Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Mistik Kuda Kepang di Podorejo: Tradisi Gaib yang Tak Pernah Mati!

518
×

Mistik Kuda Kepang di Podorejo: Tradisi Gaib yang Tak Pernah Mati!

Sebarkan artikel ini

Pringsewu, SniperNew.id - Sab­tu, 19 Juli 2025 Den­tu­man ken­dang berpadu teri­akan pawang mengge­ma di tanah lapang Podor­e­jo, Pekon Rejosari, Keca­matan Pringsewu, Kabu­pat­en Pringsewu, Lam­pung.

Sek­i­las ter­den­gar seper­ti acara biasa, namun saat debu mulai bert­er­ban­gan dan para penari mulai kesu­ru­pan satu per satu, nuansa berubah drastis. Ini­lah Tir­to Ken­cono, kelom­pok seni tra­di­sion­al yang men­ja­ga hidup­nya warisan leluhur, Kuda Kepang antara seni, spir­i­tu­al­i­tas, dan keku­atan tak kasat mata.

Mengam­bil lokasi tak jauh dari SMPN 4 Pringsewu, penampi­lan kelom­pok ini bukan sekadar per­tun­jukan hibu­ran, tapi juga jadi ajang pem­buk­t­ian bah­wa keku­atan budaya lokal masih sang­gup ber­saing den­gan gem­pu­ran kon­ten mod­ern. Bahkan kini, per­tun­jukan mere­ka ker­ap viral di media sosial kare­na nuansa mist­ik dan horor yang nya­ta terasa.

Tra­disi Gaib yang Tak Per­nah Padam, Kuda Kepang atau Jaran Kepang adalah tar­i­an tra­di­sion­al Jawa yang sarat nuansa mist­ik. Para penari meng­gu­nakan kuda mainan dari anya­man bam­bu, lengkap den­gan iringan game­lan dan instru­men tra­di­sion­al. Namun, daya tarik uta­manya jus­tru pada momen kesu­ru­pan atau “nda­di” yang ker­ap ter­ja­di secara spon­tan di ten­gah-ten­gah pen­tas.

  Polres Pringsewu Gelar Patroli Intensif di Tempat Wisata

Tir­to Ken­cono bukan kelom­pok seni biasa. Diben­tuk lebih dari satu dekade lalu oleh war­ga Rejosari, mere­ka dike­nal kare­na men­ja­ga kaidah asli Kuda Kepang lengkap den­gan rit­u­al pem­bukaan, pemang­gi­lan leluhur, hing­ga pem­ber­si­han lokasi. Hal ini yang mem­bu­at per­tun­jukan mere­ka selalu dinan­ti, sekali­gus mem­bu­at bulu kuduk merind­ing.

“Yang datang bukan cuma penon­ton, kadang roh-roh pun ikut duduk di barisan belakang,” ungkap Mbah Dir­jo, sesepuh yang juga pawang uta­ma Tir­to Ken­cono.

Kese­hatan Para Penari: Antara Fisik dan Gaib. Malam Sab­tu kemarin, suasana terasa san­gat kuat. Lima penari jatuh secara serem­pak, matanya ter­ba­lik, mulut berbuih, dan mere­ka mulai menirukan ger­akan hewan dari merangkak seper­ti kuda hing­ga bergul­ing seper­ti ular. Penon­ton ter­pana, seba­gian memil­ih mundur per­la­han. Namun bagi kelom­pok ini, fenom­e­na terse­but sudah diang­gap biasa.

Menariknya, sete­lah per­tun­jukan usai, para penari kem­bali sadar tan­pa rasa sak­it sedik­it pun. Tak ada luka, tak ada memar. Ini yang men­ja­di per­ha­t­ian khusus: bagaimana kon­disi kese­hatan para penari tetap ter­ja­ga mes­ki tubuh mere­ka seo­lah dira­su­ki keku­atan supranat­ur­al?

Menu­rut pawang Tir­to Ken­cono, mere­ka men­er­ap­kan rit­u­al kese­hatan tra­di­sion­al beru­pa jamu khusus, ren­daman rem­pah, hing­ga man­di kem­bang seti­ap men­je­lang pen­tas. Selain itu, lati­han rutin tetap dilakukan, dari per­na­pasan, kelen­tu­ran tubuh, hing­ga med­i­tasi.

  Investasi Hijau Lampung Meningkat, Minat Investor Nasional Menguat

“Tubuh kami siap, jiwa kami juga dilatih untuk mener­i­ma ener­gi luar. Kalau tidak kuat, bisa gila,” ujar Riko, penari muda yang dua kali men­gala­mi pingsan berat sete­lah nda­di.

Antara Hibu­ran dan Warisan Leluhur Per­tun­jukan Kuda Kepang kini kem­bali dilirik, bukan hanya oleh war­ga lokal, tapi juga peneli­ti budaya dan penc­in­ta seni dari luar Lam­pung. Bahkan, di Tik­Tok dan Insta­gram, video pen­dek penampi­lan Tir­to Ken­cono yang menampilkan penari makan kaca dan api telah diton­ton lebih dari 1 juta kali.

Kepala Pekon Rejosari, Bapak Sutar­man, meny­atakan dukun­gan penuh ter­hadap eksis­ten­si Kuda Kepang.

Ini bukan sekadar seni, tapi warisan. Anak-anak sekarang per­lu tahu bah­wa budaya kita pun­ya keku­atan yang bahkan tak bisa dije­laskan logi­ka,” ucap­nya den­gan penuh seman­gat.

Bagi seba­gian orang, menyak­sikan Kuda Kepang bisa men­ja­di pen­gala­man yang mende­barkan, bahkan meny­er­amkan. Namun di sini­lah jus­tru daya tariknya. Unsur horor nya­ta, bukan buatan men­ja­di mag­net yang tak dim­i­li­ki seni mod­ern.

Suara cam­buk, asap dupa, tubuh yang meng­gig­il kesu­ru­pan, dan aura yang sulit dije­laskan semua ini men­jadikan Tir­to Ken­cono bukan sekadar grup seni, tapi pen­ja­ga ger­bang antara dunia nya­ta dan dunia gaib.

  Gugur dalam Tugas, Dedikasi Deden Maulana untuk Laut Nusantara

“Kadang sete­lah pen­tas, ada penon­ton yang ikut ter­bawa — kesu­ru­pan di rumah, mimpi buruk sela­ma tiga hari, atau tiba-tiba bisa bicara Jawa Kuno,” tutur Sri, war­ga sek­i­tar yang ser­ing menon­ton dari kejauhan.

Mes­ki hidup di era dig­i­tal, Tir­to Ken­cono mem­buk­tikan bah­wa seni tra­di­sion­al masih bisa trend­ing dan pun­ya tem­pat di hati gen­erasi muda. Beber­a­pa anggota mere­ka bahkan aktif men­gelo­la kanal YouTube dan Tik­Tok untuk men­gar­sip­kan per­tun­jukan, men­jawab komen­tar mist­is neti­zen, ser­ta berba­gi kisah-kisah gaib di balik layar.

Ke depan, mere­ka beren­cana mengge­lar tur spir­i­tu­al budaya ke berba­gai daer­ah Lam­pung, bahkan Jawa, mem­bawa pesan bah­wa kesen­ian tra­di­sion­al bukan sekadar tar­i­an, tapi juga cer­min dari iden­ti­tas dan keku­atan leluhur.

Bagi kamu yang ingin menyak­sikan lang­sung penampi­lan Tir­to Ken­cono, dis­arankan datang den­gan piki­ran bersih dan hati yang netral. Jan­gan menan­tang ener­gi yang tak kamu kenal, kare­na di balik indah­nya ger­akan kuda bam­bu, bisa saja ada sosok tak kasat mata yang sedang memer­hatikan­mu.

Dan satu pesan dari pawang:
“Jan­gan sesekali merekam pakai kam­era depan saat kesu­ru­pan sedang berlang­sung. Kadang, yang terekam bukan hanya penari.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *