam kasus ini, rumah sak­it seba­gai fasil­i­tas kese­hatan pub­lik memi­li­ki tang­gung jawab untuk men­ja­ga integri­tas sis­tem pelayanan agar tidak diman­faatkan oleh pihak yang tidak bertang­gung jawab.

Kasus dugaan jual beli nomor antri­an di RSU Tan­jung Pura, Langkat, men­ja­di peringatan serius ten­tang pent­ingnya pen­gawasan ketat di fasil­i­tas pelayanan pub­lik. Video yang diung­gah @mudanewscom menun­jukkan bagaimana celah dalam sis­tem antri­an bisa diman­faatkan oleh oknum untuk keun­tun­gan prib­a­di.

Masyarakat berharap pihak rumah sak­it segera mengam­bil langkah tegas untuk memas­tikan kead­i­lan bagi semua pasien. Mod­ernisasi sis­tem antri­an dan pen­gawasan ketat dihara­p­kan dap­at mence­gah keja­di­an seru­pa di masa depan. Transparan­si dan kecepatan respon dari pihak terkait juga dini­lai pent­ing untuk mengem­ba­likan keper­cayaan pub­lik.

Seba­gai catatan, infor­masi dalam beri­ta ini bersum­ber dari ung­ga­han video di media sosial dan keteran­gan yang meny­er­tainya. Penye­lidikan lebih lan­jut dari pihak berwe­nang masih diper­lukan untuk memas­tikan kebe­naran dugaan prak­tik jual-beli nomor antri­an terse­but. (add/Ahm).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *