Jakarta, 26 Juni 2025] — Sebuah peringatan mengejutkan dari para ilmuwan kembali mencuat ke publik: umat manusia memerlukan rata-rata 2,7 anak per perempuan untuk mencegah kepunahan jangka panjang. Hal ini disampaikan oleh akun X populer, @MarioNawfal, yang mengutip laporan terbaru dari Fortune dan langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Postingan viral yang diunggah Rabu malam itu mengungkap bahwa angka 2,1 anak per perempuan yang selama ini diyakini sebagai ambang batas regenerasi populasi ternyata tak cukup lagi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 2,7 anak per perempuan adalah angka realistis untuk mempertahankan kelangsungan umat manusia dalam jangka panjang, setelah memperhitungkan faktor acak seperti jumlah perempuan yang tidak memiliki anak dan perbandingan kelahiran laki-laki dan perempuan.
Studi ini disorot oleh kalangan ilmuwan demografi dan dibagikan oleh akun X @MarioNawfal, yang dikenal luas sebagai komentator geopolitik dan isu global. Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, juga disebut telah lama menyuarakan kekhawatiran akan krisis populasi global, menyebut kelahiran rendah sebagai “ancaman eksistensial” bagi umat manusia.
Di mana dan kapan ini menjadi sorotan?
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Amerika Serikat, yang kini memiliki angka kelahiran 1,66 anak per perempuan, tetapi juga melanda negara-negara maju lainnya seperti Jepang (1,30) dan Italia (1,29). Tren penurunan populasi ini telah terjadi selama dua dekade terakhir, namun lonjakan perhatian muncul kembali malam ini berkat viralnya unggahan tersebut.
Jika angka kelahiran terus berada di bawah ambang 2,7, para ahli memperingatkan potensi penurunan populasi global secara drastis yang dapat mengganggu sistem ekonomi, sosial, dan keberlanjutan peradaban manusia itu sendiri. Negara-negara dengan populasi menua dapat menghadapi kekurangan tenaga kerja, peningkatan beban pensiun, dan runtuhnya struktur sosial.
Para pakar menyarankan berbagai pendekatan kebijakan, termasuk insentif kelahiran, sistem pendukung keluarga, hingga reformasi sosial yang memungkinkan perempuan bekerja tanpa meninggalkan peran sebagai ibu. Meski demikian, tidak ada solusi instan, dan masyarakat global perlu segera menyadari betapa seriusnya ancaman ini.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi sumber resmi: Fortune Magazine. (Red)












