Pringsewu, SniperNew.id - Sabtu, 19 Juli 2025 Dentuman kendang berpadu teriakan pawang menggema di tanah lapang Podorejo, Pekon Rejosari, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Sekilas terdengar seperti acara biasa, namun saat debu mulai berterbangan dan para penari mulai kesurupan satu per satu, nuansa berubah drastis. Inilah Tirto Kencono, kelompok seni tradisional yang menjaga hidupnya warisan leluhur, Kuda Kepang antara seni, spiritualitas, dan kekuatan tak kasat mata.
Mengambil lokasi tak jauh dari SMPN 4 Pringsewu, penampilan kelompok ini bukan sekadar pertunjukan hiburan, tapi juga jadi ajang pembuktian bahwa kekuatan budaya lokal masih sanggup bersaing dengan gempuran konten modern. Bahkan kini, pertunjukan mereka kerap viral di media sosial karena nuansa mistik dan horor yang nyata terasa.
Tradisi Gaib yang Tak Pernah Padam, Kuda Kepang atau Jaran Kepang adalah tarian tradisional Jawa yang sarat nuansa mistik. Para penari menggunakan kuda mainan dari anyaman bambu, lengkap dengan iringan gamelan dan instrumen tradisional. Namun, daya tarik utamanya justru pada momen kesurupan atau “ndadi” yang kerap terjadi secara spontan di tengah-tengah pentas.
Tirto Kencono bukan kelompok seni biasa. Dibentuk lebih dari satu dekade lalu oleh warga Rejosari, mereka dikenal karena menjaga kaidah asli Kuda Kepang lengkap dengan ritual pembukaan, pemanggilan leluhur, hingga pembersihan lokasi. Hal ini yang membuat pertunjukan mereka selalu dinanti, sekaligus membuat bulu kuduk merinding.
“Yang datang bukan cuma penonton, kadang roh-roh pun ikut duduk di barisan belakang,” ungkap Mbah Dirjo, sesepuh yang juga pawang utama Tirto Kencono.
Kesehatan Para Penari: Antara Fisik dan Gaib. Malam Sabtu kemarin, suasana terasa sangat kuat. Lima penari jatuh secara serempak, matanya terbalik, mulut berbuih, dan mereka mulai menirukan gerakan hewan dari merangkak seperti kuda hingga berguling seperti ular. Penonton terpana, sebagian memilih mundur perlahan. Namun bagi kelompok ini, fenomena tersebut sudah dianggap biasa.
Menariknya, setelah pertunjukan usai, para penari kembali sadar tanpa rasa sakit sedikit pun. Tak ada luka, tak ada memar. Ini yang menjadi perhatian khusus: bagaimana kondisi kesehatan para penari tetap terjaga meski tubuh mereka seolah dirasuki kekuatan supranatural?
Menurut pawang Tirto Kencono, mereka menerapkan ritual kesehatan tradisional berupa jamu khusus, rendaman rempah, hingga mandi kembang setiap menjelang pentas. Selain itu, latihan rutin tetap dilakukan, dari pernapasan, kelenturan tubuh, hingga meditasi.
“Tubuh kami siap, jiwa kami juga dilatih untuk menerima energi luar. Kalau tidak kuat, bisa gila,” ujar Riko, penari muda yang dua kali mengalami pingsan berat setelah ndadi.
Antara Hiburan dan Warisan Leluhur Pertunjukan Kuda Kepang kini kembali dilirik, bukan hanya oleh warga lokal, tapi juga peneliti budaya dan pencinta seni dari luar Lampung. Bahkan, di TikTok dan Instagram, video pendek penampilan Tirto Kencono yang menampilkan penari makan kaca dan api telah ditonton lebih dari 1 juta kali.
Kepala Pekon Rejosari, Bapak Sutarman, menyatakan dukungan penuh terhadap eksistensi Kuda Kepang.
“Ini bukan sekadar seni, tapi warisan. Anak-anak sekarang perlu tahu bahwa budaya kita punya kekuatan yang bahkan tak bisa dijelaskan logika,” ucapnya dengan penuh semangat.
Bagi sebagian orang, menyaksikan Kuda Kepang bisa menjadi pengalaman yang mendebarkan, bahkan menyeramkan. Namun di sinilah justru daya tariknya. Unsur horor nyata, bukan buatan menjadi magnet yang tak dimiliki seni modern.
Suara cambuk, asap dupa, tubuh yang menggigil kesurupan, dan aura yang sulit dijelaskan semua ini menjadikan Tirto Kencono bukan sekadar grup seni, tapi penjaga gerbang antara dunia nyata dan dunia gaib.
“Kadang setelah pentas, ada penonton yang ikut terbawa — kesurupan di rumah, mimpi buruk selama tiga hari, atau tiba-tiba bisa bicara Jawa Kuno,” tutur Sri, warga sekitar yang sering menonton dari kejauhan.
Meski hidup di era digital, Tirto Kencono membuktikan bahwa seni tradisional masih bisa trending dan punya tempat di hati generasi muda. Beberapa anggota mereka bahkan aktif mengelola kanal YouTube dan TikTok untuk mengarsipkan pertunjukan, menjawab komentar mistis netizen, serta berbagi kisah-kisah gaib di balik layar.
Ke depan, mereka berencana menggelar tur spiritual budaya ke berbagai daerah Lampung, bahkan Jawa, membawa pesan bahwa kesenian tradisional bukan sekadar tarian, tapi juga cermin dari identitas dan kekuatan leluhur.
Bagi kamu yang ingin menyaksikan langsung penampilan Tirto Kencono, disarankan datang dengan pikiran bersih dan hati yang netral. Jangan menantang energi yang tak kamu kenal, karena di balik indahnya gerakan kuda bambu, bisa saja ada sosok tak kasat mata yang sedang memerhatikanmu.
Dan satu pesan dari pawang:
“Jangan sesekali merekam pakai kamera depan saat kesurupan sedang berlangsung. Kadang, yang terekam bukan hanya penari.”



















