Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Weton

Mengenal Weton Rabu Pahing: Sifat, Karakter, dan Potensi Menurut Seorang Spiritual Kampung

416
×

Mengenal Weton Rabu Pahing: Sifat, Karakter, dan Potensi Menurut Seorang Spiritual Kampung

Sebarkan artikel ini

Lam­pung, SniperNew.id - Tra­disi Jawa meny­im­pan beragam kear­i­fan lokal yang masih diper­caya hing­ga kini. Salah sat­un­ya adalah per­hi­tun­gan weton, yakni gabun­gan antara hari dan pasaran dalam kalen­der Jawa yang diyaki­ni bisa menggam­barkan karak­ter, reze­ki, hing­ga nasib sese­o­rang.

Salah satu weton yang menarik per­ha­t­ian adalah Rabu Pahing. Menu­rut seo­rang spir­i­tu­al kam­pung yang dite­mui Liputan6, weton ini memi­li­ki nilai nep­tu 16 yang ter­ben­tuk dari pen­jum­la­han angka hari Rabu (7) den­gan pasaran Pahing (9).

“Nep­tu Rabu Pahing adalah 16. Hasil­nya menun­jukkan karak­ter gabun­gan antara kete­nan­gan, kebi­jak­sanaan, sekali­gus poten­si keras kepala dan angkuh,” ujar sum­ber spir­i­tu­al kam­pung terse­but yang eng­gan dise­butkan iden­ti­tas­nya, Kamis (19/9/2025).

Apa Itu Nep­tu? Dalam tra­disi Jawa, nep­tu meru­pakan bilan­gan yang men­ja­di dasar per­hi­tun­gan weton. Seti­ap hari dan pasaran memi­li­ki angka ter­ten­tu.

Hari Rabu: berni­lai 7.

Pasaran Pahing: berni­lai 9.

Total Nep­tu: 7 + 9 = 16.

Angka ini­lah yang kemu­di­an dijadikan dasar untuk meni­lai keco­cokan jodoh, keberun­tun­gan reze­ki, hing­ga perun­tun­gan dalam peker­jaan.

“Seti­ap orang lahir mem­bawa watak dan takdir mas­ing-mas­ing. Weton ini bukan untuk menakut-naku­ti, melainkan untuk mema­ha­mi diri sendiri,” jelas sang spir­i­tu­al kam­pung.

Menu­rut penu­tu­ran nara­sum­ber, orang yang lahir pada Rabu Pahing diyaki­ni memi­li­ki kom­bi­nasi sifat posi­tif dan negatif.

1. Ten­ang dan Sabar
Pem­bawaan mere­ka cen­derung mene­nangkan. Orang den­gan weton ini jarang marah dan mam­pu meng­hadapi per­soalan hidup den­gan kesabaran.

2. Bijak­sana dan Berhati-hati
Mere­ka ter­biasa mem­per­tim­bangkan segala sesu­atu sebelum bertin­dak. Karak­ter ini mem­bu­at­nya dihor­mati di lingkun­gan sek­i­tar.

3. Dap­at Diper­caya
Kemam­puan men­ja­ga raha­sia mem­bu­at mere­ka ser­ing men­ja­di tem­pat curhat. “Biasanya orang den­gan weton ini diper­caya dalam lingkun­gan­nya, baik kelu­ar­ga maupun teman,” tam­bah nara­sum­ber.

4. Berse­man­gat„ Weton Rabu Pahing juga dike­nal gigih. Mere­ka memi­li­ki seman­gat juang ting­gi dan tidak mudah meny­er­ah.

5. Mandiri, Cen­derung men­gan­dalkan diri sendiri dan eng­gan bergan­tung kepa­da orang lain.

1. Keras Kepala dan Angkuh
Kesuli­tan mener­i­ma pen­da­p­at orang lain men­ja­di salah satu sisi negatif. Kadang mere­ka sulit dipen­garuhi dan eng­gan men­galah.

2. Cen­derung Ser­akah, Dalam kon­disi ter­ten­tu, sifat ser­akah bisa muncul, teruta­ma terkait har­ta atau ambisi.

3. Pelu­pa, Mes­ki cer­das, mere­ka bisa saja lalai dan kurang teliti.

4. Boros, Ada kecen­derun­gan meng­ham­burkan uang tan­pa per­hi­tun­gan.

Keteran­gan ini dis­am­paikan oleh seo­rang spir­i­tu­al kam­pung yang dite­mui di sebuah desa di Jawa Ten­gah. Ia mene­gaskan bah­wa weton bukan sekadar mitos, tetapi bagian dari warisan budaya yang masih diprak­tikkan.

