Lampung, SniperNew.id - Tradisi Jawa menyimpan beragam kearifan lokal yang masih dipercaya hingga kini. Salah satunya adalah perhitungan weton, yakni gabungan antara hari dan pasaran dalam kalender Jawa yang diyakini bisa menggambarkan karakter, rezeki, hingga nasib seseorang.
Salah satu weton yang menarik perhatian adalah Rabu Pahing. Menurut seorang spiritual kampung yang ditemui Liputan6, weton ini memiliki nilai neptu 16 yang terbentuk dari penjumlahan angka hari Rabu (7) dengan pasaran Pahing (9).
“Neptu Rabu Pahing adalah 16. Hasilnya menunjukkan karakter gabungan antara ketenangan, kebijaksanaan, sekaligus potensi keras kepala dan angkuh,” ujar sumber spiritual kampung tersebut yang enggan disebutkan identitasnya, Kamis (19/9/2025).
Apa Itu Neptu? Dalam tradisi Jawa, neptu merupakan bilangan yang menjadi dasar perhitungan weton. Setiap hari dan pasaran memiliki angka tertentu.
Hari Rabu: bernilai 7.
Pasaran Pahing: bernilai 9.
Total Neptu: 7 + 9 = 16.
Angka inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk menilai kecocokan jodoh, keberuntungan rezeki, hingga peruntungan dalam pekerjaan.
“Setiap orang lahir membawa watak dan takdir masing-masing. Weton ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memahami diri sendiri,” jelas sang spiritual kampung.
Menurut penuturan narasumber, orang yang lahir pada Rabu Pahing diyakini memiliki kombinasi sifat positif dan negatif.
1. Tenang dan Sabar
Pembawaan mereka cenderung menenangkan. Orang dengan weton ini jarang marah dan mampu menghadapi persoalan hidup dengan kesabaran.
2. Bijaksana dan Berhati-hati
Mereka terbiasa mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak. Karakter ini membuatnya dihormati di lingkungan sekitar.
3. Dapat Dipercaya
Kemampuan menjaga rahasia membuat mereka sering menjadi tempat curhat. “Biasanya orang dengan weton ini dipercaya dalam lingkungannya, baik keluarga maupun teman,” tambah narasumber.
4. Bersemangat„ Weton Rabu Pahing juga dikenal gigih. Mereka memiliki semangat juang tinggi dan tidak mudah menyerah.
5. Mandiri, Cenderung mengandalkan diri sendiri dan enggan bergantung kepada orang lain.
1. Keras Kepala dan Angkuh
Kesulitan menerima pendapat orang lain menjadi salah satu sisi negatif. Kadang mereka sulit dipengaruhi dan enggan mengalah.
2. Cenderung Serakah, Dalam kondisi tertentu, sifat serakah bisa muncul, terutama terkait harta atau ambisi.
3. Pelupa, Meski cerdas, mereka bisa saja lalai dan kurang teliti.
4. Boros, Ada kecenderungan menghamburkan uang tanpa perhitungan.
Keterangan ini disampaikan oleh seorang spiritual kampung yang ditemui di sebuah desa di Jawa Tengah. Ia menegaskan bahwa weton bukan sekadar mitos, tetapi bagian dari warisan budaya yang masih dipraktikkan.
“Saya hanya menyampaikan sebagaimana yang diajarkan turun-temurun. Jangan dianggap mutlak. Semua kembali pada pribadi masing-masing,” tuturnya.
Perhitungan weton hingga kini masih kuat di berbagai daerah Jawa, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jawa Barat. Tradisi ini biasanya digunakan dalam berbagai momen penting, seperti:
Menentukan hari baik pernikahan. Mencari kecocokan jodoh. Membuka usaha baru. Menentukan waktu khitanan atau hajatan.
Menurut narasumber, praktik ini sudah berlangsung ratusan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi. “Kalender Jawa tidak hanya soal hitungan, tapi juga filosofi hidup,” katanya.
Alasan masyarakat masih mempercayai weton karena adanya pengalaman nyata yang dianggap selaras dengan perhitungan. Misalnya, seseorang dengan weton tertentu dianggap cocok dengan pasangan yang memiliki neptu berbeda, sehingga pernikahan mereka lebih langgeng.
“Kadang masyarakat melihat bukti langsung. Ketika ada yang menikah dengan weton tidak cocok, muncul masalah. Lalu mereka semakin yakin,” jelas sang spiritual.
Selain itu, weton juga dianggap sebagai pedoman introspeksi diri. Dengan mengetahui sifat positif dan negatif, seseorang bisa lebih mawas diri dan berusaha memperbaiki kelemahan.
Menurut sang spiritual kampung, memahami weton bukan berarti pasrah pada nasib. Justru sebaliknya, ini menjadi bahan evaluasi untuk melangkah.
“Kalau tahu dirinya keras kepala, ya harus belajar mengalah. Kalau boros, harus belajar hemat. Semua kembali pada usaha,” ujarnya.
Dengan kata lain, weton hanyalah peta jalan hidup, sementara pengemudi tetaplah diri sendiri.
Salah satu hal menarik dari weton Rabu Pahing adalah potensi besar meraih kesuksesan.
Dengan sifat ambisius, tekun, dan semangat juang yang tinggi, mereka sering berhasil mencapai tujuan hidup. Meski demikian, kesuksesan itu bisa terhambat jika sifat negatif tidak dikendalikan.
“Weton ini punya energi besar untuk jadi pemimpin atau pengusaha. Asalkan bisa menahan diri dari sifat angkuh dan serakah,” jelas narasumber.
Diera modern, sebagian masyarakat mungkin menganggap weton sebagai kepercayaan kuno. Namun, bagi sebagian orang Jawa, weton tetap menjadi identitas budaya.
Sejumlah akademisi bahkan mengkaji weton dalam konteks antropologi. Mereka menilai, weton bukan hanya soal ramalan, tetapi juga cara masyarakat Jawa memahami hubungan manusia dengan alam semesta.
Berdasarkan penjelasan seorang spiritual kampung, Rabu Pahing dengan neptu 16 melambangkan kombinasi sifat positif dan negatif yang unik. Dari sisi positif, mereka dikenal tenang, bijaksana, dapat dipercaya, semangat, dan mandiri. Namun di sisi lain, mereka juga berpotensi keras kepala, serakah, pelupa, dan boros.
Meski demikian, weton bukanlah vonis mutlak. Seperti disampaikan sang narasumber, kunci terpenting tetap ada pada usaha, doa, dan niat setiap individu.
“Weton adalah warisan leluhur yang bisa kita jadikan kaca. Tapi bagaimana wajah kita sebenarnya, itu kita sendiri yang menentukan,” pungkasnya.
Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis untuk tujuan informasi budaya dan tradisi Jawa. Kepercayaan terhadap weton bersifat subjektif dan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan hidup.







