SniperNew.id – Isu politik Amerika Serikat kembali memanas setelah sebuah unggahan di media sosial menyinggung kemungkinan Gubernur California, Gavin Newsom, maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Umum 2028. Unggahan itu menyebutkan bahwa Newsom akan kalah telak dalam “sejarah kekalahan besar” melawan politisi Partai Republik, JD Vance., Senin (18/08/2025).
Postingan tersebut diunggah oleh akun global_rift_ di platform Threads. “Gavin Newsom is going to run for President in 2028. He’s going to lose in a historic landslide to JD Vance,” demikian tulis akun tersebut, disertai foto Newsom dan Vance berdampingan dengan latar bendera Amerika.
Unggahan itu segera memicu perdebatan sengit di kolom komentar, dengan berbagai tanggapan pro dan kontra dari warganet.
Seorang pengguna bernama ccaragon1275 mempertanyakan dasar unggahan tersebut. Ia menyebut bahwa Newsom memiliki modal kuat untuk memenangkan pemilu.
“Gov. Newsom has the swag, the looks and mostly the Constitutional Knowledge to easily win. JD is 100% part of the Heritage Foundation who wants everything to meet their qualifications of how America should be instead of we are through our own written histories,” tulisnya.
Komentar ini menilai Newsom bukan hanya populer secara penampilan, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang konstitusi, yang dianggap sebagai bekal utama menghadapi lawan politik.
Namun tidak sedikit pula warganet yang meragukan Newsom. Seorang pengguna bernama tonyboyla menanggapi sinis dengan menuliskan, “TRIGGERED SNOWFLAKES,” disertai gambar sindiran politik.
Komentar serupa datang dari akun paullittlechild yang menilai prediksi kemenangan Vance mungkin saja tidak mustahil. “Seems unlikely,” tulisnya singkat.
Sementara akun gee_evs_ justru mempertanyakan keseriusan unggahan awal. “Is this a joke post?” tanyanya.
Isu kecurangan juga ikut mencuat dalam diskusi ini. Seorang pengguna bernama sukbut menulis, “Wow, admiring that the Republicans will definitely cheat in the next election, is a bold move!!” Komentar itu menyiratkan kekhawatiran bahwa pemilu 2028 bisa saja kembali diwarnai isu manipulasi suara.
Menanggapi hal tersebut, pengguna ronbodi membalas dengan nada sinis, “On what planet,” disertai emotikon tertawa.
Pengguna lain, rosemary.walsh.5473, menyoroti faktor kelompok lobi politik. Ia menulis, “It will depend who AIPAC wants to win it appears!” Komentar ini menyinggung peran American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), lobi politik berpengaruh di Amerika, yang sering disebut-sebut memiliki pengaruh besar dalam politik domestik.
Beberapa komentar lain juga menunjukkan betapa beragamnya opini publik terkait potensi pertarungan Newsom dan Vance.
Pengguna prometheus_f1re berpendapat, “He’ll win. The pendulum will swing back. Trump is getting everyone’s pockets.” Komentar ini menilai kubu konservatif akan kembali berjaya, mengingat dukungan mantan Presiden Donald Trump yang masih kuat.
Sementara akun valeriej1007 menyindir Vance dengan menulis, “The only thing Vance will win is the Maybelline trans pageant.”
Ada pula komentar dari helenmeo2021 yang tampak keliru menyebut nama Newsom menjadi “Neeson.” Ia menulis, “If there’s an opporyto vote Neeson will win hands down.”
Perdebatan sengit di ruang digital ini menunjukkan bahwa wacana politik Amerika Serikat terus menarik perhatian publik jauh sebelum pemilu 2028 benar-benar dimulai.
Di satu sisi, Gavin Newsom dipandang sebagai sosok progresif yang populer, berpengalaman sebagai gubernur California, serta memiliki rekam jejak dalam isu-isu sosial dan lingkungan. Di sisi lain, JD Vance, senator dari Ohio sekaligus penulis buku terkenal “Hillbilly Elegy,” dipandang sebagai representasi sayap konservatif yang semakin mendapat tempat dalam Partai Republik.
Meski unggahan awal menyebutkan Newsom akan kalah telak, komentar-komentar warganet memperlihatkan pandangan yang terbelah. Sebagian yakin Newsom akan tampil kuat dengan modal kepemimpinan dan karisma, sementara yang lain percaya Vance akan mendapat dukungan besar dari basis Partai Republik dan kelompok lobi.
Spekulasi politik yang muncul di media sosial seperti Threads ini kerap menjadi barometer awal opini publik, meski tidak selalu mencerminkan kenyataan politik di lapangan. Hingga kini, baik Gavin Newsom maupun JD Vance belum secara resmi mendeklarasikan pencalonan mereka untuk 2028.
Namun satu hal yang jelas, perdebatan sengit seputar peluang kedua tokoh ini menegaskan bahwa politik Amerika masih akan diwarnai polarisasi tajam, dengan wacana publik yang dinamis, penuh sindiran, dan terkadang jauh dari substansi.
Editor: (Ahmad).