“Saya hanya menyam­paikan seba­gaimana yang dia­jarkan turun-temu­run. Jan­gan diang­gap mut­lak. Semua kem­bali pada prib­a­di mas­ing-mas­ing,” tuturnya.

Per­hi­tun­gan weton hing­ga kini masih kuat di berba­gai daer­ah Jawa, mulai dari Jawa Ten­gah, Jawa Timur, hing­ga Jawa Barat. Tra­disi ini biasanya digu­nakan dalam berba­gai momen pent­ing, seper­ti:

Menen­tukan hari baik pernika­han. Men­cari keco­cokan jodoh. Mem­bu­ka usa­ha baru. Menen­tukan wak­tu khi­tanan atau hajatan.

Menu­rut nara­sum­ber, prak­tik ini sudah berlang­sung ratu­san tahun dan diwariskan dari gen­erasi ke gen­erasi. “Kalen­der Jawa tidak hanya soal hitun­gan, tapi juga filosofi hidup,” katanya.

Alasan masyarakat masih mem­per­cayai weton kare­na adanya pen­gala­man nya­ta yang diang­gap selaras den­gan per­hi­tun­gan. Mis­al­nya, sese­o­rang den­gan weton ter­ten­tu diang­gap cocok den­gan pasan­gan yang memi­li­ki nep­tu berbe­da, sehing­ga pernika­han mere­ka lebih langgeng.

“Kadang masyarakat meli­hat buk­ti lang­sung. Keti­ka ada yang menikah den­gan weton tidak cocok, muncul masalah. Lalu mere­ka semakin yakin,” jelas sang spir­i­tu­al.

Selain itu, weton juga diang­gap seba­gai pedo­man intro­speksi diri. Den­gan menge­tahui sifat posi­tif dan negatif, sese­o­rang bisa lebih mawas diri dan berusa­ha mem­per­bai­ki kelema­han.

Menu­rut sang spir­i­tu­al kam­pung, mema­ha­mi weton bukan berar­ti pas­rah pada nasib. Jus­tru seba­liknya, ini men­ja­di bahan eval­u­asi untuk melangkah.

“Kalau tahu dirinya keras kepala, ya harus bela­jar men­galah. Kalau boros, harus bela­jar hemat. Semua kem­bali pada usa­ha,” ujarnya.

Den­gan kata lain, weton hanyalah peta jalan hidup, semen­tara penge­mu­di teta­plah diri sendiri.

Salah satu hal menarik dari weton Rabu Pahing adalah poten­si besar meraih kesuk­sesan.

Den­gan sifat ambi­sius, tekun, dan seman­gat juang yang ting­gi, mere­ka ser­ing berhasil men­ca­pai tujuan hidup. Mes­ki demikian, kesuk­sesan itu bisa ter­ham­bat jika sifat negatif tidak dik­enda­likan.

“Weton ini pun­ya ener­gi besar untuk jadi pemimpin atau pen­gusa­ha. Asalkan bisa mena­han diri dari sifat angkuh dan ser­akah,” jelas nara­sum­ber.

Diera mod­ern, seba­gian masyarakat mungkin men­gang­gap weton seba­gai keper­cayaan kuno. Namun, bagi seba­gian orang Jawa, weton tetap men­ja­di iden­ti­tas budaya.

Sejum­lah akademisi bahkan mengka­ji weton dalam kon­teks antropolo­gi. Mere­ka meni­lai, weton bukan hanya soal ramalan, tetapi juga cara masyarakat Jawa mema­ha­mi hubun­gan manu­sia den­gan alam semes­ta.

Berdasarkan pen­je­lasan seo­rang spir­i­tu­al kam­pung, Rabu Pahing den­gan nep­tu 16 melam­bangkan kom­bi­nasi sifat posi­tif dan negatif yang unik. Dari sisi posi­tif, mere­ka dike­nal ten­ang, bijak­sana, dap­at diper­caya, seman­gat, dan mandiri. Namun di sisi lain, mere­ka juga berpoten­si keras kepala, ser­akah, pelu­pa, dan boros.

Mes­ki demikian, weton bukan­lah vonis mut­lak. Seper­ti dis­am­paikan sang nara­sum­ber, kun­ci ter­pent­ing tetap ada pada usa­ha, doa, dan niat seti­ap indi­vidu.

“Weton adalah warisan leluhur yang bisa kita jadikan kaca. Tapi bagaimana wajah kita sebe­narnya, itu kita sendiri yang menen­tukan,” pungkas­nya.

Catatan Redak­si: Artikel ini dit­ulis untuk tujuan infor­masi budaya dan tra­disi Jawa. Keper­cayaan ter­hadap weton bersi­fat sub­jek­tif dan tidak dap­at dijadikan satu-sat­un­ya dasar pengam­bi­lan kepu­tu­san hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *